Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 6. Keputusanku Sudah Bulat (Alan)


__ADS_3

Setelah mengantarkan dia pulang. Aku memutuskan untuk bicara pada mama dan papa masalah keseriusan ku padanya. Aku tidak ingin orang lain mendahuluiku. Lampu hijau juga sudah diberikan oleh papa Ara.


"Alan, ada apa sebenarnya? Kenapa nyuruh mama dan papa kesini?" tanya mama menatapku lekat.


"Ma, pa, ada yang ingin Alan sampaikan. Alan harap mama dan papa tidak marah." ucapku menatap mereka bergantian. Mama dan papa pun saling memandang.


"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan Alan?" kini papa mulai bicara.


"Alan... Alan ingin menikah pa." ucapku dengan lantang. Ku lihat papa dan mama tersentak kaget. Aku tahu ini terlalu cepat, usiaku juga masih terbilang sangat muda. Tapi aku tidak ingin menundanya terlalu lama lagi.


"Menikah? Apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan Alan? Mama sangat terkejut dengan apa yang kamu ucapkan. Ini terlalu cepat, kamu masih sangat muda." ucap mama menatapku heran.


"Alan tahu ma ini terlalu cepat, tapi Alan tidak ingin di dahulu orang lain lagi. Maaf mungkin Alan membuat mama dan papa terkejut dan kecewa. Tapi keputusan Alan sudah bulat pa, ma." ucapku dengan begitu yakin.


"Siapa gadis malang itu? Apa dia secantik mama kamu?" ucap papa yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari mama. Aku tersenyum.


"Dia sangat cantik, lebih cantik dari mama." ucapku menatap mama. Mama tertawa renyah saat mendengar ucapanku.


"Jelas dia lebih cantik dari mama. Mama kan sudah tua. Tapi tunggu Alan, jangan bilang kamu ingin menikahi anak SMA?" ucap mama menatapku penuh selidik. Aku tersenyum. Bagaimana mungkin mama memiliki pemikiran seperti itu.


"Bukan ma, mama juga sudah mengenalnya." ucapku memberi kode.


"Mama mengenal nya? Siapa? Perasaan kamu tidak punya teman perempuan deh selain Ara. Atau jangan-jangan..." Mama kembali memberikan tatapan tajam padaku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Papa, apa mama mimpi?" seru mama menatap papa.


"Kamu serius Alan? Ingin menikahi Ara?" tanya papa. Aku kembali mengangguk.

__ADS_1


"Jadi bagaimana, apa mama dan papa setuju?"


"Mama setuju! mama menyukai Ara. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Mama tidak sabar untuk membawanya kerumah ini." ujar mama begitu semangat. Aku sangat bahagia mendengar hal itu. Tapi bagaimana dengan papa? Aku menatapnya untuk meminta jawaban.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya papa yang langsung ku jawab anggukkan.


"Menikah bukanlah perihal mudah dan main-main Alan. Setelah menikah kau harus bisa menjadi suami yang bertanggung jawab untuk menafkahi istri dan anak-anak kamu kelak. Sekali lagi papa tanya, apa kau yakin?"


Aku menatap papa lekat. Tekadku sudah bulat dan aku sudah yakin dengan keputusanku.


"Iya pa, Alan sangat yakin. Alan akan berusaha untuk menjadi suaminya yang bertanggung jawab." ucapku penuh keyakinan.


"Baik lah jika itu keputusan kamu. Papa akan selalu mendukung. Tapi bagaimana dengan keluarga Ara, apa mereka sudah tahu?"


"Sudah pa... Tadi... " aku menceritakan kejadian di rumah Ara pada kedua orang tuaku. Mereka sangat terkejut mendengar hal itu. Bahkan aku sendiri masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Tapi Alan, papa punya syarat untuk kamu. Sebelum tidur, temui papa di ruang kerja. Ada sesuatu yang ingin papa sampaikan. Syarat? Syarat apa yang papa maksud? Aku harap itu bukan syarat yang sulit aku lakukan.


"Ck, syarat apa sih pa? Jangan menyulitkan putra kita. Mama tidak suka." ucap mama mengerucutkan bibirnya. Aku hanya bisa tersenyum.


"Jangan khawatir. Papa tidak akan menyulitkannya. Hanya syarat kecil." ucap papa mengecup kening mama.


"Mama sama papa silahkan bermesraan disini. Alan kekamar dulu, banyak tugas yang harus diselesaikan." ucapku. Mama dan papa pun mengangguk. Aku pun langsung beranjak menuju kamarku.


***


Aku menatap kertas yang papa berikan padaku. Syarat yang papa berikan benar-benar mengganggu pikiranku. Aku tidak tahu bisa atau tidak melakukan syarat itu. Sejak lama, aku tidak pernah berniat untuk menggantikan papa di perusahaan. Itu bukan hakku. Masih ada kedua adikku yang berhak atas semuanya. Tapi papa tetap keras kepala untuk menyerahkan tanggung jawab ini padaku. Apa yang harus aku lakukan?...

__ADS_1


Aku mendengar suara pintu diketuk.


"Masuk." ucapku. Ku letakkan surat itu di dalam laci. Lalu tak lama seorang gadis cantik yang baru beranjak dewasa itu masuk kekamar ku. Aku tersenyum untuk menyambut kedatangannya. Entah apa yang membawanya kemari. Biasanya dia akan datang jika menginginkan sesuatu.


"Kak, boleh Arin nanya sesuatu?" ya, dia adalah Arinna Ardisha Digantara. Adikku yang paling besar. Adikku yang satu lagi masih kecil. Andika Aiman Digantara, usianya masih 6 tahun.


"Tanya apa?" tanyaku. Aku mengambil laptop milikku dan mulai membukanya.


"Em, kakak mau nikah ya? Maaf, tadi Arin gak sengaja dengar." ucapnya dengan nada lirih. Aku menatapnya dan tersenyum.


"Ya, seperti yang kamu dengar. Ada apa hem?" tanyaku mengacak rambutnya. Dia terlihat sangat kesal. Aku sangat menyukai itu.


"Ck, rusak kak. Suka banget sih berantakin rambut Arin." rengeknya. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Apa kakak benar-benar mencintai kak Ara? Apa kak Ara juga mencintai kakak?" aku sangat terkejut mendengar pertanyaannya. Aku membenarkan posisi dudukku dan menatapnya lekat.


"Ya, kakak sangat mencintainya. Karena itu kakak ingin menikahi kak Ara." ucapku tetap setia menatap adikku.


"Lalu bagaimana dengan kak Ara?"


"Hmmm...kakak tidak tahu, tapi kakak akan membuatnya mencintai kakak." ucapku mengelus kepalanya.


"Kenapa kakak tidak mencari perempuan yang mencintai kakak aja sih, jangan kak Ara." ujarnya yang berhasil membuat ku kembali terkejut. Aku menghela nafas dalam dan menatapnya lekat.


"Karena apa yang ada pada diri kak Ara itu tidak dimiliki oleh perempuan lain. Untuk masalah cinta, seiring berjalannya waktu cinta itu pasti akan hadir. Asalkan kita yakin. Jangan khawatir, kakak ini laki-laki. Jadi kakak akan memperjuangkan apa yang seharusnya di perjuangankan." jelasku. Arin menatapku penuh arti. Dia mengangguk. Aku sendiri tidak tahu apa arti anggukannya.


"Ini sudah malam, sana tidur. Besok kamu harus sekolah." ucapku kembali mengacak rambutnya. Entah kenapa aku sangat menyukai Arin yang sedang kesal. Dia sangat lucu dan mengingatkan aku padanya.

__ADS_1


Ah, sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah tidur? Huh, gadis itu sudah benar-benar memenuhi pikiranku.


__ADS_2