
Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih banyak, engkau telah melancarkan semuanya. Aku sangat bahagia karena proyekku bisa tembus. Hari ini aku menandatangani kontrak dengan beberapa klien. Ini semua karena ide istriku. Terimakasih sekali lagi ya Allah. Kau telah memberikan aku seseorang yang begitu sempurna.
"Alan, kenapa liatin Ara begitu? Apa ada yang salah dengan penampilan Ara?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaan darinya. Ku tarik kedua tangannya dan ku kecup lembut.
"Terimakasih Ara, kamu selalu melengkapi kebagianku. Aku sangat bersyukur bisa memiliki istri secantik dan sepintar kamu. Keberhasilan ini karena kamu sayang." ucapku mengelus pipinya.
"Ini semua juga tidak akan berhasil tanpa kerja keras kamu Alan. Aku bangga padamu. I love you." ucapnya begitu lembut.
"I love you more honey." ucapku kembali mengecup tangannya. Mungkin saat ini cintaku semakin bertambah padanya. Ku tatap wajahnya yang selalu membuatku tenang. Pahatan sang pencipta yang begitu sempurna. Tak ada manusia yang bisa menciptakan keindahan ini.
"Alan, ayo dong dimakan. Jangan liatin Ara terus. Ini Ara yang masak loh." ucapnya membuka bekal yang ia bawa. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya. Aroma masakan pun mulai menyeruak masuk kedalam hidungku.
"Aku cobak ya?Bismillahirrahmanirrahim."
Aku memasukan sesuap nasi kedalam mulutku. Luar biasa, ini sangat enak. Aku langsung menatapnya lekat. Begitu pun dengannya. Dia menatapku dengan tatapan penuh harap.
"Apa enak? Ini pertama kali aku masak." ucapnya dengan bibir sedikit maju. Aku ingin mengerjainya. Aku menggeleng pelan.
"Ah, tidak enak ya? Kalau begitu tidak usah dimakan. Kita makan di luar saja ya?" ucapnya ingin mengambil bekal yang super enak ini. Langsung saja aku menahannya.
"Ini sangat enak sayang, jangan diambil ya?" ucapku kembali menyantapnya.
"Ih Alan." rengeknya sambil memukul lenganku. Aku tertawa puas karena sudah berhasil mengerjainya.
"Maaf, tapi benar kok. Ini sangat enak. Mulai besok, aku akan meminta kamu memasak ini lagi. Ah, jika seperti ini aku bisa gemuk." ucapku sambil terus menikmati makanan hasil dari tangan istriku. Ternyata benar kata orang, masakan istri sendiri itu jauh lebih enak dari masakan restoran bintang lima.
"Walaupun Alan gemuk, Ara tetap suka kok. Makan yang banyak, kamu masih butuh tenaga yang banyak." ucapnya sambil tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk.
Aku terus memperhatikannya yang sedang membereskan tempat makanan kedalam tas. Perutku sudah hampir penuh. Ini kali pertama aku makan siang dengan begitu nikmat.
"Oh iya, hampir lupa." ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Ini ada titipan dari Jihan." ia memberikan sebuah amplop padaku. Aku mengernyit bingung. Lalu aku langsung membukanya. Ah, iya aku hampir lupa. Beberapa hari yang lalu aku meminta Jihan untuk menjadi model iklan di perusahaan. Ini adalah surat kontrak yang aku berikan. Ternyata Jihan menyetujuinya. Itu artinya aku akan sering menemuinya.
"Surat apa?" tanyanya menatapku lekat. Ah, aku ingin melihat reaksinya.
"Emm, jangan marah." ucapku mulai menatapnya serius. Ara ikut menatapku lebih dalam.
"Ini... Ini surat balasan cintaku padanya. Jihan menyetujui lamaranku yang dulu sempat ia tolak. Menurut kamu bagaimana?" tanyaku. Aku bisa melihat perubahan raut wajahnya. Apa dia cemburu?
"A.. Ara tidak tahu. Itu semua terserah kamu." ucapnya sambil memalingkan wajahnya dariku. Aku tersenyum senang.
"Apa kamu tidak ingin membacanya. Ini sangat romantis. Aku sendiri terharu dan terlena dengan kata-kata yang begitu indah." sambungku.
__ADS_1
"Tidak perlu." ucapnya ketus. Ingin sekali rasanya aku tertawa. Tapi aku masih ingin mengerjainya.
"Alan sayang, aku minta maaf dulu pernah menolakmu. Aku sadar, aku sudah salah menolak cintamu. Saat ini aku baru menyadari jika aku sangat...
"Hentikan Alan!" Aku sangat terkejut saat dia berteriak dan bangun dari duduknya. Aku juga bisa melihat air matanya sudah membasahi pipinya. Aku sangat merasa bersalah. Ku tarik tangannya untuk kembali duduk.
"Kamu harus membacanya." ucapku menatapnya lekat. Ku sodorkan surat itu padanya.
"Tidak perlu, aku mau pulang." ucapnya mulai terisak. Aku tersenyum tipis.
"Tapi kamu harus membacanya." ucapku memaksanya. Untuk masalah Jihan aku memang belum pernah mengatakan apapun padanya. Dia menatapku lekat. Kehapus air matanya dan ku kecup keningnya dengan lembut.
"Apa pun yang ada di dalam surat itu, kamu harus menerimanya." ucapku memasang wajah serius.
"Alan." ucapnya dengan wajah sembab. Hah, dia sangat lucu dengan hidung yang memerah.
"Baca Ara." ucapku. Dia mulai membaca isi surat itu. Aku tersenyum geli. Tak lama dia menatapku.
"Bagaimana menurut kamu hah?" tanyaku sambil tersenyum.
"Alan, jahat banget sih. Aku kira serius." ucapnya memukul dadaku. Aku tertawa dan kembali memeluknya.
"Sudah aku katakan bukan? Hanya kamu satu-satunya istriku Ara. Tidak akan ada orang lain." ucapku mengecup pucuk kepalanya. Dia memelukku begitu erat.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku takut Alan." ucapnya semakin terisak. Aku tersenyum.
"Hiks, kamu jahat. Dari dulu aku sudah mencintai kamu Alan. Bagaimana bisa kamu meragukannya." ucapnya menatapku lekat.
"Aku tidak pernah ragu, sekarang aku bisa melihatnya. Kamu sangat mencintai aku. Jadi aku tidak perlu takut kehilangan kamu." ucapku mengecup keningnya.
Aku menatap bibirnya yang begitu menggoda imanku. Ku dekatkan wajahku hingga hembusan nafasku beradu dengan nafasnya. Aku tersenyum saat ia menutup matanya. Ku satukan bibirku dengan bibir lembutnya. Tak ada lagi halangan untuk menyetuhnya. Semuanya sudah terikat dengan janji suci yang menghalalkan setiap sentuhan.
"I love you." ucapku menyatukan kening kami hingga kedua hidung kami saling beradu. Ku kunci tatapannya, untuk menyalurkan perasaan satu sama lain.
***
Langit sudah mulai gelap. Tapi aku masih berada di gedung tinggi yang sudah menyita waktuku. Aku harap semuanya cepat selesai. Agar aku bisa memilki waktu lebih untuk bersama istriku. Di satu sisi aku memikirkan istriku, di satu sisi lagi aku tidak mungkin mengecewakan papa yang sudah membesarkan ku hingga saat ini. Aku tidak bisa memilih salah satunya.
Setelah beberapa berkas selesai, aku langsung membereskan semuanya. Aku ingin pulang dan menghilangkan penatku. Ku lihat ruangan begitu sunyi. Hanya beberapa orang yang tersisa, mungkin mereka juga sama sepertiku harus lembur.
Aku mulai meninggalkan gedung. Saat ini yang ada dalam pikiranku adalah Ara. Aku sangat merindukannya. Entah lah, padahal siang tadi kami begitu lama bercengkrama. Tapi aku masih saja merindukannya.
"Assalamualaikum." ucapku saat masuk kedalam rumah. Namun suasana begitu sepi. Aku menaikkan bahuku dan langsung berlari menuju kamarku.
Ku buka perlahan pintu kamar. Namun aku sangat tekejut saat melihat Arin ada disana. Mereka sedang tertawa bersama. Apa Arin sudah tidak marah lagi? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan. Sering sekali berubah-ubah.
__ADS_1
"Assalamualaikum." ucapku. Keduanya terlihat sangat terkejut.
"Wa'alaikumusalam."
Ara berjalan kearahku. Dia tersenyum begitu manis. Rasa lelahku menguap begitu saja.
"Capek?" tanyanya mengambil tas dan jas milikku. Aku mengangguk dan menatap Arin yang juga sedang menatapku.
"Mandi dulu, Ara akan ambilkan makanan dibawah." ucapku. Aku melihat jam dinding. Ternyata aku sudah melewatkan jam makan malam. Aku mengangguk dan mengecup keningnya. Aku langsung beranjak menuju kamar mandi. Badanku sudah terasa lengket.
Setelah selesai membersihkan diri. Aku beranjak menuju tempat tidur. Namun aku sangat terkejut saat melihat Arin masih duduk disana sambil terus menatapku. Aku menatap pintu, berharap Ara segera kembali. Sejak saat itu aku sedikit canggung dengannya.
"Ada apa? Apa kakak terganggu ada aku disini? Lihat, bahkan sekarang kakak tidak perduli lagi denganku." ucapnya sambil tersenyum getir.
"Apa yang kamu bicarakan Arin, jangan berpikir yang bukan-bukan." ucapku menatap diriku di cermin.
"Aku dan kak Ara sudah memutuskan kapan kita bisa menikah." ucapnya yang berhasil membuatku terkejut. Apa maksud perkataannya? Apa dia sudah kehilangan akal?
"Apa maksud kamu?" Aku menatapnya lekat.
"Jadi kak Ara belum bicara ya dengan kakak?Minggu depan kita akan menikah. Apa kakak lupa perkataan kak Ara? Dia rela kok kalau cintanya dibagi. Aku tulus mencintai kakak." ujarnya berjalan menghampiriku. Aku sangat terkejut saat ia memelukku dengan tiba-tiba.
"Hentikan Arin. Jangan bersikap bodoh. Aku hanya menganggapmu sebagai adikku. Sampai kapanpun aku hanya mencintai Ara. Hanya dia yang akan menjadi istriku." ucapku melepaskan pelukannya.
"Terserah kakak mau bicara apa. Kak Ara sudah menyetujuinya. Mama dan papa juga sudah setuju. Selamat malam calon suamiku." ucapnya yang langsung beranjak pergi.
Apa-apan ini? Ara menyetujuinya? Apa maksudnya, apa dia tidak memahami ucapanku tadi siang?
Lalu tak lama pintu kamar kembali terbuka. Aku melihat Ara membawa nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas jus. Dia tersenyum padaku.
"Ara, ada yang ingin aku bicarakan." ucapku. Dia menatapku bingung dan meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja.
"Ya, tapi makan dulu. Setelah itu baru bicara." ucapnya memberikan sepiring nasi padaku.
Baik lah, setelah makan aku akan langsung bicara padanya. Nafsu makanku juga sudah hilang. Tapi aku tidak mau membuatnya kecewa. Aku menghabiskan makanan tanpa tersisa dan meneguk jus hingga tandas.
"Sudah, sekarang jawab pertanyaanku." ucapku menatapnya lekat. Dia tersenyum dan mengangguk.
"Apa maksud perkataan Arin tadi? Pernikahan apa maksudnya hah?" tanyaku penuh emosi.
"Owh masalah itu. Iya, aku menyetujui jika kamu menikahi Arin. Aku sudah mengatakannya bukan, jika aku rela berbagi."
Bodoh. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahi adikku.
"Tapi aku tidak pernah menyetujuinya. Jangan bersikap bodoh Ara. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu bukan? Aku tidak akan menikahinya. Sampai kapanpun tidak akan pernah." ucapku langsung beranjak pergi. Aku takut tak bisa menahan emosiku dan menyakitinya.
__ADS_1
"Alan, dengarkan aku dulu."
Aku tidak mendengarkan seruannya. Ku tutup pintu cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring. Aku tidak perduli semua orang mendengarnya. Saat ini aku benar-benar marah. Bagaimana mungkin dia memiliki pemikiran bodoh seperti itu. Sudah aku katakan, aku hanya mencintai dirinya. Kenapa dia tidak mengerti. Mama dan papa juga, kenapa menyetujui keputusan bodoh itu. Aku membenci keadaan seperti ini.