
"Bunda, Ara pamit keluar sebentar," ucap Ara menghampiri Dara yang tengah menyiram tanaman.
"Kemana, sayang?" tanya Dara menatap Ara lekat.
"Ara ke rumah sebentar, ada yang harus Ara ambil," balas Ara mencium tangan Dara.
"Bunda temani ya? Bunda khawatir kamu pergi sendiri," ujar Dara mengelus kepala Ara.
"Tidak perlu, Bun. Ara bisa sendiri kok," balas Ara sambil tersenyum. Dara menghela napas berat.
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
"Iya, Bun. Assalamualaikum," ucap Ara.
"Wa'alaikumusalam," balas Dara.
Ara langsung berangkat. Ia mengendarai mobil kesayangannya. Sepanjang perjalanan, Ara terus melihat berbagai jajanan yang di jual di pinggir jalan. Air liurnya seakan tumpah.
"Kamu mau jajan ya?" gumam Ara sambil tersenyum. Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang lumayan sepi. Ara keluar dari mobil, menghampiri beberapa penjual jajanan tradisional.
"Bu, serabi originalnya satu ya?" ucap Ara.
"Siap non, duduk dulu," ucap sang penjual. Ara pun menarik kursi dan duduk di sana. Matanya melihat ke sana sini. Melihat keramaian yang memenuhi ibu kota.
"Bu, pesanan saya tadi?" tanya seorang pria bertubuh kekar. Ara yang mendengar suara itu langsung melihat ke arah sang pria. Mulut Ara seakan terkunci. Matanya terpaku pada sosok yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Hubby," ucap Ara pelan, dengan air mata berlinang. Ia bangun dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati pria itu.
Aku tidak mimpi kan?
"Istrinya gak ikut, den?"
Langkah Ara terhenti saat mendengarnya. Air matanya meluncur begitu saja. Ia sangat yakin, pria di hadapannya adalah Alan. Walaupun wajah itu kini di penuhi bulu-bulu halus. Lalu, siapa istri yang di maksud ibu penjual itu?
"Alan," panggil Ara dengan suara bergetar. Tangannya menyentuh pria itu. Ia sendiri bingung, kenapa dengan berani ia menyentuh pria itu.
Pria itu berbalik, menatap Ara lekat. Jantung Ara berpacu hebat. Matanya membulat sempurna.
Ya, benar. Itu Alan, aku sangat mengenalnya. Dia benar suamiku.
"Hubby," ucap Ara memeluk pria itu. Ia menangis bahagia. Tubuh pria itu menegang.
Kehangatan ini memang milik Alan. Ya Allah, jika ini mimpi. Jangan bangunkan hamba.
"Ara sangat merindukan, hubby. Kenapa hubby tidak pulang?" tanya Ara mengangkat kepalanya. Menatap wajah yang sangat ia rindukan. Ara begitu yakin, jika ia benar-benar Alan.
"Maaf, anda salah orang," ucap pria itu mendorong tubuh Ara perlahan. Ara menatap pria itu bingung.
"Non, sepertinya nona memang salah orang. Aden ini sudah punya istri, sedang hamil malah," ujar sang penjual. Ara menatap penjual dan pria di hadapannya bergantian.
"Tidak, saya tidak mungkin salah orang. Saya sangat kenal suami saya. Hubby, cobak ingat lagi, ini Ara, Bi. Istri hubby. Lihat, ini anak kita," ujar Ara menarik tangan pria itu untuk menyentuh perut besarnya. Pria itu kembali menarik tangannya.
"Anda salah orang," ucap pria itu langsung beranjak pergi. Ara sangat terkejut.
"Bi, kenapa hubby melupakan Ara? Ara sudah menunggu hubby cukup lama," teriak Ara. Namun pria itu tidak menghiraukan teriakan Ara. Ara terduduk lesu, menyentuh perutnya yang terasa sakit.
"Akhhh...," ringis Ara saat perutnya semakin sakit. Ia merasakan sesuatu mengalir deras di sana.
__ADS_1
"Non kenapa?" tanya sang penjual menghampiri Ara.
"Sakit," ucap Ara meremas bajunya dengan erat. Ara semakin cemas, saat kembali merasakan sesuatu mengalir semakin deras di bawah sana.
Ini belum waktunya, kenapa perutku sangat sakit? Ya Allah, tolong bantu hamba. Lindungi anak hamba.
"Saya panggilkan ambulan," ujar penjual mengambil ponselnya. Ara terus meringis kesakitan. Tubuhnya bergetar, menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Kakinya mendadak lemas.
"Bi...," panggil Ara saat kepalanya berputar hebat. Pandangannya semakin kabur. Pendengarannya tak lagi jelas. Rasa sakit itu semakin menjadi.
"Hubby," ucap Ara tersenyum. Remang-remang ia melihat sosok Alan yang sedang memasang wajah cemas. Mata Ara perlahan terpejam. Hingga semuanya tidak terlihat lagi.
***
Aroma rumah sakit begitu menyengat. Ara mulai tersadar. Ia membuka matanya perlahan. Ara meringis saat merasakan perih di bagian perutnya. Ia menyentuh perutnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat perutnya sudah mengempis.
"Anakku?" ucap Ara dengan perasaan waswas. Sekilas ingatan kembali ia dapatkan.
"Dimana anakku?" Ara melihat sekelilingnya. Mencari keberadaan malaikat kecilnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Dara yang baru masuk. Ara langsung menatap Dara lekat.
"Bunda, dimana anak Ara?" tanya Ara mulai menangis. Dara menghampiri Ara dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menangis, cucu bunda sedang di mandikan oleh suster." Dara mengecup kening Ara dengan lembut. Ara mengangkat kepalanya untuk menatap Dara.
"Jadi dia masih hidup?" tanya Ara begitu polos.
"Dasar, apa yang kamu pikirkah huh? Anak kamu sehat, dia sangat tampan," ujar Dara menepuk punggung Ara pelan.
"Dia laki-laki?" tanya Ara mulai berhenti menangis.
"Bagaimana bisa kamu pendarahan, huh?" tanya Dara menangkup wajah Ara. Ara menatap Dara bingung. Ia mengingat pertemuannya dengan pria yang begitu mirip Alan.
Apa bunda akan percaya jika aku bertemu dengan Alan?
"Siapa yang membawa Ara kesini?" ucap Ara balik bertanya.
"Ambulan," jawab Dara. Ara merasa kecewa mendengar jawaban Dara.
"Bunda sangat khawatir saat pihak rumah sakit menghubungi bunda, kamu mengalami perdarahan hebat. Dokter mengambil tindakan untuk segera melakukan operasi. Lalu, kamu koma selama empat hari. Bunda sangat khawatir, sayang."
"Empat hari?" tanya Ara terkejut.
"Iya, bunda sangat cemas saat kamu tidak kunjung bangun. Anak kamu terus menangis, membuat bunda semakin takut." Dara mengecup pucuk kepala Ara dengan lembut. Ara kembali menangis. Wajah Alan berputar di kepalanya.
"Ara mau liat anak Ara, Bun." Ara memeluk Dara dengan erat. Menumpahkan rasa sesak di dadanya.
"Iya sayang. Tapi kenapa menangis? Sebentar lagi dia sudah selesai mandi," ujar Dara merasa bingung dengan sikap Ara.
Ara cuma mau Alan ada disini, Bunda. Setiap istri memimpikan kehadiran suami saat melahirkan. Tapi Ara tidak bisa merasakan itu. Itu sangat menyakitkan.
"Sudah, kenapa terus menangis huh?" tanya Dara saat Ara tak juga berhenti menangis.
"Alan ingkar janji, Bun. Alan tidak ada saat anak ini lahir. Alan jahat, Ara kecewa. Hati Ara sakit, Bun." Ara semakin histeris. Hati Dara mencolos saat mendengarnya. Ia bisa merasakan rasa sakit yang Ara rasakan.
"Kamu harus ikhlas," ucap Dara terus mengecup pucuk kepala Ara. Namun tiba-tiba Ara meringis. Merasakan perih yang di bagian perutnya. Dara sangat terkejut.
__ADS_1
"Kenapa? Apa perut kamu sakit lagi?" tanya Dara cemas. Ara mengangguk.
"Bunda panggilkan dokter," ucap Dara langsung menekan tombol yang langsung terhubung ke ruangan dokter yang menangani Ara.
Tidak ada yang menyadari, jika Nissa sudah berdiri di depan pintu. Nissa mendengar semua ucapan Ara yang begitu menyakitkan. Ia ikut menangis di balik pintu. Hatinya seperti teriris. Ia juga sangat merindukan Alan. Putra yang sangat ia sayangi.
Mama rindu kamu Alan. Sekarang sudah lahir Junior, kenapa kamu pergi begitu cepat?
Nissa mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia bergegas pergi. Meninggalkan ruangan Ara.
Tidak jauh dari ruang Ara. Terlihat seorang pria tengah berdiri kaku. Air matanya menetes begitu saja. Menatap pintu ruangan Ara dengan tatapan kosong. Lalu, ia beranjak pergi dari sana.
"Jahitannya sedikit terbuka, sebaiknya mbak Ara jangan terlalu banyak bergerak."
"Maaf dokter," ucap Ara dengan tatapan kosong. Dokter menatap Dara penuh tanda tanya. Dara hanya menggeleng.
"Oh iya, suami mbak mana?" tanya dokter. Ara sama sekali tidak merespon.
"Suaminya sudah meninggal dok," balas Dara. Dokter itu terlihat sangat terkejut.
"Meninggal? Lalu yang membawa mbak Ara kemarin siapa? Katanya pria itu suami mbak, dia juga yang mengazankan baby." Dokter menatap Ara dan Dara bingung.
Ara dan Dara sangat terkejut saat mendengar pemaparan dokter.
"Bukannya Ara di bawa kesini dengan ambulan?" tanya Dara bingung.
"Iya, tetapi saat itu mbaknya datang bersama seorang pria. Pria itu juga menemani mbaknya ke ruang operasi," ujar sang dokter. Ara menutup mulutnya tidak percaya.
"Bunda, itu Alan. Ara sangat yakin, Ara bertemu Alan sebelum kejadian itu," ucap Ara tersenyum senang.
"Benarkah? Bukannya...,"
"Belum, Alan masih hidup. Ara tahu, Alan tindak akan meninggalkan Ara. Bunda, itu artinya Alan ada disini. Ara ingin mencari Alan, mungkin dia sedang bersama Junior," ujar Ara menyibak selimutnya.
"Assalamualaikum," ucap seorang suster yang baru masuk. Hal itu berhasil menghentikan pergerakan Ara.
"Wa'alaikumusalam," jawab mereka serentak. Ara menatap bayi mungil yang ada dalam gendongan sang suster.
"Anaknya sudah selesai di mandikan," ucap suster memberikan bayi yang masih merah itu pada Ara. Ara menatap wajah anaknya cukup lama.
"Bi, lihatlah. Semuanya begitu mirip dengan hubby," ucap Dara mengambil anaknya dengan hati-hati. Air matanya kembali menetes. Kecupan hangat ia hadiahi untuk putra kecilnya.
"Assalamualaikum, sayang," ucap Ara kembali mengecup pipi merah Junior. Junior terlihat menggeliat. Bibir tipisnya terus bergerak.
"Sepertinya dia haus," ucap Dara.
"Apa Ara bisa memberikan asi?" tanya Ara menatap dokter.
"Bisa, silahkan di coba," ucap dokter membantu Ara untuk menyusui Junior. Junior terlihat semangat mencari sumber asi.
"Sakit, Bun." Ara meringis saat Junior mulai menyedot asi dengan begitu lahap. Dara yang melihat itu tersenyum.
"Normal untuk yang pertama kali," kata dokter membenarkan posisi Junior. Ara terlihat mengangguk. Menikmati setiap momen langka menjadi seorang ibu.
"Sayang, jika kamu disini. Lalu di mana abi?" tanya Ara mengelus pipi Junior. Air mata Ara yang sudah mulai mengering. Kini kembali membasahi pipinya.
"Abi kamu sangat jahat, dia tidak mau memenuhi umi. Padahal umi sangat merindukan abi," lanjut Ara begitu pilu. Semua orang yang mendengar itu terdiam. Menatap Ara begitu iba.
__ADS_1
Hubby. Jika benar itu hubby, kenapa hubby tidak mememui Ara? Kenapa hubby menghindar dari Ara? Apa yang sebenarnya terjadi?