Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 40. Hanya Ingin Mengembalikan Senyumanmu


__ADS_3

Ara kembali mengalami pendarahan. Hal ini disebabkan karena guncangan emosional yang tak biasa terkontrol. Sudah dua hari ia belum sadarkan diri. Begitu juga dengan Alan, dua hari dua malam ia tak tidur hanya untuk menjaga sang istri. Terlihat dengan jelas lingkaran hitam di pelupuk matanya. Jika bisa, ia ingin menggantikan posisi Ara saat ini.


"Bangun sayang, aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa seperti ini, bangun honey." ucapnya sambil mengecup seluruh wajah sang istri.


"Alan, kamu harus istirahat sayang. Bunda tidak mau kamu juga jatuh sakit. Pulanglah sebentar dan istirahat. Ara akan sangat sedih jika kamu seperti ini."


"Alan masih mau disini bunda, bagaimanapun semua ini kesalahan Alan. Seharusnya Alan selalu ada buat Ara, tapi apa? Alan tak bisa melindungi Ara dan anak Alan bun. Suami macam apa Alan ini bun?" ujar Alan dengan penuh emosi. Ia marah pada diri sendiri.


Dara bisa mengerti, di usia mereka saat ini masih belum bisa mengontrol emosinya.


"Alan tidak akan melanjutkan kuliah Alan. Alan tidak ingin kejadian ini terulang kembali bunda, Alan tidak perduli jika papa akan mencoret nama Alan dari keluarga. Ara sudah menjadi tanggung jawab Alan bun, Ara lebih penting dari apapun."


Dara menghela napas berat saat mendengar ucapan Alan. Ia menghampiri menantunya dan memeluknya dengan erat. Sejak kecil, Alan sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"Sudah cukup, jangan bicara yang bukan-bukan. Kamu harus tetap melanjutkan pendidikan kamu. Bunda tidak mau mempunyai menantu bodoh. Kamu juga harus memikirkan masa depan kalian." ujar Dara mengusap kepala Alan. Alan menangis di pelukan Dara. Biarlah orang lain menganggap dirinya lemah.


"Alan minta maaf bunda, Alan tidak bisa menjaga Ara dengan baik." Dara terus mengelus punggung Alan untuk menenangkannya.


"Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini sudah takdir sayang, rezeki, maut dan jodoh itu Allah yang atur. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan ikhtiar. Sabar sayang, ini adalah ujian untuk kita semua. Jangan menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kita harus ikhlas." ujar Dara terus mencoba menenangkan Alan. Ia bisa meraskan rasa sakit yang saat ini di rasakan kedua anaknya. Dara menatap putri kecilnya yang masih terlelap.


'Bunda harap ini adalah awal dari kebahagiaan kalian sayang. Doa bunda selalu yang terbaik.'


***


"Mau apa kamu kesini?" tanya seorang pria paruh baya sambil menatap pria yang ada di hadapannya dengan sengit.


"Saya hanya ingin menjenguk Ara om. Bagaimanapun Ara karywan saya." jawab pria itu dengan santai. Ia tak pernah perduli dengan sikap pria yang menjadi ayah dari wanita yang ia cintai. Dio, dia lah orangnya.


"Pah, biarkan dia masuk. Ayo nak, masuklah. Di dalam juga ada suami Ara." ujar Dara. Dio mengangguk dan masuk kedalam. Tatapannya langsung tertuju pada pria yang tengah menyuapi wanita yang sudah bertahta di hatinya. Rasa sakit itu kembali menyelimuti hatinya.


"Pak Dio." ucap Ara dengan suara lemah. Alan yang menyadari itu langsung menoleh kearah pandangan Ara. Raut wajah Alan langsung berubah. Ara yang sadar akan hal itu langsung menyetuh tangan suaminya. Ia menggeleng pelan.


"Silahkan duduk." titah Alan dengan wajah datar. Dio meletakkan buah tangan yang ia bawa diatas nakas.


"Bagaimana keadaan kamu saat ini? Apa sudah baikan?" tanya Dio menatap Ara. Alan mengeratkan rahangnya. Ia benar-benar dirasuki api cemburu.


"Sudah lebih baik." bukan Ara yang menjawab, melainkan Alan. Dio tersenyum dan duduk di sofa.


"Aku sudah mengurus cuti kamu Ara. Setidaknya aku sedikit bertanggung jawab menjadi seorang atasan." ujar Dio menatap Alan. Alan tersenyum getir mendengar ucapan Dio.


"Sayang, sedikit lagi makannya." ucap Alan menyapu bibir Ara dengan tisue. Ara sangat tahu jika saat ini Alan sedang dalam mood cemburu. Ara tersenyum tipis. Ada perasaan senang saat melihat Alan cemburu.


"Pak Dio, terimakasih sudah menyempatkan untuk menjenguk saya. Padahal bapak sangat sibuk." ucap Ara membenarkan posisi duduknya. Ia menyetuh perutnya yang masih sedikit sakit.

__ADS_1


"Sudah kewajiban saya sebagai atasan untuk memperhatikan kondisi karyawan." ujar Dio tersenyum manis.


"Wah, pak Dio bos yang sangat baik. Pasti semua karyawan sangat senang karena memiliki bos yang begitu bertanggung jawab." ujar Alan menyuapi Ara dengan hati-hati. Sedangkan Dio hanya bisa tersenyum sambil melihat kemesraan mereka. Ara menggelengkan kepalanya saat Alan kembali menyuapinya.


"Sedikit lagi sayang, satu suap lagi." ucap Alan tersenyum. Ara mengerucutkan bibirnya, namun ia tetap menerima suapan dari Alan. Dio mengeratkan rahangnya saat melihat Alan mengusap kepala Ara dengan mesra.


"Oh iya pak Dio, apa anda akan terus disini? Apa perusahaan anda sudah tidak membutuhkan bos?" tanya Alan tanpa beban. Ara sangat terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan suaminya. Ia menjadi canggung.


"Hmmm... Saya memang akan langsung pulang, Ara semoga cepat sembuh. Aku menunggu untuk makan siang bersama. Permisi." ujar Dio yang langsung beranjak pergi. Ara sangat terkejut mendengar ucapan Dio.


Makan siang? Kapan aku makan siang bersamanya?


Alan mengepalkan tanganya. Ia bangun dari duduknya dan beranjak keluar.


"Bi, mau kemana?" tanya Ara saat Alan sudah di ambang pintu.


"Cari angin segar." jawab Alan begitu dingin. Ara menghela napas berat. Ia tahu saat ini suaminya sedang badmood. Ia berbaring dan menarik selimutnya. Ia mengelus perutnya yang rata.


"Umi minta maaf sayang, umi tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Maafkan umi yang tidak menyadari kehadiran kamu sayang, jangan marah dengan umi ya?" gumam Ara. Air matanya kini mengalir membasahi pipinya. Ia menyeka air matanya dengan pelan. Hatinya sangat sakit saat mengingat anaknya yang sudah tenang di syurga. Dua bulan, bagaimana mungkin ia tak menyadari anaknya yang sudah dua bulan berada di rahimnya. Ara terus menangis saat mengingat betapa ceroboh dirinya.


Pintu pun terbuka dan menampakkan Clara dan beberapa temannya sedang menatap dirinya. Clara yang melihat Ara menangis pun langsung berlari menghampiri Ara.


"Kamu kenapa nangis Ra? Apa masih sakit?" tanya Clara khawatir. Ia duduk di sebelah Ara dan membawa Ara kedalam pelukannya. Keempat teman Ara yang lainnya hanya bisa menatap Ara iba.


"Kami ada disini Ra, katakan apapun yang mengganjal di hati kamu. Kami akan mendengarkannya." ujar Clara yang di jawab anggukkan oleh keempat temannya. Ara mengangguk. Ia sangat senang bisa mendapatkan teman baik seperti mereka.


"Terimakasih." ucap Ara menghapus air matanya.


Setelah beberapa saat tak ada lagi kesedihan. Ruangan itu kini dipenuhi canda tawa. Ara sedikit melupakan masalahnya. Ia tersenyum bahagia mendengar ocehan teman-temannya. Alan yang sedari tadi melihat di balik pintu pun ikut tersenyum. Terkadang teman adalah orang yang bisa memberikan kebahagiaan.


Aku senang kamu kembali tersenyum sayang. Maaf, aku hanya bisa membuat kamu terus bersedih.


Alan meninggalkan ruangan Ara untuk mencari ketenangan. Ia juga butuh sedikit hiburan.


Alan menatap gedung yang cukup lusuh. Namun suasana disana cukup ramai oleh teriakan dan canda tawa. Alan tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk masuk.


"Lihat, pangerannya kak Ara datang!" teriak seorang gadis kecil menunjuk kearah Alan. Semua anak-anak yang tengah bermain pun langsung melihat kearah Alan. Ya, saat ini Alan berada di panti asuhan tempat dimana Ara selalu mengajar.


"Kak Alan kok sendiri? Kak Aranya mana?" tanya seorang gadis imut dengan rambut di kucir kuda. Alan tersenyum dan berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan gadis cantik itu.


"Apa kalian mau ikut dengan kak? Untuk menemani kak Ara. Kak Ara sedang sakit." ucap Alan yang berhasil mendapatkan perhatian semua anak-anak.


"Kami mau ikut kak, kami mau lihat kak Ara." teriak mereka begitu semangat. Alan tersenyum senang.

__ADS_1


"Kalau begitu kakak akak meminta izin pada bunda kalian dulu. Tunggu sebentar." ucap Alan yang langsung di jawab anggukkan oleh anak-anak.


"Baiklah nak Alan, titip anak-anak. Tolong kirimkan salam untuk nak Ara. Maaf ibu tidak bisa datang," ucap pemilik panti. Alan mengangguk.


"Insha allah Alan sampaikan buk, terimakasih sudah mengizinkan Alan untuk membawa anak-anak. Kalau begitu Alan pamit dulu, takut Ara mencari Alan. Assalamualaikum." ujar Alan.


"Wa'alaikumusalam."


Lalu Alan pun membawa anak-anak menuju rumah sakit.


Semoga kamu senang sayang, aku hanya ingin melihat senyuman kamu. Bukan tangisan yang selalu aku lihat setiap hari.


"Jangan berisik, kita akan membuat kejutan untuk kak Ara. Kalian masuk perlahan kedalam ya?" pinta Alan pada anak-anak. Mereka pun mengangguk antusias. Memang saat ini hanya Alan yang menjaga Ara di rumah sakit. Semua keluarganya sudah Alan suruh pulang. Bagaimanapun mereka butuh istirahat. Keadaan Ara juga sudah mulai membaik.


Di dalam ruangan Ara hanya diam sambil menatap langit-langit. Sedari tadi ia menunggu kedatangan Alan. Ada rasa cemas di hatinya.


Apa Alan benar-benar marah?


Ceklek!


Ara langsung bangun dari tidurnya.


"Hubby... " ucapan Ara terhenti saat melihat anak-anak yang sudah lama ia rindukan sudah berdiri sambil tersenyum.


Ara menutup mulutnya tak percaya. Lalu ia melihat kearah Alan yang baru masuk.


"Kemari sayang." ucap Ara pada anak-anak. Mereka pun langsung berhambur kepelukan Ara. Alan tersenyum senang saat melihat pacaran kebahagiaan di wajah istrinya.


"Kak Ara sakit apa?"


"Kami sangat merindukan kak Ara."


"Kak Ara jangan sakit, nanti siapa yang ajarin Kekey mengaji."


"Kak Ara cepat sembuh ya, biar bisa main lagi."


Ocehan mereka pun kini memenuhi ruangan. Ara sangat senang bisa mendengar ocehan dari bibir manis mereka. Ara menatap Alan lekat.


"Terimakasih bi." ucapnya pelan. Namun Alan masih bisa memahami maksud Ara. Ia mengangguk dan tersenyum.


Aku akan melakukan apapun agar kamu selalu tersenyum sayang. Aku akan terus membuat kamu bahagia.


Alan terus tersenyum saat melihat dan mendengar tawa Ara. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang saat ini dirasakan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2