Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 16. Apa kamu tahu apa itu arti cinta?(Ara)


__ADS_3

Aku sangat terkejut mendengar pemaparan Arin. Jadi itu alasan kenapa dia begitu membenciku. Arin menyukai Alan? Apa itu benar. Aku tahu diantara mereka tidak ada ikatan darah. Tapi aku tidak yakin jika Arin benar-benar mencintai Alan. Dia masih sangat muda, aku pernah berada deposisinya dimana perasan masih begitu labil.


Aku menatap suamiku yang kini bediri di sebelahku. Dia mengangguk. Aku membuang nafas dan menyentuh handle pintu kamar Arin dengan ragu.


Bismillahirrahmanirrahim. Kamu pasti bisa Ara.


"Assalamualaikum." ucapku membuka pintu kamar Arin. Aku melihat Arin sedang menangis sambil memeluk bantal.


"Mau apa kau disini? Pergi, aku membencimu!" aku sangat terkejut saat bantal yang ia pegang melayang kearahku. Namun dengan cepat Alan menangkapnya.


"Arin... " Aku langsung menahan tangan Alan. Aku tidak mau masalah semakin runyam jika Alan emosi dan membuat Arin semakin terpuruk. Dengan emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah.


"Arin, kakak tahu kamu sangat membenci kakak. Tapi izinkan kakak untuk bicara dengan kamu. Kakak ingin bertanya, apa kamu benar-benar mencintai kak Alan?" ujarku. Kurasakan tangan Alan menyentuh pundakku. Aku menatapnya dan tersenyum.


Arin tidak menjawab, ia hanya memberikan tatapan tajam padaku. Aku membalasnya dengan senyuman.


"Sejak kapan kamu mulai menyukai kakak kamu?" tanyaku lagi, kini aku duduk di tepi ranjang.


"Apa urusannya denganmu, kau tidak perlu tahu." ucapnya dengan ketus.


"Perlu, aku perlu tahu. Saat ini aku adalah istri sah Alan. Jadi aku berhak tahu bagaimana perasaan orang lain pada suamiku." ucapku dengan santai. Saat ini aku akan memposisikan diriku sebagai temannya. Lalu aku melihat Arin tersenyum masam dan memalingkan wajahnya dariku.


"Hah, memangnya jika aku mengatakan yang sebenarnya apa kau akan menyerahkan kak Alan untukku? Kau tidak akan melakukan hal itu." ujarnya kembali menatapku dengan penuh kebencian.


"Siapa bilang, aku akan menyerahkannya padamu."


"Ara, apa maksud kamu?" kini Alan mulai bicara. Aku menatapnya dengan lekat.


"Alan, jika dia memang benar-benar mencintai kamu. Aku akan iklas untuk berbagi cinta dengannya." ucapku menggenggam tangan Alan. Namun dengan cepat Alan menepis tanganku.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Ara. Terserah padamu."


Hah, aku tahu dia pasti akan sangat marah. Aku menatap punggungnya yang mulai menghilang di balik pintu.


"Sekali lagi aku tanya, sejak kapan kamu menyukai kakak kamu Arin?" kini aku kembali fokus pada gadis yang baru beranjak dewasa ini.


"Tidak perlu sok baik, aku tahu kau ingin mengejekku bukan? Kau bahagia melihat aku seperti ini dan membuat semua orang simpati padamu dan membenci diriku."


Aku menghela nafas. Ternyata dia benar-benar keras kepala. Aku tersenyum dan bangun, aku berjalan menuju jendela.


"Jika aku ingin melakukan itu, aku sudah melakukan itu dari jauh-jauh hari. Kenapa kamu tidak katakan sejak dulu jika kamu mencintai kakak kamu, sebelum kami menikah." ucapku tanpa melihat kearahnya.

__ADS_1


"Karena kakakku sudah dibutakan oleh dirimu. Dia tidak pernah memandang orang lain selain kamu. Maka dari itu aku membenci mu." Aku tersenyum geli mendengar ucapannya. Sepertinya untuk masalah cinta dia lebih maju diriku.


"Itu artinya suamiku itu sangat bodoh, bagaimana bisa dia mencintai aku yang jahat ini." ucapku. Aku membalikan tubuhku untuk menatapnya.


"Jangan asal bicara, kakakku tidak bodoh." ucapnya dengan penuh penekanan.


"Kakak? Kenapa kamu menganggapnya kakak? Bukankah kamu mencintainya?" ucapku sambil tersenyum.


"Ka..karena dia memang kakakku. Tapi aku menyukainya, aku sudah lama menyukai kakakku. Tapi kamu mengambilnya dariku. Andai saja kamu tidak pernah hadir di dunia ini, aku yakin kakak akan memilihku."


"Apa kamu yakin? Aku sih tidak yakin." ucapku kembali duduk di sebelahnya.


"Kamu... " ucapnya menatapku tajam. Aku tersenyum geli melihat ekspresi wajahnya. Namun aku kembali memasang wajah serius.


" Seperti janjiku tadi, aku akan menyerahkan suamiku padamu. Tapi, aku punya satu syarat. Apa kau mau menerima syarat itu?" ucapku menatapnya untuk menunggu jawaban.


"Kenapa harus pakai syarat?" tanyanya begitu polos. Aku tersenyum dan menyetuh pundaknya.


"Karena dia adalah sesuatu yang berharga untukku, aku tidak akan memberikannya begitu saja pada orang lain. Kecuali orang itu memang benar-benar mencintainya dengan tulus, bukan hanya sekedar obsesi semata." ucapku. Arin sedikit tersentak saat mendengar ucapanku. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia begitu terkejut.


"Apa syaratnya?" dia memalingkan wajahnya lagi.


"Ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab, jika kamu berhasil menjawab pertanyaan itu. Kamu bisa memiliki suamiku seutuhnya. Bagaimana?" ucapku. Dia sedikit menunduk. Mungkin dia sedang berfikir. Aku melihat kesekeliling kamar untuk menunggu jawaban darinya.


"Ok, aku setuju." ucapnya dengan yakin. Aku tersenyum lega.


"Ok, pertanyaan pertama. Apa kamu tahu apa itu arti cinta?" tanyaku sambil menatapnya.


"tahu, cinta itu suatu perasaan ingin memiliki dan ingin terus melihat orang yang kita cintai selamanya. Kata orang juga jika kita sedang jatuh cinta, maka kita akan terus berdebar jika orang itu ada didekat kita." ujar Arin begitu percaya diri. Aku tersenyum mendengar pemaparannya.


"Benarkah? Lalu jika kita ingin di tilang polisi, dan jantung kita berdebar. Itu artinya kita jatuh cinta dong dengan pak polisinya?" ucapku sambil tertawa.


"Enggak lah, itu kan karena kita takut. Takut jika polisi akan menilang kita, dan itu pun kalau kita bersalah karena tidak membawa surat yang lengkap."


Ah, ternyata dia benar-benar masih sangat polos.


"Nah itu dia, tidak semua debaran itu bisa dikatakan jatuh cinta. Rasa takut akan kehilangan juga bisa menimbulkan debaran hebat. Cinta bukan hanya bisa diartikan dengan sebuah debaran." ucapku menatapnya lekat.


"Cinta itu adalah sebuah elemen yang begitu indah dan sulit diartikan. Cinta adalah perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Cinta tidak pernah meminta sebuah imbalan. Dalam cinta tidak ada kata perjanjian atau pun penawaran. Kata cinta memang sangat luas, cinta kepada yang maha kuasa, cinta kepada kedua orang tua, cinta kepada saudara dan cinta pada seseorang yang begitu spesial." Aku menjeda ucapanku agar Arin bisa dengan jelas memahami semua ucapanku.


"Cinta adalah anugerah yang Allah berikan pada setiap hati manusia. Tapi banyak manusia yang salah mengartikan cinta. Banyak orang yang bunuh diri kerena putus cinta. Ia lupa jika sang maha pencipta lebih mencintai ciptaannya lebih dari apapun. Ia sudah salah mengartikan sebuah cinta.

__ADS_1


Cinta itu tak harus memiliki. Jika kita mencintai seseorang dengan tulus, semua kebahagiaan orang itu akan menjadi kebahagiaan kita juga. Cinta yang tulus tidak pernah meminta balasan, karena cinta itu suci. Tak bisa dikotori hanya dengan sebuah ucapan dan keinginan untuk memiliki."


"Jadi menurutku, apa yang kamu katakan tadi itu bukanlah sebuah cinta. Melainkan hanya sebuah ketakutan untuk kehilangan. Kamu tidak ingin dia menjauh darimu dan begitu takut akan kehilangannya. Semua orang akan memiliki rasa takut karena sudah terlanjur memiliki rasa sayang."


"Aku takut kehilangan adikku atau merasa kehilangan saat dia menjauh. Karena aku sangat menyayanginya."


"Begitu pun denganmu, takut kehilangan kakak mu karena kamu sangat menyayanginya. Karena kalian selalu bersama dalam waktu yang lama. Kamu takut jika kakak kamu akan menyayangi orang lain lebih darimu bukan?"


Aku menatapnya dengan lekat. Ia terlihat sedang berfikir.


"Aku...aku...


"Kamu masih sangat muda sayang, kamu belum mengerti arti cinta sesungguhnya. Aku faham, karena aku pernah berada diposisi kamu saat ini. Dimana hati selalu berubah-ubah. Terkadang resah, gelisah dan kadang hati berbunga-bunga yang entah kenapa itu semua bisa terjadi. Tapi kamu harus ingat satu hal. Setiap orang berhak jatuh cinta, tapi jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah." ujar ku menggenggam tangannya.


"Masih banyak yang ingin aku tanyakan? Sebelum berlanjut untuk pertanyaan lain, apa kamu tidak ingin bertanya padaku?" ucapku menaikan sebelah alisku.


"Apa kakak mencintai kak Alan?" tanyanya. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Ya, aku sangat mencintai suamiku." ucapku.


"Kenapa kakak bisa jatuh cinta sama kak Alan?"


Aku menghela nafas dan menatapnya lekat.


"Tidak ada alasan untukku bisa mencintainya. Rasa itu hadir sendiri tanpa aku sadari, entah lah. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa mencintainya. Mungkin benar, cinta itu tidak perlu sebuah alasan." ucapku sambil tersenyum.


"Maaf." Aku sangat terkejut mendengar kata maaf darinya. Apa maksudnya?


"Arin minta maaf, Arin sudah salah sangka. Arin sudah salah menilai kakak, Arin cuma takut kak Ara akan mengambil kak Alan untuk selamanya. Arin cuma takut setelah kakak menikah dengan kak Ara. Kak Alan akan melupakan Arin dan tidak akan menyayangi Arin lagi. Arin sudah terbiasa dengan perhatian kak Alan. Dan sekarang kak Alan sudah jarang memperhatikan Arin lagi. Kak Alan sudah berubah. Dia lebih menyayangi kak Ara." ujarnya sambil menangis. Aku menghela napas dan langsung memeluknya.


"Kamu salah sayang, kakak kamu tidak pernah berubah. Perasaan sayangnya tidak pernah berubah. Saat ini kak Alan sedang sibuk. Bahkan beberapa hari ini kak Ara juga sering diabaikan oleh kakak kamu." ucapku sedikit curhat. Arin melepaskan pelukkanku dan menatapku lekat.


"Kenapa?" tanyanya dengan wajah yang begitu polos. Ya allah, izinkan aku untuk menjaga kepolosannya. Aku akan mengajarkannya agar dia tak jatuh kedalam pergaulan bebas yang sudah banyak memakan korban anak-anak muda saat ini.


"Karena kakak kamu sedang sibuk dengan pekerjaannya, berikan dia waktu. Setelah semuanya aman. Kak Alan akan kembali seperti dulu, kamu faham kan?" ucapku menangkup wajahnya. Ah, dia begitu cantik. Lihat alisnya yang tebal, bibir yang tipis, mata yang begitu bulat dan rambut yang indah.


"Arin minta maaf sudah berkata kasar pada kakak. Ternyata tidak salah kak Alan begitu mencintai kakak, kakak begitu lembut dan penuh kasih sayang. Maaf, Arin sudah tenggelam dengan perasaan Arin sendiri." ucapnya kembali memelukku. Aku harap ini adalah awal yang baik untuk hubunganku dengan gadis ini.


"Kakak sudah memaafkan kamu. So, kelanjutannya bagaimana? Apa masih ingin memiliki Alan sepenuhnya?" gurauku.


"Kak." rengeknya sambil mengeratkan pelukannya. Aku tertawa renyah. Ternyata dia begitu manja. Aku mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Aku sangat bahagia karena mendapatkan adik baru yang memiliki sifat jauh berbeda dari Azka. Jika Azka pasti tidak akan pernah mau aku peluk, bahkan dia akan sangat marah jika aku memanggilnya dengan sebutan adik kecil. Hehe, tapi aku sangat sering mengganggunya. Ah, aku merindukan adik kecilku itu.

__ADS_1


__ADS_2