Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 39. Kesalahan Terbesarku (Alan)


__ADS_3

Hari-hari yang sangat melelahkan. Satu minggu penuh aku menghabiskan waktu bersama beberapa rekanku untuk melakukan treatment. Kami mendapatkan tugas untuk merivew 20 jurnal internasional kedalaman paper dengan jangka waktu yang cukup singkat. Satu detik pun tak ada waktu untukku bersantai. Ya, ini adalah tugas dan syarat agar aku bisa mendapatkan persetujuan bimbingan dengan Professor Luis. Dia adalah guru besar yang sangat terkenal dengan kepintaran dan kemampuannya. Banyak mahasiswa yang menyerah di tengah jalan karena ketegasan dari Professor yang satu ini. Namun aku tak mau masuk kedalam daftar hitamnya. Aku akan melakukan yang terbaik agar bisa menjadi bimbingannya.


Satu minggu ini aku sama sekali tak menyetuh barang pribadiku. Aku sangat merindukan istri manjaku. Sedang apa dia sekarang? Tunggu aku sayang, besok aku kan bebas kembali. Aku harap dia tidak akan marah karena aku tak memberi kabar sebelumnya. Aku juga sengaja tidak banyak mengganggu waktunya karena dia juga sedang sibuk. Ditambah waktu disini dan disana jauh berbeda.


"Arlan, kau di minta keruangan Prof. Semoga sukses." ujar salah satu teman seperjuanganku. Aku tersenyum dan mengangguk. Ku tarik napasku dalam-dalam. Ini adalah waktu penentuan apakah aku lulus atau tidak. Aku harap kerja kerasku tidak sia-sia.


Dengan perasaan was-was, aku masuk kedalam ruangan Prof. Luis.


"Masuk Arlan." Aku masuk dengan perlahan. Ku lihat Prof. Luis sedang sibuk dengan beberapa tumpukan kertas di mejanya. Aku melihat Prof. Luis menatapku.


"Duduklah, kita berbincang sebentar." ujarnya. Aku mengangguk dan duduk di kursi.


"Bagaimana, apa kau merasa lelah? Menyesal sudah memilih aku pembimbingmu?" tanyanya menatapku lekat. Aku tersenyum.


"Tidak Prof, suatu kehormatan untuk saya jika Prof. menjadi pembimbing saya." jawabku dengan tulus.


"Hmmm... Aku kira kau bosan dan menyesal. Satu minggu penuh aku mengurungmu dan memberikan dirimu tugas berat. Apa itu benar-benar berat?" ujarnya.


"Tidak Prof, sudah semestinya kami mahasiswa bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan." ujar ku.


"Hmmm.. Aku menyukai jawabanmu. Bagaimana menurutmu, apa kau akan lulus dalam ujian kali ini?" tanyanya yang berhasil membuat jantung bedebar. Tak mudah memang untuk mendapatkan pembimbing seorang Professor terkenal seperti beliau.


"Saya masih banyak kekurangan dan butuh belajar Prof. Tapi saya berharap bisa lulus, karena sejak awal saya menyukai sistem kerja Professor. Jadi semua keputusan saya serahkan dengan Professor." jawabku seadanya.


"Hahaha... Kau terlalu memujiku Arlan. Tapi aku menyukai keseriusan mu. Selamat! Beberapa tahun kedepan, kau jangan bosan mendapatkan perintah dariku. Selamat bergabung dan berjuang. Tak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Aku harap kau tak menyesal memilihku." ujarnya yang berhasil membuatku bahagia.


"Thank you Prof." ucapku begitu semangat.


"Pulanglah, aku tahu kau merindukan istrimu. Manfaatkan waktu senggangmu." ujarnya. Aku sedikit terkejut, pasalnya aku sama sekali belum mengatakan jika aku sudah menikah.


"Jangan menatapku seperti itu, aku melihat cincin di tanganmu. Jadi aku berfikir kau sudah menikah." Aku tersenyum mendengar pemaparannya.


"Saya memang sudah menikah." jelasku.


"Wah, jadi aku tak salah. Sepertinya para gadis disini akan sangat kecewa. Kau masih sangat muda, tapi sudah berani menikah. Itu sangat langka terjadi disini."


"Saya tidak mau orang lain mendahului. Tak perlu menunggu lama untuk melakukan kebaikan."


"Ok, aku mengerti. Sepertinya aku juga harus mendapatkan istri secepatnya." ujarnya. Aku tersenyum mendengar itu. Aku sendiri bingung, bagaimana mungkin Professor tampan sepertinya belum menikah di usianya yang hampir menginjak kepala empat.


"Kami menunggu kabar baik anda, semoga secepatnya bisa menjadi seorang suami." ujarku. Professor pun tertawa.


Setelah mengobrol beberapa masalah risetku dan lain sebagainya. Aku langsung beranjak untuk pulang. Namun saat aku ingin masuk kedalam mobil. Seseorang memcekal tanganku. Aku sangat terkejut ternyata dia adalah kakak kelasku.


"Sorry," ucapku melepaskan tangannya.


"Aku menginginkanmu," ucapnya yang berhasil membuatku terkejut. Apa-apaan ini? Dia sudah gila.


"Sorry, kau salah orang." ucapku langsung masuk kedalam mobil. Aku tak mau melayani wanita aneh sepertinya. Sungguh, ini yang paling aku hindari. Aku selalu menghindari wanita yang ingin dekat denganku. Aku hanya ingin menghormati istriku. Aku melihat kekecewaan di matanya. Tapi aku tidak perduli. Aku meninggalkan tempat itu menuju asrama.


Aku membuka ponselku. Ck, ternyata lowbat. Berapa hari aku tak mengisi daya, pantas saja dia mati.


Sesampainya diasrama aku langsung mengisi daya ponselku. Aku sangat merindukannya. Aku beranjak menuju kamar mandi. Aku ingin membersihkan diriku terlebih dahulu. Aku tak ingin terlihat berantakan saat menghubunginya.


Deg! Ada apa dengan jantungku? Kenapa aku merasa ada yang janggal. Dadaku terasa sesak. Apa terjadi sesuatu padanya? Tidak Alan, jangan berfikir yang bukan-bukan. Dia baik-baik saja disana. Aku akan memastikannya. Aku mengurungkan niatku untuk mandi. Ku hidupkan ponselku.


30 panggilan tak terjawab. Mama. Ada apa sebenarnya. Aku kembali menghubungi mama. Perasaanku semakin tak karuan. Ya allah, hamba mohon lindungi apapun yang terjadi pada istri hamba.

__ADS_1


Tut.


"Hallo Alan, kemana saja kamu? Dasar anak tak tahu di untung. Apa kamu lupa sudah punya istri?"


Aku sangat terkejut mendapatkan semprotan dari mama.


"Maaf ma, Ada yang harus Alan urus. Apa terjadi sesuatu dengan Ara?" Jantungku berpacu sangat kencang.


"Dasar anak bodoh. Ara masuk rumah sakit. Pulanglah, kamu harus ada di sampingnya saat ini. Dia membutuhkan kamu, pulang sekarang Alan."


"Ada apa ini? Bagaimana bisa Ara masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanyaku panik.


"Pulanglah, mama akan mengatakan semuanya saat kamu sudah disini. Pulang Alan, Ara membutuhkan kamu." ujar mama. Ya allah, apa yang sebenarnya terjadi.


"Alan akan pulang Ma. Assalamualaikum." Aku langsung mematikan telpon dan menyambar tas milikku. Aku harus pulang untuk melihat kondisinya. Bagaimana bisa aku secerobih ini.


Aku sangat cemas. Pulang ke Indonesia membutuhkan perjalanan yang panjang. Aku tidak bisa menunggu. Aku harap waktu berjalan dengan cepat.


Bandar International Soekarno Hatta...


Aku berlari sekuat tenaga. Aku ingin secepatnya menemui istriku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya. Bodoh. Ini semua salahku. Seharusnya aku tetap memberinya kabar. Bagaimana bisa aku melupakan jika Ara akan mengkhawatirkan diriku.


Sesampainya di rumah sakit perasaanku kembali berkecamuk. Aku melihat papah Arham terduduk lesu di depan ruangan dimana Ara di rawat. Apa yang sebenarnya terjadi?


"pah, apa yang terjadi?" tanyaku dengan napas tersenggal karena berlari. Papah menatapku tanpa berniat untuk menjawabku.


Ceklek! Aku melihat kearah pintu. Aku langsung masuk dan melewati mama yang terdiam melihatku. Jantungku seakan tak berdetak saat melihat wajah pucatnya. Ia terbaring disana dengan jarum yang menancap di lengannya. Matanya terpejam. Hatiku sangat sakit saat melihat semua itu.


"Apa yang terjadi?" tanyaku. Bunda yang terduduk di sebelahnya langsung melihatku.


"Ara... dia.. Ara keguguran."


"Tidak mungkin," Aku duduk di sebelahnya. Semua ini seperti mimpi. Aku menggenggam tangannya yang begitu dingin. Maafkan aku sayang, maaf. Air mataku lolos begitu saja. Sakit, itu yang saat ini aku rasakan.


"Ara kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Kandungannya sangat lemah, jadi janinnya tidak bisa bertahan. Kalian harus bersabar, mungkin ini belum rezeki." jelas mama.


"Malam tadi operasi berjalan dengan lancar, hanya saja Ara belum siuman sampai saat ini."


Air mataku semakin deras mengalir. Ini semua salahku.


"Maafkan aku, aku yang salah." ucapku. Ku kecup tangannya dengan lembut. Bagaimana jika dia bangun dan mendengar kenyataan pahit ini? Sakit sekali ya rab. Aku dan dia selalu mengharapkan kehadirannya. Tapi kenapa saat dia hadir, tak ada yang menyadari itu. Aku benar-benar bodoh.


"Hiks.. "


Aku sangat terkejut saat mendengar suara isakan. Dia sudah bangun?


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar sayang. Bunda akan panggil dokter."


Aku mengusap wajahnya. Ku hapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Maafkan aku sayang," ucapku mengecup keningnya. Aku merasakan tangannya mencengkram erat tanganku. Aku memeluknya dengan erat. Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Ini sangat menyakitkan.


"Katakan ini hanya mimpi bi, ini mimpi kan?" ucapnya. Tubuhnya bergetar hebat. Sakit, hatiku sangat sakit mendengar isakan yang keluar dari mulutnya.


"Maaf sayang." ucapku mencium pucuk kepalanya.


"Ini semua salah Ara bi, Ara tidak menyadari kehadirannya. Seharusnya Ara menyadari ini sejak awal. Ini semua salah Ara bi, Ara minta maaf tidak bisa menjaganya."

__ADS_1


"Tidak sayang, kamu tidak salah. Jangan seperti ini. Kita harus ikhlas, mungkin Allah belum memberikan kepercayaan pada kita untuk merawatnya. Jangan salahkan diri kamu."


"Jangan menangis lagi,"


Aku menangkup wajahnya. Ku kecup kedua matanya. Lalu tak berapa lama dokter pun datang. Aku membiarkan dokter memeriksanya. Aku melihat air matanya terus mengalir. Tatapannya begitu kosong. Aku tahu, saat ini perasaan kecewa dan sedih sedang berkecamuk di hatinya. Begitupun yang saat ini aku rasakan.


"Ibu harus menjaga pola makan yang baik agar proses pemulihan berjalan dengan lancar. Tidak perlu bersedih, insha allah ibu bisa hamil lagi." ujar dokter. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.


"Terimakasih dok." ucapku.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya pamit dulu. Jika ada perlu, silahkan panggil saya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumusalam."


"Sayang, hubby tahu ini sangat berat. Tapi kita harus ikhlas." ucapku mengecup keningnya. Aku tak ingin kondisinya semakin menurun.


"Hubby tidak marah?" tanyanya. Ya rab, kenapa dia begitu polos.


"Bagaimana aku bisa marah, ini bukan keinginan kita sayang." ucapku mengecup tangannya.


"Tapi ini salah Ara, Ara tidak menyadari dia sudah hadir bi. Ara bukan ibu yang baik, anak kita pasti membenci Ara."


"Apa yang kamu katakan? dia tidak akan membenci kamu sayang. Dia sudah di syurga, sedang menunggu kita. Kita akan bertemu dengannya kelak." Aku berusaha untuk memenangkannya. Aku menatap wajahnya lekat.


"Dengar, apapun yang terjadi. Jangan menyalahkan diri sendiri ok? Saat ini kamu harus fokus untuk sembuh. Aku mencintaimu." ujarku memeluknya.


"Hiks, Ara rindu hubby. Kenapa hubby tidak memberi kabar?"


"Maaf sayang, selama seminggu aku harus menerima tugas. Maafkan aku." ucapku mengecup kepalanya bertubi-tubi.


"Hubby kenapa pulang? Bagaimana dengan kuliah hubby?" tanyanya. Ck, dasar bodoh. Kamu lebih penting dari apapun sayang.


"Itu tidak penting, saat ini yang harus dipikirkan adalah kamu sayang. Kamu harus sembuh." ucapku.


"Bi, apa anak kita benar-benar tidak marah? Bagaimana jika dia marah bi? Ara tidak bisa menjaganya dengan baik bi. Kenapa Ara tidak sadar saat Ara sering mual dan menginginkan sesuatu. Ara sangat bodoh bi." Aku sangat terkejut mendengar pemaparannya. Aku tidak pernah tahu semua itu. Aku melepaskan pelukanku.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang?" tanyaku. Aku menatap matanya dalam.


"Maaf, Ara cuma tidak mau hubby kepikiran. Ara tidak mau hubby sakit. Ara minta maaf." jawabnya. Ia memeluk ku begitu erat.


"Seharusnya kamu mengatakan apapun yang terjadi sayang, sudah hubby katakan bukan? Kamu harus mengatakan apapun yang terjadi, apapun itu."


"Ara minta maaf, Ara tidak tahu kalau ini semua akan terjadi. Ara minta maaf, hubby jangan marah.. Akhhh... " Aku sangat tekejut saat ia meringis kesakitan sambil menyetuh perutnya.


"Ada apa?" tanyaku mulai panik.


"Perut Ara sakit bi." ucapnya sambil meremas tanganku begitu erat. Apa begitu sakit?


"Aku panggilkan dokter sebentar." ucapku, namun ia tak melepaskan tanganku.


"Sakit bi." rengeknya. Aku semakin panik.


"Ma, bunda." panggilku. Lalu tak lama mama dan bunda pun masuk. Wajah mereka pun tak kalah panik.


"Ada apa? Kenapa sayang?" tanya bunda.


"Mama panggil dokter dulu." Mama pun langsung berlari untuk memanggil dokter.

__ADS_1


"Sayang, jika itu sakit. Kamu bisa lampiaskan itu padaku." ucapku mengusap kepalanya. Aku bisa melihat dia benar-benar kesakitan. Ya allah, kenapa harus dia yang merasakan sakit? Kenapa bukan aku saja. Aku tidak bisa melihatnya kesakitan seperti ini.


__ADS_2