
Aku terus menatap punggung papa. Sudah hampir setengah jam papa masih belum bicara.
"Pa, Alan tahu ini tradisi. Tapi... "
"Papa tidak suka penolakan, jika kamu benar-benar anak papa. Maka kamu harus mengikuti tradisi keluarga ini,"
"Tapi pa, bagaimana dengan istri Alan? Alan tidak mungkin meninggalkan Ara. Dari awal Alan sedikit keberatan dengan syarat papa. Tapi, Alan tahu. Papa akan memberikan keringanan untuk Alan. Biarkan Alan melanjutkan pendidikan disini pa," ujarku. Papa masih tak bergeming, ia masih tetap membelakangi ku.
"Jadi kau menolak?" tanya papa. Aku terdiam sesaat.
"Maaf pa, Alan tidak bermaksud untuk menolak keinginan papa. Tapi Alan tidak mungkin meninggalkan istri Alan," ujarku terus menatap punggung papa. Dari awal aku sudah mengira hal ini akan terjadi. Oleh karena itu aku enggak untuk menyetuh istriku. Tapi apa lagi? Semuanya sudah terlambat.
"Jadi kau menolak?" tanya papa lagi.
"Maaf pa, dengan berat hati Alan menolak." ucapku dengan tegas. Keputusanku sudah bulat, aku akan menerima resiko yang aku ambil.
"Hari ini kau membuktikan jika kau bukanlah darah dagingku!'
Jleb! Bagaikan ribuan panah menusuk jantungku. Selama ini, papa tidak pernah mengungkit statusku. Tapi kali ini, papa mengatakan itu semua dengan begitu lantang. Itu artinya aku benar-benar sudah membuat papa kecewa.
"Pa..."
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, kau bukan putraku lagi!" Aku kembali tekejut.
"Pa, sampai kapanpun papa tetap papa. Alan menyayangi papa." ucapku langsung beranjak pergi. Jika aku terus disana, papa akan semakin marah.
Deg! Jantungku kembali berpacu saat melihat mama sudah berdiri di depan pintu dengan air mata yang berlinang.
"Mama," ucapku memeluk mama. Saat ini aku benar-benar bimbang. Disatu sisi aku sudah membuat papa dan mama kecewa. Tapi, saat ini aku juga sudah mempunyai tanggung jawab yang besar. Ara, dia adalah tanggung jawabku. Aku akan selalu membuatnya bahagia.
"Mama akan bicara pada Papa, jangan khawatir. Maafkan ucapan papa sayang," ujar mama mengelus kepalaku. Tanpa sadar, air mataku lolos dan membasahi pipiku.
"Tidak perlu ma, apa yang papa katakan itu memang benar. Alan bukanlah... "
" Jangan bicara lagi, dasar anak bodoh. Kamu putra mama, anak mama." ucap mama memelukku semakin erat. Aku menangis di pelukannya. Biarlah orang lain menganggap aku lemah, karena kelemahanku adalah keluargaku sendiri. Keluarga yang sudah menerimaku dan mendidikku hingga aku sebesar ini. Keluarga yang selalu ada untukku kapanpun. Tapi apa balasanku? aku menolak keinginan keluarga ini.
"Alan minta maaf ma, Alan sudah mengecewakan mama dan papa. Tapi saat ini posisi Alan sebagai seorang suami, Alan punya tanggung jawab besar untuk kebahagiaan istri Alan," ujarku.
"Mama mengerti sayang, masuklah kekamar. Mama akan bicara dengan papa. Istri kamu pasti menunggu," ucap mama menghapus air mataku. Aku mengangguk. Ku kecup lembut kening mama. Aku sangat menyayanginya.
"Terimakasih ma," ucapku. Mama mengangguk. Aku tersenyum dan berjalan menunju kamarku. Perasaanku saat ini benar-benar tidak tenang.
Aku membuka pintu perlahan, namun aku sama sekali tak menemukan istriku. Ku tutup kembali pintu dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang, kamu didalam?" tanyaku sambil mengetuk pintu. Lalu tak lama pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan bidadariku dengan geraian rambut yang begitu indah.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanyanya. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Lalu?" tanyanya lagi, aku mengernyit bingung.
"Keputusan hubby?"
Apa dia sudah tahu? Ck, pasti Arin yang mengatakan semuanya.
"Aku menolaknya." jawabku pelan. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya.
"Kenpa?" tanyanya lagi. Kenapa? Ya Allah Ara, sudah pasti aku melakukan ini demi kamu sayang.
"Karena aku tidak mungkin meninggalkan bidadariku," ucapku mencium keningnya.
"Itu salah Alan, aku tidak setuju dengan keputusan kamu!" seru nya berjalan melewatiku. Aku menatap dirinya bingung. Dia juga memanggil namaku. Apa dia marah? Tapi aku melakukan semua ini hanya untuknya.
"Apa maksud kamu? Kamu ingin kita berpisah?" tanyaku berjalan mendekatinya. Ara langsung menatapku.
"Bukan seperti itu, kamu harus melakukan apapun tradisi keluarga ini. Ara baik-baik saja Alan, hanya 2 tahun bukan? Ara akan menunggu." ujarnya sambil tersenyum. Ini seperti bukan dirinya.
"Dua tahun bukan waktu yang singkat Ara, itu sangat panjang. Aku tidak sanggup jika kita harus berjauhan." ucapku mengelus wajahnya. Aku melihat Ara menghela napas berat.
"Ara tahu, tapi posisi hubby saat ini masih anak dari keluarga Digantara. Berbeda halnya dengan Ara, jangan kecewakan papa. Hubby sendiri bukan yang bilang? papa adalah malaikat hubby. Jadi jangan membuatnya kecewa, kita bisa melewati semuanya bersama-sama. Ara akan menyelesaikan kuliah Ara secepat mungkin, setelah itu Ara akan menyusul hubby. Bagaimana?"
Ya allah, apa ini benar benar istriku? Jika seperti ini dia terlihat lebih dewasa. Pemikirannya juga bukan seperti Ara yang biasanya.
"Aku sangat mencintaimu," ucapku langsung memeluknya. Huh, bagaimana bisa aku meninggalkannya? Aku sudah terbiasa mendengar ocehan dan sifat manjanya.
"Ara juga sangat mencintai hubby," ucapnya. Aku mengeratkan pelukanku.
"Jadi bagaimana?" tanyanya lagi. Aku menghela napas gusar.
"Aku bingung," ucapku menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya. Aroma strawberry berpadukan susu menyeruak ke dalam hidungku.
"Pergilah, lanjutkan perjuangan keluarga Digantara. Jangan sampai memutuskan sebuah ikatan hanya untuk mengikat hubungan lain. Tapi bagaimana caranya kedua ikatan itu harus tersambung hingga tak akan mudah di putuskan," ujarnya mendorong tubuhku perlahan. Aku menatap matanya yang begitu teduh.
"Ini adalah bukti cinta Ara untuk hubby. Ara akan berkorban dan hubby juga harus berjuang keras demi Ara," ucapnya sambil menangkup wajahku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Aku tak pernah menyangka, dibalik manja dan cengeng kamu. Ada sedikit kedewasaan disana," ujarku mencubit hidungnya. Aku bisa melihat pipinya merona dengan hidung yang memerah.
"Ara cuma mau menjadi istri yang baik buat hubby, menjadi jalan menuju rumah yang akan kita bangun di surga," ungkapnya mencium punggung tanganku. Aku benar-benar terharu. Ku kecup pucuk kepalanya dan kulafalakan doa agar ia selalu dilindungi oleh Allah dan terus menjadi istri solehah.
"Terimakasih sayang," ucapku kembali memeluknya.
"Hubby harus secepatnya meminta maaf pada papa. Dan katakan jika hubby menerima apapun keputusan papa," pintanya sambil menatapku. Aku tersenyum dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Hubby akan melakukan itu, sayang tidak perlu khawatir." ucapku membawanya untuk tidur. Ara membenarkan posisi tidurnya. Ia menyadarkan kepalanya di dadaku.
"Hubby, wisuda hubby masih lama kan?" tanyanya.
"Satu bulan lagi mungkin, ada apa?"
"Hmmm... Berarti masih ada waktu satu bulan untuk bermanja dengan hubby. Ara harap dia cepat hadir," ucapnya menarik tanganku dan meletakkan di perutnya. Aku mengerti apa maksud perkataannya. Aku juga mengharapkan kehadiran malaikat kecil dalam keluarga kecilku.
"Hmmm... Kita hanya bisa berdoa, dan tetap berusaha." ucapku. Ara mengangkat kepalanya dan menatapku lekat.
"Hubby, jika nanti Ara hamil. Terus hubby jauh, siapa dong yang peluk Ara?" rengeknya membuatku sangat gemas.
"Kan ada guling," gurauku. Ara mengerucutkan bibirnya dan mencubit pipiku dengan begitu gemas. Ck, sakit juga ternyata cubitanya.
"Ck, hubby masih saja bercanda. Ara serius hubby," rengeknya lagi. Kali ini pipinya menggembung sempurna.
"Hubby akan pulang," ucapku mengecup pipinya yang masih seperti ikan buntal.
"Emang bisa? Memangnya hubby akan melanjutkan study di mana?" tanyanya lagi. Ck, ternyata sifat bawel nya sudah kembali.
"Harvard University atau Oxford University. Karena papa lulusan kedua universitas itu, mungkin aku akan mengikuti jejak papa. Kita akan melanjutkan pendidikan bersama-sama," jawabku memeluknya dengan erat.
"Hmm... Ara tidak mau lanjut, karena Ara mau pokus dengan keluarga Ara. Ara mau seperti bunda," ucapnya. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku sangat senang, karena aku memang tidak akan mengizinkan Ara untuk bekerja. Bukan berarti aku menghalangi masa depannya, tapi itu adalah prinsipku. Tapi jika Ara ingin melanjutkan pendidikannya, aku tidak akan keberatan. Karena istriku adalah Madrasah untuk anak-anakku nanti. Jadi aku tak akan menghalangi dirinya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.
***
Aku tersenyum lega saat melihat cahaya di wajah papa. Apa dia begitu senang aku akan melanjutkan jejaknya.
"Bawa kemari surat perjanjian itu," pinta papa. Aku menatap mama dan Ara bergantian.
"Apa kau tidak mendengarkan aku son?" tanya papa menatapku. Dengan ragu aku memberikan surat perjanjian itu. Dengan cepat papa mengambilnya dan...
Tunggu! Kenapa papa merobeknya? Aku menatap papa lekat.
"Papa tidak perlu lagi surat ini, kau benar-benar putraku. Tapi papa ingin tahu apa alasan kamu berubah pikiran? Apa karena... " ujar papa menatap Ara lekat.
"Ya pa," jawabku merangkul Ara.
"Kamarilah putriku," titah papa pada Ara. Ara menatapku, aku mengangguk pelan. Ara bangun dari duduknya dan berjalan mendekati papa.
"Duduklah," pintanya. Ara duduk disana.
"Terimakasih," ucap papa mengecup kening Ara. Hah, sungguh pemandangan yang sangat langka. Aku sangat bahagia, mendapat istri sepertinya memang benar-benar anugrah. Dia benar-benar bidadari yang Allah berikan untuk keluarga ini. Terimakasih ya Allah, atas semua nikmat yang Engkau berikan padaku.
اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَنِىْ مِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
__ADS_1
Alhamdulillaahil ladzii ja’alanii min ummati Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wasallama .
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku termasuk umat Nabi Muhammad.”