Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Epilog


__ADS_3

Suara riuh para tamu undangan membuat Ichal terbangun dari tidurnya. Ia menangis cukup kuat dalam gendongan Ara.


"Sayang, kaget ya?" ucapnya mengecup pipi Ichal dengan lembut.


"Sini-sini sama uncle hansome," ujar Azka hendak mengambil Ichal. Namun, dengan cepat Ara menepis tangannya.


"Jangan sentuh Ichal, kakak masih marah sama kamu," ucap Ara menatap Azka sinis. Alan hanya tersenyum saat melihat pertengkaran kakak beradik itu. Istrinya itu memang masih seperti anak-anak. Tetapi, pada waktu tertentu ia akan berubah menjadi dewasa.


"Ck, dasar pelit, sudah tua juga," ucap Azka langsung beranjak pergi. Ara yang mendengar itu terlihat sangat kesal.


"Menyebalkan," umpat Ara.


"Sudahlah, kasihan Ichal," ucap Alan merangkul pundak Ara. Ara terlihat lebih tenang.


Acara aqiqah putra mereka terbilang sangat meriah. Bagaimana tidak, seluruh klien Arnold dan Alan mereka undang tanpa terkecuali. Tidak heran rumah mereka dipenuhi oleh orang-orang ningrat.


Raichal Abisatya Digantara. Nama putra Alan dan Ara pun terpasang indah di dinding rumah. Mereka terlihat bahagia dan begitu antusias menyambut para tamu undangan yang masih berdatangan tanpa henti.


"Berapa banyak orang yang hubby undang?" tanya Ara penasaran.


"Tidak banyak, semua orang yang hubby kenal. Juga kenalan papa dan papah kamu. Mungkin mereka ingin orang lain tahu jika cucunya ini sangat tampan," ujar Alan mencium Ichal dengan gemas. Ara yang melihat itu hanya tersenyum.


"Hai baby Al, sini aunti yang gendong," ucap Rizka yang tiba-tiba muncul. Ara memberikan Ichal dengan hati-hati pada Rizka.


"Bella juga mau gendong," ucap Bella mencubit pelan pipi Ichal. Ara yang melihat itu hanya tersenyum.


"Mirip banget sama kak Alan. Kak Ara gak ada mirip-miripnya," ujar Rizka yang berhasil membuat Ara kesal. Alan yang melihat ekspresi kesal Ara pun langsung mencium pipinya.


"Hubby," ucap Ara merasa malu. Bagaimana tidak, di sana terlalu banyak orang. Mungkin saja ada yang melihat perbuatan Alan.


"Bi, Ara ke kamar sebentar. Ada sesuatu yang harus Ara ambil," ucap Ara pada Alan. Alan mengangguk setuju. Ara pun langsung bergegas pergi. Saat Ara hendak menaiki anak tangga. Matanya tidak sengaja melihat Azka yang tengah berdiri sendirian. Ara mengikuti arah pandangan Azka.


Kedua alisnya terpaut saat melihat seorang gadis memakai seragam yang tengah menyusun beberapa makanan diatas meja. Ara tersenyum geli, ia mulai mengerti maksud tatapan Azka.


Apa Azka tertarik pada gadis itu? Jadi adikku itu sudah dewasa? Lumayan cantik. Anak itu terlalu pintar memilih perempuan.


Setelah melihat pemandangan indah itu. Ara pun langsung bergegas menuju kamarnya. Ia lupa memakai cincin pernikahannya. Ya, Ara selalu melepas cincinnya saat mandi. Untung saja Alan tidak menyadari itu. Jika tidak, Ara akan sangat sulit membujuk suaminya.


Semua tamu undangan sudah memenuhi rumah Alan, acara sudah dimulai dengan pembukaan oleh MC. Semua acara berjalan dengan sangat lancar, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan, pencukuran rambut, tausiyah dan yang terakhir adalah pembacaan do'a.


"Semoga menjadi anak yang soleh dan berbakti pada orang tua, sayang," ucap Dara mencium pipi Ichal. Ara tersenyum senang melihatnya.


"Cucu nenek sangat tampan, jadi anak yang soleh ya nak. Berbakti sama umi dan abi," ucap Nissa mencium kening Ichal.


"Senang banget bisa melihat kebahagiaan keluarga kita seperti ini," ucap Syila merangkul pundak Ara.


"Ya, semoga kita bisa terus bersama." Nissa menatap Alan dan mengusap lengan putranya.


"Mama selalu bangga sama kamu, Alan. Jaga mereka baik-baik," pesan Nissa pada Alan. Alan mengangguk, lalu mencium kening Nissa dengan mesra.


"Terima kasih, Ma."


Milan yang melihat semua itu ikut senang. Ia tidak pernah menyesal menitipkan Alan pada Nissa. Nissa begitu menyayangi anaknya.


Milan hendak pergi. Namun, ia tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang tengah menggendong balita.


"Milan?" ucap pria itu saat melihat Milan.


"Bayu, kamu juga ada disini?" tanya Milan berusaha untuk tersenyum.


"Mas, apa Diana menangis?" tanya Hilda menghampiri Bayu. Milan menatap Hilda dan Bayu bergantian. Hilda pun melakukan hal yang sama.


"Sayang, perkenalkan ini Milan. Ibu kandung Alan," ucap Bayu. Hilda mengangguk dan langsung mengulurkan tangannya.


"Hilda, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan ibu Alan. Kenapa selama ini tidak pernah kelihatan?" ujar Hilda. Milan membalas uluran tangan Hilda.


"Em... Aku...


"Ma, dari tadi Mala cari mama. Ayo bersiap, sebentar lagi ayah datang. Kita tidak boleh terlambat," ujar Mala menghampiri Milan. Bayu menatap Mala cukup lama. Mala sangat terkejut, ia tidak tahu jika mamanya sedang mengobrol dengan seseorang.


"Ah, maaf om, tante, hey adik kecil. Mala tidak tahu kalau mama sedang mengobrol," lanjut Mala sambil mencubit pipi Diana dengan gemas. Pandangan Bayu tidak lepas dari Mala. Begitu pun Hilda.


"Mala, kembaran Alan." Akhirnya Milan angkat bicara. Mala tersenyum lebar menatap kedua orang di depannya. Ia tidak tahu jika pria dihadapannya itu ayah kandungnya.


Bayu dan Hilda terkejut bukan main. Keduanya saling melempar pandangan.

__ADS_1


"Mas, biar Diana dengan Hilda. Bicaralah," ucap Hilda mengambil Diana dari gendongan Bayu. Lalu ia pun langsung beranjak pergi. Ia tahu suaminya membutuhkan waktu.


Bayu berjalan mendekati Mala, mengusap wajah Mala dengan lembut. Mala terlihat bingung. Ia menatap Milan penuh tanda tanya. Memang belum ada yang mengatakan pada Mala jika Bayu adalah ayah kandungnya.


"Jadi dia putriku?" tanya Bayu terus mantap wajah Mala.


"Dia ayah kandung kamu, Mala. Bayu, ayah kamu dan Alan." Mala sangat terkejut. Air matanya lolos begitu saja.


"Jadi ayah masih hidup?" tanya Mala tidak percaya.


"Papa sayang, ini papa." Bayu menarik Mala dalam dekapannya. Mala menangis tersedu dalam dekapan bayu. Ia tidak pernah menyangka masih bisa memeluk ayah kandungnya sendiri.


Alan yang melihat kejadian itu ikut meneteskan air matanya. Ara menghampiri Alan.


"Keluarga adalah sumber kebahagiaan kita," ucap Ara merangkul lengan Alan. Alan menatap istrinya, tersenyum dan mengecup pucuk kepala Ara dengan lembut.


***


Saat ini seluruh keluarga besar sedang berkumpul di ruang keluarga. Ara terlihat tengah bersandar di pundak sang papah. Sedangkan Ichal digendong oleh Azka.


"Kakek, bunda, papah, Azka mau bicara sesuatu," ucap Azka membuka pembicaraan. Semua orang yang mendengar itu langsung menatap Azka.


Azka memberikan Ichal pada Alan. Ia berpindah duduk tepat di sebelah sang bunda. Semua orang semakin penasaran dengan apa yang akan Azka sampaikan.


"Azka ingin menikah," ucapnya yang berhasil membuat semua orang terkejut. Ara membenarkan posisi duduknya.


"Dengan wanita yang tadi?" celetuk Ara kembali membuat semua orang terkejut. Azka menatap Ara bingung.


"Eh, maaf keceplosan," lanjut Ara menutup mulutnya. Alan tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Sayang biarkan Azka yang menjelaskan," ucap Alan tersenyum geli. Ara yang mendengar itu langsung memanyunkan bibirnya. Semua orang tersenyum geli melihat sikap Ara yang masih seperti anak kecil. Padahal ia sudah mempunyai Ichal.


Saat mereka sedang asik mengobrol, Rizka datang bersama seorang wanita cantik berseragam. Wanita itu terlihat bingung. Bukan hanya ia, semua orang pun semakin di buat bingung.


"Aku sudah menyelesaikan tugas," ucap Rizka. Ia pun duduk bersama gadis tadi.


"Azka ingin menikah dengannya," ucap Azka menatap gadis yang kini tengah duduk di sebelah Rizka. Gadis itu tampak kaget, ia menatap satu per satu orang yang ada di sana.


"Kamu membuatnya kaget, Azka," ucap Dara menghampiri gadis itu. Dara duduk di sebelahnya.


"Keira, Buk." Jawab gadis itu dengan cepat. Ia terlihat sangat gugup. Dara tersenyum melihatnya.


"Panggil saja bunda, kamu mengenal dia?" tanya Dara menunjuk Azka. Gadis itu langsung menggeleng. Ia memang tidak tahu apa pun. Ia merupakan salah satu karyawan di sebuah perusahaan ketering yang di pesan oleh Ara.


"Bagaimana mungkin kamu ingin menikahi gadis ini Azka, dia saja tidak mengenal kamu."


"Kami kenal kok, dia adik kelas saat SMA. Kalau tidak salah," ujar Arin ikut bicara.


"Benar?" tanya Dara pada Keira. Keira kembali menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak mengenal Azka ataupun Arin.


"Arin banar, mungkin dia tidak mengenal Azka. Tapi Azka mengenalnya," ucap Azka menatap Keira lekat. Keira menatap Azka sekilas, lalu ia kembali menunduk.


"Azka, kamu benar-benar membuat kakek terkejut. Keputusan yang cukup berani. Tapi menurut kakek, sebaiknya kamu bicara baik-baik dulu dengan gadis ini. Baru putuskan semuanya," ujar sang kakek. Azka menatap Arham dan Dara bergantian. Mereka pun mengangguk, menyetujui perkataan sang kakek.


"Ikut denganku," ajak Azka pada Keira.


"Pergilah sayang, dia tidak akan menyakitimu." Dara mengusap lengan Keira. Keira pun mengangguk. Lalu ia beranjak mengikuti Azka.


"Hmmm... Bagaimana dengan kamu, Arin?" tanya Ara menggoda Arin.


"Kak Ra...," rengek Arin. Semua orang langsung tertawa melihatnya. Sedangkan Dio, ia hanya tersenyum melihat wajah merona Arin.


"Datanglah ke rumah, Dio. Bukankah usiamu sudah matang untuk menikah?" Arnold angkat bicara. Kedua orang tua Dio sangat terkejut.


"Dio?" panggil Hilda meminta jawaban putra sulungnya.


"Dio akan melamar Arin, Ma, Pa. Dio harap mama dan papa memberi restu," ujar Dio menatap ke dua orang tuanya.


"Mama dan papa selalu merestui apa pun pilihan kamu," ucap Bayu mengusap punggung Dio.


"Terima kasih, Pah, Ma," ucap Dio tersenyum senang.


"Sepertinya hubungan keluarga kita akan semakin erat," ucap Alan yang di sambut tawa oleh semua orang.


"Dua cucu Adam tadi mana? Kenapa belum kembali juga?" tanya Dara saat tak melihat batang hidung putranya.

__ADS_1


"Mungkin sedang menanam benih cinta, biarkan saja," balas Syila yang di sambut tawa oleh semua orang. Lalu tidak lama seorang pria datang menghampiri mereka.


"Permisi, apa aku boleh bergabung sebentar?" tanyanya yang berhasil membuat semua orang terdiam.


"Paman, silahkan," ucap Alan bangun dari duduknya dan mempersilahkan Alex untuk duduk.


"Tidak perlu, aku kesini hanya ingin berpamitan, sekaligus meminta maaf."


Semua orang saling melempar pandangan.


"Paman, sebaiknya duduk dulu. Bagaimana pun kita adalah keluarga," ucap Ara tersenyum ramah. Alex tampak diam sesaat.


"Lex, duduklah. Tidak perlu sungkan, jangan mengingat masa lalu. Jangan lupa, kita semua keluarga. Tidak perlu meminta maaf," ujar Arham dari duduknya. Ia menghampiri Alex dan merangkulnya.


"Tidak perlu, aku harus segera pergi. Penerbangan hanya tinggal beberapa jam," ujar Alex.


"Pergi? Paman mau kemana?" tanya Ara bingung.


"German, Paman harus mengurus perusahaan di sana," balas Alan.


"Apa tidak bisa di tunda?" tanya Nissa menatap Alex lekat. Alex tersenyum.


"Aku harus pergi," balas Alex. Lalu ia pun berjalan menghampiri Alan. Semua itu tidak luput dari pandang semua orang.


"Hey boy, kita bertemu lagi. Aku harap kamu tidak membenciku, dihari kelahiranmu aku sudah membuat kekacauan," ujar Alex mengelus pipi Ichal. Ichal terlihat menggeliat dan menjulurkan lidahnya. Alan yang melihat itu tersenyum senang.


"Paman ingin menggandongnya?" tanya Alan. Alex langsung menatap Alan, seakan tidak percaya dengan tawaran Alan. Alex sadar diri jika dirinya begitu jahat, ia pernah memiliki niat jahat untuk menyingkirkan keluarganya sendiri.


"Tidak apa-apa Paman, Ichal juga ingin mengenal kakeknya," lanjut Alan saat melihat Alex masih terdiam.


Dengan rasa canggung, Alex mengambil Ichal dalam gendongannya. Ia terlihat sedikit kaku.


"Sepertinya Paman sudah bisa mencari istri, memiliki anak itu sangat menyenangkan," ujar Alan. Semua orang yang mendengar itu tersenyum geli.


"Benar, sepertinya kamu memang membutuhkan seorang istri," imbuh Nissa bangun dari duduknya. Ia menghampiri Alex yang masih terlihat canggung menggandong Ichal.


"Apa perlu aku mencarikan jodoh untukmu, Alex?" kali ini Arnold ikut menimpali Alex.


"Tidak, aku lebih suka hidup sendiri. Aku sudah memiliki Mala, dia sudah cukup menjadi putriku," balas Alex menatap Mala yang sedang tersenyum padanya.


"Baiklah, sepertinya kau memilih menjomblo seumur hidupmu. Aku sebagai kakakmu hanya bisa mengingatkan, tidak enak jika tempat di sebelahmu kosong," gurau Arnold yang di sambut tawa semua orang. Alex yang mendengar candaan sang kakak hanya bisa menggeleng. Lalu ia kembali menatap Ichal yang mulai tertidur dalam gendongnya.


"Wah, jarang sekali Ichal mau tidur dalam gendongan orang lain. Seperti Paman bisa di jadikan baby sister," ujar Ara saat melihat Ichal benar-benar tertidur.


"Sepertinya Ichal merasa nyaman," imbuh Alan. Ara mengangguk, membenarkan ucapan Alan.


"Aku harap kalian tetap menganggapku sebagai Paman kalian, aku sudah salah menilai. Semoga keluarga kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap Alex pada Alan dan Ara.


"Aamiin..., sampai kapan pun kita akan tetap menjadi keluarga. Jangan pernah melupakan kami disini, sering-seringlah pulang, Ichal akan merindukan kakeknya."


"Benar Paman, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Seperti Ichal memang akan merindukan kehangatan Paman," ujar Ara mengusap pipi Ichal dengan lembut.


"Ya, aku juga pasti akan merindukanya," kata Alex menatap wajah Ichal yang begitu tenang.


"Hey son, semoga kamu tidak melupakanku," ucap Alex pelan. Ara dan Alan yang mendengar itu hanya bisa saling pandang.


Alex mulai berpamitan pada semua orang. Mala dan Milan memutuskan untuk ikut bersama Alex. Mala tidak ingin meninggalkan ayahnya sendirian. Bagaimana pun Alex adalah ayah terbaik baginya.


***


Munich International Airport


Alex, Mala dan Milan terlihat keluar dari bandara.


"Kalian duluan, ada sesuatu yang harus aku urus. Didepan sudah ada mobil jemputan," ujar Alex bergegas pergi.


Alex terlihat sangat tampan meskipun usianya sudah memasuki kepala empat. Kacamata hitam yang bertengger indah di hidung bangirnya, membuat pesonanya semakin terpancar.


Brak


Alex sangat terkejut saat seorang wanita tidak sengaja menyenggol dirinya. Wanita itu terjatuh di lantai. Alex sedikit berjongkok untuk menolong wanita itu. Wanita itu terlihat mengangkat wajahnya. Alex tehipnotis dengan mata coklat sang wanita.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Alex. Wanita itu langsung menggeleng. Ia terlihat ketakutan saat melihat wajah Alex.


"Sorry," ucap wanita itu yang langsung bergegas pergi. Alex sangat terkejut dengan sikap wanita itu. Ia hanya bisa menatap punggung wanita itu yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Aneh," ucap Alex yang langsung beranjak pergi. Ia harus menemui seseorang untuk membahas masalah bisnisnya. Detik ini, Alex akan kembali membuka lembaran baru. Meninggalkan semua masa lalu yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri.


__ADS_2