
"Alan, nanti kita menginap berapa hari?" tanya istriku sambil terus bergelayut manja. Aku mengusap kepalanya dengan gemas. Istriku ini memang tidak bisa jika sekali saja tak bertanya.
"Hanya tiga hari," jawabku dengan santai sambil menatap lautan lepas. Saat ini aku dan Ara sedang berada di sebuah kapal menuju pulau Sabang. Dari artikel yang aku baca, pulau sabang adalah Surganya Kerajaan Bawah Laut di Aceh. Sabang merupakan sebuah kota yang letaknya di bagian Utara Kota Banda Aceh. Kota Sabang ini terletak di Pulau Weh. Weh dalam Bahasa Aceh berarti minggat. Haha lucu bukan? mungkin karena pulau ini terpisah jadinya diartikan seperti itu. Sudah lama aku ingin liburan ketempat ini. Tempat dimana titik 0 km Indonesia.
"Alan, Ara senang bisa jalan-jalan berdua seperti ini. Serasa honeymoon," oceh istriku. Aku tersenyum dan mengecup pipinya.
"Jika kamu menganggap seperti itu, maka sepeti itu," ucapku di telinganya. Dia langsung menatapku.
"Jadi kita beneran honeymoon? Yes! makasih Alan," serunya langsung memelukku. Aku hanya bisa tersenyum dan membalas pelukkannya.
"Kenapa begitu senang?" bisikku. Ara langsung mendorong tubuhku cukup kuat. Ada apa dengannya?
"Jangan bilang Alan mau php in Ara ya? Hayo ngaku? Ngaku Alan," ucapnya sambil menyilangkan kedua tanganya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Dasar cerewet.
"Memanngya aku pernah phpin kamu apa?" tanyaku ikut menyilangkan kedua tanganku. Aku tertawa renyah saat melihat wajah kesal istriku. Dia begitu lucu dan menggemaskan.
"Ck, sering. Alan sering phpin Ara." ucapnya membelakangiku. Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang.
"Kapan aku melakukan itu?" tanyaku sedikit berbisik.
"Setiap hari, Alan selalu bilang jika Alan mencintai Ara. Tapi mana buktinya, sampai sekarang Ara belum mendapatkan bukti cinta itu. Setiap hari Ara berharap tahu!" ujarnya yang membuatku bingung. Memang nya selama ini apa yang aku lakukan kurang membuktikan cintaku padanya apa? Sebenarnya seperti apa arti cinta menurut istriku ini sih?
"Dengar sayang, cinta itu tak harus mengungkapkannya hanya dengan kata-kata. Tapi...
"Ara tahu, tapi cinta juga butuh bukti yang nyata. Alan pasti faham apa maksud Ara," potongnya. Aku mencerna setiap perkataannya. Apa mungkin? Ah, istriku ini memang aneh.
"Aku mengerti, akan aku buktikan dengan nyata cintaku padamu." ucapku memeluknya dengan erat. Ara terdiam. Angin laut terus menyapa, seakan ia menyambut kedatangan kami. Pulau ini akan aku jadikan bukti cintaku padanya. Bahwa aku benar-benar mencintainya.
***
Sebuah hotel yang cukup bagus. Semua ini direkomendasikan oleh si kembar. Karena aku dan Ara belum tahu betul tempat ini. Jadi mereka lah yang memesan hotel dan lain sebagainya. Tidak mengecewakan. Kamarnya pun sangat mewah dan cukup luas.
Mataku langsung tertuju pada jendela yang cukup lebar dengan gorden yang terus melambai. Seperti nya itu sebuah pintu bukan jendela. Benar saja, aku langsung menggeser pintu itu dengan pelan. Yang pertama aku dapatkan adalah angin yang menyapa wajahku. Hamparan pasir putih yang terhempas air laut dapat terlihat dengan jelas. Ya, kamar ini langsung terhubung dengan tepi pantai.
"Wah... Masyaallah cantik sekali!" ucap istriku yang yang tiba-tiba muncul.
"Apa boleh kita turun kesana? Ara mau bermain pasir." ucapnya dengan mata berbinar.
"Tentu, tapi setelah kita makan," ucapku merangkulnya.
"Alan, kenapa tidak sekarang saja. Ara sudah tidak tahan ingin main pasir," rengeknya menarik bajuku. Aku menggeleng pelan.
"Kamu belum makan dari pagi. Belajar lah bersabar, karena kesabaran lah yang akan memberikan buah yang sangat manis," ucapku menggenggam tanganya.
"Hmmm... Semanis Alan. Ayok makan, setelah itu kita keliling pantai," ucapnya sambil tersenyum begitu lebar. Anak ini, moodnya kapan saja bisa berubah-ubah.
Seperti janjiku, setelah selesai makan. Aku langsung membawanya ke pantai. Wajahnya bersinar bak cahaya rembulan.
"Alan, katanya terumbu karang dan ikan-ikan disini bagus-bagus. Ara jadi pengen nyelam, tapi Ara takut," ujarnya. Aku tersenyum dan menatapnya sekilas.
"Besok aku ajak kamu nyelam, tapi yakin berani?" tanyaku. Ara menatapku sambil menggeleng.
"Ada aku, kenapa harus takut?"
"Takut, kalau Ara tenggelam gimana?"
"Hmmm... Ya, cari istri baru," gurauku. Aku tertawa renyah saat melihat wajah Ara langsung berubah. Dia menghentikan langkahnya dengan wajah kusut.
__ADS_1
"Bercanda sayang," ucapku menariknya ke dalam dekapanku.
"Ara gak mau Alan dengan orang lain. Karena Alan cuma milik Ara!" serunya sambil memukul dadaku. Aku tertawa mendengar perkataannya. Tak akan ada orang yang bisa memiliki aku selain kamu Ara. Karena kau lah satu-satunya bidadari surgaku.
"Iya sayang, aku milikmu selamanya," ucapku mengecup keningnya. Cuaca disini semakin terik. Sepertinya sudah cukup kelilingnya sampai disini. Tidak mungkin kami lanjutkan karena matahari mulai mengeluarkan sengatan yang dapat membakar kulit.
"Kita kembali kekamar, hari sudah panas," ajakku. Ara mengangguk pelan. Ku genggam tangannya berjalan menuju kamar. Seperti yang aku katakan, kamar yang di pesan memang berada di tepi pantai. Jadi hanya beberapa menit kami sudah sampai di kamar.
"Honey, aku keluar sebentar. Istirahatlah." ucapku mengecup keningnya.
"Kemana? Ara mau ikut," rengeknya. Aku langsung menggeleng.
"Kamu harus istirahat. Aku hanya membeli sesuatu, tidak akan lama," ucapku mengusap kepalanya. Dia mengangguk pelan.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." jawabnya. Aku langsung beranjak keluar. Aku sengaja menolaknya karena aku sedang merencanakan kejutan untuknya nanti malam. Aku akan memesan tempat spesial. Selama ini aku tidak pernah memberikan apapun padanya. Aku memang bukan pria yang romantis. Aku tidak tahu bagaimana bersikap romantis degan pasangan. Jadi aku hanya melakukan dengan caraku sendiri.
Setelah semua urusanku selesai. Aku kembali kekamar, jika terlalu lama dia pasti akan merah padaku. Ku buka pintu kamar perlahan. Ku tarik ujung bibirku saat melihat Ara sudah tertidur. Dasar, baru sebentar aku tinggal sudah tidur. Aku duduk disampingnya. Ku teliti satu persatu lekukan wajahnya. Sejak kecil, aku sangat senang melihat wajahnya saat sedang tidur. Bahkan dulu, aku sering mengganggunya. Hingga dia marah dan tidak mau bicara padaku, tapi itu hanya beberapa jam. Setelah itu ia kembali menjadi Ara yang biasa.
Ku kecup pipi, hidung, mata dan bibirnya bergantian. Namun ia sama sekali tak bergeming. Dasar kerbau.
Aku ikut berbaring disebelah nya dengan posisi miring. Karena aku ingin menikmati pahatan sang maha pencipta yang begitu indah. Ku buka perlahan penutup mahkotanya, ia sedikit bergerak hingga memudahkan aku melepasnya. Tak sedikitpun aku biarkan ada yang menghalangi mahkotanya. Bahkan mahkota indah itu aku biarkan tergerai. Sungguh indah ciptaan-NYA. Biarkan aku menikmatinya beberapa saat.
***
"Hiks, sakit Alan," rengeknya. Aku tidak mengerti bagaimana bisa tangannya terluka seperti ini.
"Bagaimana bisa seperti ini sih, dasar ceroboh!" Aku mengobati jarinya yang terluka dengan hati-hati.
"Sudah, lukanya tidak parah. Beberapa hari juga akan sembuh," ucapku mengecup jarinya yang sudah terbalut.
"Tapi sakit Alan, berdenyut gitu. Hiks,"
Aku menghela napas dalam, ku tarik dirinya dalam dekapanku.
"Hanya luka kecil, tidak jadi masalah. Sakitnya juga akan hilang," ucapku.
"Sudah jangan menangis lagi. Cantiknya hilang." Aku mengahapus air matanya dengan lembut. Ara tersenyum sambil memukul lenganku.
"Ayok," ajakku. Dia menatapku bingung. Aku tersenyum dan menarik tangannya. Mulutnya setengah terbuka, namun aku langsung menahannya. Aku tahu dia akan melontarkan pertanyaan. Entah berapa banyak stok pertanyaan di kepalanya.
Angin malam dengan aroma laut mulai terasa. Disini cukup gelap, ini juga termasuk dari rencanaku. Ara sangat takut kegelapan. Lihat, dia menempel bagaikan perangko.
"Alan, kenapa gelap? Ara takut, kita pulang aja yuk. Kalau tidak, kita cari tempat lain yang lebih terang. Terus ini mau kemana sih?" Aku memilih untuk diam. Ara semakin mengeratkan pegangan tangannya.
"Alan, kok diam sih. Ini beneran Alan kan?" ocehnya. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya. Memangnya siapa lagi kalau bukan suami kamu Ara?
"Alan, jangan diam dong. Ayo ngomong, buktikan kalau ini Alan,"
Hahaha... Ingin sekali rasanya aku tertawa.
Tek! Kini semuanya sudah terang. Aku bisa melihat keterkejuatan istriku.
"Alan, apa ini? Jadi... " Aku mengangguk dan tersenyum.
"Maaf, hanya ini yang dapat aku siapkan. Semoga kamu menyukainya," ucapku mengecup tangannya. Ara tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Ini sudah lebih dari cukup Alan. Ara suka, terimakasih," katanya langsung memelukku. Aku sangat lega dia menyukainya.
"Malam ini, lautan yang luas dan kegelapan malam akan menjadi saksi. Aku mencintaimu Ara. Sangat mencintaimu, terus berada di sampingku apapun yang terjadi," ku kecup kepalanya dengan mesra. Aku ingin dia benar-benar mengerti, jika aku tidak pernah main-main dengan hatiku.
"Alan, tidak perlu melakukan ini semua. Ara percaya jika Alan sangat mencintai Ara. Ara juga sangat mencintai Alan. Sejak dulu, saat kita sering bersama. Bermain bersama, belajar bersama dan Ara berharap kita akan terus bersama hingga ke surga," ucapnya sambil menangkup wajahku. Aku tersenyum dan mengecup tangannya.
"Terimakasih sudah mau menjadi istriku," ucapku mengecup keningnya. Dia terlihat memejamkan matanya. Lalu mata indah itu kembali terbuka secara perlahan.
"Em,, Ara lapar, sudah bisa makan?" tanyanya dengan ekspresi lucu. Aku tertawa dan mengangguk. Aku langsung mengajaknya duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Wah, harumnya enak. Ara coba ya?" imbuhnya mengambil sendok. Aku hanya bisa menatapnya. Setiap pergerakannya selalu membuatku terpana. Aku tidak tahu bagimana jadinya jika harus berjauhan dengannya. Mungkin bagaiakan sayur tanpa garam, atau mungkin bagaikan bulan tanpa matahari. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
Setelah selesai makan malam. Aku menggenggam tangannya dengan erat. Ku tatap matanya begitu dalam. Mata itu bak rembulan yang tengah menyinari sang alam.
"Tutup mata kamu," pintaku. Ara terlihat bingung. Namun tak lama dia pun mengikuti perintahku. Aku mengeluarkan sesuatu dan kuletakkan diatas meja.
"Buka," titahku. Ara membuka matanya perlahan. Lalu menatapku. Aku menunjuk benda itu.
"Apa ini?" tanyanya mengambil benda itu.
"Buka lah,"
Ara terus menatapku sambil sesekali melihat benda itu. Aku memberikan tatapan padanya agar ia langsung membuka benda itu. Ara menurut dan langsung membukanya. Aku bisa melihat keterkejutan dimatanya.
"Alan, ini...." ucapnya sambil menatapku. Aku tersenyum.
"Bukan dulu suratnya," pintaku lagi.
"Ok," ucapnya sambil membuka surat itu. Lagi-lagi aku berhasil membuatnya terkejut.
"Alan! Ini tidak adil, masak kamu lagi yang menang. Hiks, gak adil," rengeknya sambil memberikan tatapan tak rela.
"Sudah aku katakan, aku akan selalu menjadi pemenang," ucapku dengan berbangga hati. Ya, aku memberikan kejutan padanya. Jika empat hari lagi aku akan sidang skripsi. Selama ini aku selalu menyembunyikan darinya. Itu juga alasanku tak memberinya kabar selama dua hari. Aku harus menyelesaikan pekerjaan sekaligus skripsiku.
"Ih, sombong banget sih!" ketusnya. Aku tertawa dan mencubit hidungnya.
"Tapi Ara belum menyiapkan hadiah," ucapnya sambil memajukan bibir. Aku tersenyum dan memasangkan gelang yang sengaja aku beli kemarin. Sangat cocok, ternyata aku tidak salah memilih.
Aku bangun dan berjalan kearahnya. Ara terus menatapku.
"Alan, mau ngapain? Aaaa...lepasin Alan, nanti Ara jatuh," serunya karena aku menggendongnya. Aku tidak perduli apapun yang ia katakan.
"Alan, turunin Ara. Ara takut jatuh," rengeknya sambil terus mengeratkan cengengkaraman tangannya di lengan bajuku. Aku hanya tersenyum dan mengecup bibirnya. Dan itu berhasil, dia terdiam.
Ku buka pintu kamar perlahan. Sedari tadi Ara terus menatapku tanpa bicara. Jadi penasaran apa yang ada dalam pikirannya.
Ku baringkan dirinya diatas kasur. Ku tatap setiap lakukan wajahnya.
"Aku meminta hadiah itu malam ini, apa kamu mengizinkannya?" tanyaku. Ku kunci matanya. Ia cukup lama terdiam.
"Ya," ucapnya sambil tersenyum. Semburat merah terlihat dengan jelas di wajahnya. Aku tersenyum senang.
Suara ombak dan angin malam menjadi alunan syahdu dalam pelampiasan syahwatku. Suara desahan beralunkan tasbih tak henti keluar dari bibir kami. Ku salurkan segala hasrat yang sudah lama aku pendam. Dalam ikatan suci ini, harapanku tak lain adalah...tumbuhnya buah cinta kami yang akan menjadi penguat agama dan jalan menuju kami kesurga.
Bibir manis itu ku kecap dengan perlahan.
"Aku mencintaimu," bisikku. Ku lihat wajahnya yang sedikit terhalang temaram. Namun masih bisa aku lihat semburat merah disana. Aku sudah menepati janjiku padanya. Jika malam ini, di pulau ini. Aku membuktikan cintaku padanya. Separuh jiwa dan napasku adalah dirinya.
__ADS_1