Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 48. Hadiah Spesial Untuknya (Ara)


__ADS_3

'Biarkan malam ini aku memberikan hadiah spesial untuk kamu sayang, hadiah atas kelulusan istriku. Hadiah yang tak akan pernah bisa kamu lupakan.'


Huh, pipiku masih sangat panas saat mengingat ucapannya. Rasanya sperti mau terbang. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku karena cuaca yang lumayan dingin. Aku sangat gugup. Sebenarnya hadiah apa yang akan Alan berikan? Apa jangan-janangan...aaaahh, cukup Ara. Jangan berfikir yang bukan-bukan.


Suara pintu kamar mandi terbuka pun berhasil membuat jantungku semakin berdegup kencang. Aku melihat Alan berjalan kearahku. Aku langsung membalikan tubuhku karena malu. Aku merasakan ranjang sedikit bergoyang. Lalu tak lama sebuah tangan melingkar diperutku.


"Ada apa?" tanyanya, darahku berdesir hebat saat bibirnya yang dingin menyetuh teligaku.


"B...bi, Ara gugup." ucapku dengan malu. Lalu aku mendengar Alan tertawa. Aku langsung membalikan tubuhku.


"Kenapa malah tertawa bi? Ara beneran gugup." ucapku kesal. Padahal aku kan benar-benar sangat gugup.


"Memangnya gugup kenapa?" tanyanya.


Ck, ingin sekali rasanya aku mengigit bibirnya. Aku kembali membalikan tubuhku untuk membelakanginya.


"Katanya rindu, kok malah cuekin suami sih. Dosa loh." ucapnya.


"Ara gak cuekin hubby kok." ucapku kembali merubah posisi dan memeluknya. Aku merasakan bibir Alan menempel di keningku. Terimakasih ya Allah, engkau telah mengizinkan kami untuk bersama kembali. Rasanya malam ini aku tidak mau melepaskannya walaupun sedetik.


"Bulan depan kita harus kembali ke Indonesia, papa ingin hubby langsung memegang perusahaan." ujarnya sambil terus memamainkan hidungku. Aku menatapnya lekat.


"Jadi hubby bakalan jadi CEO dong?" tanyaku. Alan tersenyum dan mengangguk pelan. Aku menunduk karena ada sedikit rasa tak rela dalam hatiku. Bagaimana jika Alan nanti akan sibuk dan jarang pulang kerumah?


"Ada apa huh?" Ku angkat kepalaku untuk menatapnya.


"Apa nanti hubby akan sibuk? Apa hubby akan melupakan Ara? Yang Ara dengar semua CEO itu sangat sibuk dan jarang pulang kerumah. Lalu bagaimana dengan Ara?" ujarku langsung memeluknya. Air mataku mengalir begitu saja. Aku hanya takut apa yang ada dipikiranku benar-benar terjadi.


"Hubby bukan mereka, bagaimanapun dan apapun yang terjadi. Kamu dan calon anak-anak kita akan selalu menjadi prioritasku. Aku mencintai kamu dan kamu harus percaya itu. Aku akan selalu ada saat kamu butuh. Percayalah."


Ku eratkan pelukanku dan mengangguk. Mungkin aku terlalu berlebihan, bagaimanapun aku percaya Alan sangat mencintaiku, aku akan mempercayai semua yang berhubungan dengannya.


"I love you and I miss you so much hubby." ucapku sambil merapatkan tubuhku untuk mencari posisi nyaman. Aku merasakan Alan mencium kepalaku. Aku tersenyum di balik pelukannya.


"I miss you to honey. Biarkan malam ini aku menembus semua kerinduan yang tersimpan didada."


Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.


"Ya." jawabku sambil tersenyum. Dapat aku lihat pancaran kebahagiaan dari wajahnya yang menawan. Ku pejamkan mataku saat hembusan napas miliknya mulai menyapa wajahku. Malam ini akan menjadi saksi bisu untuk menyaksikan betapa besarnya rasa rindu yang tersimpan lama di dalam hati. Menyatukan diri dalam bentangan ridhonya. Bersenandung tasbih dalam setiap alunan yang keluar dari bibir kami.


***


Suara dering ponsel membuatku terbangun. Aku meraba nakas untuk mencari keberadaan ponselku. Malas sekali rasanya membuka mata karena aku baru tertidur setelah salat subuh.


"Hmmm... Siapa?" tanyaku saat sambungan telponya mulai terhubung.


"Ini bunda sayang, kamu baru bangun tidur? Bukanya disana sudah siang?" Aku sangat terkejut saat mendengar suara bunda. Aku langsung bangun dan melihat ponselku, ternyata bunda melakukan panggilan video.


"Bunda, Ara minta maaf." ucapku sambil mengucek mata. Aku bisa melihat dengan jelas bunda dan papah sedang tersenyum melihatku.


"Kamu bicara dengan siapa sayang?" Aku kembali terkejut saat tiba-tiba Alan menarikku hingga aku kembali tertidur. Ya ampun, ini sangat memalukan. Aku tersenyum malu saat melihat bunda dan papah sedang tertawa.


"Maaf bun. Bi, lepasin Ara. Bunda video call, hubby tidak malu di lihat dengan bunda?" ucapku menunjukan wajah Alan pada bunda. Alan mengambil ponsel dari tanganku.


"Assalamualaikum bun, pah. Apa kabar? Maaf pagi-pagi sudah memperlihatkan pemandangan indah. Bunda tahu sendiri kan kami sudah lama terpisah, jadi hari ini harus menghabiskan waktu berdua." Aku memutar bola mataku karena tak habis pikir dengan ucapan Alan. Memang sejak dulu Alan tidak pernah sungkan pada bunda.


"Wa'alaikumusalam sayang, alhamdulillah bunda dan papah sehat. Kamu terlihat sangat kurus Alan. Ara, jangan biarkan suami kamu sekurus itu." ujar bunda. Aku meletakkan kepalaku di dada bidang Alan agar bisa melihat bunda dengan jelas.


"Iya bunda, kan Ara sudah banyak belajar masak dari bunda. Ara pasti buat Alan gemuk." ujarku tersenyum menatap bunda. Alan mengembalikan ponselku dan kembali tidur dengan kedua tangan melingkar di perutku.

__ADS_1


"Iya sayang, bunda ganggu kalian ya? Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan istirahatnya. Bunda cuma mau lihat keadaan kalian disana. Cepat kasih bunda cucu. Bunda tutup ya Assalamualaikum." ujar bunda langsung menutup sambungan telponya. Aku membuka mulutku karena tak percaya dengan apa yang bunda lakukan.


"Wa'alaikumusalam. Cucu ya bun? Semoga secepatnya Ara bisa memberikan cucu," ucapku sambil menatap Alan yang masih tertidur. Aku tersenyum dan mengecup pipinya dengan lembut. Aku menyetuh perutku, ingin sekali rasanya di dalam sana kembali hadir malaikat kecil yang akan menghiasi keluarga kecilku.


"Insha Allah, dia akan hadir kembali. Asal kita tetap ikhtiyar dan tidak lupa berdoa." Aku sangat terkejut saat Alan tiba-tiba mencium perutku dan mengatakan hal itu. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Apa hubby juga sudah tidak sabar untuk menunggu kehadirannya?" tanyaku dengan penuh semangat.


"Aku selalu menunggunya sayang," ucap Alan tersenyum padaku.


"Bi, ayok kita bulan madu lagi." ajakku dengan semangat.


"Bulan madu? Lalu bagaimana dengan kuliah hubby sayang?" tanya Alan. Iya juga ya, hahaha. Kenapa aku bisa melupakan itu? Dasar kamu Ara.


"Hehe, Ara lupa bi. Kalau gitu kita bulan madu disini aja ya?" ucapku sambil tersenyum lebar. Tidak jadi masalah jika kami kembali berbulan madu di sini. Yang paling terpenting kami selalu bersama dan jarak tak lagi memisahkan kami berdua.


"Hey, kenapa melamun?" lamunanku pun buyar seketika saat tangan Alan menyetuh daguku. Aku tersenyum sambil menggeleng.


"Hubby tidak masuk kampus?" tanyaku.


"Masuk, tapi setelah kita pindah ke penthouse." jawabnya.


"Em, boleh tidak Ara jalan-jalan?" tanyaku penuh harap.


"Tidak, kamu belum tahu tempat disini." jawabnya membuatku kecewa. Aku pun mengangguk pasrah.


Setelah membereskan semua barangku, Alan pun langsung mengajakku pergi.


"Ya sudah, ayok berangkat." ajaknya menarik tanganku. Aku mengikuti langkahnya dengan malas.


Sepanjang perjalanan aku memilih untuk diam. Aku sedang malas bicara.


Aku menoleh dan menatapnya lekat.


"Ara ikut hubby ya?" tanyaku. Aku bisa melihat Alan mengernyitkan keningnya. Pasti dia tidak akan setuju karena tak menjawab pertanyaanku. Ck, menyebalkan.


"Ya sudah kalau tidak boleh, Ara diam dirumah aja sendirian." ucapku kembali mamalingkan wajah kearah jendela. Hiks, pasti bosan sendirian di rumah. Mana tempat baru lagi.


"Besok kita akan jalan-jalan, hubby akan meminta izin pada Professor. Demi kamu sayang." ucapnya menarik daguku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih hubby. Love hubby." ucapku memeluknya. Alan tersenyum dan mengecup keningku dengan begitu mesra. Rasanya benar-benar tak bisa aku ucapkan dengan sebuah kata-kata. Aku sangat bahagia.


***


"Bi, kita mau kemana?" tanyaku. Entah kemana Alan akan mengajakku malam-malam seperti ini. Disini cukup ramai. Kerlap-kerlip lampu dijalan berhasil membuat mataku terpana. Melakukan perjalanan kaki di malam hari cukup asik juga. Selama ini aku terlalu di manjakan oleh teknologi.


"Ikut aja, ada yang ingin hubby kenalin sama kamu." ucapnya sambil terus menggenggam tanganku seakan tak ingin untuk lepas.


"Siapa? Orang penting ya?" tanyaku lagi sambil melihat beberapa orang yang tengah bermesraan. Aku merinding sendiri melihat situasi yang begitu bebas dan tak ada larangan apapun bagi sepasang kekasih. Bahkan terlihat beberapa orang tengah mabuk-mabukan. Ku eratkan tanganku pada Alan saat melihat tatapan seorang pria padaku. Sepertinya Alan mengerti dengan apa yang aku rasakan. Ia menarik pundakku hingga tubuhku begitu rapat dengannya.


"Jangan melihat kesana, jangan pedulikan tatapan mereka." ujar Alan sambil membenarkan jaketku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Bi, apa hubby sering keluar malam?" tanyaku sambil melingkarkan kedua tanganku di lengannya.


"Tidak, hubby tidak suka. Bikin sakit mata." jawabnya dengan begitu santai. Aku tersenyum geli mendengar jawabannya. Syukur deh Alan jarang keluar malam. Bagaimanapun angin malam tidak bagus untuk kesehatannya.


"Apa malam ini hubby tidak sibuk? Maaf ya, gara-gara Ara semua pekerjaan hubby jadi terbengkalai." ujarku.


"Tidak sayang, kamu lebih penting dari apapun. Jika kamu bahagia maka hubby akan ikut bahagia. Hubby tahu kamu butuh liburan setelah berkutat dengan tulisan yang membuat otak blank." ujarnya. Pengertian banget sih suamiku ini. Makin sayang deh jadinya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berjalan kaki, akhirnya kami pun sampai di sebuah caffe yang lumayan besar. Alan mengajakku duduk di sebuah meja yang sudah duduk dua orang laki-laki. Aku menatap Alan bingung.


"Hey bro. Wow..." seru salah seorang dari mereka sambil menatapku aneh. Dia memiliki wajah yang cukup tampan dengan kulit putih khas seorang bule dan berambut kuning.


" Ara, my wife. Ara perkenalkan ini Michael dan Alex, mereka tim hubby disini." ujar Alan menunjuk mereka satu persatu. Owh, jadi namanya Michael.


"Ara." ucapku menangkupkan kedua tanganku. Aku sangat tekejut saat Michael mengulurkan tangannya kearahku.


"Ck, dasar bodoh. Dia sudah memberi kode tidak ingin disentuh."


Aku tersenyum saat mendengar teman Alan yang bernama Alex itu bicara. Dia juga sangat tampan dan terlihat lebih dewasa.


"Ck, kau sangat pelit Arlan. Selama ini kau menyembunyikan wajah kakak ipar dariku dan sekarang aku tidak bisa sedikit saja menyentuhnya."


"Dia sangat berharga, tidak ada yang bisa menyetuhnya selain aku dan keluargaku." Alan tersenyum sambil menatapku. Aku sangat malu saat Alan menyanjungku begitu berlebihan.


"So beautiful." ucap Michael. Aku tersenyum saat melihat wajah lucunya.


"Dia sangat imut." ucapku menatap Alan. Aku langsung tertawa renyah saat melihat raut wajah kesal Alan.


"Becanda bi. Tetap hubby yang paling tampan dan imut." ucapku tersenyum. Alan mengusap kepalaku dengan lembut.


"Hy darling, I'm sorry terlambat." seru seorang wanita cantik yang baru saja datang. Aku menatapnya bingung karena ia mengucapkan kata 'darling' sambil menatap Alan. Siapa dia?


Ck, kenapa dia malah duduk di sebelah Alan sih? Alan juga, kenapa tidak menolak dia duduk di sebelahnya.


"Hy, aku Ara istri sah dari pria di sebelahku." ucapku mengulurkan tangan padanya. Wanita itu tersenyum dan membalas uluran tanganku.


"Jane, calon istri masa depan pria di sebelahmu." batasnya yang berhasil membuatku sangat terkejut.


"Sorry?" Aku menatapnya bingung.


"Darling, kamu tidak pernah bilang jika kamu sudah punya istri? Katanya kamu akan menikahi aku, kamu tidak lupa kan?"


Apa dia gila? Aku langsung memberikan tatapan tajam pada Alan. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada seorang wanita.


"Jane, please." ucap Alan. Aku semakin bingung dengan sikap mereka. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Alan tidak menjelaskan semuanya.


"Apa anda begitu mencintai suami saya?" tanyaku dengan santai. Yang tepatnya aku berusaha untuk tenang. Aku melihat Alan memberikan tatapan tajam padaku. Siapa suruh dari tadi malah diam.


"Ya, dia cinta pertamaku."


What! Wanita ini sama sekali tidak tahu malu. Sabar Ara, ini ujian. Aku berusaha untuk tersenyum.


"Sayang, apa kamu ingin menikahi dia?" tanyaku pada Alan.


" Cukup Jane, jangan membuat aku dan istriku salah faham. Kau tahu bukan aku sangat merindukannya, jangan membuat hubunganku dengannya merenggang." ujar Alan. Aku menaikkan sebelah alisku. Lalu tak berapa lama Jane pun tertawa lepas. Lalu disusul oleh teman Alan yang bernama Michael.


"Hahaha... Kau sangat lucu Alan. Lihat wajahmu sangat pucat. Pasti kau takut tidak diberi jatah kan?" ujar Michael tertawa nyaring. Aku melihat Alan bingung.


"Mereka bertiga itu teman hubby sayang. Jane juga masuk tim kami, dia yang paling cantik diantara kami berempat." kata Alan menjelaskan semuanya. Kenapa tidak dari tadi sih bicaranya. Aku kan jadi salah faham.


"I'm sorry Jane," ucapku menatap Jane penuh rasa bersalah. Jane tersenyum padaku.


"Tidak, kamu tidak salah Ara. Aku lah yang sengaja menggodamu. Sekarang aku tahu apa yang paling Alan sukai darimu. Kau masih mudah, tapi kepribadianmu cukup dewasa." ujarnya. Aku tersenyum malu mendengar sanjungannya. Aku menatap Alan yang ternyata sedang tersenyum mengejekku. Ya, aku tahu apa yang Jane katakan itu tidak sesuai dengan diriku. Aku ini cengeng, manja dan masih suka ngambek.


"Arlan, aku berhasil bukan? Besok kau harus kencan denganku."


Aku kembali terkejut mendengar ucapan Jane. Aku langsung memukul lengan Alan.

__ADS_1


"Hahaha...Aku bercanda lagi Ara. Tenang saja, suami kamu ini sangat setia. Bahkan dia tak pernah sekali pun melirik wanita, termasuk aku. Padahal aku kan tak kalah cantik," Aku tersenyum mendengar ucapan Jane. Sepertinya teman Alan cukup menarik. Hanya saja Alex yang masih diam, aku tidak tahu dia seperti apa? Mungkin kedepannya aku bisa bergaul dengan mereka. Ah, senangnya memiliki banyak teman di negeri orang.


__ADS_2