
Asap mengepul berasal dari teh hangat yang menemani pagi seorang wanita cantik tengah termenung sendirian disebuah caffe hotel.
'Hmmm.... Aku sangat senang. Alan menepati janjinya untuk membuktikan cinta padaku. Pulau ini akan menjadi kenangan terindah untukku dan akan kujadikan tempat bersejarah dalam hidupku.'
Wanita itu tersenyum sendiri, wajahnya memancarkan cahaya terang. Sepertinya ia sedang diselimuti rasa senang. Namun sebuah tangan tiba-tiba mengejutkan wanita itu. Kedua tangan kekar itu menutup matanya. Sebuah senyuman tersungging dibibirnya yang tipis.
"Alan, tanganya sangat dingin. Lepaskan," pintanya sambil menyetuh tangan itu.
"Kamu membuatku khawatir honey, aku kira kamu hilang?" ucap Alan memindahkan tanganya di pundak sang istri. Ara mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya.
"Ara tidak akan hilang selama Alan ada disini," ucap Ara tersenyum manis. Alan ikut tersenyum dan duduk disebelah sang istri.
"Tidak jadi ikut?" tanya Alan merangkul pundak Ara. Ara langsung menatap Alan dengan tatapan bingung.
"Kemana?" tanya Ara dengan wajah polosnya.
"Cari istri baru," ucap Alan sambil tersenyum jahil. Mendengar ucapan suaminya, Ara langsung bangun dari duduknya.
"Oh, jadi maksud tadi malam itu apa? Tapi malam kita sudah memmmmmmm..." belum selesai Ara bicara, Alan sudah terlebih dahulu menutup mulut lantang istrinya itu.
"Ck, kamu pikir ini kamar apa? Disini banyak orang," ujar Alan sedikit berbisik. Ara membulatkan matanya sambil melirik kanan dan kiri. Alan menghela napas dan menjauhkan tangannya dari bibir sang istri. Ara mengerucutkan bibirnya dan memukul Alan sekuat tenaga. Alan sangat terkejut saat melihat Ara mulai menangis. Pasalnya ia hanya bercanda.
"Alan jahat, kenapa dari kemarin terus bilang mau cari istri baru. Ara takut tahu, kalau Alan beneran cari istri baru gimana? Ara tidak rela, Ara... Hiks... " Ara sudah tak sanggup bicara karena hidungnya tersumbat. Alan mendekapnya dengan lembut.
"Maaf, aku hanya bercanda sayang. Jangan di ambil hati, sudah aku katakan hanya kamu istriku satu-satunya. Kemarin kamu bilang ingin menyelam bukan? Aku tanya, sekarang masih mau ikut?" jelas Alan mengelus kepala Ara yang tertutup kerudungnya.
"Hiks, kenapa tidak katakan dari tadi. Itu gak lucu Alan. Ara sangat mencintai Alan," ucap Ara mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu!" ucap Alan menangkup wajah Ara dan menghapus air mata itu dengan jarinya.
"Dasar cengeng, masih mau tidak?" tanya Alan menatap Ara. Ara semakin mengerucutkan bibirnya dan melepaskan tangan Alan dengan paksa.
"Ara mau pergi, tapi Ara tidak punya baju lain. Baju Ara semuanya gamis, kan gak mungkin Ara menyelam pake gamis Alan?" rengek Ara. Alan tertawa sambil mengambil sesuatu di bawah bangku. Ia mengangkat sebuah paper bag.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, ayok!" ajak Alan menarik tangan Ara. Sedangakan yang ditarik masih seperti orang bingung.
"Alan, Ara belum bayar teh tadi!" seru Ara menghentikan langkahnya. Alan pun berhenti dan berbalik.
"Ck, aku sudah membayar nya. Makanya pagi-pagi jangan melamun sendirian," ucap Alan kembali menarik wanita bertubuh ramping itu. Tubuh rampingnya sedikit terseok-seok karena berusaha mengikuti langkah besar suaminya. Baju dan kerudungnya pun terus melambai tertiup angin.
__ADS_1
"Alan, Ara capek di tarik seperti ini. Gendong... " rengeknya sambil merentangkan kedua tangannya. Alan tersenyum dan mengusap kepala Ara dengan gemas. Lalu ia langsung berjongkok. Ara tersenyum senang, ia langsung naik di punggung sang suami. Ara tidak pernah perduli jika Alan akan merasa berat.
"Serasa terbang," ucap Ara sambil merentangkan kedua tangannya.
"Honey, pegang yang erat! Anginnya sangat kencang," teriak Alan agar Ara bisa mendengar suaranya yang terbawa angin.
"Siap my hubby. I love you... " balas Ara kembali berteriak. Ara melingkarkan kedua tangannya di leher Alan. Lalu ia menghadiahi kecupan di pipi Alan.
"I love you to honey, tapi pipiku berat sebelah nih," ucap Alan sambil tersenyum jahil. Ara tertawa renyah, karena mengerti dengan maksud ucapan Alan. Ia kembali memberikan kecupan di pipi Alan yang sebelah lagi. Alan tersenyum senang.
"Sayang, ganti baju dulu sana. Aku akan menunggu di luar," titah Alan. Ara mengangguk dan menyambar paper bag di tangan Alan. Ara sedikit berlari memasuki sebuah kamar kecil. Tidak perlu lama, wanita cantik itu sudah siap dengan pakaian serba hitam. Namun ia terlihat sedikit canggung. Ya, ini adalah kali pertama ia memakai celana lagi. Terakhir kali ia memakai celana itu saat SMA, itu pun kerana terpaksa harus ikut pelajar olah raga.
"Alan, kurang nyaman," rengeknya sambil terus menarik bajunya. Padahal baju yang ia pakai hampir selutut dan lumayan besar.
"Tidak apa-apa, hanya sebentar. Anggap saja ini pelajaran olah raga," ucap Alan mengelus pipi Ara. Ara menatap Alan dan mengangguk. Lalu keduanya pun langsung beranjak menuju diving yang ingin mereka lalui.
Sabang memiliki lebih dari belasan titik diving dengan ciri khas yang berbeda-beda. Mulai dari Shark Plateu tempat melihat hiu, sekumpulan barakuda dan manta, The Canyon yang seperti labirin bawah laut dengan turunan dalam (deep drop) mencapai 50m lebih, hingga Sophie Rickmers Wreck, kapal karam peninggalan Perang Dunia II tempat tinggal berbagai biota laut dan sekumpulan ikan-ikan langka yang terbaring di kedalaman 37 m – 55 m.
Satu lagi, jangan sampai ketinggalan atau terlewatkan. Yaitu sebuah situs mobil karam di dasar laut yang memang sengaja ditenggelamkan untuk melestarikan tempat tinggal biota laut.
Alan terus memegang tangan Ara agar tak lepas. Sudah hampir satu jam mereka berada di bawah laut. Yang pastinya mereka di pandu oleh seorang pemandu. Alan menunjuk keatas yang mengisyaratkan agar naik keatas untuk istirahat sejenak.
"Masih banyak spot yang lebih bagus, masih lanjut?" tanya Alan yang langsung di jawab anggukkan oleh Ara.
"Mas, istri saya masih mau lanjut katanya," ucap Alan pada sang pemandu. Sang pemandu pun tersenyum dan mengacungkan jempol. Lalu mereka pun kembali melanjutkan penjelajahannya di bawah laut. Sungguh keindahan yang tiada tara. Nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan?
Setelah merasa puas menjelajahi surga lautan. Pasangan muda itu kembali ke hotel untuk istirahat. Waktu juga hampir menjelang siang.
"Sayang, bisa ambilkan baju biru?" tanya Alan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ara langsung beranjak menuju lemari dan mengambil baju yang Alan maksud.
"Ini. Mau Ara bantu?" tanya Ara sambil memberikan baju itu pada suaminya.
"Terimakasih sayang, jika tidak keberatan boleh," ucap Alan memberikan handuk yang ia pegang pada Ara. Ara tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.
"Bagaimana hari ini puas?" tanya Alan sambil menikmati sentuhan sang istri di kepalanya.
"Sangat... Sangat puas, Ara sampe capek banget. Mau tidur." ucap Ara terus mengeringkan rambut suaminya dengan telaten.
"Setelah solat dan makan, kita akan istirahat," ucap Alan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Alan, boleh tidak jika mulai sekarang Ara panggil Alan dengan sebutan Hubby dan Alan panggil Ara dengan sebutan sayang? Ara suka saat Alan panggil Ara sayang," ujar Ara. Ia tersenyum sendiri.
"Hubby? Tidak buruk," ucap Alan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah cantik istrinya.
"Hubby, makan siang nanti mau di luar ya? Makan disini terus bosan juga, boleh ya?" pinta Ara sambil memainkan rambut suaminya.
"Iya sayang, just for you," ucap Alan kembali memejamkan matanya.
"Hubby, tadi ada seorang perempuan yang terus memperhatikan hubby. Ara tidak suka, sebaiknya hubby pake cadar deh," celetuk Ara yang berhasil membuat Alan membelalakan matanya.
"Cadar? Kamu kira suami kamu ini perempuan apa?" Alan tertawa renyah. Tekadang ia tak mengerti dengan apa yang istrinya pikirkan.
"Habis, banyak yang liatin hubby terus. Ara kan cemburu," ucap Ara mengerucutkan bibirnya. Alan tersenyum dan membalikan posisinya menjadi menghadap Ara.
"Dengar sayang, apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan apa yang kamu pikirkan. Mungkin mereka melihat kearah lain, kita kan tidak tahu. Lagian aku kan tidak setampan itu," ujar Alan.
"Dengar, walaupun banyak wanita yang melihatku. Tapi hanya kamu yang terlihat dimataku sayang. Tidak ada orang lain, percayalah," sambungnya sambil menggenggam tangan Ara.
"Ara percaya," ucap Ara menyentuh pipi Alan. Alan tersenyum dan mengecup tangan istri manjanya.
"Sayang, aku harap sampai kapanpun kamu tetap percaya padaku. Aku hanya mencintai kamu seorang, ini bukan gombalan. Tapi aku serius, aku hanya mencintai kamu. Sejak dulu, sekarang dan nanti," ujar Alan mengecup kening Ara. Ara tersenyum dan mengangguk.
"Hubby juga harus tahu, Ara juga sangat mencintai hubby. Jangan pernah tinggalin Ara ya? Ara tidak sanggup harus berjauhan dengan hubby," Ara memeluk Alan dengan sangat erat. Entah kenapa ia merasa Alan akan pergi jauh. Ara memejamkan matanya dan menghirup aroma sabun di tubuh suaminya.
"Aku tidak bisa berjanji sayang, tapi aku akan selalu berusaha agar tetap berada di samping kamu," ucap Alan mengecup kepada Ara dengan begitu mesra.
"I love you hubby," ucap Ara semakin mengeratkan pelukannya.
"I love you more honey," balas Alan terus mengecup kepala Ara. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Meraskan kehangatan dan menyatukan setiap rasa yang membuncah di dada.
\=\=\=\=\=\=~***~\=\=\=\=\=\=\=
Hy semuanya, mohon maaf baru update lagi... Semoga kalian puas dengan lanjutannya. Aku lagi gak bisa mikir, jadi apa adanya...
Oh iya Minal aidin wal faidzin untuk semuanya... Mohon maaf jika ada kata2 yang menyinggung kalian semua... Mohon di maafkan... Maaf atas setiap keterlambatan sehingga membuat kalian bosan menunggu... 🙏
Tetap semangat yang tidak bisa pulang kampung. Dimana pun kamu berada, jangan bersedih. Semua ini bukan keinginan kita. Mungkin Alam ingin istirahat sejenak. Sabar untuk menunggu semuanya kembali normal.
Happy EID Muabarrak... 😊😊❤️❤️❤️
__ADS_1