Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 9. Apa Dia Lebih Spesial Dariku? (Alan)


__ADS_3

Dasar gadis bodoh. Kenapa dia masih belum peka juga dari tadi. Sudah jelas gaun itu begitu pas ditubunya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia mendadak bodoh seperti ini.


Aku melirik dirinya yang masih setia menatap undangan pernikahan kami. Mungkin dia masih terkejut. Biarkan saja dia bermain dengan pikirannya sendiri. Sekarang dia tidak akan salah faham lagi.


"Alan, lalu bagaimana dengan Jihan?"


Ya tuhan, kenapa dari tadi dia terus menyebut nama orang lain. Aku tidak akan menjelaskanya. Biarlah dia berpikir sendiri.


"Sudah aku katakan, jika kita sedang berdua. Jangan ada orang lain diantara kita Ara." ucapku tanpa melihatnya.


"Tapi Alan... Kenapa kamu melakukan ini?kenapa kamu mau menikah denganku?"


Aish anak ini, pertanyaan bodoh apa lagi ini?


"Menurut kamu, jika seorang pria yang ingin menikahi seorang gadis itu tandanya apa?" tanyaku. Ingin sekali aku mendengar jawaban darinya.


"Berati dia menyukai gadis itu. Tapi kita kan beda Alan, kamu sudah punya pilihan sendiri. Apa jangan-jangan kamu melakukan ini karena papah? Karena waktu itu?"


Huh, gadis ini sepertinya memang minta di rukiyah. Ingin sekali aku mencubit pipinya dengan keras. Agar dia kembali sadar. Sayangnya saat ini aku masih menyetir.


"memangnya kamu lihat apa di wajahku ini ada unsur keterpaksaan?" tanyaku lagi.


"Ih Alan, Ara tu nanya. Jangan di jawab dengan pertanyaan lagi. Ara bingung tahu." rengeknya. Aku tertawa mendengar rengekan manjanya itu.


"Makanya jangan banyak tanya." ucapku. Aku yakin, saat ini dia pasti sangat kesal. Aku meliriknya sekilas. Benar saja, saat ini dia menekuk wajahnya. Dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Ayok turun, kasian cincinnya nunggu kita terlalu lama." candaku sambil turun dari mobil. Aku berputar untuk membukakan pintu untuknya.


"Cincin aja yang kasian. Terus aku enggak." ucapnya begitu kesal. Dia mendorongku dan berjalan mendahuluiku. Ya tuhan, aku tidak sabar untuk menghalalkannya.


"Mana yang kamu suka?" tanyaku. Dia menatapku. Wajahnya masih sama seperti tadi, pasti dia masih kesal.


"Pilih saja sendiri." ucapnya ketus. Dia pun duduk di kursi.


"Kamu yakin?" tanyaku sambil melihat beberapa cincin pasangan. Jujur aku tidak tahu harus pilih yang mana. Semuanya terlihat bagus.


"Mbak, cobak lihat yang itu." ucapku sambil menunjuk salah satu cincin yang cukup menarik perhatianku.


"Wah si mas pintar banget milihnya. Ini cincin keluaran terbaru mas. Sangat cocok buat mas dan si mbaknya. Silahkan di coba." Aku sedikit tekejut mendengarnya. Bahkan aku sama sekali tidak mengerti model cincin seperti apa.

__ADS_1


"Sini tangan kamu." ucapku.


"Buat apa? Kita belum sah. Suruh aja si mbak nya yang cobak." ucapnya. Ingin sekali aku tertawa. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan disini. Begitu banyak orang. Aku menarik tangannya dengan paksa dan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Sangat manis. Aku rasa apa pun yang dia pakai selalu cocok.


"Tunggu sebentar." ucapku mengeluarkan handphone dan mengambil gambar tangannya.


"Sepertinya aku harus minta saran mama, kalau nunggu kamu berhenti ngambek bisa-bisa tokonya keburu tutup." ucapku sambil tertawa renyah.


"Ih Alan." rengeknya lagi sambil menarik tangannya dariku.


"Wah, saya suka banget lihat pasangan seperti ini. Sangat romantis. Mbak nya juga sangat menggemaskan. Saya yakin kalian bakal jadi pasangan romantis sampai kakek nenek." ujar pemilik toko.


"Aamiin. Makasih mbak." ucapku tersenyum.


"Jangan senyum." rengek Ara lagi. Aku mengernyit bingung.


"Jangan senyum sama mbaknya Alan. Nanti kalau mbaknya suka sama kamu gimana?" ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya tinggal halalin aja kan mbak, kok susah." ucapku sambil mengedipkan mata pada si mbak pemilik toko. Aku sangat senang jika melihatnya kesal.


"Alan." Dia benar-benar terlihat kesal. Lalu tak lama aku mendapatkan balasan dari mama.


"Mbak, saya ambil yang ini ya." ucapku kembali melepas cincin ditanganya. Aku melihat Ara masih sangat kesal. Biar saja, sebentar lagi juga bakal baik sendiri.


"Yang lain tidak ambil mas?" Aku menggeleng. Ku tatap Ara yang sendang sibuk dengan pikiranya sendiri.


"Ini mas. Totalnya ada disini." ucap pemilik toko menyerahkan cincin tadi dan suratnya. Aku memberikan kredit card milikku.


"Terimakasih kasih mas. Jangan lupa balik lagi. Semoga pernikahannya lancar dan menjadi keluarga sekinah, mawadah, warahmah." ucapnya sambil menangkup kedua tangannya.


"Aamiin. Insha allah mbak. Kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum." ucapku.


"Wa'alaikumusalam." ucap pemilik toko tersenyum ramah.


"Masih mau disini?" tanyaku saat melihat Ara masih duduk manis disana.


"Lapar, makan dulu ya?" ucapnya sambil mengelus perutnya. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Yey, makan di tempat biasa ya?" ucapnya dengan semangat. Entah kemana wajah kesalnya tadi. Ini lah yang paling aku sukai darinya. Jika dia marah ataupun kesal, itu tidak akan berlangsung lama. Mungkin hanya beberapa menit dia akan kembali seperti Ara yang aku kenal. Si cerewet dan cengeng. Tapi di balik itu semua, dia memiliki sifat yang tulus, lembut dan penyayang.

__ADS_1


"Alan, boleh gak Ara undang beberapa orang spesial?" ucapnya sambil menatapku. Orang spesial? Siapa orang itu?


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Kamu juga akan tahu nanti, boleh kan?" tanyanya sambil menaikan kedua alisnya. Aku menggeleng. Dia terlihat kecewa. Aku pun tersenyum dan mengangguk.


"Yey, terimakasih Alan." ucapnya penuh semangat.


"Apa itu sangat spesial? Apa lebih spesial dariku?"tanyaku lagi sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kamu akan tahu nanti Alan, mereka lebih spesial dari kamu." ucapnya langsung masuk ke dalam mobil. Aku sedikit berpikir. Ya sudah lah, mungkin memang lebih spesial dariku.


Sepanjang perjalanan dia sama sekali tidak bicara. Mungkin dia lelah. Aku meliriknya sekilas.


Aku tersenyum sendiri mengingat ekspresi wajahnya saat tahu dirinya lah yang akan aku nikahi. Tidak ada alasan ragu di hatiku untuk menjadikannya seorang istri. Bunda sudah mengatakan semuanya.


Flashback on


"Alan, apa kamu yakin akan menikahi Ara? Kamu tahu sendiri kan Ara itu masih kekanak-kanakan? Lagian bunda dengar kamu sudah punya kekasih?" ucap bunda yang berhasil membuatku terkejut. Bagaimana bunda tahu. Ah, pasti Ara yang mengatakan hal itu. Aku pun tersenyum.


"Alan tahu benar bun seperti apa Ara. Jadi Alan sangat yakin dengan keputusan Alan. Untuk masalah kekasih. Ara salah faham bun. Ini semua memang salah Alan. Alan tidak bisa membedakan mana cinta yang sebenarnya dengan cinta yang hanya sebatas obsesi. Alan sudah benar-benar yakin ingin menikahi Ara bun, Alan mencintai Ara dengan tulus." jelasku. Aku menatap bunda dan papah Arham dengan seksama. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka.


"Syukur lah, itu artinya kalian memiliki perasaan yang sama dan tidak ada unsur pemaksaan." ucap bunda. Apa? Tunggu dulu, maksud dari ucapan bunda itu...


"Maksud bunda, Ara juga.. " Aku menunjuk diriku. Bunda mengangguk. Ya tuhan, jadi selama ini aku salah faham. Pria yang Ara maksud itu aku. Betapa bodohnya kau Alan. Kenapa kau begitu bodoh hingga tak menyadari hal itu.


"Papah juga tidak akan mengingkari janji papah Alan. Kamu ingat perkataan kemarin? Bulan depan kalian langsungkan pernikahan. Papah sangat yakin Ara akan setuju." ujar papah Arham. Aku sangat lega mendengar hal itu. Restu dari semua pihak sudah aku dapatkan. Aku menatap kedua orangtuaku. Mama tersenyum senang dan mengangguk.


"Arham, sekali lagi aku mengucapkan terimakasih sudah mau menerima lamaran ini. Kalian juga tidak mempermasalahkan latar belakang Alan. Aku sangat berterima kasih." ujar papa. Aku menunduk. Memang benar, papah Arham sama sekali tidak membahas tentang latar belakangku.


"Aku tahu seperti apa putra kalian, sejak kecil dia besar disini. Aku tidak peduli dengan latar belakangnya. Yang aku tahu dia mendapatkan didikan yang baik dari orang-orang terhormat seperti kalian. Alan juga sangat pintar, jadi apa lagi yang aku ragukan. Kedua anak kita tumbuh bersama, mereka sudah saling faham satu sama lain."


Aku sangat senang mendengar pemaparan dari papah Arham. Aku kembali semangat. Sekarang aku juga sudah tahu, jika ternyata Ara juga mencintaiku. Ternyata sejak lama kami sudah terikat satu sama lain. Aku sangat bahagia.


Flashback off


Aku tersenyum menatap wajahnya. Mungkin perasaan ini terus bertambah setiap harinya. Aku tidak akan berjanji untuk terus bersamanya atau pun akan terus membahagiakan dirinya. Tapi aku akan berusaha untuk terus berada di sampingnya dan membahagiakannya sampai maut yang memisahkan.


Karena dalam cinta, tidak ada perjanjian atau pun penawaran.

__ADS_1


__ADS_2