Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab. 76. Flash Back 3


__ADS_3

Sebulan setelah pertemuan itu, Alan tidak pernah lagi bertemu Ara. Malam itu adalah malam terakhir Alan menatap wajah cantik sang istri yang tertidur dengan air mata yang terus mengalir. Alan masih mengingat malam yang begitu menyakitkan itu. Sebulan penuh ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Air mata itu bagaikan belati yang terus menyayat hatinya.


"Kak, aku mau serabi." Mala masuk ke kamar Alan sambil merengek. Alan menghapus air matanya, ia tidak ingin Mala melihat kesedihannya.


"Serabi?" tanya Alan menatap Mala sambil tersenyum.


"Iya, babynya pengen serabi di tempat kemarin. Kakak belikan ya?" rengek Mala. Alan menatap Mala lekat, ia teringat kembali pada Ara. Biasanya Ara akan merengek untuk meminta sesuatu. Alan sangat merindukan sifat manja Ara.


"Baiklah, kakak akan belikan, tunggu sebentar." Alan pun bangun dari duduknya dan langsung beranjak pergi.


Alan memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia berjalan menuju tempat penjual serabi.


"Buk, serabi originalnya satu ya," ucap Alan.


"Satu aja den?" tanya sang penjual. Alan tersenyum sambil mengangguk. Namun tiba-tiba ia pun berubah pikiran. Entah kenapa ia juga ingin makan serabi isi abon.


"Em dua deh bu, yang banyak abonnya ya?" ucap Alan.


"Siap den," balas sang penjual dengan semangat. Alan hendak duduk, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Alan sedikit menjauh untuk mengangkat telepon dari seseorang. Ia sangat terkejut saat mendapatkan telepon dari sang papa. Arnold meminta Alan untuk mememuinya di sebuah tempat. Alan berjalan dengan cepat untuk mengambil pesanannya.


"Bu, pesanan saya tadi?" tanya Alan sambil tersenyum.


"Istrinya gak ikut, den?" tanya sang penjual. Alan hanya tersenyum.


"Alan," panggil seorang wanita. Tubuh Alan seketika menegang. Sebuah tangan menyentuh lengan Alan. Alan sangat kenal dengan suara itu.


Alan berbalik, ia menatap wanita itu lekat. Mata wanita itu membulat sempurna. Begitupun sebaliknya, Alan tidak pernah menyangka ia akan bertemu langsung dengan istrinya, Ara. Wanita yang setiap saat ia rindukan.


"Hubby," ucap Ara memeluk dan menangis di pelukan Alan. Tubuh Alan benar-benar menegang. Ia memejamkan matanya, maraskan kehangatan yang sudah lama ia rindukan.


"Ara sangat merindukan, hubby. Kenapa hubby tidak pulang?" tanya Ara mengangkat kepalanya. Menatap wajah yang sangat ia rindukan. Alan tersadar, ia langsung mendorong tubuh Ara agar menjauh.


"Maaf, anda salah orang."


"Non, sepertinya nona memang salah orang. Aden ini sudah punya istri, sedang hamil malah," ujar sang penjual. Ara menatap penjual dan Alan bergantian. Alan memberikan uang pada sang penjual. Alan hendak pergi, namun Ara menahan tanganya.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak mungkin salah orang. Saya sangat kenal suami saya. Hubby, cobak ingat lagi, ini Ara, Bi. Istri hubby. Lihat, ini anak kita," ujar Ara menarik tangan Alan untuk menyentuh perut besarnya. Alan kembali menarik tangannya. Ia benar-benar tersiksa dengan keadaan ini.


"Anda salah orang," ucap Alan langsung beranjak pergi.


"Bi, kenapa hubby melupakan Ara? Ara sudah menunggu hubby cukup lama!" teriak Ara. Alan pura-pura tidak mendengarnya. Ia terus berjalan hingga langkah kakinya terhenti begitu saja. Perlahan Alan berbalik. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.


Alan sangat terkejut saat melihat Ara terduduk lesu di tanah sambil menyentuh perutnya


"Non kenapa?" tanya sang penjual menghampiri Ara. Alan mengepalkan tanganya. Ia melihat ke sekeliling tempat. Lalu ia bergegas menghampiri Ara yang terus meringis kesakitan.


"Sakit," ucap Ara meremas bajunya dengan erat dengan mata terpejam. Alan menyentuh pipi Ara dengan lembut. Mulutnya seakan terkunci.


"Saya panggilkan ambulan," ujar penjual mengambil ponselnya.


"Bi...," panggil Ara. Alan mengecup kening Ara dengan lembut.


"Hubby," ucap Ara sambil tersenyum. Alan semakin panik saat Ara mulai tidak sadarkan diri. Tidak lama, sebuah ambulan pun datang. Tanpa pikir panjang Alan mengangkat tubuh Ara ke dalam ambulan. Sepanjang perjalanan Alan terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya. Alan melihat darah di lengannya. Rasa takut semakin menyelimuti dirinya.


"Jangan ambil mereka dariku, ya Allah," ucap Alan mengecup tangan Ara.


Sesampainya di rumah sakit, Ara langsung di bawa ke UGD. Dokter sempat menahan Alan untuk tidak masuk. Namun Alan mengatakan jika ia adalah suami Ara. Sang dokter pun memberi izin Alan untuk ikut masuk.


Beberapa jam berlalu, suara tangisan bayi pun memenuhi siisi ruangan. Alan mengecup kening Ara bertubi-tubi. Ia sangat senang bisa melihat secara langsung kelahiran putra pertamanya.


Setelah mengazankan putranya, Alan langsung pergi. Ia tidak ingin Ara melihatnya saat terbangun.


Alan kembali mengingat, jika Arnold memintanya untuk bertemu di sebuah tempat. Alan langsung bergegas ke sana. Pikirannya sangat kacau, ia tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Seharusnya saat ini ia terus berada di samping Ara. Namun, ia harus pergi untuk menghindari kekacauan yang lebih buruk.


"Bodoh! Kenapa kamu tidak mendengar ucapan papa? Jika seperti ini, semua rencana kita gagal total!" Suara itu menggema di seisi ruangan. Arnold menatap anaknya penuh kekecewaan.


"Maaf pa, keadaan darurat. Tidak mungkin saya membiarkan semuanya begitu saja," ujar Alan sambil menunduk.


"Kita beralih pada plan B. Rencana kita sudah tercium musuh. Bersiaplah untuk menanggung risiko besar," ujar Arnold melangkah pergi.


"Grace, ikut denganku," lanjut Arnold pada Grace yang sedari tadi menunggu di depan pintu.

__ADS_1


"Baik tuan," ucap Grace berjalan di belakang Arnold.


Sedangkan Alan masih tetap di ruangan itu. Ia duduk di sofa, menopang kening dengan kedua tanganya. Ia memejamkan matanya. Kepalanya seperti mau pecah. Memikirkan semua permasalahan.


"Sial!" umpatnya dengan kesal. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak bisa menahan sakit di hatinya lagi.


Alan sangat terkejut saat tiba-tiba ia merasakan ada yang mengusap punggungnya.


"Sabar, semuanya akan baik-baik saja. Yakinkan dalam hati kamu," ucap seorang wanita paruh baya itu dengan lembut. Ya, ia adalah Milan.


"Ma. Bagaimana jika aku gagal?" tanya Alan begitu prustasi. Milan tersenyum sambil terus mengusap punggung putranya.


"Semua belum berakhir, perjuangkan dengan hati yang tulus. Semua ini akan berakhir," ujar Milan. Alan mengangguk pelan. Matanya masih memancarkan ketakutan yang mendalam. Ia memeluk sang mama dengan erat.


***


Alan terdiam mendengarkan setiap rencana yang disusun oleh Arnold, Arham dan juga Azka. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir lagi. Alan memejamkan matanya.


"Alex sudah tahu siapa istri Alan sebenarnya, saat ini target utama adalah Ara dan bayinya. Kita harus bergerak cepat," ujar Arnold menatap Alan yang masih terdiam. Alan bangun dari duduknya. Ia beranjak menuju kamarnya.


Selama satu minggu Alan sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Alan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Lakukan sekarang, bekerjalah dengan hati-hati," ucap Alan bicara pada seseorang di balik telpon. Alan langsung memutuskan sambungan telepon. Ia menyambar kunci mobilnya dan langsung pergi tanpa sepatah katapun.


***


"Jadi yang menculik Ara itu hubby?" tanya Ara semakin merapatkan pelukannya pada Alan. Alan mengangguk. Ia mengecup kening Ara dengan mesra.


"Lalu, bagaimana dengan Pak Dio, kenapa dia biasa ikut campur?" tanya Ara lagi. Alan tersenyum masam.


"Dia sudah tergila-gila padamu Ara. Dia rela melakukan apapun demi kamu, saat itu dia datang dan ternyata sudah mengetahui semuanya. Dia mengajar hubby habis-habisan. Tapi sayang, ternyata kedatangannya membuat keadaan semakin kacau. Tanpa di sadari, musuh mengikutinya di belakang. Kamu ingat saat kamu terkurung di dalam kamar. Itu hubby yang melakukannya, hubby tidak ingin kalian kenapa-napa. Tapi si bodoh itu malah membawa kalian kabur. Hubby tidak bisa mengejar kalian karena musuh terlalu banyak. Dia tidak berpikir panjang, target mereka adalah kamu. Mereka mengejar mobil yang kalian naiki. Untung Grace datang lebih awal. Jika tidak...,"


Ara menatap Alan untuk menunggu ucapan yang sengaja Alan gantung. Ara benar-benar penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


"Mungkin aku tidak bisa memelukmu lagi," ucap Alan memeluk Ara begitu erat.

__ADS_1


"Ara juga takut kehilangan hubby," ucap Ara membenamkan wajahnya di leher Alan.


"Paman Alex belum bisa di temukan, kita masih harus berhati-hati," ucap Alan. Ara mengangguk. Ara mulai memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah. Alan pun ikut memejamkan matanya. Keduanya mulai terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2