
"Alex," panggil Nissa. Ia menatap Alex yang tengah mengemudi mobil tanpa bicara sedikit pun.
"Aku tahu apa yang kamu alami selama ini, maaf atas kesalahan suamiku." Perkataan itu membuat Alex menghentikan mobilnya secara mendadak. Nissa sangat terkejut, hampir saja kepalanya terbentur.
"Lupakan dia, sekarang kau milikku," ucap Alex kembali melajukan mobilnya. Nissa menarik napas panjang.
"Alex, aku harap kamu melupakan aku. Aku yakin, akan ada wanita yang tulus mencintaimu. Aku sudah punya suami dan anakku masih kecil. Aku tidak bisa meninggalkan mereka," ucap Nissa.
"Maaf Alex, ucapanku sejak dulu tidak akan pernah berubah. Aku hanya menganggap kamu sebagai seorang adik, tidak lebih. Tolong berhenti di depan, tidak baik bicara seperti ini," lanjut Nissa. Alex mengikuti perkataan Nissa. Ia menghentikan mobil di tepi jalan.
"Kau ingin mempermainkan aku?" tanya Alex menatap Nissa lekat. Nissa tersenyum.
"Sejak dulu aku tidak pernah mempermainkan perasaan kamu. Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur," ucap Nissa menatap netra milik Alex. Alex mengamati wajah Nissa yang sudah banyak berubah. Namun, baginya Nissa masih tetap cantik.
"Aku sangat mencintai suamiku, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Kecuali aku mati," kata Nissa memalingkan wajahnya dari Alex. Alex merasa kecewa saat mendengar perkataan Nissa.
"Jadi kau memilih untuk mati?" tanya Alex tersenyum getir.
"Ya, jika itu pilihan terbaik. Aku adalah duri dalam kehidupanmu, Alex. Kamu juga berubah seperti ini karena aku. Sebelum aku mati, aku hanya ingin melihat kamu tersenyum seperti dulu. Alex yang selalu menghiburku saat aku sedih," ujar Nissa tersenyum tulus. Ia sudah pasrah jika Allah akan menyabut nyawanya hari ini melalui Alex. Nissa menghela napas berat. Air matanya menetes perlahan. Alex sangat terkejut saat melihat Nissa menangis.
"Alex, jangan membenci kakakmu. Aku tahu dulu ia bukan orang baik, tapi sekarang ia sudah berubah. Bahkan...
Nissa menghentikan ucapannya. Ia menangis tersedu. Semua itu membuat Alex semakin kalang kabut.
"Nissa," ucap Alex hendak menyentuh Nissa. Namun, dengan cepat Nissa menghindar.
"Arnold ingin melepaskan aku demi kamu, bahkan ia sudah mengganti nama atas kepemilikan harta Digantara dengan nama kamu Alex. Ia hanya ingin menebus semua kesalahannya," ujar Nissa yang membuat Alex terkejut.
"Aku sangat mencintainya, dia pria baik. Seharusnya kamu tahu, sejak kamu menghilang, Arnold terus berusaha mencari kamu. Bukan dia yang ingin membunuh kamu, tetapi rivalnya yang memanfaatkan keadaan. Arnold hanya ingin memberikan pelajaran padamu, tidak lebih. Kamu salah paham, Alex," jelas Nissa. Alex tercengang mendengar semua penjelasan Nissa. Alex tidak bisa lagi bicara.
Nissa mengambil pistol milik Alex di dasboard mobil. Alex terhenyak melihat itu.
"Tembak aku, Lex. Aku lah yang menyebabkan perpecahan ini," ucap Nissa memberikan pistol pada Alex. Dengan tangan gemetar, Alex mengambil pistol dari tangan Nissa. Alex menatap wajah sembab Nissa.
"Jadi ini yang kau inginkan Nissa? Kau memilih mati dari pada hidup bersamaku?" tanya Alex menatap Nissa penuh kecewa. Nissa mengangguk pasrah.
"Kau memanfaatkan aku, agar aku menjauh dari keluargamu?" tanya Alex lagi. Nissa kembali mengangguk. Hal itu membuat Alex kesal. Alex mengarahkan senjatanya tepat di jantung Nissa. Nissa memejamkan matanya.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Tak!
__ADS_1
Senjata yang Alex pegang pun terjatuh. Alex menatap Nissa yang masih menutup matanya.
"Kau...," ucap Alex begitu kesal. Ia melihat tangan dan tubuh Nissa yang bergetar karena ketakutan. Alex menyentuh pipi Nissa. Nissa membuka matanya perlahan.
"Kau sangat cantik memakai kerudung seperti ini. Aku harap bisa menemukan wanita yang sama sepertimu, Nissa."
Nissa sangat terkejut saat tiba-tiba Alex memeluknya. Nissa tidak menolak, ia membalas pelukan Alex.
"Maaf membuatmu takut," lanjut Alex. Nissa mengangguk dalam dekapan Alex.
***
"Papa! Kenapa papa lakukan ini?" seru Arin dari dalam kamar milik sang papa. Arnold yang mendengar suara putrinya memilih untuk tetap diam. Ia melanjutkan untuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Papa lemah, bagaimana bisa papa menyerahkan mama pada orang lain dengan begitu mudah? Arin kecewa sama papa, Arin kecewa. Papa bukan pria sejati!"
"Cukup! Kamu tidak tahu apa-apa, Arin!" Arin tersentak saat mendengar bentakan Arnold. Air matanya mengalir dan membasahi pipinya yang mulus. Arnold memejamkan matanya. Ia sangat menyesal sudah membentak putrinya.
"Maaf, sayang," ucap Arnold menarik Arin dalam dekapannya. Arin semakin terisak.
"Kenapa papa lakukan ini?" tanya Arin di sela isakannya.
"Papa ingin menebus semua kesalahan papa di masa lalu, jaga mama untuk papa. Jangan menangis," balas Arnold mengusap kepala putrinya. Arin semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya sakit menerima kenyataan pahit dalam keluarganya. Ia tidak rela jika kedua orang tuanya harus terpisah.
"Papa harus pergi, jaga diri baik-baik," ucap Arnold melepaskan pelukannya. Ia mengambil koper dan langsung beranjak pergi. Arin tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia terduduk lesu di atas ranjang.
Kenapa semuanya jadi seperti ini?
"Aku baru tahu di dunia ini ada pria bodoh sepertimu," ujar seseorang disebelahnya. Arnold yang terkejut pun langsung menoleh. Matanya membulat sempurna.
"Kau!" ucap Arnold seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ya, saat ini Alex sudah duduk di sebelahnya.
"Aku menyesal dilahirkan dari perut yang sama denganmu, kau pria lemah dan brengsek," ujar Alex tersenyum getir. Arnold kembali memalingkan wajah datarnya.
Cukup lama mereka saling terdiam.
"Apa kau membenciku?" tanya Alex membuka pembicaraan. Arnold sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Alex.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Arnold mengalihkan pembicaraan.
"Aku punya pintu kemana saja, aku curi dari doraemon," balas Alex asal. Pasalnya ia kesal karena Arnold tidak menjawab pertanyaannya. Arnold yang mendengar itu tersenyum tipis.
"Kenapa kau kesini, semua sudah aku berikan padamu. Aku harap kau masih menganggapku kakakmu," ujar Arnold menatap Alex lekat. Alex menatap lurus kedepan.
"Kau tetap kakakku sampai kapan pun, tapi untuk saat ini kau bukan kakakku lagi."
Arnold menatap Alex bingung.
"Dasar bodoh! Apa kau kira istrimu barang, huh? Dengan mudahnya kau berikan padaku? Kau tetap saja pria brengsek, tidak akan pernah berubah," ujar Alex dengan nada penuh kekesalan.
__ADS_1
"Pulang, bodoh! Sebelum istrimu benar-benar aku bawa pergi," lanjut Alex. Arnold menatap Alex lekat. Lalu ia langsung memeluk adiknya dengan erat. Jujur, ia sangat merindukannya. Alex membalas pelukannya. Air matanya tidak bisa lagi ia bendung. Rasa sakit yang selama ini ia pendam meluap begitu saja.
"I'm sorry," ucap Alex. Arnold ikut meneteskan air matanya. Ia sedikit tekejut dan mengusap pipinya yang basah. Sudah lama ia tidak menangis. Ia tersenyum.
"I'm sorry." Arnold mengusap punggung sang adik. Ia berjanji tidak akan lagi membiarkan keluarganya pecah.
***
Ara memeluk Nissa yang terus terdiam di dalam kamar. Nissa merasa semuanya benar-benar hilang. Ara memang memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya. Karena ia tahu keluarga Digantara membutuhkan dukungan penuh.
"Kak, biar Arin yang jaga mama. Ichal menangis," ucap Arin duduk di sebelah Ara. Ara mengangguk.
"Ara keluar sebentar," ucap Ara mengecup kening Nissa. Lalu ia pun bergegas keluar.
Arin menatap Nissa yang masih terdiam. Sudah satu jam lebih Nissa kembali ke rumah. Ia tidak bicara sepatah katapun saat tahu Arnold sudah pergi dari rumah.
"Ma, jangan buat Arin sedih," ucap Arin memeluk sang mama dengan lembut. Arin menangis sambil memeluk Nissa.
"Apa masih seperti tadi?" tanya Dara pada Ara. Ara mengangguk. Ia mengambil Ichal dari gendongan sang bunda.
"Sepertinya dia ngantuk. Kasihan dia pasti lelah," ucap Dara mengusap kepala cucunya. Ara mengangguk. Ia menidurkan Ichal diatas tempat tidur dan mulai memberikan asi.
"Besok saja kerumah sakit, Alan pasti mengerti dengan kondisi Ichal yang seperti ini. Besok bunda yang jaga Ichal di rumah," ujar Dara.
"Iya bunda, Ara juga capek," ucap Ara menatap Ichal yang mulai memejamkan matanya. Lalu Ara pun ikut memejamkan matanya. Namun baru beberapa detik ia memejamkan mata. Suara ledakan dari luar berhasil mengejutkannya. Ara mengusap dada Ichal, karena ia juga ikut terkejut. Setelah Ichal kembali tertidur, Ara pun bergegas keluar.
"Ada apa?" tanya Ara pada Arin. Arin menggeleng.
Nissa yang sudah terlebih dahulu berlari keluar mendadak terpaku. Ia menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Arnold berlutut di hadapannya dengan memegang buket bunga mawar yang cukup besar.
Arin, Ara dan Dara juga tak kalah terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Ini adalah 99 rangkai bunga untukmu sayang. Sebagai permintaan maafku," ucap Arnold meraih tangan Nissa. Air mata Nissa kembali meleleh. Ia tidak menyangka Arnold akan melakukan hal seperti ini.
"Bangun, mas." Nissa membantu Arnold untuk bangun. Ia menatap wajah suaminya lekat. Lalu memeluknya dengan erat.
"Tidak perlu melakukan ini, kamu kembali kesini sudah membuatku bahagia," ucap Nissa mengusap wajah Arnold.
"Sepertinya aku di kerjai oleh si bodoh itu," gumam Arnold. Nissa yang masih bisa mendengar itu menatap Arnold penuh tanda tanya.
"Alex, dia yang menyuruhku melakukan semua ini," ucap Arnold. Nissa tertawa renyah mendengarnya. Nissa melihat ke arah gerbang. Di sana terlihat Alex sedang menatap dirinya dari dalam mobil. Alex tersenyum, lalu ia pun langsung beranjak pergi.
"I love you," ucap Arnold memeluk Nissa dengan penuh kemesraan.
"Ekhem, apa kamu mau juga seperti itu?" tanya Arham yang entah sejak kapan sudah berada di samping Dara. Dara hanya tersenyum mendengarnya.
"I love you," lanjut Arham memeluk istrinya. Ara dan Arin yang mendengar itu hanya bisa saling pandang.
"Derita jomblo mah gini," ucap Arin yang langsung beranjak pergi. Ara hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Jika Alan ada disini, pasti dia juga akan mengatakan itu. Ah, aku sangat merindukannya.