
"Dasar bodoh! Aku ingin kalian menemukan dia secepatnya."
Pria itu melempar ponselnya setelah menerima panggilan dari seseorang. Ia menjatuhkan dirinya diatas kursi. Memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Brengsek," umpatnya sambil memukul udara. Ia menopang kening dengan kedua tanganya.
Tok tok tok
"Masuk," ucapnya. Lalu tak berapa lama seorang wanita masuk, membawa sebuah dokumen.
"Dokumen untuk meeting," ucap wanita itu meletakkan dokumen yang ia bawa diatas meja.
"Hmmm... " gumam pria itu tak memperdulikan sang wanita.
"Jangan mencampuri urusan orang lain, jika kamu tidak ingin sakit." Wanita itu duduk sambil menatap pria yang saat ini ada di depannya.
"Satu jam lagi meeting akan di mulai, bersifat profesional lah. Jangan melibatkan masalah pribadi," lanjut wanita itu. Lalu ia pun beranjak pergi.
"Anita," panggil pria itu.
Anita yang sudah memegang handle pintu, mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Dio, stop it!" ucap Anita menatap Dio lekat. Ia kembali menghampiri Dio.
"Malam ini, aku akan menemui kedua orang tuanya. Setelah anak itu lahir, aku akan menikahinya."
Anita membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kau gila Dio!"
"Keputusanku sudah bulat!" Dio bangun dari duduknya. Ia menatap ke luar jendela.
"Dia akan menolakmu lagi," ucap Anita tersenyum getir. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"Maka aku akan terus mencoba," balas Dio. Anita menarik napas panjang.
"Just for you," ucap Anita langsung beranjak pergi. Dio tidak lagi menahan wanita itu untuk pergi. Ia terus menatap keluar jendela, bermain dengan pikirannya sendiri.
***
Di rumah sederhana, terlihat wanita berbadan dua tengah duduk termenung. Ia memeluk sebuah bingkai. Pipinya terlihat basah, tubuhnya sedikit bergetar. Bibirnya terus berkedut. Ya, ia adalah Ara.
Tidak jauh darinya, terlihat seorang gadis cantik sedang berdiri. Menatapnya yang tengah termenung sendirian. Sesekali gadis itu menarik napas panjang.
"Sampai kapan akan seperti ini, kak?" gumam gadis itu. Air matanya ikut menetes. Dengan cepat ia menghapus air matanya. Bibirnya terpaut, berjalan menghampiri wanita itu.
"Kak, masuk yuk. Arin sudah siapkan makanan yang enak," ucap gadis itu yang tak lain adalah Arin. Ia memeluk Ara yang masih terdiam di tempat.
"Sebentar lagi," balas Ara pelan.
"Sudah hampir dua jam kakak duduk disini, tidak baik untuk kesehatan. Ayo masuk," bujuk Arin. Namun Ara hanya menggeleng.
"Kak, mau sampai kapan seperti ini? Arin sedih melihat kakak terus terpuruk seperti ini," ujar Arin memeluk Ara dari belakang. Ia ikut sedih melihat keseharian Ara yang hanya menangis dan termenung.
"Jika saja dulu kakak tidak memaksa Alan untuk jemput kakak, mungkin saat ini Alan masih ada disini, bersama kita. Semua ini salah kakak, Arin," ujar Ara sambil menangis.
"Enggak kak, semua ini sudah takdir. Tidak ada yang bisa menghindar dari takdir Allah. Jangan salahkan diri kakak, ok?" Arin terus mencoba untuk menenangkan Ara. Sudah tiga hari Ara terus menangis.
__ADS_1
"Dia tidak merindukan kakak, dia jahat sekali, Arin." Ara menangis sejadi-jadinya. Napasnya tersenggal.
"Cukup kak, jangan soperti ini. Kasian baby, dia pasti ikut sedih...," ucap Arin mengusap kepala Ara.
"Kita pulang ya? Arin tidak mau kakak sendirian lagi di rumah ini," lanjutnya. Ia terus mengelus punggung sang kakak, berharap Ara sedikit lebih tenang.
"Pulang ke rumah bunda," ucap Ara pelan. Arin mengangguk cepat.
"Ya, kita pulang. Tapi, kakak harus makan dulu. Bunda akan sedih, melihat kondisi kakak seperti ini," ujar Arin. Ara menatap Arin lekat, ia mengangguk pelan.
"Ya sudah, ayo masuk." Arin menuntun Ara perlahan. Ia benar-benar iba melihat kondisi Ara saat ini.
"Sudah," ucap Ara mendorong piring yang masih menyisakan nasi dan lauk. Arin yang melihat itu hanya bisa menarik napas panjang.
"Minum susu dulu," ucap Arin memberikan segelas susu pada Ara.
"Terima kasih," ucap Ara . Ia mulai meneguknya perlahan. Arin yang melihat itu tersenyum lega.
"Kak, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan dulu?"
"Kakak malas," balas Ara. Arin telihat lesu. Ia bingung, cara apa lagi yang bisa ia lakukan agar Ara kembali seperti dulu.
"Sebentar saja, mau ya kak? Arin juga bosan di rumah terus," ujar Arin menatap Ara penuh harap.
"Baiklah," jawab Ara singkat. Arin tersenyum senang.
"Ya sudah, Arin bereskan ini dulu. Setelah itu kita langsung berangkat," ucap Arin merapikan meja makan. Ara hanya menatap setiap pergerakan Arin
Bi, apa sudah tidak ada Ara di hati hubby saat ini? Apa begitu mudah hubby melupakan Ara? Tiga bulan lebih, Ara tetap menunggu hubby disini. Di tempat yang sama.
Ara terhenyak saat Arin menyentuh pundaknya. Ia mengusap lembut pipinya yang basah. Ia mengangguk, bangun dari tempat duduk.
Saat ini, mereka sudah berada di sebuah mall. Arin sengaja membawa Ara untuk berkeliling. Ia ingin kakaknya melupakan kesedihannya sejenak.
Arin menarik tangan Ara, memasuki sebuah toko perlengkapan bayi.
"Wah, ini imut sekali. Lihat kak, topi ini benar-benar imut. Kita ambil satu ya? Sepatutnya juga sangat imut," ujar Arin saat melihat beberapa sepatu dan topi bayi.
"Di rumah sudah banyak," balas Ara sambil memegang topi yang Arin maksud.
"Tidak apa, ambil saja satu lagi. Ini hadiah dari Arin, ayo pilih yang lain. Ya ampun, semuanya terlihat imut." Arin melepaskan tangan Ara. Ia berjalan untuk melihat-lihat.
Ara terus berjalan, matanya tertuju pada sebuah pakaian bayi perempuan yang cukup menggemaskan.
"Kamu laki-laki apa perempuan ya?" gumam Ara sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit sempurna. Ara memang tidak pernah melihat jenis kelamin anaknya. Alan selalu mengatakan, jika itu akan menjadi kejutan. Karena itu, sampai sekarang Ara tidak pernah melihat jenis kelamin anak dalam kandungannya.
"Maaf mbak, apa mbak jadi ambil ya itu?"
Ara sangat terkejut. Ia langsung melihat orang yang berbicara padanya.
"Ah, tidak mbak. Saya cuma lihat-lihat," balas Ara sedikit mundur.
"Ok, saya ambil ya?" tanya wanita itu. Ara pun mengangguk.
"Sudah dapat?"
Ara terdiam saat mendengar suara itu. Suara yang begitu ia kenal. Kakinya seakan terpaku. Tubuhnya mematung.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita ke kasir." Wanita itu berjalan melewati Ara.
Hubby, apa itu benar-benar kamu?
Ara membalikkan tubuhnya perlahan. Ara memperhatikan punggung pria itu.
"Hubby," panggilnya sedikit bergetar.
Pria itu langsung menghentikan langkahnya. Wanita yang tadi pun, menoleh ke arah Ara. Ara berjalan perlahan. Berusaha untuk mendekati pria itu.
"Ayo pergi," ajak pria itu langsung bergegas pergi. Ara kembali terdiam.
Apa aku salah orang? Kenapa dia begitu mirip?
"Kak Ra, ya ampun. Arin cariin kakak, rupanya disini. Lagi lihat apa sih?" tanya Arin yang baru saja muncul. Ara tersadar dari lamunanya.
"Tidak ada, ayo pulang. Kakak capek," balas Ara.
"Baiklah," ucap Arin menggandeng Ara. Setelah membayar di kasir. Mereka pun langsung bergegas untuk pulang.
Sepanjang perjalanan Ara terus termenung. Ia masih memikirkan pria yang tadi. Semuanya begitu mirip. Suara, punggungnya, juga cara berjalannya sangat merip dengan Alan.
"Kak, kita sudah sampai." Ara tersentak, ia menatap Arin. Lalu mengangguk pelan.
"Arin, temani kakak malam ini?" ucapnya lembut.
"Hmmm, Arin akan selalu temani kakak. Tapi, Arin harus pulang dulu. Arin tidak bawa baju ganti," ujar Arin. Ara kembali mengangguk.
"Ini belanjaanya," lanjut Arin memberikan paper bag pada Ara.
"Terima kasih, aunty," ucap Ara yang di sambut tawa oleh Arin.
"Hati-hati di jalan, kakak turun dulu." Ara pun langsung turun dari mobil.
"By, kak. Love you...," ucap Arin melambaikan tangannya. Ara yang melihat itu tersenyum.
"Hati-hati," ucap Ara saat mobil Arin mulai melaju, meninggalkan pekarangan rumah.
"Assalamualaikum," ucapnya membuka pintu. Namun tidak ada jawaban.
"Bunda tidak ada di rumah?" gumamnya. Ara menghela napas berat. Ia berjalan menuju kamarnya. Ara duduk di tepi ranjang, memijat kakinya yang terasa pegal.
"Aduh!" Ara mengeluh saat tiba-tiba bayinya menendang cukup kuat. Jantungnya berpacu hebat. Ara menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Ia mengatur napas. Mengelus perutnya dengan lembut. Ia merasakan bayinya terus bergerak aktif.
"Ada apa sayang?" tanya Ara terus mengelus perutnya. Sesekali Ara meringis karena bayinya tak berhenti menendang.
"Jangan menendang terus, dada umi sesak. Umi tahu, kamu tidak sabar ya mau keluar? Sebentar lagi kok," ujar Ara mengajak bayinya bicara.
Ara memejamkan matanya saat bayinya sedikit tenang. Akhir-akhir ini ia sangat sulit untuk tidur. Bayinya cukup aktif, terkadang Ara kewalahan kerena bayinya terus menendang. Bahkan bisa semalaman ia tidak tidur.
Ara membuka matanya. Ia kembali teringat pada sosok yang ia lihat tadi.
Siapa dia sebenarnya?
"Ya Allah, jika benar dia suamiku. Izinkan hamba untuk melihatnya, kembalikan dia pada hamba. Izinkan kami untuk kembali bersama. Hamba mohon," ucapnya penuh ketulusan.
Rasa rindu membuncah di dadanya. Menimbulkan rasa sakit yang mendalam. Air mata seakan tak ingin berhenti keluar. Membasahi relung jiwa yang tengah terguncang. Hati terus bergetar, memohon agar kembali di pertemukan. Mengobati luka yang semakin mendalam.
__ADS_1