Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 53. Titik Terang


__ADS_3

Pendar sang rembulan terlihat begitu indah, namun tak seindah hati sang pria yang kini tengah terduduk lesu. Terlihat dengan jelas penyesalan dan kekecewaan dalam dirinya. Haru biru terjadi dalam sebuah kamar bernuansa hitam.


Pecahan dari berbagai benda terlihat berserak di lantai. Benda benda sudah tak lagi berada di tempatnya. Retakan cermin terlihat dengan jelas, menjadi korban pelampiasan.


"Maafkan aku... Maafkan aku..." ucap pria itu terus menerus.


Air matanya meluncur begitu deras, menunjukkan rasa sesal yang begitu dalam.


"Tidak seharusnya aku memaksakan kehendak, maafkan aku Ara... Maafkan aku, aku sangat mencintaimu, aku buta akan hal itu, aku begitu bodoh," tuturnya sambil terus memukul dirinya sendiri.


Pintu kamar terbuka perlahan. Wanita yang kini berdiri diambang pintu terhenyak saat melihat kondisi kamar putranya yang begitu berantakan. Ia berjalan perlahan mendekati anak sulungnya.


"Dio, apa yang kamu lakukan nak?" tanyanya memeluk sang putra begitu hangat.


"Apa Dio sangat jahat Ma? Dio sangat egois, bahkan Dio berencana untuk menghancurkan hubungan adik Dio sendiri. Mereka pantas membenci Dio Ma,"


"Tidak sayang, mama tahu perasaan kamu. Tapi apa yang kamu lakukan itu salah, ini belum terlambat. Perbaiki semuanya, minta maaflah pada mereka. Bagaimanapun Alan adalah adik kamu, sudah seharusnya kalian berbaikan," ujar mama mencium pucuk kepala putranya.


"Apa mereka akan memaafkan Dio?" tanya Dio menatap sang mama lekat-lekat.


"Pasti. Mama tahu mereka orang baik. Cobalah meminta maaf pada mereka, jangan sampai kamu menyesal nanti."


"Bagaimana jika mereka menolak? Dio sudah menggoreskan luka di hati mereka Ma, mereka membenci Dio,"


Dio bersimpuh pada sang mama, ia benar-benar putus asa atas kesalahan yang sudah ia perbuat.


"Jangan bicara seperti itu, kamu belum mencoba sayang. Lakukan yang terbaik, mereka pasti akan memaafkan kamu sayang," ujar mama kembali mencium pucuk kepala Dio. Dio sempat terdiam beberapa saat, tak lama ia terlihat mengangguk.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi, jangan menyakiti diri kamu sendiri. Mama tidak bisa melihat anak mama terjatuh seperti ini, ini bukan Dio yang mama kenal."


"Maaf ma," ucap Dio memeluk sang mama begitu erat. Perasaannya sedikit membaik. Mungkin ia akan memperbaiki semua kesalahan yang sudah terjadi. Karena hidup lebih baik dikelilingi oleh banyak teman, dibandingkan dengan banyak lawan.


***


"Bi, sedang apa disini?" tanya Ara memeluk sang suami yang tengah termenung menatap kolam ikan. Alan membalikan tubuhnya dan menatap sang istri begitu dalam.

__ADS_1


"Mencari udara segar," jawab Alan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara.


"Ini sudah siang bi, panas loh." Ara menyeka keringat di kening Alan. Alan hanya tersenyum sambil terus menatap wajah Ara.


"Apa hubby masih memikirkan masalah papah? Maaf bi, papah masih belum bisa menerima kenyataan." ucap Ara memasang wajah sedih.


"Tidak, hubby hanya sedang memikirkan bagaimana caranya agar kamu tetap tersenyum," alibi Alan, ia mengelus pipi Ara dengan lembut.


"Jangan terlalu di pikirkan bi, kesehatan hubby lebih penting. Besok kita akan berangkat. Hubby harus jaga kesehatan, kalau hubby sakit siapa yang jaga Ara?" ujar Ara.


"Hubby baik-baik saja," ucap Alan mengecup kening Ara. Ara menghela napas berat, ia tahu suaminya menyembunyikan sesuatu. Tapi Ara tidak ingin memaksa Alan untuk mengatakannya sekarang, biarlah Alan yang datang padanya dan menceritakan semuanya.


Di depan sebuah rumah minimalist berlantai dua, terlihat seorang pria berpakaian kasual tengah berdiri.


"Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kalian," ujarnya seraya berjalan menuju pintu. Ia mengetuk pintu dengan teratur. Setelah beberapa kali tak mendapat jawaban, ia masih tetap menunggu.


Tak lama pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Sosok yang begitu mirip dengan wanita yang kini masih bertahta di hatinya.


"Kamu!" serunya terhenyak melihat siapa yang bertamu.


"Silahkan masuk, saya akan panggilkan suami saya." titah Dara, ia membuka pintu sedikit lebar.


"Terimakasih," ucap pria itu masuk ke dalam. Dara menghela napas panjang, ia harap kedatangan pria itu tak menimbulkan masalah.


Setelah beberapa menit, terlihat Arham berjalan menuju ruang tamu. Pandangannya langsung tertuju pada pria yang tengah menatap bingkai foto keluarganya.


"Ada tujuan apa anda kemari?" tanya Arham membuat pria itu tersentak kaget. Pria itu langsung bangun dari duduknya dan memberikan senyuman terbaik.


"Ada sedikit masalah yang harus kita bicarakan Om, tidak perlu khawatir. Saya cuma sebentar," balas Dio.


"Masalah apa lagi yang akan kamu bawa?" tanya Arham datar. Dio tersenyum dan kembali duduk seperti semula.


"Anda pasti tahu, ini masalah menantu anda. Kebetulan tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, memang awalnya saya datang kesana untuk meminta maaf. Namun saya tidak pernah menyangka jika perbuatan saya menjadi bumerang dalam rumah tangga adik saya." Jelas Dio. Ia masih setia menatap Arham.


Sebelum datang ke kediaman Arham, Dio memang pergi ke rumah Alan untuk meminta maaf. Tapi, ia tak sengaja mendengar obrolan Ara tentang hubungan Arham dan Alan. Dio memutuskan untuk menemui Arham secara langsung, bagaimana pun dalang dari masalah ini adalah dirinya. Mungkin setelah ini ia akan langsung meminta maaf pada adiknya.

__ADS_1


"Maaf om, saya terlalu lancang dalam urusan keluarga kalian. Tapi Alan juga adik saya, masalahnya saat ini ada pada diri saya. Anda membenci Alan karena dia sedarah dengan saya bukan?" ujar Dio. Arham yang mendengar pertanyaan itu hanya diam membisu.


"Silahkan diminum," ucap Dara meletakkan cangkir berisi teh di meja.


"Terimakasih." ucap Dio.


"Tante, saya harap anda juga ikut bergabung. Agar tak ada lagi kesalah fahaman," lanjutnya. Dara mengangguk dan ikut bergabung.


"Kita lanjut, saya minta maaf pada kalian semua. Karena saya semuanya menjadi kacau. Tapi Om, jangan pernah menyalahkan semua ini pada Alan. Dia tidak pernah tahu tentang semua ini. Saya harap sebagai seorang dosen anda bisa menanggapi semua ini dengan baik. Kami memang memiliki latar belakang yang buruk, tapi Alan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk orang yang ia cintai. Anda boleh membenci saya karena sebuah masa lalu, tapi Alan tidak ada hubungannya dengan ini. Jadi jangan membencinya seperti anda membenci saya, karena tidak ada alasan kuat untuk membencinya."


"Anda juga harus ingat, saat ini Alan adalah suami dari putri anda. Orang yang sangat dicintai oleh putri anda. Apa anda pernah berpikir jika putri anda akan sangat sedih dengan sikap anda saat ini?"


"Tidak perlu ikut campur, pergilah!" seru Arham bangkit dari tempat duduk dan hendak pergi.


"Mama selalu ingin meminta maaf pada anda, dia tidak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di masa lalu. Kejadian yang membuat anda begitu membenci mama saya, juga saya. Anak yang terlahir dari hasil pemerkosaan." ujar Dio dengan mata yang memerah. Sebenarnya ia tak ingin kembali membuka luka lama. Tapi itu adalah satu-satunya cara agar masalah ini segera teratasi.


Dara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Selama ini ia hanya tahu sedikit mengenai Hilda sang mantan kekasih suaminya.


"Mama menyembunyikan semua ini supaya anda tidak ikut malu, mama hanya ingin melihat anda bahagia bersama orang yang lebih baik darinya. Walaupun mama harus merasakan rasa sakit yang mendalam. Saat itu bukan hanya anda yang sakit, tapi mama lebih sakit om. Mama harus menanggung semuanya sendiri, di asingkan dari keluarga dan berusaha membesarkan anak pembawa sial seperti saya. Jadi saya mohon, jangan membenci mama. Mama tidak bersalah, dia hanya korban. Yang pantas anda benci adalah saya, alasan kenapa mama memutuskan hubungan kalian."


"Jangan membenci mama, ataupun Alan. Mereka tidak bersalah, saya lah yang pantas anda salahkan om. Saya yang sudah menimbulkan masalah ini hingga begitu dalam," ujar Dio menunduk lesu.


Arham terpaku di tempatnya, ia sendiri sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. Antara percaya atau tidak dengan apa yang di jelaskan anak itu. Hingga sebuah tangan mengejutkan dirinya.


"Mas, duduklah. Biarkan dia menjelaskan semuanya dengan benar. Kita dengarkan, semua butuh kebenaran. Agar tidak ada lagi salah faham yang akan menimbulkan permusuhan." Dara menyetuh lengan suaminya. Ia menatap netra tajam Arham begitu dalam.


"Pecayalah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan biarkan kebencian terus bersarang disini," lanjut Dara menunjuk lubuk hati Arham yang terdalam. Ia mengembangkan senyumannya sambil menyetuh wajah suaminya.


"Besok mereka akan berangkat lagi, jangan biarkan mereka membawa beban yang tak seharusnya dibawa. Dara mohon mas, akhiri semua kebencian ini. Dara yakin mas akan lebih tenang,"


Dara menoleh untuk menatap Dio yang masih menunduk lesu. Lalu kembali menatap suaminya yang masih terdiam.


"Allah saja maha pemaaf, kita sebagai manusia juga harus bisa memaafkan." sambung Dara. Arham menatap wajah istrinya lamat-lamat. Arham mengangguk pelan, Dara terlihat senang akan hal itu.


Lalu mereka pun kembali duduk. Menyelesaikan apa yang seharusnya terselesaikan. Menghilangkan bumerang yang akan menghancurkan kekeluargaan. Mungkin dengan penjelasan, semua ikatan yang sudah lama terputus bisa kembali tersambung.

__ADS_1


__ADS_2