
Kamar yang dulunya bernuansa putih hitam, kini sudah disulap menjadi kamar pengantin yang cukup indah. Puluhan tangkai bunga mawar merah terangkai indah disetiap sudut kamar. Aroma dari setiap helai kelopak mawar memberikan ketenangan bagi siapa saja yang menghirupnya.
Dibalik cermin, mempelai wanita terlihat begitu anggun dan cantik dengan balutan kebaya putih dan siger Sunda dikepalanya. Ya, mempelai wanita itu adalah Keira. Beberapa menit lagi, ia akan menyandang status sebagai seorang istri.
"Hey, jangan terlalu tegang. Nanti cantiknya hilang," bisik Ara tetap ditelinga Keira. Sebisa mungkin Keira tersenyum, meski pun hatinya terus menggertak karena grogi. Kedua tangannya teras begitu dingin.
"Kakak juga seperti kamu saat menikah dulu, walaupun kakak tidak ikut duduk disamping Alan. Tapi saat itu cukup grogi, jadi wajar kalau kamu juga grogi," jelas Ara berdiri di belakang Keira. Menatap gadis cantik berdarah sunda itu dalam-dalam. Kecantikan yang begitu alami. Sebelum dan sesudah dipoles, wajah Keira tidak jauh berbeda.
"Kakak mau kan temenin Kei terus?" pinta Keira menatap Ara di balik cermin. Ara tersenyum, memeluk gadis itu dengan lembut.
"Tidak," mata Ara terus tertuju pada Keira, "tidak mungkin menolak, sayang."
Keira tersenyum senang, walaupun awalnya hampir kecewa.
"Terima kasih, Kak. Kei tidak punya siapa-siapa sebagai keluarga."
"Siapa bilang? Bunda disini," ucap Bunda Dara memasuki kamar putranya. Akad nikah Azka dan Keira memang dilangsungkan di rumah keluarga Pratama. Sedangkan resepsi akan dilangsungkan di Dian Ballroom, hotel Raffles Jakarta.
Keira bangun dari duduknya dengan bantuan Ara. Bunda Dara tersenyum senang saat melihat menatunya yang begitu cantik. Beliau menarik kedua tangan Keira, menggenggamnya penuh kehangatan.
"Sekarang, Bunda punya dua putri yang sangat cantik," ucap Bunda Dara mengusap pipi Keira dan menatap Ara. Tanpa sadar, air mata meluncur di pipi Ara. Ia sangat terharu.
"Terima kasih, Bunda. Kei sangat bahagia," ucap Keira memeluk Bunda Dara penuh kasih sayang. Ara mengusap pipinya dengan lembut. Tangannya ikut mengusap punggung Keira.
"Bunda, mana pengantinnya? Sebentar lagi akad akan dimulai," ujar seseorang diambang pintu. Membuat para wanita terkejut. Mereka pun melihat ke arah pintu. Di sana sudah berdiri Papah Arham yang begitu tampan dengan balutan tuxedo berwarna pastel.
"Iya pah, Kei sudah siap kok," ucap Bunda Dara menatap Papah Arham.
"Baiklah, Papah tunggu di luar," ucap Papah Arham beranjak pergi.
"Acara akan segera di mulai. Sebaiknya kita langsung turun," ajak Ara menatap Bunda dan adik iparnya bergantian. Mereka pun mengangguk bersamaan.
"Mari," lanjut Ara menggandeng lengan kiri mempelai wanita. Begitu pun dengan Bunda Dara. Ia berdiri disamping kanan Keira.
Seluruh tangan terangkat ke atas saat untuk mengucapkan rasa syukur saat kedua mempelai dinyatakan sah menjadi sepasang suami istri.Tangis haru pun pecah. Mempelai wanita terlihat menangis sambil menunduk. Azka melirik gadis cantik yang sudah menjadi istri sahnya. Tangan mungil itu terlihat bergetar. Ia tahu, gadis itu sedang meluapkan perasaannya.
Beberapa jam berlalu, semua keluarga besar Pratama sudah hadir di Ballroom yang di dekorasi sedemikian rupa. Memanjakan setiap mata yang memandang. Para tamu undangan juga mulai memenuhi seisi Ballroom. Tak terkecuali keluarga besar Digantara.
"Sayang, sepertinya acara ini sangat mewah. Lebih mewah dari acara Arin. Lihat, bahkan semua kolega tampak hadir," ujar Alan mengerlingkan matanya ke setiap penjuru ruangan. Lengannya terus diapit oleh wanita cantik berbalut kebaya berwarna pastel. Ditangan yang lain tampak bayi mungil berpakaian sama seperti Alan. Balutan batik bermotif tujuh rupa.
"Semuanya kakek yang rancang, beliau mau para kolega tahu jika Azka merupakan cucu laki-laki satu-satunya, penerus kakek. Meskipun saat ini semua orang tahu Azka merupakan pimpinan perusahaan kakek. Lagian anak Paman Ilham kan perempuan semua, kakek sudah merencanakan ini jauh sebelum kita menikah. Momen yang paling kakek tunggu," jelas Ara panjang lebar. Ia sangat bahagia, bisa melihat tawa sang kakek di seberang sana. Bercanda ria bersama beberapa pria yang sepertinya seumuran dengan beliau.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Alan menatap istrinya.
"Buat apa Ara cemburu pada Azka? Yang ada Ara cemburu lihat tu mata perempuan tertuju untuk hubby. Padahal sudah jelas Ara ada disamping hubby, Ichal di gendongan hubby. Masih aja tu mata buaya jelalatan," geram Ara saat melihat beberapa mata wanita yang terus melirik suaminya.
"Jangan cemburu, tetap kamu di hati hubby. Jangan hiraukan mata buaya betina," ucap Alan mengecup pucuk kepala Ara.
"Hapus Instagram hubby, Ara baru tahu begitu banyak penggemar hubby. Selama ini Ara begitu lengah, padahal Ara tidak menggunakan sosial media lagi. Hubby masih saja menggunakan sosial media yang satu itu, mana banyak banget foto hubby di sana," omel Ara. Bibirnya mengerucut sempurna.
"Baik, sayang. Kamu bisa menghapusnya sendiri," ucap Alan memberikan senyuman manisnya.
"Emmm," gumam Ara. Ia menatap pasangan pengantin yang sedang sibuk menyalami pengantin. Hingga tidak menyadari sepasang kekasih menghampiri mereka.
"Kak Ra," sapa seseorang yang berhasil mengejutkan Ara.
"Arin, bikin kakak jantungan tahu?" perotes Ara menatap Arin lekat. Gadis itu menempel erat pada pria yang sudah menjadi suaminya, Dio.
"Loh, kok cepat banget bulan madunya?" tanya Alan menatap Arin dan Dio bergantian. Seminggu setelah menikah, Arin dan Dio memang langsung berbulan madu di Hawai.
"Biasa, ada yang gak betah," balas Dio melirik Arin yang masih bergelayut manja di lengannya.
"Hah, kok bisa gak betah?" tanya Ara terkejut.
"Habis, makanan di sana gak enak kak. Gak ada yang pas dumulut, mending Honeymoon di Bali, lebih seru dan banyak makanan enak," balas Arin tersenyum lebar. Ara dan Alan terperangah mendengar alas adiknya yang satu ini.
"Ih, orang bulan madu mikirinnya itu waktu berdua bareng suami. Ini malah makanan," cibir Alan. Arin yang mendengar itu langsung memukul lengan Alan.
"Entah lah, aku sendiri bingung. Kok bisa dapat istri aneh gini ya?" gurau Dio. Arin yang mendengar itu telihat kesal.
"Aneh? Sekarang aja bilang aneh. Kemaren-kemaren itu apa? Gak mau lepas, pengen di peluk terus," celetuk Arin. Alan dan Ara yang mendengar itu tergelak. Arin tidak pernah berubah, masih ceplas ceplos ngomongnya. Wajah Doi telihat memerah, ia sangat malu dengan pemaparan istrinya. Meski semua itu memang benar.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya kita pergi aja yuk? Gak asik kayanya ganggu pengantin baru, masih anget gimana gitu," timpal Alan. Ara tertawa renyah mendengarnya.
"Ayok sayang," balas Ara. Lalu mereka pun meninggalkan Arin dan Dio yang masih mematung.
"Sayang, kamu sangat nakal. Malam ini aku tidak akan melepaskan kamu," bisik Dio tepat ditelinga Arin. Setelah mengatakan itu, Dio pun meninggalkan istrinya. Arin mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencerna setiap perkataan suaminya.
"Mati aku," ucap Arin menepuk jidatnya. Ia baru mengerti maksud perkataan suaminya. Arin mengerutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada pria kejam seperti Dio?
Namanya juga cinta. Mau gimana lagi? Batin Arin. Ia bergegas menyusul suaminya.
Diatas pelaminan, Azka dan Keira terlihat begitu bahagia. Mereka masih begitu semangat menyambut para tamu undangan yang tidak ada habisnya.
"Ekhem, pengantin baru mah beda. Senyumannya merekah," sendir Rizka. Azka hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Cepat nyusul dong," balas Keira.
"Ki, gimana ni? Jiwa jombloku memberontak," ujar Rizka pada kembarannya Rizki.
"Pokus kuliah dulu, jadi dokter yang bener," balas Rizki mendahului Rizka untuk menyalami kedua mempelai pengantin yang tengah bahagia.
"Selamat Az, aku turut bahagia. Cepat kasih kabar baik," ucap Rizki menepuk pundak Azka.
"Doakan aja yang terbaik sodaraku, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir meski aku tahu kalian sibuk dengan tugas kuliah," balas Azka.
"Kebahagiaan kalian lebih penting dari pada sekedar tugas, nilai bisa dicari dan di beli bro. Tapi persaudaraan tidak bisa dibayar oleh apapun," tutur Rizki. Azka tersenyum senang mendengarnya. Setelah bercengkrama ria, Rizki pun memilih untuk turun karena masih banyak tamu yang mengantri untuk mengucapkan selamat.
"Selamat menempuh hidup baru saudaraku tersayang dan tercinta. Semoga kalian jadi keluarga bahagia selamanya. Cepat kasih baby-baby yang imut buat aku, biar bisa cubit-cubit gemas," ucap Rizka sambil terus mengedipkan matanya.
"Ka, cepat nyusul gih. Kalau gak salah ada deh aku undang si doi," bisik Azka. Rizka yang mendengar itu langsung memukul lengan Azka.
"Beb, kamu jaga ya suami kamu yang satu ini. Ngeseslin tahu gak?" ucap Rizka beralih memeluk Keira. Azka berhasil membuatnya kesal.
"Tentu, aku akan selalu menjaganya," ucap Keira. Rizka mengangguk antusias. Setelah merasa puas, gadis itu pun menyusul kembarannya turun dari pelaminan. Mencari sosok yang Azka katakan tadi.
"Kamu capek?" tanya Azka saat melihat Keira sesekali menyentuh kakinya.
"Kaki Kei sakit," sahut Keira menatap Azka.
***
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alan saat melihat Ara berlari menuju toilet. Alan tidak bisa masuk karena itu toilet wanita. Alan pun memilih untuk menunggu di luar.
Beberapa menit, Ara pun keluar dengan wajah pucatnya. Alan panik saat melihat keadaan Ara.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Alan menyentuh kedua pundak Ara. Menatap wajah istrinya lamat-lamat.
"Nggak tahu, Bi. Ara mual sama pusing, dari tadi pagi Ara mual-mual. Ara pengen istirahat," balas Ara menyentuh perutnya. Ia benar-benar tidak enak badan.
"Sebaiknya kita pulang, lagian acaranya juga sudah hampir selesai. Ichal juga sudah lelah," ucap Alan.
"Iya, Bi. Ara gak tahan lagi," sahut Ara. Alan menuntun Ara untuk berjalan.
"Ara, kamu kenapa?" tanya Bunda saat melihat Ara dituntun oleh Alan. Wajah Ara pun terlihat semakin pucat.
"Nggak tahu, Bun. Katanya mual-mual sama pusing," balas Alan.
"Salah makan mungkin, sebaiknya kalian pulang aja. Acara juga sudah selesai, bawa Ichal pulang. Kasian cucu bunda," perintah Bunda. Alan pun setuju untuk membawa Ara dan Ichal pulang. Mereka pun berpamitan untuk pulang. Azka dan Keira sang pemilik acara pun mengerti dengan keadaan Ara. Meski Azka masih ingin kakaknya ada disampingnya. Namun, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak tercintanya.
***
Pagi hari, Ara termenung sendirian di kamar mandi. Ditangannya terdapat sebuah benda pipih yang menunjukan tanda positif. Ara menatap benda itu lamat-lamat.
"Huh," desahnya. Ara bangkit dan berjalan keluar. Tubuhnya masih sangat lemas. Beberapa kali ia terbangun dari tidurnya karena merasa mual.
Di kamar, Alan masih tidur sambil memeluk Ichal. Ara berjalan menghampiri mereka. Duduk di samping Alan yang masih terlena dalam mimpi.
"Abi," panggil Ara mengusap punggung Alan. Alan bergerak dan berbalik menghadap Ara. Wajahnya masih terlihat kusut.
"Ada apa?" tanya Alan dengan suara seraknya. Alan mengucek matanya yang masih berat untuk terbuka.
"Ara ... Hamil lagi, Bi." Mata Alan terbuka lebar. Seakan tidak percaya dengan perkataan istrinya. Lalu matanya tertuju pada benda pipih yang ada dalam genggaman Ara. Alan mengambil benda itu, menatapnya cukup lama.
__ADS_1
"Hamil? Secepat ini?" tanya Alan bingung. Pasalnya Ichal baru memasuki usia 3 bulan. Sekarang Ara sudah hamil lagi. Sungguh kejutan yang luar biasa.
Alan menatap Ara cukup lama.
"Semua salah Hubby." Ara memukul dada bidang Alan. Alan tersenyum tipis. Lalu menarik Ara dalam dekapannya.
"Memangnya kenapa kalau kamu hamil lagi, huh? Seharusnya kita senang, sayang. Allah memberikan kita rezeki lagi," ujar Alan mengusap kepala Ara dengan lembut.
"Tapi, Bi. Ichal masih kecil dan sekarang sudah mau punya adik?" balas Ara. Ia masih memikirkan bagaimana kondisi Ichal, terlalu cepat untuk berhenti minum asi.
"Tidak jadi masalah, sayang. Ichal akan baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang, kita cuma bisa bersyukur. Seorang malaikat kecil lagi akan hadir dalam hidup kita. Menambah suasana rumah semakin ramai," jawab Alan. Ia mengecup pucuk kepala Ara dengan mesra. Ara mengangguk dalam dekapan Alan. Ia tersenyum seraya mengusap perutnya. Menyapa malaikat kecil yang Allah titipkan dalam rahimnya.
Ara mendorong tubuh Alan perlahan. Mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Alan lebih jelas.
"Abi bau," ucap Ara. Alan yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
"Abi belum mandi, baru bangun, Umi. Gimana mau wangi?" sahut Alan. Ia kembali menarik Ara dalam dekapanya.
"Abi, mandi sana. Udah mau subuh," protes Ara berusaha melepaskan dekapan Alan.
"Sebentar lagi," ucap Alan semakin erat mendekap Ara.
"Abi, Ara sesak napas," protes Ara lagi. Alan tegelak mendengarnya. Ia melepaskan Ara dan belalu menuju kamar mandi. Terlihat dengan jelas pancaran kebahagiaan di wajahnya.
Ara mengusap kepala Ichal dengan lembut. Mencium gemas pipi gembul jagoan kecilnya.
"Umi sayang Ichal, anak umi yang paling tampan. Umi janji, walaupun adek lahir nanti. Kasih sayang umi tidak akan pernah berubah. Kalian adalah harta berharga yang Umi dan Abi punya. Yang akan selalu dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang," jelas Ara. Ia kembali mengecup pipi Ichal. Mencium tangan mungil Ichal dengan penuh kasih sayang.
***
Ara menggenggam tangan mungil putra keduanya. Bayi yang ia lahirkan beberapa jam yang lalu. Air mata kebahagiaan meluncur dengan deras dari pelupuk matanya. Ara memang sempat pingsan beberapa jam akibat pendarahan yang ia alami.
"Selamat datang anak umi," ucap Ara mengecup kening bayi mungil yang masih menutup matanya.
"Sepertinya Abi menang banyak, anak kita mirip Abi semua. Umi dendam banget ya sama Abi, sampe anak kita mirip Abi semua?" ujar Alan. Tangannya terulur mengusap kepala Ara.
"Iya, habis Abi selalu bikin Umi kesal. Bikin Umi emosi terus, iya kan dek?" balas Ara mengajak anaknya bicara. Alan tersenyum senang.
"Pasti Ichal sangat senang adeknya udah lahir, makin cerewet Ichal punya adik baru. Kayak Umi, cerewet dan cengeng. Adek jangan ya?" celetuk Alan. Ara yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya.
"Abi, baru juga adek lahir udah diajak ngomong yang aneh-aneh." Protes Ara.
"Habis, Ichal kan memang cerewet dan cengeng kayak umi. Umurnya baru setahun aja udah secerewet itu, gimana besarnya nanti?" timpal Alan.
"Kayak Abi lah, orang Ichal anak Abi kok," balas Ara tidak mau kalah.
"Iya deh, Abi ngalah. Umi memang selalu benar. Hey, kok merem terus sih?" gurau Alan mencubit pipi anaknya, alhasil bayi mungil itu menangis kencang. Alan sangat terkejut karena cubitannya tidak terlalu kuat.
"Baru juga diomongin jangan cengeng, eh ternyata cengeng juga ya kayak Umi," ucap Alan mengambil bayi mungilnya dari gendongan Ara. Alan begitu piawai menenangkan anaknya agar tidak menangis. Ara yang melihat itu tersenyum penuh kebahagiaan.
Sarfaraz Xaquille Digantara. Nama putra kedua Ara dan Alan terpasang indah di dinding kamar. Aqiqah putra kedua mereka berjalan dengan khidmat. Kebahagiaan tengah menyelimuti rumah sederhana itu. Rumah yang dipenuhi suara tangisan bayi dan ocehan si kecil Ichal.
"Sayang, apa itu? Jangan dimakan!" Seru Ara berlari menghampiri Ichal yang hendak memasukkan mainannya ke dalam mulut.
"Tidak boleh dimakan, Abang lapar ya? Umi ambilkan makan dulu ya?" tanya Ara mengambil mainan dari tangan Ichal.
"Mamamammam ...." Ichal mengangkat kedua tangannya. Meminta Ara untuk menggendongnya.
"Kasian anak Umi, main sendirian. Kita makan dulu ya? Setelah itu, Abang bobok bareng adek ya?" ujar Ara yang dijawab anggukkan oleh Ichal. Ichal menang anak yang cukup pintar diusianya, ia sudah banyak mengerti setiap perkataan Umi dan Abinya. Mungkin kecerdasan yang ada pada Ara dan Alan kini diwarisi oleh Ichal.
Setelah kenyang, Ichal benar-benar langsung tertidur. Mungkin ia sudah lelah bermain. Ara mencium kening putra sulungnya dengan penuh kasih sayang. Lalu menatap si kecil Faraz yang juga masih terlelap. Suara pintu terbuka berhasil mengalihkan perhatian Ara. Seulas senyuman terukir di bibir mungilnya.
"Abi, sudah pulang? Bagaimana hari ini, ramai?" tanya Ara menghampiri suaminya yang baru pulang kerja. Dalam beberapa bulan ini, Alan memang membuka sebuah restoran sederhana. Setelah melepas posisinya sebagai CEO, Alan memilih untuk membuka bisnis sendiri. Ia memulai dari bisnis kuliner yang lumayan banyak diminati oleh para pengunjung.
"Alhamdulillah, sayang. Baru setengah hari, pengunjung sudah lebih dari 500 orang." Balas Alan seraya memeluk Ara dengan penuh kerinduan. Hampir setiap hari Alan melakukan hal yang sama.
Ara sangat senang, bisnis baru yang Alan rintis mulai membuahkan hasil. Setiap doa yang ia panjatkan benar-benar didengar oleh Sang Maha Pencipta. Bahkan, sekarang Alan memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Tidak jarang Alan main bersama dengan dua jagoannya. Bagi Alan, keluarga adalah segalanya. Lebih penting dari sekedar bisnis dan pekerjaan yang selalu membuat kepalanya ingin pecah. Justru, melihat wajah kedua putranya, rasa lelah pun meluap begitu saja.
Keluarga adalah harta yang paling berharga. Berjuta berlian yang ada di dunia, tidak akan mampu menyaingi harga dan keindahannya. Kekutan cinta keluarga, tidak mungkin tersaingi oleh kekuatan apapun. Cinta yang tulus dan tidak akan pernah mati. Layaknya sepasang merpati, yang memiliki cinta abadi.
__ADS_1