
Senang saat melihat Alan kembali seperti biasanya, tidak ada lagi kesedihan dalam dirinya. Hal itu membuatku sedikit lega, setidaknya beban yang ia pikul sedikit demi sedikit mulai berkurang. Semoga senyuman itu tak lagi pudar.
"Sayang, jadi tidak? Kok malah bengong?"
Aku sangat terkejut saat tangannya yang dingin menyetuh pipiku. Alan memang baru selesai mandi.
"Eh, jadi bi. Tadi Ara sudah kabari bunda. Bunda sudah masak banyak di rumah, tunggu sebentar. Ara pakai jilbab dulu," Aku sedikit berlari menuju ruang ganti. Aku memilih hijab simpel berwarna pink, senada dengan rok yang aku kenakan. Seperi biasa aku hanya memoles wajahku dengan bedak tabur dan sedikit mewarnai bibirku. Aku mantap diriku di cermin, aku mencoba melilitkan hijab ku diatas dada. Bagaimana ya reaksinya?
Aku keluar dengan santai, ingin tahu seperti apa reaksinya saat melihat penampilanku.
"Ayok bi, Ara sudah siap." ajakku. Alan terlihat membalikan tubuhnya dan menatapku bingung. Ia terlihat meneliti penampilanku. Aku tersenyum tipis dan tetap santai.
"Kenapa berpakaian seperti ini? Dan ini apa? Kamu mau perlihatkan aset masa depan hubby pada orang lain? Sekarang ganti," ujarnya langsung menarik tanganku kembali masuk keruang ganti.
"Bi, tapi Ara mau mencoba seperti orang-orang. Lagian kan ini masih tertutup," ucapku melepaskan tangannya. Aku bisa mendengar Alan berdecak kesal.
"Kalau hubby bilang ganti, ganti Ara!" Aku sangat terkejut saat Alan menyebut namaku. Ya ampun, aku sudah membuatnya marah. Aku langsung melepaskan lilitan hijabku dan mengganti gaya seperti biasanya. Menutupi dada dan punggungku. Aku membalikan tubuhku dan menatapnya lekat.
"Sudah, hubby jangan marah lagi. Ara cuma bercanda," ucapku memeluknya. Aku mendengar suara napas beratnya. Sepertinya Alan benar-benar marah tadi.
"Maaf,"
"Sudah, ayok kita berangkat. Jangan membuat bunda menunggu,"
Aku mengangguk antusias.
"Assalamualaikum bunda..." teriakku sambil masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumusalam, kenapa teriak-teriak sih? Apa gak takut suaranya hilang?" jawab bunda yang tengah duduk di ruang keluarga bersama papah dan Azka. Huh, aku hampir saja melupakan hubungan Azka dengan Arin. Lihat saja, aku akan mengintrogasinya sekarang juga.
"Hehe, aman bun. Suara Ara mah banyak stoknya," ucapku sambil mencium punggung tangan bunda dan papah bergantian. Aku melihat Alan melakukan hal yang sama. Eh, ada apa ini? Kenapa papah pergi saat Alan hendak mencium tangannya?
Aku menatap suamiku lekat, disana terlihat kekecewaan yang begitu mendalam. Jangan katakan apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Tapi kenapa papah harus marah pada Alan, ini bukan salahnya. Tak ada yang tahu akan takdir hidup.
"Alan, jangan hiraukan papah. Duduk lah," ucap bunda. Alan terlihat bingung dan memilih duduk di samping Azka.
"Bi, Ara harus bicara dengan papah. Hubby tunggu disini ya?" ucapku yang di jawab anggukkan oleh Alan. Aku tersenyum dan langsung beranjak ke kamar papah.
"Pah," panggilku saat membuka pintu kamar dan melihat papah sedang duduk di sofa kamar. Namun papah tetap diam, tidak seperti biasanya.
"Pah, Ara panggil papah loh. Apa papah tidak mau lagi bertemu Ara?" ucapku duduk di sebelahnya. Aku menatap papah lekat. Namun papah tetap diam dan enggan untuk menatapku. Aku menyadarkan kepalaku di bahunya, aku merindukan bermanja dengan papah.
"Pah, apa ini masalah status Alan?" tanyaku tanpa ragu. Aku yakin permasalahannya adalah status Alan. Dengan sabar aku menunggu jawaban papah, tapi papah masih saja diam. Aku menghela napas panjang.
"Tidak ada yang tahu takdir kehidupan pah, Ara juga yakin ini semua bukan keinginan Alan. Apa papah tahu? Alan juga sangat terpukul, beberapa hari ini Alan terus terpuruk. Ara sangat sedih, jadi Ara mohon. Jangan membuat Alan kembali bersedih pah. Karena Alan baru saja kembali ceria pah, jangan buat senyumannya kembali hilang. Ara tidak tahan melihat itu semua," jelasku. Aku menatap papah yang masih setia untuk diam.
"Dulu bukanya papah yang meminta Alan untuk menikahi Ara? Papah tidak mempermasalahkan statusnya bukan? Sekarang Alan adalah suami Ara pah. Semua kekurangan, kesedihan, masalah Alan akan menjadi bagian dari hidup Ara. Ara menerima apapun status Alan, karena Ara tahu. Alan juga tidak menginginkan semua ini, ini diluar dugaan pah. Ara harap papah mengerti,,,"
__ADS_1
Aku bangkit dari dudukku, papah masih tetap diam. Aku sangat kecewa dengan sikap papah. Ini bukan papah yang aku kenal. Papah sudah berubah.
"Saat ini Alan membutuhkan dukungan pah, jika papah bersikap seperti ini. Ara sangat kecewa, Ara menyayangi papah, begitupun dengan Alan."
Aku menarik napas panjang, ku tatap kembali wajah papah yang masih datar.
"Ara keluar dulu," Aku pun langsung beranjak pergi. Percuma saja aku terus bicara, sepertinya papah memang tidak akan mendengarkan perkataanku.
Aku menatap Alan yang sedang mengobrol dengan Azka. Aku duduk di samping bunda yang sedang menonton televisi.
"Sabar," bisik bunda, aku tersenyum dan mengangguk.
"Saat ini papah masih bingung. Biarkan papah berpikir, itu tidak akan berlangsung lama," imbuh bunda sambil mengusap kepalaku. Lalu aku menatap dua pria yang tengah asik mengobrol tentang bisnis.
"Bun, apa bunda tahu Azka dan Arin berpacaran?" tanyaku sedikit berbisik. Bunda menaikkan sebelah alisnya. Jadi bunda juga tidak tahu?
"Siapa bilang?" ucap bunda malah balik bertanya.
"Arin yang bilang sendiri bun, katanya mereka pacaran," jawabku. Aku melirik Azka, ternyata dia juga sedang menatapku.
"Enggak kok, mereka cuma temenan. Lagian mana mungkin Azka mau pacaran, Arin ngerjain kamu kadang," ujar bunda. Apa benar? Ck, jika itu benar aku akan menghukum gadis itu.
"Hmmm... Bisa jadi ya bun, secara kan Azka itu seperti papah. Jika dengan orang lain cueknya gak ketulungan. Untung sama Arin enggak," ujarku. Bunda hanya mengangguk pelan.
"Bun, hari kamis kami akan berangkat. Ara mau bolu kering buatan bunda, nanti bunda buatkan ya? Ara sering lapar tengah malam, disana gak ada makanan yang enak," ujarku dengan penuh semangat. Sepertinya aku harus meminta stok bolu yang banyak, buat jaga-jaga biar gak kelaparan. Hehe, kayak gak di kasih makan aja ya? Habis kue buatan bunda enak banget sih. Jadi kangen kalau jauh.
"Aduh, jangan terlalu erat. Bunda sesak napas Ara, sana ah peluk suami kamu aja."
Aku tertawa saat mendengar ucapan bunda. Aku sedikit melonggarkan pelukan, ku kecup pipi bunda beberapa kali. Sepertinya sudah sangat lama aku tidak seperti ini dengan bunda, rindu sekali.
"Bagaimana, sudah ada kabar dari calon cucu bunda?" tanya bunda, sontak aku tekejut.
"Cucu ya bun? Sepertinya belum, mungkin masih dalam proses pencetakan," jawabku asal. Bunda pun tertawa sambil mencubit pipiku.
"Gimana sih kamu, memangnya kamu pikir perut kamu ini mesin pencetak?"
"Iya, pencetak generasi muda masa depan," jawabku. Bunda kembali tertawa, aku pun ikut tertawa renyah.
"Sayang, aku kekamar sebentar," ujar Alan bangun dari duduknya, Aku menatapnya bingung. Aku mengangguk pelan. Alan langsung beranjak menuju kamar.
"Sepertinya suami kamu banyak pikiran, maafkan sifat papah. Sikap papah membuat Alan semakin terbenani," ujar bunda, aku hanya menunduk.
"Ara bingung bun, kenapa papah sangat berubah? Alan tidak salah, dia juga tidak pernah tahu akan hal ini. Kenapa nasib suami Ara sangat menyakitkan bun? Ara sedih melihat Alan yang sekarang," ujarku memeluk bunda. Air mataku kembali lolos.
"Tidak apa-apa, mungkin ini adalah ujian dari Allah. Sebagai seorang istri, kamu harus tetap ada disampingnya, dukung dia terus jangan biarkan terjatuh,"
"Ara mengerti bunda," ucapku.
__ADS_1
"Bunda, Azka izin keluar sebentar ya?" Aku melepaskan pelukan pada bunda saat mendengar ucapan Azka. Aku juga menghapus air mataku agar Azka tak melihatnya.
"Kamu tidak boleh keluar, ada yang mau kakak tanyakan," ucapku.
"Apa lagi kak? Jangan bilang masalah pribadi Azka?"
Ck, anak ini selalu saja tahu apa yang aku pikirkan. Aku mengangguk pasrah.
"Ini masalah masa depan kamu," ucapku menatapnya lekat.
"Arin?" tanyanya lagi. Aku kembali mengangguk.
"Hanya teman, tidak lebih. Jangan dengarkan ucapan gadis konyol itu. Malam itu Azka datang karena mewakili kakek yang tidak bisa hadir. Sudah cukup jelas kan?"
Aku menatapnya tajam. Apa dia sedang berbohong? Tapi aku tahu benar jika Azka saat ini sedang tidak berbohong.
"Ya sudah, sana pergi. Ingat! Jangan pacaran, itu sama saja dengan zina. Mengerti!" ujarku.
"Iya kakak bawel, Azka tahu aturan. Bun Azka pamit kerumah kakek, Ada yang harus Azka bahas masalah perusahaan. Assalamualaikum bunda," ujar Azka mencium tangan bunda. Lalu ia juga mencium tanganku.
"Wa'alaikumusalam, hati-hati." ucap bunda.
"Ingat, bonus bulanan untuk kakak belum kamu kirim," ucapku. Saat ini Azka memang sudah menjadi seorang direktur di perusahaan kakek. Walaupun usianya masih terbilang muda, tapi dalam beberapa bulan ia bisa menaikkan saham perusahaan. Jadi sudah pasti uangnya banyak, gak salah dong aku minta bonus bulanan. Hitung-hitung buat tabungan. Hehe...
"Iya, nanti Azka transfer." ucapnya langsung melenggang pergi. Aku tersenyum senang.
"Bunda, Ara kekamar dulu ya? Kasian Alan sendirian. Love you Bunda," ucapku mencium pipi bunda dan langsung melesat pergi menuju kamar. Sesampainya di kamar aku melihat Alan sedang berbaring dengan mata tertutup, aku tersenyum dan menghampirinya. Aku bersandar di kepala ranjang sambil terus menatap wajah tampannya. Hum, pasti dia pura-pura tidur. Aku ikut berbaring di sebelahnya. Ku letakkan kepalaku di dadanya dan ikut memejamkan mata.
***
Suasana di meja makan sangat hening dan terasa mencekam. Suasana ini begitu asing, biasanya kehangatan selalu menyelimuti kami. Tapi saat ini semua itu berubah.
Aku menatap Alan yang terlihat canggung. Sebelumnya Alan tidak pernah bersikap seperti ini. Aku tahu semua ini karena sikap papah, Aku meletakkan sendok dengan kasar. Aku benar-benar kesal dengan keadaan yang seperti ini.
"Ara sudah kenyang," ucapku langsung beranjak pergi. Aku sedikit berlari menuju kamar. Ku buka jendela kamar selebar mungkin. Dadaku sangat sesak, ingin sekali rasanya aku menangis. Tapi bagaimana jika Alan ikut bersedih? Aku duduk ditepi jendela. Ku lipat kedua kakiku dan ku peluk dengan erat. Bagaimana lagi aku harus menjelaskan pada papah? Kenapa papah tidak juga mengerti.
Aku menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ku lihat Alan berdiri disana sambil menatapku.
"Papah jahat bi," ucapku. Pada akhirnya pertahananku hancur, buliran bening itu dengan cepat mengalir di pipiku. Alan berjalan kearahku.
"Jangan menangis, hubby mengerti dengan perasaan papah. Papah belum bisa menerima kenyataan. Papah memang benar, hubby bukankah menantu yang baik, yang bisa memberikan sebuah kebanggaan. Hubby hanyalah menantu pembawa aib, jangan salahkan papah. Ini semua salah hubby, jangan menangis lagi," ujarnya memelukku begitu erat. Ku angkat kepalaku untuk menatapnya. Itu tidak benar. Aku menggeleng dan kembali memeluknya dengan erat.
"Hubby tidak pernah memberikan aib pada keluarga ini. Bagi Ara, hubby selalu memberikan kebahagiaan. Jangan bicara buruk tentang diri hubby sendiri. Ara tidak suka,"
Aku menangis dalam dekapannya, hatiku sangat sakit. Bagaimana rasanya jika saat ini aku yang berada di posisi Alan. Mungkin aku tidak akan kuat.
"Ara tidak akan pernah meninggalkan hubby, Ara janji bi. Ara akan selalu ada untuk hubby,"
__ADS_1
Ku usap wajahnya dengan lembut, ku dekatkan wajahku dengan wajahnya. Aku mulai memejamkan mataku perlahan. Ku eratkan cengkramanku di lengan bajunya saat benda kenyal itu menyetuh bibirku. Biarkan malam ini dihiasi oleh keluh kesah yang tersimpan di dalam hati. Menyatukan perasaan yang terluka, saling menautkan kembali luka yang sudah terbuka. Menutup derita tanpa bicara, mewarnai hati dengan penuh cinta. Selamanya aku akan tetap mencintai suamiku, tidak perduli jika aku harus terluka. Karena dia bukan pria yang sempurna.