Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Ekstra Part 1


__ADS_3

"Sayang, sedang apa?"


Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Alan mememelukku dari belakang. Untung sayur yang sedang aku masak tidak tumpah.


"Abi, bikin kaget tahu gak? Bagaimana jika sayurnya tumpah?" ucapku dengan kesal.


"Tidak akan tumpah, selagi kita menjaganya dengan baik," ucapnya. Aku berbalik dan menatapnya lekat.


"Tumben jam segini sudah pulang?" tanyaku. Biasanya juga Alan pulang sore atau malam.


"Rindu," ucapnya mengecup pipiku.


"Seperti tidak bertemu satu tahun saja," kataku kembali melanjutkan kegiatan memasak.


"Jangankan satu tahun, satu detik saja bisa rindu."


"Sejak kapan hubby suka gombal? biasanya juga Ara yang bilang rindu. Hubby tidak pernah mengatakan rindu saat pulang malam, bahkan hubby memilih tidur dari pada mengatakan satu kata rindu."


"Maaf sayang, aku lupa," ucapnya dengan enteng. Enak saja dia bilang lupa. Memangnya sangat sulit apa bilang rindu atau i love you.


"Ara tidak terima permintaan maaf, sudah basi," ucapku sambil mematikan kompor.


"I love you," ucapnya kembali memelukku.


"Sudah sering," balasku. Aku melepaskan pelukannya dan menuangkan sayur dalam mangkuk. Aku menarik napas panjang saat ia kembali memelukku.


"Hubby kenapa sih? Tumben banget," ucapku karena merasa heran dengan sikapnya.


"Sayang, hubby minta maaf," ucapnya membalikkan tubuhku. Aku menatapnya heran.


"Ada apa, Bi?" tanyaku penasaran.


"Maaf, selama ini hubby sering sibuk. Jarang perhatiin kamu, selalu cuek, padahal hubby tahu kamu capek dan butuh perhatian," ujarnya membuatku semakin bingung.


"Ara mengerti, tidak perlu meminta maaf," ucapku mengusap pipinya dengan lembut.


"Jangan pernah tinggalkan hubby, jangan pernah pergi," ucapnya membenamkan wajahnya di leherku.


"Siapa yang mau pergi sih, Bi? Ara tidak akan pergi ke mana-mana, Ara disini," ucapku mengelus kepalanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Alan bersikap aneh seperti ini sih?


"Kenapa sih, Bi? Jangan bikin Ara takut," tanyaku sedikit waswas.


"Tidak apa-apa, hubby cuma takut kehilangan kamu. Hubby mendengar percakapan seseorang di kantor, dia ditinggalkan istrinya karena sering sibuk dan pulang larut malam. Hubby baru sadar, ternyata waktu hubby lebih banyak untuk pekerjaan. Hubby janji, mulai saat ini. Hubby akan lebih banyak menggunakan waktu untuk kalian," ujarnya panjang lebar. Aku tertawa renyah mendengarnya. Jadi itu alasannya bersikap aneh? Lucu sekali suamiku ini.


"Hubby, dengarkan Ara. Sesibuk apapun hubby, Ara tidak akan pernah meninggalkan hubby. Karena Ara tahu, tanggung jawab hubby bukan hanya Ara dan Ichal. Hubby juga mengemban amanah papa untuk menjaga perusahaan. Hanya saja...," aku sengaja mengantung ucapanku. Alan menatapku lekat. Aku tahu ia sedang menunggu lanjutan dari perkataanku. Sebenarnya aku menyimpan rasa takut. Aku takut Alan akan berubah. Aku takut hubungan kami akan semakin menjauh. Aku tahu rintangan dalam rumah tangga itu tidak mudah. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik, memahami kesibukannya. Namun, kadang aku juga merasa kesepian. Aku menginginkan Alan yang dulu. Alan yang selalu memberikan perhatian lebih padaku.


Tetapi, aku juga tidak ingin menambah beban dalam dirinya. Biarlah ku simpan sendiri perasaan ini.


"Hubby harus mengatur waktu, kasihan Ichal sangat jarang bertemu abinya. Hubby selalu berangkat pagi dan pulang malam, jika seperti itu terus, Ichal tidak akan mengenal abinya," lanjutku sambil mecubit hidungnya dengan gemas. Alan tersenyum. Ia mengecup bibirku begitu lembut.


"Ara sangat merindukan hubby, satu bulan lebih kita tidak sedekat ini. Ara kesepian," ucapku. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya. Menatap wajahnya sepuas mungkin.


"Maaf, aku juga sangat merindukanmu."

__ADS_1


Aku tersenyum. Mata kami saling mengunci satu sama lain. Menyalurkan setiap deruan rasa rindu. Menyatukan kehangatan yang hampir redam.


"I love you," ucapnya sambil mengusap bibirku.


"I love you to," balasku. Alan mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan hembusan napasnya. Aroma mint yang menjadi favoritku. Ku pejamkan mataku perlahan.


Namun tiba-tiba kami di kejutan oleh tangisan Ichal. Aku melihat wajahnya yang berubah muram. Aku tersenyum geli, sepertinya ia harus bersabar dengan Junior.


"Ichal menangis," bisikku. Aku melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku. Ia sedikit tidak rela melepaskanku.


"Bi," panggilku agar ia melepaskan kedua tangannya.


"Baiklah, aku kalah lagi," ucapnya melepaskanku. Aku tertawa renyah. Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Sabar, Ichal juga butuh uminya," ucapku langsung beranjak menuju kamar.


"Sayang anak umi, sudah bangun?" Aku mengangkatnya dari dalam box baby. Ku kecup pipinya yang gembul.


"Haus ya? Iya iya, kita minum sekarang ya?"


Aku duduk di tepi ranjang.


"Haus banget sepertinya anak umi?" tanyaku saat Ichal begitu lahap meminum asi.


Tidak lama aku melihat Alan masuk ke kamar. Ia duduk disampingku. Menatap Ichal begitu dalam.


"Abi minta maaf sayang," ucapnya mengecup kening Ichal cukup lama. Seakan mengerti, Ichal berhenti minum asi. Memberikan tatapan yang begitu dalam pada Alan. Sepertinya Ichal juga sangat merindukan Alan.


"Sepertinya Ichal mau di gendong abi," ucapku memberikan Ichal pada Alan.


"Abi juga rindu anak abi yang gembul ini," lanjutnya. Aku melihat Ichal tersenyum senang. Sepertinya ia benar-benar merindukan abinya. Aku mengelus kepala Ichal. Ku jadikan bahu Alan sebagai sandaran.


***


Langit mulai tampak gelap. Sepertinya Alan akan pulang larut malam lagi. Setelah makan siang tadi ia kembali ke kantor. Hal yang aku takutkan benar terjadi, akhir-akhir ini Alan benar-benar sibuk. Ditambah lagi saat ini Perusahaannya sudah membuka beberapa cabang baru. Bukan apa, aku hanya ingin ia memiliki waktu lebih bersamaku dan Ichal. Bagaimana pun aku membutuhkannya. Mungkin aku egois. Tapi jujur, aku sangat merindukan Alan yang dulu. Alan yang penuh perhatian dan kasih sayang. Aku selalu berpikir. Mungkin semua ini ujian yang Allah berikan. Apa aku sabar menghadapi semuanya atau tidak?


Aku menatap Ichal yang sudah tertidur begitu pulas. Aku memperhatikan setiap lekukan wajahnya. Wajah yang hampir seratus persen mewarisi wajah Alan.


Ku baringkan tubuhku diatas kasur. Menatap foto pernikahanku yang terpasang di dinding. Tinggal beberapa bulan lagi pernikahanku dan Alan genap dua tahun. Rasanya begitu cepat. Juga begitu banyak rintangan yang terus berdatangan.


Aku lelah memikirkan semua itu. Mataku mulai mengantuk. Ku pejamkan mataku. Namun, tidak lama aku mendengar suara pintu di buka. Aku bangun dan melihat Alan masuk dengan penampilan yang berantakan. Jas yang ia kenakan sudah tersampir di lengannya. Kancing kemeja bagian atas yang ia kenakan sudah terbuka.


Aku menghampirinya. Mengambil jas dan tas yang ia bawa.


"Mau sesuatu?" tanyaku menatapnya sambil tersenyum. Ia menatapku begitu dalam. Tidak lama, ia memelukku begitu erat.


"Besok, aku akan berangkat ke Jepang," ucapnya yang berhasil membuatku terkejut. Aku melepaskan pelukannya. Menatap air wajahnya yang terlihat lelah.


"Berapa lama?" tanyaku mengusap pipinya.


"Dua minggu."


Aku terdiam. Dua minggu adalah waktu yang cukup lama bagiku. Sabar Ara, ini sudah menjadi resiko sebagai istri seorang CEO.

__ADS_1


Aku tersenyum.


"Ara akan membantu hubby beres-beres," ucapku hendak pergi. Namun, dengan cepat Alan menarik tanganku.


"Ikutlah bersamaku," pintanya. Aku menatapnya lekat.


"Bagaimana dengan Ichal? Dia masih sangat kecil untuk bepergian jauh," ujarku. Alan terlihat menunduk. Aku menarik napas panjang.


"Sudahlah, hubby mandi dulu. Setelah itu kita bahas lagi masalah ini, Ara tahu hubby capek. Mau Ara buatkan susu jahe?" tawarku. Alan mengangguk.


"Ya sudah, sana mandi. Ara ke dapur sebentar," ucapku meletakkan tas dan jas miliknya diatas meja. Lalu bergegas menuju dapur.


Kembalinya dari dapur, aku melihat Alan tertidur dengan pakaian yang sama. Sepertinya ia benar-benar lelah. Aku duduk disampingnya. Ku dekatkan wajahku dengan wajahnya. Ku sentuh bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya.


"Bi, kenapa belum mandi?" bisikku. Ia pun membuka matanya. Menarik pinggangku hingga tak ada jarak diantara kami. Aku tersenyum sambil terus menatap wajahnya.


"Kamu yakin tidak mau ikut?" tanyanya mengusap wajahku. Aku tersenyum sambil mengangguk.


"Cuma dua minggu kan?" tanyaku. Alan menjawab dengan anggukan.


"Ara akan menunggu hubby pulang. Dulu, setahun saja Ara sanggup berjauhan dengan hubby. Apa lagi cuma dua minggu," ujarku dengan percaya diri. Aku sendiri tidak yakin dengan ucapanku.


"Jangan berbohong, aku bisa membaca raut wajah kamu. Aku akan menyuruh sekretaris memesan tiket untukmu. Kita akan membawa Ichal sekalian."


"Bi, Ara tahu, dalam hati Ara memang berat melepaskan hubby pergi selama dua minggu. Tapi Ichal juga tidak bisa pergi jauh, kasihan dia masih kecil. Ichal juga baru sembuh dari sakit," ujarku membenamkan wajahku di lehernya.


"Hubby akan pulang secepatnya," ucapnya. Kecupan hangat ia berikan padaku. Aku tersenyum sambil mengangguk.


"Sayang," panggilnya. Ku angkat kepalaku untuk menatapnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Rindu," ucapnya sambil terus menatapku.


"Rindu? Siapa yang hubby rindukan?" godaku. Aku kembali pada posisi duduk.


"Ichal," ucapnya. Ia bangun dan berjalan menuju tempat tidur Ichal. Aku tersenyum melihatnya.


"Sayang, tidak rindu abi?" tanyanya. Aku bangun, menghampirinya. Alan mengusap kepala Ichal dengan lembut. Ia terlihat begitu nyenyak.



"Kenapa bajunya Pink?" tanya Alan sambil menatapku.


"Sayang jika tidak di pakai, namanya juga hadiah, Bi." Aku membenarkan selimut Ichal.


"Anak abi terlihat lebih cantik, bukan tampan," ujar Alan menoel hidung Ichal. Aku tertawa renyah mendengarnya.


"Sayang, sepertinya malam ini biarkan Ichal tidur bersama kita. Abi ingin tidur sambil memeluknya."


"Boleh, tapi abi harus mandi dulu. Bau tahu," kataku sambil mencubit lengan Alan. Ia tersenyum padaku. Memelukku begitu erat.


"Temani abi mandi," ucapnya. Aku sangat terkejut saat Alan tiba-tiba menggandongku.

__ADS_1


"Hubby, turunin Ara. Ara udah mandi," ucapku sambil memukul dadanya.


"Mandi sekali lagi," ucapnya sambil menutup pintu kamar mandi. Aku hanya bisa pasrah. Melawan pun tidak berguna.


__ADS_2