
Ku buka pintu kamar dengan perlahan. Aku tersenyum saat melihat Alan masih sibuk dengan benda pipih itu. Ada sedikit rasa cemburu pada benda itu. Alan lebih sering menyetuhnya dan berlama-lama disana dibandingkan denganku. Ah, kenapa aku harus cemburu pada benda mati. Ya Allah Ara, kamu memang sangat aneh.
Aku berjalan perlahan mendekatinya. Sepertinya dia belum menyadari kedatanganku.
"Pergilah tidur, aku masih harus mengerjakan ini."
Ck, ternyata aku salah. Dia sudah menyadari kedatanganku. Aku tersenyum dan memeluknya.
"Ini sudah malam, ayok kita solat. Setelah itu tidur." rengekku sambil melihat layar laptop.
"Aku masih sibuk Ara." ucapnya datar. Hah, pasti dia masih marah karena masalah tadi. Aku melepaskan pelukanku.
"Hiks, baru juga punya dua istri kamu sudah berlaku tidak adil. Bagaimana jika punya empat. Mungkin aku akan dilupakan selamanya." ucapku pura-pura menagis. Aku ingin tahu apa reaksinya.
"Apa yang kamu katakan? Jangan bicara yang aneh-aneh, sejak kapan aku punya istri dua?" ucapnya membalikan tubuhnya. Aku pun langsung menunduk. Dia menarikku hingga aku terjatuh kepangkuannya.
"Ck, lepasin. Sana pergi aja dengan istri kedua kamu." ucapku pura-pura merajuk.
"Istri kedua?" ucapnya menatapku bingung. Lalu aku menunjuk laptop miliknya.
"Iya, itu kan istri kedua kamu. Kamu lebih mementingkan dia dari pada aku. Aku tahu, aku ingin hanya butiran debu yang kapan saja bisa hmmm... "
Aku sangat terkejut saat benda kenyal itu kini menempel dibibirku. Jantungku berpacu hebat. Kelembutannya benar-benar membuatku terlena. Cukup lama kami terhanyut dalam kenikmatan semata. Ku buka mataku dan langsung bertemu dengan netra indah miliknya.
"Dengar, sampai kapanpun hanya kamu satu-satunya istriku. Tidak akan pernah ada orang lain. Hanya kamu Ara, hanya kamu yang aku cintai." ucapnya yang berhasil membuatku terkejut. Apa aku tidak salah dengar? Alan mengatakan jika dia mencintaiku. Ah, aku sangat senang. Beribu bunga bermekaran dihatiku.
"Ara juga mencintai Alan." ucapku langsung memeluknya dengan erat. Aku benar-benar sangat bahagia.
"Aku tahu." ucapnya yang berhasil membuatku kembali terkejut. Aku mendorong tubuhnya dan menatapnya lekat. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku mencintainya? Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Aku kan tidak pernah bilang." ucapku bingung.
"Hmmm... Sejak kejadian lamaran Jihan. Aku sudah bisa melihat perubahan kamu. Lalu bunda juga mengatakan yang sebenarnya hingga aku semakin yakin kamu benar-benar mencintai aku." ujarnya yang berhasil membuatku terperangah. Bagaimana bisa bunda mengatakan semuanya pada Alan? Huaaaaaaa... Apa bunda juga mengatakan semuanya, kalau aku sering menangis karena Alan.
"Ada apa sayang? Kamu tekejut aku sudah terlebih dahulu tahu isi hati kamu." ucapnya sambil tersenyum devil. Aku langsung merinding melihatnya. Ku dorong tubuhnya dan bangun dari posisi dudukku. Aku berjalan menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" teriaknya.
"Solat, kalau nunggu kamu entah kapan mau beranjak dari sana." ucapku langsung masuk kekamar mandi. Mataku juga sudah sangat berat.
Setelah selesai solat berjamaah, aku langsung mejatuhkan tubuhku diatas kasur. Ah, enaknya. Punggungku yang tadinya kaku kali ini sedikit enakan.
Aku merasakan kasur sedikit bergoyang. Aku melihat kekanan dan ternyata Alan juga ikut berbaring. Aku tersenyum dan membenarkan posisi tidurku. Aku menghadap kearah Alan. Hingga posisi kami pun saling berhadapan. Alan menyentuh pipiku, kehangatannya membuat kantukku semakin menjadi. Ku pejamkan mataku perlahan.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki kamu Ara." ucapnya. Aku tersenyum dan kembali membuka mataku. Aku merapatkan tubuhku dengannya. Seperti biasa aku akan menjadikan tangan kekarnya sebagai bantalku.
"Tidur, Ara sudah ngantuk." ucapku menenggelamkan wajahku di dadanya. Aku juga merasakan tangan Alan melingkar sempurna di pinggangku. Aku sangat menyukainya.
"Selamat malam sayang." ucapnya mengecup keningku. Aku hanya diam karana memang sudah sangat mengantuk.
***
__ADS_1
"Pagi ma, pagi pa.. " ucapku menyapa mama dan papa yang sudah setia menunggu di meja makan.
"Pagi Arin, pagi adik kecil." imbuhku sambil mencubit pipi Dika dengan gemas.
"Pagi." ucap mereka bersamaan. Aku tersenyum dan langsung duduk di sebelah Alan.
"Wah, nasi goreng kampung?" ucapku dengan semangat. Sudah lama aku tidak makan nasi goreng kampung. Ah, pasti rasanya sangat lezat.
"Kamu suka?" tanya mama menatapku. Aku pun mengangguk antusias.
"Ya sudah, ayok makan." ucap mama.
"Makan yang banyak." ucapku menuangkan nasi kepiring Alan.
"Terimakasih sayang." ucapnya. Aku tersenyum dan menuangkan nasi dipiringku. Lalu mataku tak sengaja bertemu dengan mata Arin. Aku menaikkan sebelah alisku. Arin mengedipkan matanya. Aku semakin bingung.
"Kak, Arin mau bicara." Aku menatap Arin bingung. Apa yang sebenarnya dia rencanakan?
"Maaf, pagi ini kakak sibuk." ucap Alan tanpa melihat kearah Arin. Aku kembali menatap Arin.
"Ya sudah." ucap Arin datar. Lalu tak ada lagi pembicaraan diantara kami. Hanya suara dentingan sendok dan piring. Aku menatap Arin dan Alan bergantian. Apa sih yang mau Arin bicarakan?
Setelah selesai makan, aku membantu mama membereskan meja makan dan piring kotor. Setelah itu aku langsung kembali kekamar untuk membantu Alan bersiap.
"Langsung kekantor?" tanyaku saat masuk kekamar. Aku melihat Alan sedang sibuk memasang dasi.
"Ya, pagi ini ada meeting." ucapnya. Aku tersenyum dan berdiri di hadapannya. Aku membantunya memasangkan dasi.
"Jangan lupa makan siang, kalau tidak sempat makan hubungi Ara. Ara akan bawakan makanan." ucapku merapikan kemejanya.
"Kamu tidak ke kampus?" tanyanya sambil memakai sepatu.
"Mungkin agak siangan, hari ini hanya konsultasi dengan dosen." ucapku duduk disebelahnya.
"Sudah mulai riset?" Aku mengangguk.
"Sepertinya kali ini kamu yang akan menang." ucapnya.
"Benarkah? Semoga saja, tapi aku tidak yakin." ucapku. Dia menatapku dan tersenyum.
"Kita lihat nanti, apakah istriku ini sanggup menyaingi suaminya." ucapnya mengusap kepalaku.
"Ok, kita lihat nanti. Tolong siapkan hadiah sebagus mungkin." ucapku bangun dari dudukku.
"Tenang saja, sepertinya yang harus menyiapkan hadiah itu kamu. Aku akan menunggu hadiah darimu." ucapnya menarik pinggangku hingga tak ada jarak diantara kami. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya.
"Jangan terlalu percaya diri tuan. Bagaimana jika aku yang menang? Apakah aku bisa meminta sesuatu yang spesial?" ucapku menatapnya lekat.
"Tentu, only for you." ucapnya. Ia mengecup bibir ku dan keningku bergantian. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan manisnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia pergi jauh dariku. Mungkin aku akan sangat tersiksa.
"Aku harus berangkat, jaga diri baik-baik." ucapnya kembali mengecup keningku. Aku tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut." ucapku.
"Iya bawel." dia mencubit kedua pipiku. Itu sangat sakit. Sepertinya pipiku akan sangat merah.
"Sakit." ucapku sambil mengusap kedua pipiku. Alan tertawa. Aku sangat kesal, sekali saja tidak menjahiliku tidak bisa apa?
Saat ini aku sudah berada di teras rumah untuk mengantar Alan.
"Aku pergi, Assalamualaikum." ucapnya mengusap kepalaku.
"Wa'alaikumusalam sayang." ucapku sambil tersenyum malu. Ini adalah pertama kalin aku memanggil 'sayang'. Alan tersenyum sambil melambaikan tanganya. Aku hanya bisa membalas lambaian tangannya dan menatap kepergian Alan.
Lindungi selalu suami Ara ya Allah. Jauhkan suami Ara dari segala kejahatan dan marabahaya. Aamiin ya rabbal alamin.
"Ekhemm..."
Aku sangat terkejut dan langsung menoleh saat seseorang berdeham. Ah, ternyata Arin. Dia sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.
"Cie yang gak rela di tinggal pergi." ucapnya menghampiriku. Aku tersenyum malu.
"Ck, anak kecil jangan sok tahu. Sana sekolah yang bener." ucapku mengacak rambutnya. Aku tersenyum saat melihat wajahnya berubah kusut.
"ih kak Ara. Rambut Arin jadi rusak tahu." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tetap cantik kok. Udah sana pergi, nanti terlambat." ucapku kembali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulahku. Aku kembali mengingat masa-masa sekolahku dulu. Hanya saja aku tidak perlu khawatir rambutku akan berantakan karena kerudung kesayanganku selalu melindunginya.
"Iya iya, Assalamualaikum." ucapnya mencium tanganku. Aku mengecup pucuk kepalanya.
"Wa'alaikumusalam, hati-hati. Belajar yang benar, jangan main-main." ucapku. Arin mengangguk dan langsung beranjak pergi.
Huh, kini giliran diriku yang harus bersiap. Satu jam lagi sepertinya aku harus langsung ke kampus. Lebih capat lebih baik.
***
Suara riuh mahasiswa sudah terbiasa aku dengar. Tak aneh lagi jika kampus adalah salah satu tempat untuk menenangkan suasana hati yang sedang jenuh.
"Ara... Ara tunggu... "
Aku menoleh kebelakang saat seseorang memanggil namaku. Jihan? Ada dia memanggilku.
"Iya, ada apa Jihan?" tanyaku sambil tersenyum.
"Aku ingin minta tolong, titip ini untuk Alan." ucapnya sambil memberikan sebuah amplop. Aku menatapnya bingung.
"Maaf aku menggaggu kamu, rencana siang ini aku akan memberikan langsung pada Alan. Tapi mendadak aku mendapat panggilan untuk foto shot." ujarnya.
"Em, tidak apa-apa. Insha allah aku sampaikan pada Alan." ucapku. Jihan pun terlihat sangat senang.
"Ah iya, selamat atas pernikahan kalian. Sorry aku tidak bisa hadir, kamu tahu sendiri kan aku harus pulang pergi keluar kota. Hadiahnya nyusul ya, aku belum sempat beli." ucapannya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Tidak perlu repot kasih hadiah Jihan, aku hanya minta doa kalian. Itu saja sudah cukup." ucapku menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Tapi aku akan tetap memberikan hadiah untuk kalian. Ok, aku harus pergi. Terima kasih Ara. Semoga kalian selalu bahagia." ucap Jihan yang langsung beranjak pergi. Aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng. Apa sesibuk itu ya menjadi seorang model? Huh, bahkan aku sama sekali tidak pernah membayangkan menjadi seorang model. Bahkan foto di ponselku saja hanya ada beberapa foto pernikahanku dengan Alan. Aku memang tidak suka berfoto. Jadi tidak bisa dibayangkan bukan jika aku menjadi seorang model? Aku hanya akan merusak kamera.
Sudahlah, kenapa aku jadi memikirkan jadi seorang model sih. Dasar kamu Ara. Aku melihat amplop yang Jihan berikan. Sebenarnya ini apa sih? Ck, ini bukan urusan kamu Ara. Aku memasukan amplop itu kedalam tas. Lalu aku langsung beranjak menuju ruang dosen karena setengah jam lagi aku sudah membuat janji dengan dosen pembimbingku. Aku harus cepat menyelesaikan proposal risetku yang beberapa hari ini terbengkalai.