
Hanya tersisa 2 bulan lagi aku bisa menyelesaikan kuliah. Aku sudah tidak sabar untuk segera wisuda dan menyusul suamiku disana. Tunggu Ara bi, Ara akan segera meluncur dan bertemu hubby.
"Ara, kamu beneran mau pindah? Terus ninggalin mama disini?" tanya mama. Aku tersenyum dan duduk di sebelah mama.
"Bukan pindah ma, Ara cuma dua minggu di rumah nenek. Mama tahu kan besok semua keluarga akan berkumpul? Ara tidak mau ketinggalan juga ma. Ini adalah momen langka, keluarga Pratama akan kembali berkumpul." ujarku. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana suasana rumah nenek. Ah, aku sudah tidak sabar ingin kesana.
"Mama tahu, tapi mama bakal kesepian."
"Kan ada Dika dengan Arin ma. Mama jangan khawatir, setelah itu Ara akan kembali ke sini kok. Senyum dong." ucapku menarik kedua ujung bibir mama. Aku mencium kedua pipi mama. Bagiku, mama dan bunda adalah dua wanita yang begitu sepesial. Mereka memiliki kelembutan dan kasih sayang yang begitu besar.
"Mama akan merindukan kamu sayang." ucap mama memelukku.
"Ara juga pasti merindukan mama."
Setelah semua barang selesai aku kemas, aku langsung berpamitan untuk berangkat menuju rumah nenek. Yang tepatnya Azka yang menjemputku. Kebetulan Azka sudah diizinkan mengemudi karena usianya sudah menginjak 17 tahun.
"Lama deh." ucap Azka saat aku masuk kedalam mobil. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat wajah kesalnya.
"Maaf deh, yok jalan." ajakku. Lalu Azka pun langsung melajukan mobilnya.
"Dek, papa sama bunda udah di rumah nenek?" tanyaku sambil mengeluarkan ponsel.
"Udah." jawabnya singkat. Ada apa denganya? Gak biasa banget cuek seperti itu.
"Ada apa? Apa ada masalah? Kamu marah kakak suruh jemput?" tanyaku. Jika jawabannya iya, maka aku akan turun.
"Bukan, kakak tidak perlu tahu." ucapnya datar. Ck, jika seperti ini aku semakin penasaran.
"Ceritain Azka, kalau tidak kakak akan terus teror kamu. Ayok ceritakan." ancamku. Azka melihat kearahku sekilas. Ck, dia malah diam. Aku kan jadi kepo.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita. Kakak tahu kamu sudah dewasa, jadi tidak butuh kakak lagi." ujar ku pura-pura merajuk. Aku memalingkan wajahku Kejendela. Tunggu! Ini kan bukan jalan kerumah nenek. Aku langsung melihat kearah Azka untuk meminta penjelasan.
"Aku lapar, tadi belum sempat sarapan di rumah. Kita mampir sebentar. Bukannya kakak penasaran apa masalah Azka?" ujarnya. Aku langsung mengangguk antusias.
Kami pun berhenti di sebuah restoran tradisional. Azka mengajakku duduk di meja paling ujung dan lumayan jauh dari meja lain. Aku hanya bisa mengikuti keinginannya.
"Kakak makan apa? Biar Azka ambilkan."
"Kakak sudah makan, minum jus mangga aja." ucapku. Azka mengangguk dan langsung beranjak menuju meja hidangan. Sistem restoran ini memang mengambil makanan sendiri. Aku melihat kesekelilingnya, ternyata cukup ramai juga. Namun tanpa sengaja aku melihat sosok yang begitu aku kenal. Ya, itu papa Arnold. Dengan siapa papa bicara? Ah, mungkin masalah bisnis. Kenapa aku jadi kepo sih urusan papa?
"Ini." Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Azka sudah duduk didepanku dan memberikan jus yang aku pesan.
"Lihat apa sih serius gitu?" tanya Azka melihat kiri dan kanan. Aku tersenyum dan menggeleng.
"Makan dulu, setelah itu kamu harus cerita dengan kakak." ucapku sambil menyedot jus favoritku. Azka mengangguk dan langsung menyantap makanannya. Aku terus menatap adikku. Ternyata benar, dia sudah dewasa. Aku tersenyum saat melihat kumis tipis dan wajah Azka yang begitu mirip dengan papah. My little brother ternyata sudah besar.
"Jangan liatin Azka seperti itu," ucapnya. Aku tertawa mendengarnya.
"Kamu sangat tampan, pasti banyak yang naksir kan?" tanyaku sambil terkekeh.
"Hmmm... Yang jelas kak Alan kalah dengan ketampanan Azka." ucapnya begitu percaya diri.
"Enak aja, suami kakak tetap yang paling tampan. Kamu mah nomor dua." ucapku.
__ADS_1
"Haduh, beda kalau orang udah bucin mah."
"Ck, siapa yang bucin? Itu namanya cinta yang tulus." ucapku. Aku melihat Azka menggelengkan kepalanya.
"Sudah jangan bahas masalah kakak. Sekarang katakan dengan jujur apa masalah kamu huh?" tanyaku menatapnya lekat. Azka menatapku sambil sesekali menghela napas panjang. Aku mengernyit bingung. Apa masalahnya begitu berat?
"Kakek mau Azka yang melanjutkan perusahaannya, om Ilham tidak mau menerima perusahaan kakek. Beliau ingin pokus dengan usahanya sendiri. Jadi kakak tahu sendiri siapa yang akan melanjutkan jejak kakek kan? Azka tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan kakek." ujarnya panjang lebar. Awalnya aku sangat terkejut, tapi sekarang aku mengerti inti permasalahannya. Aku menghela napas berat. Ini memang sangat berat, aku tahu apa yang dipikirkan oleh Azka.
"Biar kakak yang bicara dengan kakek, kamu jangan khawatir. Kakek pasti akan mengerti dan menerima cita-cita kamu yang sebenarnya." ujarku menggenggam tangannya.
"Azka tidak yakin kakek akan menerima saran kakak." ucapnya menatapku lekat. Aku ikut menatapnya bingung.
"Kenapa begitu?" tanyaku. Azka tersenyum sambil memainkan sedotan.
"Paling kakek bakal kasih perusahaannya sama kakak," ucapnya yang berhasil membuatku terkejut.
"No, kakak tidak sanggup menerimanya. Kalau begitu kamu aja yang ambil." ucapku. Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi Alan jika perusahaan itu benar-benar diserahkan padaku. Habislah aku.
"Kak, aku tetap ingin menjadi dokter." tungkasnya.
"Kamu ambil aja keduanya, jadi dokter dan pengusaha muda. Jika kamu bisa melakukan itu, kakak akui kamu lebih pintar dari kakak." ujar ku sambil menaikkan sebelah alisku. Huh, aku mau lihat bagaimana tanggapannya.
"Hah, lebih baik aku akui jika kakak lebih pintar." ucapnya tersenyum getir. Ck, dasar anak ini.
"Itu artinya semangat kamu kurang, cepat putus asa. Tidak berani mengambil resiko. Jika kakak belum menikah, mungkin kakak akan terima." ujarku ingin memancing reaksinya. Anak ini masih perlu di gertak agar semangatnya tidak loyo.
"Siapa suruh kakak nikah muda? Jika tidak, pasti Azka tak serumit ini."
Apa? Kenapa dia jadi menyalahkan aku sih? Dasar adik durhaka.
"Ck, rugi aja cerita dengan kakak. Tidak dapat solusi." ujarnya yang hampir membuatku tersedak. Jadi dari tadi aku bicara itu apa? Ternyata aku salah, dia masih sama seperti dulu. My little brother. Masih anak-anak.
"Hey my little brother. Sepulang dari sini cobak kamu bercermin. Tanyakan pada diri kamu sendiri, apakah kamu lelaki pemberani atau bukan?"
"Seharusnya kamu lihat jejak suami kakak. Dia begitu berani mengabil resiko, dia mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk kebahagiaan keluarga. Bukan berarti kamu harus meninggalkan cita-cita kamu, tapi jika kamu benar-benar hebat. Kamu harus berani mengambil keduanya, jika kamu bisa menjalankan keduanya dengan lancar. Itu artinya kamu benar-benar lelaki hebat. Ingat sayang, dalam hidup ini memang butuh perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada yang gratis." jelasku.
Aku tersenyum saat melihat Azka terdiam dan sepertinya tengah memikirkan perkataanku. Hahahaha... Kenapa aku jadi sok bijak begini ya? Semoga apa yang aku katakan bisa membuka pikirannya yang sedang kalut. Aku tahu dia masih sangat muda untuk terjun ke dunia kerja. Tapi aku percaya, Azka adalah anak yang hebat dan bisa bertanggung jawab. Aku selalu melihat keseriusan di matanya.
"Kita pulang?" tanyaku saat melihatnya masih terdiam. Aku akan memberikannya waktu untuk terus berfikir. Azka menatapku dan mengangguk. Lalu kami langsung beranjak untuk pulang.
***
"Assalamualaikum nenek tersayang." teriakku setelah membuka pintu.
"Wa'alaikumusalam, kebiasaan kamu tidak pernah hilang sayang." ujar nenek. Aku tersenyum dan langsung berhambur kepelukan nenek.
"Ara rindu nenek," ucapku mencium pipinya. Hampir dua bulan lebih aku tidak bertemu dengan nenek. Habis waktuku tesita oleh skripsi dan skripsi. Kepalaku saja hampir pecah dibuatnya.
"Rindu tapi kamu jarang kesini, nenek kira kamu sudah lupa?" ujar nenek.
"Maaf nek, Ara sibuk dengan skripsi Ara. Ara kan mau cepat selesai." balasku sambil terus memeluk nenek. Lalu tak lama aku melihat seseorang keluar dari dapur. Rizka? Kenapa dia sudah ada disini? Bukanya...
"Hy kak, apa kabar?" tanyanya sambil melambai. Aku melepaskan pelukan nenek.
__ADS_1
"Nek, kenapa dia sudah ada disini? Katanya besok baru sampai?" tanyaku menatap nenek lekat. Aku melihat nenek tersenyum sambil menutup mulutnya. Hmmm... Pasti ada yang mereka sembunyikan.
"Surprise kak," ucap Rizka duduk di sofa sambil ngemil ciki dalam toples.
"Eh, kenapa kamu masih manggil kakak? Kamu itu kakaknya Ara," ujar Nenek. Hmm, itu artinya aku masih mudah. Hihi,,,
"Ngalah nek sama yang lebih tua, kaka kan masih sangat muda. Lagian kak Ara sudah menikah, gak cocok kalau di panggil adek." ujarnya yang berhasil membuatku kesal. Aku menatap nenek meminta bantuan.
"Setuju, yang paling muda disini kan aku." timpal Azka yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelah Rizka. Aku memberikan tatapan tajam padanya.
"Eh, kamu juga sudah tua tahu. Yang paling muda itu tetap aku. Cut Rizka Ar-Syila." ujar Rizka dengan begitu bangga. Huh, bikin kesal aja.
"Nek, lihat. Sejak kecil Ara selalu jadi bahan bullying. Jahat mereka nek." rengekku kembali memeluk nenek.
"Sudah jangan ribut, mulai sekarang kaka biasakan panggil Ara. Jangan pakek kakak, Ara dan Azka itu adik kalian." ujar nenek, aku sangat senang mendengar pembelaan nenek. Rasain kalian, sampai kapanpun nenek pasti belain aku. Aku kan yang duluan lahir. Hehe...
"Kiki tidak setuju nek, kak Ara sudah cukup tua untuk dipanggil adek. Kalau Azka sih kami tidak keberatan." ujar si kacamata yang baru turun. Huh, malah nambah satu lagi perusuh.
"Nek." rengekku tak terima. Nenek mengelus punggungku dengan begitu lembut.
"Lihat, masih merengek seperti anak kecil. Bagaimana bisa jadi seorang adik." sambung si kacamata.
"Sudah, jangan buat kakak kalian terus merengek." ucap nenek. Eh tunggu, tadi nenek bilang apa? Ih, nenek juga malah ikut-ikutan ngejek sih.
"Nenek... " kesalku, aku melepaskan pelukanku. Nenek dan trio semprul pun malah tertawa.
"Ngeselin," ketusku. Aku langsung beranjak menuju kamar.
"Kak, jangan ngadu dengan kak Alan ya? Nanti bonus bulanan aku hilang." teriak Rizka. Apa sih? Dasar tidak jelas.
Aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Aku sangat merindukan kamar ini. Sejak kecil aku sering main kesini, tapi sekarang aku sudah jarang karena kesibukan kampus.
Ah iya, aku lupa menghubungi My hubby. Akhir-akhir ini ia sangat sibuk untuk mempersiapkan risetnya. Terkadang aku merasa kasihan, dia harus berjuang sendirian disana. Banyak sekali perubahan pada dirinya. Termasuk penampilannya yang tak seperti Alan yang dulu. Alan terlihat lebih kurus. Seharusnya aku selalu ada untuknya, tapi apa? Ini juga bukan keinginanku. Aku ingin cepat menyelesaikan segala urusanku disini, aku ingin menyusulnya. Menghabiskan waktu berdua hingga akhir hayat kami. Cinta yang semakin mendalam, walaupun jarak memisahkan. Rasa rindu bagaikan bongkahan es yang semakin hari semakin menggunung. Berharap bongkahan itu segera mencair dan berganti dengan kehangatan yang menyelimuti diri. I miss you hubby.
Bersambung...
Perkenalan tokoh lainnya 🌼🌼🌼🌼🌼
Azka
Arin
Rizki
Rizka
__ADS_1
Ardio