
Semburat warna merah membelah langit, menandakan jika mentari akan segera berganti tugas dengan sang rembulan. Hembusan angin menerpa wajah cantik sang wanita muda, entah sudah berapa jam ia berdiri disana. Matanya terpejam indah dan menampakkan bulu lentiknya, untuk menikmati lembutnya sapaan sang angin.
Tak lama matanya kembali terbuka saat merasakan sesuatu melingkar di perutnya. Suara deru napas mulai terdengar di telinganya. Bunga yang awalnya kuncup kini mulai merekah, seiring dengan kecupan hangat di pipinya.
"Apa tidak lelah terus berdiri disini huh?" wanita itu menggeleng pelan. Kedua tangannya menyetuh lengan yang masih melingkar di perutnya.
"Ara sangat menyukai tempat ini bi, sangat indah." Mata indah itu sama sekali tak ingin berpaling dari penampakan senja yang begitu menggoda setiap manusia. "Terimakasih bi."
Sudah dua hari sejak kepulangan mereka, sepasang kekasih halal itu menempati sebuah rumah baru. Rumah yang sudah disiapkan sejak jauh hari oleh sang suami. Kejutan kecil untuk sang istri.
"Hubby senang jika sayang menyukai hadiah ini," ucap Alan mengecup kepala Ara yang masih tertutup hijab.
"Apapun yang hubby berikan Ara akan menyukainya," balas Ara. Ia membalikan tubuhnya. Kedua netra mereka kini saling mengunci. Jemari lentik itu kini mulai menyusuri pahatan sang maha pencipta. Menyelisik setiap inci wajah tampan sang suami.
"Hubby, jangan pernah tinggalkan Ara. Ara tidak akan sanggup jika harus berpisah lagi,"
"Kita tidak akan pernah berpisah sayang, kecuali maut yang memisahkan kita. Aku sangat mencintaimu, sejak dulu hingga nanti,"
Alan mengamit jemari Ara dengan lembut, kecupan hangat di kening Ara berhasil membuat setiap nadi berdesir hebat. Hembusan napas yang saling beradu seakan memberikan kehangatan yang nyata.
"Bersiaplah, hubby sudah menyiapkan gaun untukmu. Malam ini seorang istri CEO harus terlihat cantik," bisik Alan.
"Memangnya selama ini Ara jelek ya bi?"
"Hmm..."
"Ck, jadi Ara benar-benar jelek ya? Maaf selama ini Ara tidak pernah memperhatikan penampilan Ara," ucap Ara sedikit bersedih. Sejak menikah Ara memang tidak pernah menanyakan bagaimana penampilannya selama ini. Karena ia berpikir Alan akan selalu menyukai penampilannya yang sederhana.
"Hey, hubby hanya bercanda. Kenapa menanggapinya dengan serius? Kamu selalu cantik, apapun yang menempel pada dirimu aku menyukainya," ujar Alan, ia mencubit mesra hidung mancung Ara.
"Ih hubby, sehari saja tidak membuat Ara kesal bisa gak sih?" rengeknya. Alan tersenyum sambil mengusap kepala Ara.
"Maaf sayang, ayok kita bersiap. Setelah shalat magrib kita harus berangkat," ajak Alan menarik tangan Ara. Ara hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki suaminya
Suara alunan musik memenuhi ruangan. Di ambang pintu terlihat Ara dan Alan berjalan masuk. Keduanya terlihat begitu serasi. Ara menggunakan gaun panjang berwana tosca dengan balutan hijab senada. Ia terlihat begitu anggun dan sangat cantik. Begitu pun dengan sang suami yang memakai jas warna senada dengan dirinya.
"Wah, mewah banget bi acaranya?" tanya Ara menatap kagum dekorasi gedung yang cukup mewah.
"Hubby juga tidak tahu," jawab Alan seadanya. Lalu Alan pun menyapa beberapa tamu dan kliennya. Ara mengikuti Alan dari belakang.
"Kak Ra...." teriak seseorang, sontak Ara pun langsung memalingkan wajahnya.
"Arin, ya ampun kamu sangat cantik," seru Ara saat melihat penampilan Arin yang sangat cantik dengan gaun Pinknya.
"Kak Ra juga cantik," ucap gadis itu memeluk Ara dengan erat.
__ADS_1
"Dika mana?" tanya Ara. Arin melepaskan pelukannya dan menunjuk ke suatu tempat. Ara langsung melihat tempat yang Arin tunjukkan. Ara membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dika terlihat sedang asik bermain dengan sosok yang paling Ara kenal.
"Azka? Ngapain dia disini?" tanya Ara menatap Arin. Arin tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Em, Arin yang ajak Azka kesini. Habis kakak sih kelamaan di negeri orang. Jadinya ketinggalan zaman," jawab Arin sambil terus tersenyum.
"Bicara dengan jelas Arin,"
"Ck, aku dan Azka berpacaran." jawab Arin dengan cepat. Ara yang mendengar itu langsung membuka mulutnya tak percaya. Ara tahu jika kedua adiknya itu sudah dewasa, tapi pacaran bukanlah hal yang baik. Apalagi saat ini Azka sudah menjabat sebagai seorang CEO muda.
"Setelah acara ini kalian harus jumpai kakak," perintah Ara kesal. Ia meninggalkan Arin yang masih diam mematung.
"Ih, kenapa sih dengan kak Ara? Emang salah ya kalau aku pacaran dengan Azka? Kan cuma pacaran boongan Hehe," ujar Arin tersenyum jahil. Arin beranjak untuk menghampiri Azka dan Dika.
"Dari mana sayang?" tanya Alan saat Ara menghampirinya. Ara menggeleng dengan wajah yang masam.
"Kamu kenapa? Kok badmood gitu sih?"
"Nanti juga hubby akan tahu," ucap Ara dengan malas. Alan yang melihat itu hanya bisa menggeleng karena sikap aneh Ara.
Suara MC pun mulai terdengar, kini semua orang penting sudah duduk di barisan paling depan. Ara duduk tepat di sebelah sang suami.
"Bi, MC nya cantik banget ya?" tanya Ara sambil terus menatap sang MC.
"Lebih cantik kamu," ucap Alan, sontak Ara lagsung menatap Alan.
"Hubby juga serius sayang," balas Alan menirukan suara Ara. Ara terlihat sangat kesal dan memilih untuk diam.
Acara puncak pun kini sedang berlangsung, Alan terlihat begitu tampan saat berdiri di sebelah Arnold sang papa. Di depan panggung, Ara terlihat ikut bertepuk tangan bersama para tamu undangan.
"Malam ini adalah malam yang akan menjadi sejarah dalam hidup saya. Di sebelah saya sudah berdiri sosok yang begitu berharga, dia selalu membuat saya bangga. Dia adalah putra sulungku, Arlan Digantara, pewaris perusahaan DGR Group masa depan."
"Mulai dari malam ini hingga seterusnya, perusahaan yang sudah puluhan tahun berdiri dengan kokoh akan di serahkan pada putra saya. Jadi CEO kalian saat ini adalah putraku, dia yang akan memimpin kalian. Jangan sungkan untuk menegurnya jika...
Belum selesai Arnold bicara, seseorang tiba-tiba memotong ucapannya.
"Maaf, sepertinya anda salah bicara tuan!" sontak semua orang langsung menoleh. Termasuk Ara dan Arin yang menoleh bersamaan. Ara dan Arin membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kamu," ucap Ara dan Arin bersamaan. Pria itu hanya tersenyum dan berjalan naik ke panggung. Ia menghampiri pemilik acara dengan penuh arogan.
"Dia bukan putra anda tuan," sambung pria itu menepuk pundak Alan. Semua orang terlihat bingung dan saling berbisik. Alan yang sadar akan terjadi sesuatu langsung angkat bicara.
"Saya memang bukan anak dari papa Arnold, tapi saya di besarkan dari bayi oleh beliau hingga bisa sukses seperti ini. Papa rela memberikan nama besarnya pada saya, itu menunjukkan jika saya adalah putranya. Saya sangat menghormati papa dan tak ada papa selain papa dalam hidup saya," ujar Alan panjang lebar. Arnold yang mendengar itu tersenyum senang. Seluruh keluarga besar terlihat semakin tegang. Selama ini mereka bersusah payah menyembunyikan kenyataan dari publik. Namun sepertinya malam ini usaha itu akan hancur.
Ara meremas gaunnya dengan sangat erat. Ia menatap tajam pria yang saat ini sedang berdiri tepat di sebelah sang suami sambil tersenyum, tanpa sedikit pun merasa bersalah. Sebuah tangan kekar kini melingkar di pundak Ara. Ara sangat tekejut dan langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku tahu kak Alan bisa menangani semuanya," ucap orang itu yang tak lain adalah Azka.
"Kakak tahu, tapi Alan akan sakit jika hal itu kembali di ungkit," Ara menekan dadanya yang terasa sakit.
"Arlan Digantara,, kamu memang di besarkan oleh keluarga Digantara, tapi kamu harus ingat dalam setiap nadimu mengalir darah Maheshwari. Kau adalah adikku," imbuh pria itu yang berhasil membuat Alan dan semua orang terkejut. Ya, dia adalah Dio. Namun tidak dengan Arnold, sejak lama ia sudah mengetahui kebenarannya. Namun ia tak ingin semua orang tahu akan hal itu, ia sudah terlanjur menyayangi putranya.
Arham dan Dara yang juga berada di sana tak kalah terkejut. Mereka tidak pernah menyangka jika Alan dan Dio memiliki ikatan darah. Arham mengepalkan tangannya dan langsung beranjak pergi.
'Akan aku butikan jika aku lebih baik darinya Ara,' Dio tersenyum sambil menatap Ara.
"Hanya saja, aku terlahir dari rahim yang suci dan tak pernah tersentuh oleh pria lain. Namun kau, kau terlahir dari seorang pengkhianat,"
"Cukup! Apa yang kau katakan Dio?" seru seseorang. Semua orang kembali di buat bingung dengan kedatangan Bayu, papa kandung Alan. Nissa yang berdiri tepat di sebelah Arin pun mendadak lemas. Dengan sigap Arin menahan tubuh Nissa.
"Dia adikmu, tidak seharusnya kau merusak reputasinya di sini," Bayu menghampiri Alan yang masih setia menunduk. Alan masih syok, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hatinya sudah sangat hancur sejak ia tahu bahwa dirinya bukanlah anak kandung Arnold, sekarang hatinya semakin remuk saat tahu ia adalah adik dari seseorang yang paling ia tak sukai. Luka lama yang hampir sembuh kini kembali terbuka lebih lebar.
"Alan, papa tahu kamu terkejut. Tapi ini kenyataannya nak, kamu adalah putra papa. Papa sudah mengatakan ini pada pria di sebelahmu, namun ia tidak membiarkan aku mememuimu," ujar Bayu hendak menyetuh Alan, namun dengan cepat Alan langsung beranjak dari sana. Meninggalkan semua orang yang masih setia menatap dirinya. Ara yang melihat itu langsung mengejar Alan.
"Hubby, tunggu!" seru Ara saat langkahnya tak bisa menyaingi Alan karena gaunnya yang panjang. Alan sama sekali tak menghiraukan panggilan Ara. Saat ini pikirannya sedang berkecamuk, ia tak bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.
"Bi, Ara mohon tunggu Ara. Jangan seperti ini ni... Aw.. " Ara meringis kesakitan saat kakinya tak sengaja menyandung batu dan terpleset. Alan yang mendengar itu langsung menoleh dan mendapatkan Ara yang terduduk di tanah. Alan berlari menghampiri Ara.
"Maaf sayang," ucap Alan, Ara menatap wajah Alan begitu dalam.
"Kaki Ara sakit bi," Ara mengadu dengan mata terus tertuju pada mata Alan yang berair.
'Ara tahu ini semua sangat menyakitkan bi,' batin Ara. Ara melingkarkan kedua tangannya saat Alan mengangkat tubuhnya.
"Ara akan selalu ada buat hubby, apapun yang terjadi bi," ucap Ara membenamkan wajahnya di ceruk leher Alan. Malam ini yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan malah berujung kesedihan.
"Maaf," ucap Alan. Alan membawa Ara ke parkiran karena saat ini ia sedang butuh ketenangan.
"Hubby harus istirahat, jangan terlalu di pikirkan. Ara tahu ini sakit, tapi Ara akan selalu mendukung hubby," ujar Ara menyetuh dada Alan. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Alan menatap Ara begitu lekat.
"Tetap disisiku," ucap Alan menarik Ara kedalam dekapannya. Ara bisa mendengar suara gemuruh di dada suaminya.
"Ara tetap disini bi," balas Ara. Ia memeluk Alan dengan lembut.
Sepanjang malam mata Alan tak kunjung terpejam, kejadian beberapa jam yang lalu terus bermain dalam ingatannya. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamar. Hembusan angin malam menyeruak masuk sampai ketulang. Namun ia tidak perduli akan hal itu. Hatinya benar-benar hancur dan sulit untuk menerima kenyataan. Ia memejamkan matanya dan membiarkan angin menyapu wajahnya.
"Ini sudah malam, tidak baik berdiri diluar," Alan sangat terkejut saat meraskan kedua tangan Ara kini melingkar di perutnya. Alan membalikan tubuhnya dan menatap sang istri begitu lekat.
"Kenapa bangun?" tanya Alan begitu lembut. Ara tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Alan.
"Bagaimana Ara bisa tidur, hubby terus bergerak," ucap Ara. Alan tersenyum tipis. Ara menghela napas berat. Ia tahu apa yang saat ini Alan rasakan.
__ADS_1
"Hubby boleh mengungkapkan semua isi hati Hubby pada Ara, Ara akan mendengarkan semuanya." Ara mengelus pipi Alan dengan lembut. Alan terus menatap netra istrinya begitu dalam. Setetes air bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos juga.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" keluh Alan membenamkan wajahnya di ceruk leher Ara. Ara menarik napas panjang dan mengusap punggung Alan. Ia hanya ingin membiarkan Alan mengeluarkan semua isi hatinya. Ara tahu beban yang Alan pikul cukup berat. Ia hanya berharap bisa meringankan beban itu, walaupun tak bisa membantu Alan lebih banyak. Tapi ia akan berusaha berada di disisinya, apapun yang terjadi.