
Alan mengecup pipi Ichal. Ia tersenyum saat melihat Ichal tersenyum padanya.
"Abi harus pergi, jaga umi baik-baik. Jangan nakal ya?" ucap Alan kembali mencium pipi Ichal. Ichal yang terlihat senang pun sedikit bersuara saat mendengar suara Alan. Dengan gemas, Alan menekan hidung mancung putranya.
"Bi, tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Ara yang sedang sibuk mengabsen perlengkapan Alan.
"Ada," jawab Alan. Ara menoleh, manatap Alan bingung.
"Ada, kamu dan anak kita," ucap Alan berjalan mendekati Ara. Ia memeluk Ara dengan begitu mesra. Mengecup kening Ara penuh kehangatan.
"Ara akan selalu menunggu hubby, cepat pulang, kami akan merindukan hubby."
"Ya, akan hubby usahakan," ucap Alan kembali mengecup kening Ara.
"Jangan lupa kabari Ara jika sudah sampai, jangan lupa salat dan makan yang teratur. Jika hubby sakit, Ara yang susah disini," ujar Ara.
"Baiklah ratuku, hamba akan selalu mengingat perintah ratu," kata Alan. Ara yang mendengar itu tertawa renyah.
"I love you, hubby," ucap Ara mengecup kedua pipi Alan. Alan tersenyum puas.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan kamu, sayang?" gumam Alan. Ia menatap Ara begitu dalam.
"Sudah, jika dipikirkan memang tidak akan selesai. Jangan sampai hubby tidak jadi pergi," ujar Ara merapikan kemeja Alan.
"Ara juga tidak bisa antar hubby ke Bandara, tolong hati-hati di jalan," lanjut Ara. Ia mengusap pipi Alan begitu lembut. Alan pun mengangguk. Ia memeluk Ara cukup lama.
Ara berdiri di depan rumah bersama Ichal dalam gendonganya. Menatap kepergian Alan.
"Yah, abinya udah pergi, Sayang. Tinggal kita berdua dong," ucap Ara mengajak Ichal bicara. Bayi mungil itu hanya bisa menggerakkan kepalanya sambil bermain air ludah. Ara mencium gemas putranya. Lalu masuk ke dalam rumah.
Siang hari, sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah Ara. Seorang pria memakai jas keluar dari sana. Lalu ia berputar untuk membuka pintu mobil. Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita cantik keluar dari sana.
"Terima kasih," ucap wanita itu tersenyum manis.
"Ayo," ajak pria itu mengulurkan tangannya. Wanita itu terlihat malu-malu. Namun, pada akhirnya ia menerima uluran tangan sang pria.
"Kakak akan sangat senang jika kamu datang," ucap pria itu. Siapa lagi jika bukan Azka. Adik satu-satunya Ara.
"Assalamualaikum," ucapnya. Tanpa menunggu jawaban, ia pun langsung masuk bersama kekasihnya.
"Wa'alaikumusalam," jawab Ara yang baru keluar dari kamar. Ia sangat terkejut saat melihat kedatangan Azka bersama calon istrinya.
__ADS_1
"Wah, tamu jauh ternyata. Silahkan duduk," ucap Ara. Ia menghampiri Azka. Memberikan Ichal padanya. Azka sangat senang. Ia menggandong Ichal dengan hati-hati.
"Kamu mau gendong?" tanya Azka pada Keira. Keira langsung menggeleng. Ia tidak berani menggandong bayi. Ara yang melihat itu tersenyum.
"Kakak buatkan minum dulu," ucap Ara beranjak menuju dapur.
Azka terus mencium Ichal. Ia sangat gemas dengan pipi gembul Ichal.
"Anak kita nanti pasti akan seperti ini," ucap Azka menggoda calon istrinya. Keira yang mendengar itu tersenyum malu.
"Kalian sudah makan?" tanya Ara. Ia membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Sudah, tadi sebelum kesini kami mampir di rumah makan," balas Keira. Ara yang mendengar itu tersenyum.
"Kak, Ichal aku bawa pulang ya?" gurau Azka.
"Boleh, asal kamu sanggup mendengar tangisannya," ucap Dara yang di balas tawa oleh Keira.
"Kamu suka nangis ya?" tanya Keira mencubit pipi Ichal pelan.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian? Sudah aman?" tanya Ara menatap Azka dan Keira bergantian.
"Baru 90%, masih ada hal-hal kecil yang belum selesai," jawab Azka menatap Keira sambil tersenyum.
"Jangan mempengaruhinya kak," protes Azka. Ara tertawa renyah. Keira yang melihat itu tersenyum malu.
"Malam ini kamu nginap disini ya? Kakak sendirian," pinta Ara pada Azka.
"Tidak jadi masalah," balas Azka. Sejak tadi ia tidak bosan mencium pipi gembul Ichal. Hingga pemilik pipi terlihat kesal. Ichal mulai menangis.
"Sayang anak umi, siapa jahat? Uncle ya?" tanya Ara mengambil Ichal dari gendongan Azka.
"Cengeng, kayak uminya," ucap Azka yang berhasil mendapatkan tatapan membunuh diri Ara.
"Namanya juga ibu dan anak," ucap Keira. Ia berpindah duduk disamping Ara. Memegang tangan mungil Ichal. Ichal menggenggam erat tangan calon auntinya itu.
"Berapa bulan kak?" tanya Keira.
"Satu bulan tiga minggu," jawab Ara. Ia mengusap kepala Ichal.
"Kak, kenapa tidak ikut kak Alan?" tanya Azka. Ara menatap Azka lekat.
__ADS_1
"Kasian Ichal, dia masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh. Ichal juga baru sembuh," jawab Ara tersenyum sambil menatap Ichal yang mulai tertidur dalam gendongannya.
"Em, ada sesuatu yang ingin Azka bicarakan. Tapi kakak jangan terkejut atau pun marah," ujar Azka. Ara yang mendengar itu sangat penasaran.
"Ada apa?" tanya Ara ingin segera tahu apa yang ingin Azka sampaikan.
"Ini mengenai kak Alan," balas Azka. Ara terkejut mendengarnya. Jantungnya langsung berdebar tidak karuan.
"Ada apa? katakan Azka." Ara memberikan tatapan serius pada Azka.
"Tapi kakak janji, jangan marah ataupun terkejut," ucap Azka yang semakin membuat Ara kesal.
"Ok, katakan," ucap Ara pasti.
"Beberapa kali Azka melihat kak Alan selalu didekati oleh seorang wanita. Dia terlihat sangat cantik dan sepertinya kak Alan mengenalnya," jelas Azka. Ara menatap Azka bingung.
Wanita? Kenapa Alan tidak pernah mengatakan apapun? Siapa wanita itu sebenarnya?
"Dimana kamu lihat?" tanya Ara serius.
"Di kantor, dalam satu bulan ini Azka sering ke kantor kak Alan. Kami melakukan kerja sama, saat itu bukan sekali dua kali wanita itu mencari perhatian kak Alan. Bahkan mereka sering makan bersama. Maaf kak, Azka bukan ingin mengatakan hal buruk tentang kak Alan. Tapi kakak harus berhati-hati, kak Alan juga seorang pria. Kapan saja ia bisa khilaf. Kakak harus lebih hati-hati."
"Kakak tahu sendiri, saat ini begitu banyak wanita penggoda. Apalagi kak Alan menjabat sebagai CEO. Banyak diincar oleh wanita gila harta."
Ara terdiam. Ia mencerna setiap ucapan Azka. Ara sangat yakin, Alan tidak akan berbuat curang dibelakangnya. Namun, perkataan Azka juga benar. Alan juga seorang laki-laki, ia bisa khilaf kapan saja. Sebagai seorang istri, Ara harus lebih memperhatikan Alan. Ara sadar, setiap manusia pasti memiliki kelemahan. Apalagi akhir-akhir ini Alan banyak berubah.
Ara kembali teringat. Alan bersikeras untuk mengajaknya ikut. Mungkinkah Alan saat ini merasa tidak nyaman?
"Terima kasih sudah mengatakan apa yang terjadi," ucap Ara. Ia menatap Ichal lekat. Bayi mungil itu tertidur begitu nyenyak.
"Maaf, membuat kakak jadi gelisah," ucap Azka. Ara tersenyum.
"Tidak, justru kakak akan lebih hati-hati dalam menghadapi semuanya, saat ini begitu banyak fitnah yang sudah menyebar. Kakak akan lebih dewasa menghadapi masalah rumah tangga. Ingat Azka, ini merupakan pelajaran untuk kamu sebelum menikah. Tetap jadikan istri kamu sebagai ratu satu-satunya. Karena tidak ada wanita yang ingin dibagi, seikhlas apapun itu. Pasti masih ada rasa sakit," jelas Ara panjang lebar. Ia menggenggam tangan Keira begitu erat. Keira mengusap lengan Ara. Sebagai wanita, ia tahu arah pembicaraan Ara.
"Azka akan selalu menjadikan Keira satu-satunya dihati, seperti halnya papah mencintai bunda. Mereka selalu akur hingga saat ini, bahkan kita tidak pernah melihat bunda dan papah bertengkar," ujar Azka. Ia menatap Keira penuh cinta.
"Kakak harap kamu benar-benar jadi laki-laki yang bertanggung jawab," ucap Ara. Ia tersenyum, mengusap kepala Keira dengan lembut. Keira terlihat gembira. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ara.
"Allah begitu baik, memberikan seorang kakak yang memiliki hati bak bidadari," ujar Keira.
"Ya, Azka juga tidak salah memilih seorang istri. Pemilik hati yang begitu tulus," ucap Ara mencium pucuk kepala Keira. Keira benar-benar bahagia. Ia menemukan keluarga yang begitu penuh kasih saya. Semua kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan, kini ia peroleh dari keluarga barunya.
__ADS_1
Ara terdengar menghela napas berat. Ia terus memikirkan setiap perkataan Azka. Juga memikirkan suaminya yang terpisah jarak jauh.
Ya Allah, hamba tahu ini semua adalah ujian darimu. Hamba juga percaya akan kuasamu. Kuatkan hati hamba dalam menghadapi badai yang akan datang. Lindung suami hamba dari segala fitnah dan dosa.