
Aku hanya bisa memandang bintang dengan keindahannya, namun aku tak bisa meraih dan memilikinya.
~Ketulusan Hati 2 ~
Suasana di sebuah ruangan begitu mencekam. Seorang pria tampan dengan setelan kantornya sedang menatap satu persatu peserta magang. Lalu ia melirik wanita yang duduk paling ujung, wanita itu tengah menunduk. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan.
"Ini adalah hari pertama kalian bekerja, nilai yang akan kalian dapatkan tergantung dari kerja keras kalian masing-masing. Manfaat waktu 3 bulan ini sebaik mungkin, karena saya paling tidak suka dengan karywan pemalas dan tidak menghargai waktu." ujar sang pria yang tak lain adalah pimpinan perusahaan, Andio Raheswari. Ia sengaja menyempatkan waktu untuk menyapa dan memberi peringatan pada mereka saat melaksanakan magang. Baginya dalam dunia kerja, waktu bagaikan pedang. Waktu adalah uang. Ia tidak pernah perduli siapapun itu, waktu kerja maka harus bekerja dengan baik.
"Semoga kalian betah disini, silahkan kembali keruangan masing-masing. Ikuti tutor kalian." Pria itu berdiri dan langsung beranjak pergi. Seluruh mahasiswa magang bernafas lega. Namun tidak dengan wanita yang masih setia menunduk itu.
"Ara, kenapa masih disitu? Ayok buruan!" seru seseorang yang berhasil mengejutkan wanita itu. Ya, dia adalah Ara. Ara bangun dari duduknya dan langsung mengikuti jejak teman-temannya.
"Eh, aku perhatikan pimpinan di sini masih muda ya. Sepertinya dia tertarik deh dengan salah satu diantara kita. Soalnya dari tadi dia lirik-lirik gitu." ujar salah seorang dari mereka sedikit berisik. Ara hanya terdiam membisu saat mendengar ocehan teman-temannya. Lalu mereka pun di bimbingan menuju departemen humas. Ara melihat kesekelilingnya, ia sedikit lega karena disini sangat ramai.
"Siapa yang bernama Dillara dan Clara ?" tanya seorang wanita yang baru datang. Ara dan Clara pun langsung mengangkat tangan. Mereka saling melemparkan pandangan bingung.
"Ikut dengan saya," perintah sang wanita itu beranjak dari ruangan. Ara dan Clara pun mengikuti langkah sang wanita. Ara mengernyit bingung saat ia melihat tulisan di pintu 'Gudang'. Ia menatap Clara yang juga tengah menatapnya.
"Hari ini adalah hari pertama kalain bekerja, lakukan dengan benar. Kalian harus memisahkan barang yang baru dengan yang lama. Siang ini semuanya harus sudah beres!" tegas wanita itu. Ara semakin bingung di buatnya. Ini bukanlah pekerjaannya.
"Maaf buk, tapi ini bukan bagian kami. Bukankah sudah di tentukan di bagian mana kami bekerja?" ujar Ara menatap sang wanita bingung.
"Ya, itu memang benar. Tapi perusahaan ini memiliki kebiasaan berbeda. Setiap peserta memiliki tugas masing-masing. Lakukan dengan benar, karena saya adalah pembimbing kalian disini. Jadi nilai kalian tergantung saya. Saya tidak suka bantahan. Kerjakan dengan benar!" wanita itu pun langsung beranjak pergi meninggalkan Ara dan Clara yang masih berdiri di tempat.
"Ada yang aneh Ra, sepertinya aku akan menanyakan ini pada yang lain. Sudah lah, sekarang kita ikuti saja dulu. Dia kira dia itu siapa? Udah make up kaya tante-tante, sombong pula tu." ujar Clara. Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu keduanya pun langsung mengerjakan sesuatu dengan perintah.
Waktu sudah hampir menjelang siang. Kedua wanita cantik itu masih asik dengan pekerjaannya di gudang. Pakaian yang mereka kenakan pun sudah tak berbentuk lagi. Keringat terus bercucuran hingga membasahi seluruh tubuh mereka.
"Ah, capek juga ternyata. Aku duduk dulu ya? Kaki aku pegel banget." ujar Ara duduk diatas kursi yang terlihat lusuh.
"Iya Ra, lagian udah mau beres kok. Tinggal dikit lagi, kamu juga keliatan pucat banget." ujar Clara memperhatikan wajah Ara.
"Masak sih Cla? Aku merasa ok kok." ucap Ara memperbaiki kerudungnya yang sedikit berantakan.
"Iya, kamu sakit ya?" tanya Clara ikut duduk di sebelah Ara. Ara menatap Clara dan menggeleng. Clara menarik lengan bajunya untuk melihat jam tangan.
"Udah waktunya istirahat, keluar yuk." ajak Clara. Ara pun mengangguk, lalu keduanya pun langsung beranjak perg meninggalkan gudang.
"Sumpah! Ini namanya ospek, bukan magang." ujar salah seorang dari mereka. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ara yang melihat itu hanya tersenyum. Ternyata bukan hanya Ara dan Clara yang di perlakuan tidak adil.
"Sabar, mungkin ini pemanasan." ucap Ara sambil meneguk jus favoritnya, entah sudah berapa gelas jus yang Ara habiskan. Ara meneliti seluruh wajah teman-temannya yang terlihat kelelahan.
"Eh btw yang cowok pada kemana?" tanya Clara melihat kiri dan kanan untuk mencari keberadaan para lelaki.
"Itu mereka," tunjuk teman Ara kearah pintu masuk. Namun semua terlihat heran, karena ketiga pria itu terlihat segar dan tak ada sedikit terlihat lelah di wajah mereka.
"Eh, kalian kenapa? Kok keliatan lesu gitu?" tanya salah seorang dari mereka. Mereka pun ikut duduk untuk bergabung.
"Abis di ospek." ucap Clara ketus. Lalu ketiga lelaki itu pun tertawa bersama. Ara ikut tersenyum saat melihat wajah kesal teman perempuannya.
"Kalian dari mana?" tanya Ara.
"Itu, tadi kita diajak nganter barang ama pembimbing. Sekalian belajar katanya, jalan-jalan tadi." ujar Arfa sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"What! Gak adil ini mah, gw mau komplain!" seru Gina sambil menggeprak meja. Hingga berhasil membuat semua orang yang ada di katin ikut tekejut. Gina yang sadar akan kesalahannya langsung meminta maaf pada semua orang.
"Em, aku izin ke kamar kecil dulu ya?" ucap Ara bangun dari duduknya. Mereka menatap Ara sambil mengangguk.
Ara berjalan menuju toilet sambil sesekali melihat suasana di sana.
"Ara!" panggil seseorang yang berhasil membuat Ara tekejut. Ia langsung berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ara membulatkan matanya saat melihat orang yang saat ini sedang berjalan mendekatinya.
"Maaf pak, ada perlu apa ya?" tanya Ara menunduk. Pria itu tersenyum dan berdiri tepat di hadapan Ara. Ara sangat gugup. Bukan apa, ia hanya takut ada orang lihat dan terjadi kesalahan fahaman. Ara kemabali mengingat pesan suaminya.
"Maaf pak, saya mau kekamar kecil. Jika bapak ingin menyampaikan sesuatu, silahkan katakan." ujar Ara sedikit mundur.
"Aku sangat merindukanmu." gumam pria itu. Namun Ara tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Maaf, bapak bicara apa?" tanya Ara bingung.
"Tidak ada, apa kabar?"
Ara mengangkat kepalanya karena terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan untuknya.
"Baik. Maaf, saya harus pergi. Permisi." jawab Ara langsung beranjak pergi dengan cepat.
"Ara, bisa kita berteman?" pertanyaan itu berhasil membuat Ara menghentikan langkahnya. Namun itu hanya sebentar, karena Ara tak menghiraukan pertanyaan konyol pria itu.
'Aku akan menunggu jawabanmu Ara.' batin pria itu. Ia tersenyum dan langsung beranjak pergi.
Ara membasuh wajahnya. Ia menatap dirinya di cermin.
Ting!
Ara sedikit tekejut saat tiba-tiba ponselnya berdering. Seulas senyuman terukir di bibir tipisnya.
'Sayang, maaf hubby baru memberi kabar. Alhamdulillah hubby sudah aman di sini, hubby harus mengurus keperluan asrama. Jadi hubby baru bisa menghubungi sayang. Sayang sudah makan?'.
Ara benar-benar bahagia karena sudah mendapatkan kabar dari suami tercintanya. Ara mulai mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari sang suami.
'Alhamdulillah kalau hubby sudah sampai dengan selamat. Jaga kesehatan hubby, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup.
Ara sudah makan, ini masih jam istirahat. Ara rindu hubby.'
Ting! Ponsel Ara kembali berbunyi. Ara menyandarkan tubuhnya.
'Hubby juga kangen kamu sayang, jaga diri baik-baik disana. Maaf hubby harus tidur, disini sudah larut. I love you sayang. 😘 ciuman rindu.'
Ara tersenyum sendiri saat membaca pesan dari suaminya itu. Ia memeluk ponselnya dengan erat.
"Ara juga sangat merindukan hubby, I love you to hubby." ucap Ara. Ia menghela napas berat, lalu beranjak dari sana.
***
Waktu sudah menunjukkan bahwa waktunya untuk pulang sudah tiba. Semua orang sibuk membereskan meja kerja masing-masing. Begitu juga dengan anak magang yang begitu semangat untuk pulang. Mereka ingin sekali cepat-cepat meninggalkan kantor yang seperti neraka itu.
"Akhirnya, pulang juga kita. Ra, mau aku antar?" tanya Clara.
__ADS_1
"Enggak usah Cla, aku naik taksi aja. Lagian kan rumah kamu beda arah." ucap Ara menolak tawaran Clara.
"Beneran nih? Padahal aku lagi berbaik hati loh." ucap Clara.
"Iya Cla, aku naik taksi aja." ucap Ara masih kekeh dengan keputusannya. Bukan Ara namanya jika tidak keras kepala. Akhirnya Clara pun mengalah, ia berpamitan untuk pulang duluan. Ara terus berdiri untuk menunggu taksi onlnie yang sudah ia pesan.
Di seberang jalan, tedapat sebuah mobil. Pemilik mobil itu terus menatap Ara tanpa berkedip.
'Aku hanya bisa memandang bintang dengan keindahannya, namun aku tak bisa meraih dan memilikinya.'
Pria yang tak lain adalah Dio itu tersenyum masam. Ia menertawakan dirinya sendiri. Kehidupan yang ia jalani tak semulus kebanyakan orang. Dia memang memiliki harta dan kemampuan untuk membeli apapun. Namun ia tak bisa membeli sebuah kebahagiaan.
Dio terus memperhatikan Ara yang kini sudah masuk ke dalam taksi. Ia tersenyum dan mulai melajukan mobilnya.
"Aku masih bisa melihatnya setiap hari, sebuah keberuntungan untukmu Dio. Aku tak pernah menyangka jika dia memilih perusahaanku tempatnya magang, tapi itu sangat bagus. Aku bisa mengawasinya setiap hari." gumam Dio. Ia kembali tersenyum sambil menikmati suasana jalanan yang cukup ramai.
Di kamar, Ara sudah terlihat lebih segar. Ia membuka lemari untuk memilih baju yang akan ia pakai. Namun tangannya bergerak menuju pakaian Alan. Ia tersenyum dan mengambil salah satu kemeja milik suaminya. Ara bisa meraskan aroma tubuh Alan.
"Hubby, Ara pinjam baju hubby ya?" ucapnya kembali menutup lemari. Ara tersenyum sendiri saat melihat baju yang ia pakai terlihat kebesaran. Namun Ara sangat menyukainya. Di tambah lagi aroma Alan melekat disana.
Ara menjatuhkan dirinya di kasur. Hari ini cukup melelahkan. Kedua kakinya terasa pegal dan sakit. Mungkin karena ini kali pertama Ara bekerja. Saat Ara hendak menutup matanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ara langsung bangun dan mencari keberadaan ponselnya.
"Hubby." ucapnya dengan semangat. Ia mengambil ponselnya di dalam tas dengan terburu-buru. Benar saja, di layar terlihat dengan jelas jika Alan melakukan panggilan video. Dengan begitu semangat Ara menggeser tombol hijau.
"Hubby.." ucap Ara membuka pembicaraan. Ara benar-benar sangat senang bisa melihat wajah Alan.
"Sedang apa sayang?" tanya Alan menatap wajah Ara di balik telepon.
"Kangen hubby," ucap Ara tersenyum lebar. Alan ikut tersenyum.
"Apa itu? Sepertinya hubby kenal dengan apa yang kamu pakai?" tanya Alan. Ara tertawa dan mengangguk.
"Maaf, Ara pakai baju hubby. Soalnya Ara kangen aroma hubby. Jelek ya?" ujar Ara menatap wajah Alan di layar ponselnya.
"Kamu tetap cantik sayang. Apa hari ini melelahkan?" tanya Alan. Ara mengangguk pelan.
"Kaki Ara sakit semua, pinggang Ara juga serasa copot bi. Hubby sedang apa? Itu lagi dimana?" Alan terlihat sedang berada di sebuah ruangan.
"Hubby sedang menunggu Professor. Ini di kampus sayang." jawab Alan. Ara mengangguk.
"Kamu kelihatan ngantuk?" tanya Alan saat melihat mata sayu Ara. Ara mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan.
"Dengar suara hubby Ara jadi ngantuk, Ara merasa hubby ada disini." ucapnya. Matanya memang terasa sangat berat.
"Tidurlah, hubby temani." ucap Alan. Ara tak bersuara lagi. Matanya sesekali terpejam dan terbuka. Alan yang melihat itu tertawa.
"Aku ingin menciummu sayang." ucap Alan. Ara tersenyum dan memajukan bibirnya.
"Sudah Ara cium. Terasa tidak?" tanya Ara sambil tertawa.
"Tidak, kamu telalu jauh." ucap Alan. Ara tersenyum dan memejamkan matanya. Rasa kantuknya semakin menjadi. Alan tersenyum dan terus memperhatikan wajah sang istri. Rasa rindunya sedikit terobati, walaupun tak sepenuhnya. Tapi ia bahagia bisa melihat senyuman sang kekasih. Ara benar-benar terlelap, namun Alan masih setia menatap wajah ayu sang istri.
"Semoga mimpi indah sayang, aku mencintaimu." ucap Alan mencium ponselnya. Berharap Ara bisa meraskan hal itu.
__ADS_1