
Dimana ini? Kenapa tempatnya begitu asing? Sejak kapan aku berada disini? Ini kamar siapa?
Aku melihat kesekelilingnya, namun semuanya terlihat begitu asing. Namun tiba-tiba sebuah tangan melingkar diperutku. Aku tersenyum, itu pasti Alan. Dengan cepat aku membalikan tubuhku.
Astagfirullahal'azim. Kenapa dia? Dimana Alan? Aku mendorong tubuhnya dengan kasar. Bagaimana bisa dia ada dikamar ini bersamaku?
"Alan!" Aku berteriak sekuat mungkin, aku berharap Alan akan muncul dan membawaku pergi dari sini. Aku sedikit menjauh dari pria itu. Rasa takut mulai menyelimuti diriku.
"Kenapa kau memanggil nama orang lain. Disini hanya ada kita berdua, malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kita sayang." ujarnya berjalan mendekatiku. Aku semakin bingung. Apa maksud ucapannya?
"Jangan mendekat. Pergi! Alan, kamu dimana?" teriakku lagi. Aku berlari kearah pintu. Namun pintu terkunci. Aku semakin panik hingga sebuah tangan kembali melingkar diperutku. Aku meronta dan berusaha untuk melepaskan tangannya. Aku sangat takut. Alan, aku mohon tolong selamatkan aku. Aku mohon.
"Lepaskan, jangan sentuh aku. Lepaskan."
"Ara." pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Aku benar-benar ketakutan. Ya Allah, tolong lindungi Ara. Alan, kamu dimana?
"Lepaskan aku, lepaskan. Aku mohon." Aku berusaha melepaskan tangan itu yang semakin erat memelukku. Bagaimana bisa dia menyetuhku? Bagaimana jika Alan tahu, dia pasti akan sangat membenciku. Semua yang ada dalam diriku hanya milik Alan. Bukan pria ini.
"Ara, aku sangat mencintaimu."
Aku semakin panik saat tangan itu mulai menyetuh rambutku dan tidak...
"Alan... Tolong aku. Aku mohon, lepaskan...lepaskan... " teriakku semakin memberontak.
"Ara..Ara..." Alan, itu suara Alan. Aku menggedor pintu kamat sekuat mungkin.
"Alan, aku disini. Tolong aku Alan. Aku takut." Ada apa ini? Kenapa suaraku semakin kecil. Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Ara sangat takut. Sekuat tenaga aku terus meronta agar pria itu melepaskanku. Aku menutup mataku dan berharap Alan datang untuk menolongku.
"Ara, sayang. Bangun, Ara..."
Ku buka mataku perlahan. Dimana ini? Kenapa berbeda dari tempat yang tadi.
"Kamu mimpi?" Aku menatap wajah itu. Ya, itu Alan. Aku langsung memeluknya dengan erat. Rasa takutku kini sudah menghilang.
"Alan, kamu kemana aja? Ara takut, tadi...tadi... "
" Shuttt... Itu hanya mimpi buruk. Kita tidur lagi ya, ini masih malam."
Alan mendorong tubuhku perlahan. Ia menghapus air mataku dan mengecup kening ku begitu lembut. Lalu aku kembali mengingat pria tadi. Jadi itu hanya mimpi? Kenapa seperti nyata? Jika itu benar terjadi, tidak Ara. Itu hanya sebuah mimpi.
Aku menatap Alan. Dia tersenyum sambil mengelus pipiku. Aku menyetuh tangan nya yang membuat aku merasa aman dan begitu nyaman.
__ADS_1
"A.. Alan. Ara takut." ucapku kembali memeluknya. Bayangan itu terus melintas.
"Tidak perlu takut, aku ada disini." ucapnya mengelus punggungku.
"Alan, Ara boleh minta sesuatu?" tanyaku sambil mengeratkan pelukanku. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk bicara padanya.
"Minta apa sayang? Katakan."
"Alan, Ara... Jadikan Ara istri kamu seutuhnya. Ara mohon." ucapku. Tangisanku kembali pecah dalam dekapannya. Aku tidak perduli lagi dengan apa yang akan Alan pikirkan. Jika bisa, malam ini aku rela menyerahkan diriku seutuhnya pada suamiku. Aku tidak mau orang lain menyentuhku.
Kenapa Alan tidak bicara? Apa dia tidak mau melakukannya? Tapi kenapa?
"Alan, jika memang Alan mencintai Ara. Tolong jadikan Ara sebagai istri kamu seutuhnya malam ini." pintaku lagi. Jika memang Alan tidak mau melakukannya, dia harus bicara apa alasannya.
"Maaf Ara, aku tidak bisa." ucapnya mendorong tubuhku perlahan. Aku menatapnya lekat. Aku ingin tahu apa alasannya.
"Maaf, aku belum siap." ucapnya langsung beranjak pergi. Namun dengan cepat aku menahan tangannya.
"Katakan alasanya dengan jelas Alan. Jika alasan kamu karena kita belum lulus, aku akan menanggung risikonya Alan. Aku hanya takut, aku takut Alan." ucapku menatapnya yang masih membelakangiku.
"Maaf." ucapnya melepaskan tanganku dan langsung beranjak pergi. Ada apa denganya? Apa alasan sebenarnya yang membuat Alan tak mau menyetuhku? Aku ingin tahu dengan jelas.
Ya Allah, apa yang sebenarnya engkau rencanakan? Tolong berikan hamba sedikit petunjuk, agar hamba tidak memiliki pasangka buruk pada suami hamba.
Aku menatap benda yang melingkar di jari manisku. Apa ini semua palsu? Kenapa semuanya membuatku bingung. Apa benar Alan mencintaiku? Apa benar dia ingin menghabiskan hidupnya bersamaku? Tapi kenapa, kenapa dia membuatku kembali berfikir jika sebenarnya Alan tidak mencintaiku.
Aku kembali mengingat perkataan Alan. Dia tahu jika aku mencintainya. Apa dia menikahiku karena kasihan? Dan dia tidak benar-benar mencintaiku. Bunda, apa yang harus Ara lakukan?
Aku tidak tahu sudah berapa jam aku menangis. Saat ini aku hanya ingin istirahat karena mataku sudah lelah. Ku tarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku. Kenapa begitu sakit ya Allah?
Ku pejamkan mataku perlahan. Aku berharap besok Alan akan bicara dan menjelaskan semuanya.
***
Saat ku buka mataku. Aku sama sekali tak menemukan Alan. Ku sentuh bantalnya. Tidak ada lagi kehangatan. Jadi Alan tidak kembali.
Aku bangun dari tempat tidur. Ku lihat jam dinding. Ya Allah, aku telat solat subuh. Aku langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah selesai solat, aku langsung beranjak keluar. Mungkin Alan sudah ada di bawah.
"Pagi kak Ra, kak Alan mana? Mata kakak kenapa bengkak?" tanya Arin yang baru keluar dari kamar. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
__ADS_1
"Kakak kebawah dulu." ucapku langsung meninggalkan Arin. Aku tahu, dia pasti bingung. Saat ini aku sedang tidak mood bicara.
Aku menuruni anak tangga dengan malas. Semangatku hilang entah kemana. Ingin sekali rasanya aku diam dikamar. Tapi hal itu tidak akan membuat masalah terselesaikan. Aku pun berjalan menuju ruang makan. Ternyata mama sudah ada disana.
"Pagi sayang, ayok sarapan dulu." ucap mama. Aku mengangguk dan duduk ditempat biasa.
"Oh iya, Alan tadi bilang katanya dia ada urusan mendadak. Dia ada bicara sama kamu kan?" ucap mama yang berhasil membuatku terkejut.
"Em, belum ma. Mungkin tadi Ara masih tidur." ucapku sedikit gugup. Aku tidak mau mama tahu jika aku dan Alan ada sedikit masalah.
"Owh, ya sudah. Mama kekamar dulu, urus papa kamu dulu." ucap mama. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Pagi non. Itu mata non kenapa bengkak? Non habis nangis?" tanya bibik sambil menuangkan jus di gelasku.
"Enggak kok bik, Ara sudah biasa seperti ini." ucapku berbohong. Aku meneguk jus dengan pelan.
"Non tidak perlu bohong sama bibik. Setiap rumah tangga itu pasti ada cobaan non. Apa lagi baru-baru nikah, bibik kan pernah juga diposisi non. Hanya saja setiap orang berbeda-beda menanggapinya. Non harus banyak sabar. Kita sebagai istri harus pandai menghadapi masalah dalam rumah tangga. Insha allah semuanya aman non."
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan bibik. Bagaimana mungkin bibik bisa tahu aku dan Alan sedang ada masalah.
"Saya kenal den muda dari kecil, dia memang seperti itu jika ada masalah. Dia akan menyendiri beberapa waktu. Jadi jangan khawatir, sebentar lagi den muda pulang kok." imbuh bibik. Hah, aku pikir aku sudah tahu betul seperti apa suamiku itu. Tapi ternyata ada yang lebih faham tentangnya.
"Iya bik, terimakasih atas nasihatnya. Ara akan berusaha untuk memperbaiki setiap masalah yang datang." ucapku kembali meneguk jus. Aku menghela napas pelan.
"Bik, Ara pamit kekamar dulu ya. Jika mama tanya, katakan saja Ara sudah sarapan. Ada yang harus Ara kerjakan." ucapku bangun dari tempat duduk.
"Tapi non, apa perlu bibik bawa makanan ke kamar?"
"Tidak usah bik, Ara juga harus kekampus." ucapku langsung beranjak pergi. Nafsu makanku pun mendadak hilang saat mendengar Alan pergi tanpa pamit padaku.
Ku jatuhkan tubuhku diatas kasur.
Kenapa jadi seperti ini sih? Apa aku memang salah ya? Tapi Alan juga salah, kenapa dia tidak menjelaskan semuanya dengan rinci. Jika seperti ini aku jadi bingung.
"Mungkin aku harus kasih Alan waktu. Sudah lah, aku harus ke kampus." ucapku yang langsung beranjak menuju kamar mandi.
Jika Alan pulang, aku akan bertanya dengan baik- baik.
'Ingat sayang, dalam setiap hubungan itu pasti akan ada kerikil kerikil yang harus kita lewati. Komunikasi dan kepercayaan adalah hal paling penting. Jadi jangan pernah mengambil kesimpulan dan keputusan sediri. Diskusikan dan tanggapi dengan hati dingin.'
Ucapan bunda sebelum aku nikah dulu, kini kembali terngiang. Bunda benar. Aku akan menunggu Alan pulang. Semuanya tidak boleh terlalu lama dan berlarut-larut. Sepertinya aku yang harus meminta maaf. Ini semua karena mimpi itu. Semoga itu hanya mimpi buruk dan bukan pertanda apapun.
__ADS_1