
LDR itu berat. Tapi jika dijalankan dengan hati yang iklas, semuanya akan terlewati dengan mudah. Perpisahan itu perlu, agar tahu bagaimana indahnya rasa rindu. Betapa dahsyatnya saat hati yang saling merindu kembali bersatu. Warna kelabu akan berganti dengan ribuan kupu-kupu.
~Ketulusan Hati 2~
Perutku terus memberontak meminta untuk segera diisi. Sejak siang tadi aku sangat malas turun. Padahal nenek dan trio rusuh terus memanggilku. Tapi aku benar-benar malas keluar dari kamar. Moodku hilang seketika saat Alan memberi kabar jika dalam minggu ini ia tidak bisa menghubungiku. Bahkan bisa saja Alan akan sibuk sampai bulan depan.
Namun aku mengenyampingkan rasa egoku. Bagaimanapun aku harus menjaga kesehatan. Jika aku sakit, Alan pasti akan cemas dan mengganggu aktivitasnya disana. Semangat Ara, kamu pasti bisa melewati semuanya.
"Eh, turun juga akhirnya. Sudah puas gelut sama gulingnya?" tanya Rizka. Aku sama sekali tak menanggapinya. Aku beranjak menuju dapur.
"Sudah dari tadi nenek suruh makan, jam segini baru keluar dari kamar. Ada apa huh? Tidak mungkin cucu nenek marah karena masalah tadi siang kan?" Aku menatap nenek sendu. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku.
"Kenapa? Kamu rindu Alan?" tanya nenek. Aku mengangguk. Nenek menghampiriku dan membawaku duduk dikursi.
"Sabar, hanya sedikit lagi kalian akan bisa kembali bersama. Memang dalam rumah tangga itu pasti di bumbui dengan cobaan dan rintangan. Dan ini semua adalah cobaan untuk kalian, jika bisa melewati semuanya. Rumah tangga kalian akan bertambah satu tingkat. Tapi ingat sayang, semakin tinggi tingkatan. Maka akan semakin banyak masalah yang akan melanda. Seperti pohon misalnya, semakin tinggi dia tumbuh. Maka semakin kencang angin yang akan menerpa pohon itu." ujar nenek. Aku tersenyum mendengar pemaparan nenek. Aku baru tersadar, bunda dan nenek begitu banyak kemiripan.
"Terimakasih nek, Ara akan selalu mengingat ucapan nenek." ucapku memeluk nenek dengan erat.
"Ya sudah, sana makan dulu. Kamu harus sehat, jangan terlalu kurus. Itu akan mempersulit kehamilan." ujar nenek. Aku tertawa saat mendengar kata 'hamil'. Rasanya aku harus bersabar untuk menunggu kehadirannya kembali. Aku akan selalu menunggu dan menantikannya.
"Doakan Ara selalu nek." ucapku mencium pipi nenek. Nenek tersenyum dan mengecup keningku. Harapanku hanya satu, yaitu ingin terus berkumpul seperti ini. Benar yang di nyanyikan oleh BCL, jika harta yang paling berharga adalah keluarga.
Setelah selesai makan malam aku ikut bergabung dengan seluruh keluargaku yang tengah bercanda ria. Terutama si kembar yang selalu membuat keributan.
"Eh, kakak tertua sudah hadir. Udah kenyang kak seharian gak makan? Berapa kali nambah?" ujar Rizki sambil senyum-senyum tak jelas. Aku mengerucutkan bibirku dan duduk disebelah papah. Aku menyandarkan kepalaku di bahu papah.
"Ekhmmm... Yang LDR-an galau ya?" seru paman Haikal.
"Udah rindu berat tu pa. Hampir setahun kurang di belay sama My hubby " ujar Rizki. Anak ini kalau sekali saja tak buat masalah tidak bisa apa? Bikin kesel aja.
"Berisik." ketusku. Aku menarik tangan papah dan memeluknya. Aku sangat merindukan papah.
"Kak, udah nikah juga masih aja manja sama papah." Kini my little brother ikut bicara. Gini nih kalau sudah datang dua virus, pasti Azka bakal ketularan.
"Biarin, lagian ini kan masih papah kakak dek. Kamu iri ya gak pernah manja dengan papah?" ledekku. Aku bisa melihat Azka memasang wajah kesal. Hihi... Biarin aja, siapa suruh dia bikin aku kesal.
"Bagaimana kuliah kamu sayang?" tanya papah mengelus kepalaku. Aku menatap papah dan tersenyum.
__ADS_1
"Lancar pah, Ara tinggal menyelesaikan skripsi Ara sedikit lagi." jawabku. Papah tersenyum sambil merangkulku.
"Ara, bagaimana kabar Alan?" tanya tante Syila.
"Baik tan, hanya saja Alan sangat sibuk dengan risetnya. Alan ingin menyelesaikan kuliahnya satu tahun setengah, jadi dia harus kejar target." jawabku. Tante Syila mengangguk.
"LDR itu berat. Tapi jika dijalankan dengan hati yang iklas, semuanya akan terlewati dengan mudah. Perpisahan itu perlu, agar tahu bagaimana indahnya rasa rindu. Betapa dahsyatnya saat hati yang saling merindu kembali bersatu. Warna kelabu akan berganti dengan ribuan kupu-kupu."
Aku tak percaya dengan perkataan paman Haikal yang begitu puitis. Tapi setiap ucapannya memang benar.
"Wow, sepertinya papa sudah bisa tuh buat syair. Mantap banget perkataan papa. Setuju gak ka?" ujar Rizki merangkul Rizka.
"Hmmm... Boleh juga. Tapi sejak kapan papa bisa bersyair? Biasanya kan yang papa tahu hanya alat rumah sakit dan penyakit... Ayok pa jawab, dari mana papa belajar?"
Aku tertawa saat mendengar pertanyaan Rizka. Semua orang ikut tertawa, hingga suasana rumah pun semakin hangat.
"Dari mama kamu..." ujar paman merangkul tante Syila. Semua orang kembali tertawa. Aku melihat kearah bunda yang tengah menghidangkan cemilan. Aku bangun dan ikut membantu bunda.
"Wah, ini kue yang dulu itu kan? Apa sih namanya? Ara lupa?" tanyaku saat melihat kue ringan khas Aceh. Dulu sempat tante bilang apa nama kuenya, tapi aku lupa.
"Keukarah, dan yang ini namanya kue bhoi." ujar Rizka sambil menyantap kue bhoi yang ia maksud. Kue bhoi itu sejenis bolu, tapi banyak bentuknya. Kebanyakan sih bentuk ikan yang tante bawa.
"Kak Ra, besok sibuk gak?" tanya Rizka. Aku menggeleng karena mulutku masih penuh dengan kue.
"Em, temani kaka ya? Beli keperluan kuliah yang masih kurang." ujarnya sambil menatapku penuh harap.
"Emmm...gimana ya?" ucapku pura-pura berpikir.
"Ih kak, ayo dong please. Mau ya? Nanti kaka traktir deh. Apapun yang kak Ra mau." ujarnya sambil menggoyangkan tanganku.
"Iya bawel, tapi besok kamu harus traktir makanan di restoran Jepang ya? Udah lama gak makan disana." ujarku sambil memainkan kedua alisku.
"Ok Sipp, yang penting kakak harus nemenin aku keliling Mall." ujarnya memelukku begitu erat. Kalau ada maunya aja pasti lengket.
"Iya, sana ah jangan deket-deket nanti ketularan virus gila dari kamu lagi." ujarku sambil terkekeh. Rizka mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa dan mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Sakit kak, merah nanti pipi kaka." rengeknya sambil mengelus-ngelus pipinya.
__ADS_1
"Kiki, pipi kaka merah kan?" tanya Rizka mengadu pada si kacamata.
"Iya, kayak tomat busuk." ujar Rizki yang disambut tawa oleh semua orang. Aku merangkul Rizka dan memeluknya dengan erat.
"Malam ini temani kakak tidur ya? Siapa tahu aja kamu butuh teman curhat." ujarku sambil menoel pipinya.
"bilang aja kak Ra yang mau curhat kan?" tanyanya. Dengan cepat aku menggeleng, memangnya apa yang mau aku curhatkan?
"Bosan tidur sendiri, jadi kamu temenin ya?" pintaku lagi.
"Iya deh, tapi malam ini aja ya?" ucapnya. Aku sangat senang.
"Ara, Rizka. Pijat kaki kakek." titah kakek, aku dan Rizka pun langsung menghampiri kakek. Sejak kecil aku dan Rizka memang sudah sering memijat kaki kakek. Jadi dengan senang hati kami akan menuruti keinginannya.
"Kek, sudah lama kita tidak pijat kaki kakek. Kalau rasanya beda, mohon dimaafkan ya kek." ujarku sambil membalurkan minyak zaitun di kaki kakek.
"Em, sejak kecil tidak pernah berubah. Kalian memang luar biasa." ujar kakek yang kami sambut dengan tawa. Canda tawa kami terus berlanjut hingga kantuk mulai menyerang dan pada akhirnya semua orang bubar satu persatu.
***
"Kak, kok bisa sih kakak suka dengan kak Alan? Ceritain dong tentang kisah cinta kalian."
Aku tersenyum mendengar ocehan Rizka yang tiada henti sejak tadi. Katanya gak mau curhat, eh ternyata beribu kata dia curahkan.
"Emm...kisah cinta kami biarlah jadi rahasia. Yang jelas, kakak sangat mencintai Alan dan begitu pun sebaliknya. Yang pasti, jika memang benar-benar cinta. Harus membuktikannya dengan perbuatan, jangan hanya dengan kata-kata manis."
"Kami tidak melewati masa pacaran, walaupun sejak kecil kami selalu bersama yang terikat dengan sebuah kata sahabat, hingga pada akhirnya menjadi sahabat sehidup semati." jelasku. Aku melihat Rizka yang terdiam sambil menatap langit-langit. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.
"Kak, apa benar cinta itu indah dan selalu membuat hati senang?" tanyanya. Aku tersenyum.
"Ya, cinta itu memang indah. Cinta selalu menghadirkan kebahagiaan. Tapi banyak orang yang salah mengartikan cinta dan menyalahkan cinta saat sedang patah hati. Padahal mereka lah yang salah menempatkan cinta. Cinta sejati tak pernah menyakiti hati, karena cinta tak harus memiliki." ujar ku. Membayangkan seperti apa itu cinta, aku ingin terus tersenyum. Ku pejamkan mataku, yang pertama aku lihat adalah wajah suamiku. Betapa manisnya saat ia sedang tersenyum. Aku menyetuh dadaku yang berdegup kencang.
"Kak Ra dan kak Alan sangat beruntung. Kalian sudah dipertemukan sejak kecil dan terus bersatu hingga saat ini." ujar Rizka. Aku memiringkan tubuhku agar bisa menatapnya lekat.
"Itu namanya takdir, tidak ada yang tahu siapa jodoh kita. Mungkin orang yang begitu dekat dengan kita, orang yang sama sekali tak pernah kita duga, orang yang pernah kita benci dan bahkan orang yang selalu kita impikan. Semua itu tergantung dari ketulusan hati untuk menerima siapapun jodoh kita." ujarku. Rizka ikut memiringkan tubuhnya. Aku bisa melihat netra matanya dengan jelas. Sepertinya dia sedang jatuh cinta.
"Semoga takdir Rizka sama seperti kakak, mendapatkan apa yang selalu kita impikan." ujarnya menyentuh pipiku.
__ADS_1
"Aamiin.. Yang jelas, saat ini perkuat doa kamu. Dan ingat, jangan menaruh harapan pada manusia. Tapi memohon dan berharaplah pada sang maha pencipta. Yakin lah, Allah tidak pernah tidur." ujarku mencubit pipinya pelan. Lalu kami pun tersenyum dan saling memandang. Lalu kantuk pun mulai menyerang, ku pejamkan mataku untuk menyambut mimpi indah. Berharap esok adalah hari yang lebih baik dari hari sebelumnya.