Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 45. Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Di parkiran kampus Ara terlihat baru saja keluar dari mobilnya. Namun baru beberapa langkah ia sudah dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menyetuh lengannya. Ara langsung berbalik.


"Astagfirullah," seru Ara saat tahu lengannya disentuh oleh seorang pria. Ia melepaskan tangan pria itu dengan kasar. Ara menatap pria itu dengan tajam.


"Jangan pernah menyentuh saya lagi, saya seorang wanita yang sudah bersuami. Jadi tolong hargai saya." Ara menangkup kedua tangannya di dada. Ia sangat kesal dengan sikap pria yang saat ini masih berdiri di hadapannya.


"Mau apa anda kesini? Jika ada sesuatu tolong katakan dengan cepat." ujar Ara datar. Pria itu tersenyum getir.


"Aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintaimu Ara. Aku tahu ini salah, tapi aku selalu berusaha untuk melupakanmu. Tapi aku tidak bisa, aku sangat mencintaimu." Pria itu menatap Ara penuh harap. Ara terus beristigfar. Ia menarik napas panjang.


"Maaf pak, saya tidak pernah marah jika bapak mencintai saya. Karena itu fitrah semua menusia. Tapi saya sudah menikah dan memiliki suami. Jika memang bapak benar-benar mencintai saya, tolong jangan ganggu kehidupan saya. Cinta tak harus memiliki. Maaf, saya tidak bisa berlama-lama." ujar Ara langsung melangkah pergi. Pria itu hanya bisa diam sambil menatap punggung Ara yang semakin menjauh.


"Aku tidak akan menganggumu lagi, aku hanya ingin kau tahu jika aku tulus mencintaimu. Aku hanya ingin memastikan kau bahagia Ara." ujar pria itu yang tak lain adalah Dio. Ia menghela napas berat, ia melangkahkan kakinya dengan gontai.


Sedangakan Ara terduduk lesu di depan ruang dosen. Ia menautkan kedua tangannya.


"Astagfirullahal'azim, Ara minta maaf ya Allah. Ara tidak pernah tahu jika pak Dio benar-benar nekad." Ara terlihat gusar dan sesekali menarik napas panjang. Ia benar-benar takut jika hal ini akan menjadi fitnah dan menimbulkan bumerang dalam rumah tangganya. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa gelisah di hatinya.


Tap! Ara sangat terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.


"Ada apa?" tanya seorang wanita cantik menatap Ara lekat.


"Cla, bagaimana ini? Pak Dio datang lagi." ujar Ara menatap Clara sendu. Clara sangat terkejut mendengar perkataan Ara. Pasalnya beberapa hari yang lalu pria itu pun datang kekampus hanya untuk menanyakan kabar Ara.


"Gila tu orang! Udah gak waras apa? Udah tahu bini orang masih tetap di ganggu. Udah gak usah dipikirin, sekarang kita masuk. Prof. Nia sudah menunggu kita." ujar Clara merangkul Ara. Ara mengangguk pelan. Lalu mereka pun masuk kedalam ruang dosen untuk konsultasi masalah skripsi.


***


Di depan sebuah rumah yang cukup besar terlihat seorang pria turun dari mobil. Penampilannya sangat berantakan. Jas yang biasa ia kenakan kini sudah tersampir di lengannya. Dasi yang ia kenakan sudah tak jelas lagi bentuknya dan beberapa kancing kemejanya terbuka. Ia berjalan dengan sempoyongan.Pria itu membuka pintu dengan kasar.


"Dio? Apa-apaan kamu ini? Kamu mabuk?" suara baritone itu memenuhi seisi rumah. Dio hanya tersenyum getir dan tak menghiraukan perkataan sang papa.


"Dio!" kini suara itu semakin meninggi. Pemilik nama pun menoleh dan menatap sang papa sebentar. Lalu ia pun kembali berjalan menuju kamarnya.


"Dengar Dio! Jika kamu setiap hari terus seperti ini, jangan salahkan papa untuk menggantika posisi kamu di perusahaan. Papa tidak pernah main-main Dio." Dio menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap sang papa.


"Hahaha,,, ambil aja pah. Lagian dari awal perusahaan itu bukan milik Dio. Dio bukan anak papa kan? Jadi terserah papa. Ambil pa, ambil semua yang Dio punya. Dio punya segalanya, tapi tak pernah mendapatkan cinta dari papa kandung Dio ataupun orang yang Dio cintai. Jadi buat apa semua itu, Dio tak butuh!" Ujar Dio dengan air matanya mulai menetes. Ya, hanya setetes. Ia menjatuhkan tubuhnya dilantai. Bayu Prima Raheshwari, Papa Dio pun berjalan menghampiri putranya.

__ADS_1


"Kenapa pa? Kenapa nasib Dio seperti ini? Papa bukan papa kandung Dio dan Dio juga sudah kehilangan cinta Dio. Kenapa tuhan tidak adil. Kenapa pa?" Dio menangis meratapi nasibnya yang begitu malang. Bayu merasa iba melihat putranya terpuruk seperti ini. Bayu memeluk Dio begitu erat.


"Kamu anak papa Dio, anak kandung papa." ujar Bayu. Dio sangat terkejut, ia langsung melepaskan pelukan sang papa.


"Apa maksud papa?" tanya Dio menatap Bayu lekat. Bayu menunduk.


"Kamu anak papa, anak kandung papa. Papa minta maaf menyembunyikan semuanya dari kamu dan juga mama kamu."


PRANKK...


Bayu dan Dio sangat terkejut saat mendengar suara percahan kaca. Mereka pun langsung melihat kesumber suara. Bayu sangat terkejut saat melihat Hilda sudah berdiri di sana. Di lantai sudah berserakan pecahan gelas.


"Jadi kamu orang itu mas? Jadi itu kamu?" bibir Hilda bergetar karena tak bisa menahan rasa sakit dari luka lama yang kembali terbuka. Bayu bangun dan menghampiri Hilda. Namun dengan cepat Hilda menghindar.


"Kamu jahat mas, selama ini kamu menyembunyikan semuanya. Jadi aku menikahi pria yang sudah menghancurkan kehidupanku? Ya Allah, apa lagi ini?" teriak Hilda terduduk lesu. Dio yang melihat itu langsung berlari menghampiri Hilda. Dia mengangkat tubuh Hilda untuk bangun.


"Maafkan aku Hilda, sudah lama aku ingin mengatakan ini. Tapi, aku takut. Aku takut kalian akan marah dan meninggalkanku. Benar saja, kalian marah padaku bukan? Aku minta maaf. Tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu. Setelah itu terserah kalian mau pergi meninggalkan aku atau tetap disini. Aku tak akan memaksa, karena pada akhirnya semua kebenaran akan terungkap." Bayu menatap Hilda dan Dio penuh harap. Hilda menangis di pelukan Dio.


Dio menatap Bayu lekat. Lalu ia mengajak Hilda untuk duduk di sofa. Bayu menghela napas panjang dan mengikuti mereka dari belakang.


Cukup lama suasana ruangan tampak hening. Tak ada pembicaraan sama sekali.


"Hilda, aku minta maaf. Aku lah orang yang telah merenggut kesucianmu. Aku tahu kamu tidak akan memaafkan kesalahanku. Tapi aku akan tetap meminta maaf." ujar Bayu berlutut dihadapan Hilda. Ia meraih tangan sang istri, namun dengan cepat di tepis oleh Hilda. Hatinya benar-benar sakit, luka lama yang sudah ia kubur dalam-dalam kini terbuka kembali.


"Aku memang brengsek. Saat itu aku mabuk, aku begitu frustasi karena orang yang aku cintai lebih memilih orang lain. Aku tidak sengaja melakukan itu semua, aku minta maaf. Setelah kejadian itu aku terus dihantui rasa bersalah. Aku terus mencari siapa wanita itu. Empat tahun aku terus mencari kamu Hilda, tapi aku benar-benar tak menemukan dirimu.


Lalu aku mulai lelah dan menyerah, hingga pada akhirnya bertemu dengan seorang wanita. Dia berhasil membuatku sendikit melupakanmu, hanya sedikit. Kami menjalani hubungan yang lebih serius. Namun tak disangka, dia juga menghianatiku. Ternyata ia sudah memiliki kekasih. Aku tidak tahu jika dia adalah kekasih seorang pemegang saham terbesar di Indonesia. Perusahaanku yang terbilang kecil pun hancur berantakan akibat hubungan itu. Aku kembali terpuruk, hingga aku bertemu denganmu Hilda. Kau yang menolongku saat aku ingin mengakhiri hidupku. Kau membawa perubahan dalam hidupku.


Aku terus mencari siapa dirimu sebenarnya. Sehari sebelum aku melamarmu, aku mengetahui jika kau adalah wanita yang selama ini aku cari. Aku sangat bahagia. Aku ingin mengatakan ini sejak lama, tapi aku mendengar jika kau sangat membenciku. Aku mengurungkan niatku, aku takut kau juga akan meninggalkan aku. Aku menyembunyikan semuanya hingga saat ini. Aku minta maaf Hilda. Aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu." Bayu menunduk lesu. Ia benar-benar akan kehilangan hidupnya. Inilah yang ia takutkan jika berkata jujur.


"Apa kamu tahu mas? Sejak lama aku ingin sekali membunuh pria brengsek itu. Aku ingin membunuhnya karena dia sudah menghancurkan hidupku. Aku membecinya, sangat membecinya." ujar Hilda menatap Bayu tajam. Bayu memejamkan matanya, ia akan menerima konsekuensinya. Ia sudah siap apapun yang akan terjadi.


Sedangakan Dio, ia hanya terdiam membisu. Ia masih dipengaruhi oleh minuman, namun ia masih setengah sadar dengan apa yang terjadi.


"Maafkan aku, kau bisa membunuhku sekarang. Aku menerimanya." ucap Bayu menatap Hilda lekat. Hilda yang sudah di banjiri air mata hanya bisa diam.


"Bunuh aku sekarang, jika itu membuat hatimu tenang dan bahagia. Aku mencintaimu Hilda." ujar Bayu menggenggam tangan Hilda. Hilda kembali menarik tangannya.

__ADS_1


"Sebelum aku mati, aku akan mengatakan kebenaran lainnya. Sebenarnya aku juga memiliki anak dengan wanita lain. Dia anak dari wanita yang sudah menghancurkan hidupku. Seminggu setelah pernikahan kita, dia datang padaku. Dia mengatakan jika dia hamil anakku. Tapi aku tetap memilihmu, karena aku sudah jatuh cinta padamu. Aku memang pria brengsek Hilda, aku pantas mati. Bunuh aku sekarang, bunuh!" Bayu menarik tangan Hilda dan memukul wajahnya sendiri. Hilda menarik tangan suaminya dan memeluknya dengan erat.


"Aku sudah melukaimu, aku pantas mati. Bunuh aku hilda, bunuh aku. Aku sudah melukai kalian, aku pria brengsek." Bayu menangis pilu dalam dekapan Hilda.


"Cukup! Kamu memang sudah melukai aku dan Dio, mas. Aku sangat kecewa padamu. Tapi kamu tidak bisa mati sekarang, karena aku tidak mungkin melahirkan anak tanpa ayah." ujar Hilda yang berhasil membuat Bayu dan Dio terkejut. Bayu mendorong tubuh Hilda perlahan. Ia menatap sang istri penuh tanda tanya.


"Aku hamil mas, aku tidak pernah menyangka di usiaku saat ini masih bisa mengandung." ujar Hilda menghapus air mata Bayu. Bayu terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin di usianya yang hampir menginjak kepala lima ia akan memiliki anak lagi.


"Terimakasih." ucap Bayu memeluk Hilda begitu erat.


"Lepaskan mas, aku masih marah padamu. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan semua kebenaran selama ini. Jika kamu mengatakan ini dari awal aku akan lebih senang, aku menghargai usaha kamu untuk bertanggung jawab padaku. Aku hanya mengira pria itu adalah pria brengsek, tapi nyatanya.. Dia memang brengsek."


Bayu tersenyum mendengar ocehan istrinya. Ia kembali memeluk sang istri dengan penuh kelembutan.


"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." ucap Bayu mencium kening Hilda. Hilda mengangguk pelan.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kalian memikirkan bagaimana perasaanku? Huh, bahkan semuanya mempermainkan aku. Aku benci semuanya." ujar Dio bangun dari duduknya. Ia berjalan sedikit sempoyongan.


"Dio, ada yang ingin papa sampaikan padamu." ujar Bayu yang berhasil menghentikan langkah Dio.


"Kamu harus membantu papa untuk bicara pada adik kamu. Bagaimana pun papa masih punya tanggung jawab padanya. Papa hanya ingin membahagiakan kalian semua." ujar Bayu. Dio tersenyum getir, lalu ia melanjutkan langkahnya.


"Dia bernama Arlan Digantara. Anak dari keluarga Digantara adalah adikmu." ujar Bayu. Langkah Dio kembali terhenti saat mendengar nama itu. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Bayu tajam.


"Apa maksud papa? Alan? Dia adikku? Suami dari orang yang aku cintai?" tanya Dio. Bayu menghela napas panjang. Ia mengangguk pelan. Hilda ikut tekejut mendengar hal itu. Ternyata begitu banyak yang suaminya sembunyikan. Dio tertawa nyaring, ia berjalan menuju kamarnya sambil terus tertawa.


"Dunia benar-benar mempermainkan aku... Aku benci semuanya... " teriak Dio. Bayu sangat merasa bersalah pada putra sulungnya. Ia adalah sumber masalah untuk keluarganya. Bayu berbalik menatap Hilda.


"Ini semua salahku. Aku tidak akan menyangkal jika kalian membenciku." ujar Bayu melangkah pergi. Hilda memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia menyusul suaminya ke kamar. Mungkin ia adalah satu-satunya yang bisa menenangkan suami dan anaknya. Bagaimanapun Bayu adalah suaminya, masalah suaminya juga masalahnya.


***


"Ara, kamu harus memperbaiki bagian pendahuluan dan pembahasan. Disana ada beberapa kata yang salah. Untuk yang lain cukup baik dan bahasanya sudah mantap. Lusa saya akan merivew lagi skripsi kamu." ujar Professor Nia.


"Baik Prof, besok lusa akan saya selesaikan. Terimakasih atas waktunya." ucap Ara tersenyum ramah.


"Cepat selesaikan, tidak baik seorang istri terus berjauhan dengan suami. Saya tahu kamu sudah tidak sabar untuk cepat lulus. Saya pernah berada di posisi kamu Ara." Professor Nia tersenyum saat melihat pipi Ara yang merona.

__ADS_1


"Saya akan berusaha untuk lebih cepat Prof. Benar, saya memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suami saya. Itu sangat menyakitkan." ujar Ara tanpa sungkan. Mereka memang sudah cukup dekat, ditambah Ara merupakan mahasiswa yang cukup aktif dan banyak di gemari oleh para dosen.


"Sedikit lagi, setelah itu jangan lepaskan dia." Ara tertawa renyah mendengar ucapan sang dosen favoritnya itu. Sudah menjadi hal biasa jika mereka mengobrol masalah pribadi. Keduanya sudah sperti ibu dan anak. Benar apa kata orang, guru adalah ibu pengganti saat kita di sekolah.


__ADS_2