Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 61. Pertemuan yang di rencanakan


__ADS_3

"Papa, Arin gugup. Ini pertama kali Arin ikut acara besar, bagaimana jika Arin mempermalukan papa?"


Si gadis cantik berbalut gaun maroon itu terlihat gugup. Sedari tadi Ia terus mengigit jari telunjuknya. Sebuah tangan hangat dan kekar menyentuh pundaknya.


"Jangan khawatir, kamu anak papa. Papa yakin kamu bisa," ujar Arnold sang papa seraya mencium pucuk kepala putrinya. Arin masih terlihat gugup, sesekali ia melirik sang papa yang sedang asik dengan ponselnya.


"Pa, apa semua klien papa akan hadir? Termasuk kak Dio?" tanya Arin sedikit ragu. Bodoh, kenapa kau menanyakan itu Arin? Bagaimana jika papa tahu? Batin Arin.


"Ya, semua klien kita akan datang. Memangnya kenapa?"


Arin terlihat semakin gugup.


Apa aku bilang aja sama papa, jika aku menyukai kak Doi. Ish, bagaimana jika papa marah?


Arin memukul keningnya pelan, ia melirik sang papa dengan ekor matanya. Masih sama, sang papa terus pokus pada ponselnya. Arin membenarkan posisi duduknya, ia menatap lurus kedepan.


"Pa, Arin menyukai kak Dio."


Arnold sedikit tersentak, ia menatap putrinya lekat-lekat. Arin menundukkan kepalanya, ia sangat takut jika Arnold akan marah padanya.


"Jadi anak papa sudah dewasa?" ucap Arnold yang berhasil membuat Arin terkejut. Ia langsung menatap netra sang papa dalam-dalam.


"Jika seperti itu pejuangkan, papa tidak bisa membantu masalah pribadi kamu. Tapi papa akan selalu mendukung apapun keputusan kamu," lanjut Arnold seraya mengusap kepala Arin dengan lembut. Arin tersenyum senang. Ia langsung memeluk Arnold.


"Terimakasih pa," ucap Arin. Arnold tersenyum. Kecupan hangat ia hadiahi pada putri satu-satunya.


"Tapi ingat, jangan pernah menjatuhkan marwah kamu sebagai seorang wanita. Berjuanglah sewajarnya, ingat?"


Arin langsung mengangguk antusias. Arnold kembali mengecup pucuk kepala putrinya. Saat ini hati Arin sedang berbunga-bunga. Ia benar-benar bahagia, Arnold memberikan lampu hijau padanya.


Arin dan Arnold saat ini sudah tiba di sebuah hotel tempat dimana acara berlangsung. Arin terus tersenyum sambil menggandeng tangan papanya.


"Wah, besar sekali pa acaranya? Memangnya acara apa sih pa?" tanya Arin sambil terus memperhatikan sekeliling.


"Perayaan atas kemenangan tender terbesar, jadi karena itu papa mengundang semua orang."


Arin mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya terus menyelisik seluruh penjuru, berharap menemukan sosok yang sangat ia rindukan. Namun sayang, ia tak menemukan sosok itu.


Arnold membawa Arin pada rekan kerjanya. Ia memperkenalkan putri cantiknya pada semua orang. Arin terlihat sangat bahagia. Ia ikut menyalami rekan kerja sang papa dan menyayapanya dengan sopan.


"Pa, Arin haus. Arin kesana sebentar ya?" ucap Arin sedikit berbisik. Arnold mengangguk. Arin pun langsung bergegas untuk mengambil minuman, karena ia benar-benar sangat haus.


Arin mengambil minimum yang ia sukai, lalu meneguknya perlahan.


"Huh, banyak sekali rekan kerja papa. Aku sampai haus karena menyapa mereka," omelnya seraya mengambil beberapa kue yang membuat perutnya berontak.

__ADS_1


"Arin," panggil Arnold. Arin yang sedang menikmati kue pun langsung menoleh. Hampir saja ia tersedak. Bagaimana tidak, saat ini Arnold sedang berjalan ke arahnya dengan seseorang yang sadari tadi Arin cari. Kaki Arin seketika lemas, tanganya sedikit bergetar.


Arin tersadar. Ia meletakkan piring dan gelasnya diatas meja. Ia merapikan penampilannya dan berusaha untuk tenang. Arin menarik ujung bibirnya, hingga terlihat lubang manis di pipi kanannya.


"Arin," ucap Arin mengulurkan tangannya.


"Ardio, sepertinya kita pernah bertemu?" balas Dio menatap Arin lekat. Arin tersenyum kikuk.


Arnold menggelengkan kepalanya. Lalu ia beranjak pergi untuk menemui beberapa rekannya yang lain.


"Ya, pertama kali kita bertemu di bandara."


Dio sedikit berpikir, bukan hanya sekali ia pergi ke bandara. Jadi ia lupa akan pertemuan dirinya dan Arin.


"Kopi, anda menumpahkan kopi di baju saya saat itu," jelas Arin. Dio membulatkan matanya saat kembali mengingat kejadian yang sudah cukup lama.


'Lumayan juga ingatan gadis ini,' gumam Dio dalam hati.


"Sapu tangan saya?" tanya Dio.


"Ah iya, saya simpan di rumah. Saya kira kita tidak akan bertemu," alibinya. Padahal pertemuan ini adalah rencananya.


"Oh, tidak jadi masalah. Simpan saja," balas Dio. Arin tersenyum dan mengangguk. Keduanya terdiam sesaat.


"Jadi kamu adiknya Alan?" tanya Dio. Arin kembali mengangguk.


"Hmmm... Jika tidak keberatan," ucap Arin. Padahal dalam hatinya ia sangat keberatan.


'Sabar Arin, semua butuh proses.'


"Tentu tidak, kau sangat imut dan lucu. Aku sangat senang mempunyai adik, kebetulan adik kecilku juga perempuan." ujar Dio. Arin sangat terkejut.


'Jadi kak Dio punya adik lagi? Selain kak Alan?'


"Sudah punya pasangan untuk dansa?" tanya Dio yang berhasil membuat Arin terkejut. Dengan cepat ia menggeleng.


"Maksud saya, saya tidak bisa berdansa." ujar Arin berbohong. Bukan maksud Arin untuk berbohong, namun ia takut jika berdansa dengan Dio. Ia akan gugup dan melakukan kesalahan. Arin sering mengikuti kelas menari, bahkan ia sering memenangkan lomba. Bisa di katakan ia adalah ratu menari di kelasnya.


"Tidak jadi masalah, aku akan mengajarkanmu perlahan."


Dio tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Arin menatap tangan Dio yang sudah menanti sambutannya. Dengan ragu, Arin menerima ajakan Dio. Jantung Arin berdegup kencang saat tangannya menyentuh tangan kekar milik Dio.


"Jangan gugup, semuanya tak sesulit yang kamu bayangkan," ujar Dio sambil tersenyum. Arin semakin gugup saat melihat senyuman Dio yang begitu manis. Sedangkan papanya, Arnold. Tersenyum saat melihat kedekatan putrinya dengan pria yang disukainya.


'Semoga beruntung,' ucap Arnold dalam hati.

__ADS_1


Alunan musik mulai memenuhi ruangan. Itu artinya acara dansa sudah di mulai. Semua peserta terlihat menikmati acara.


"Aku rasa, kau lebih pandai dariku. Kau sangat tahu setiap gerakan," ujar Dio menatap Arin curiga. Arin yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya. Arin tersenyum kikuk.


"Maaf, aku berbohong. Sebenarnya aku pernah mengikuti les menari," balas Arin jujur.


"Jangan salah faham, aku berbohong karna ini adalah pertama kalinya aku berdansa dengan seorang pria," lanjut Arin. Dio tersenyum geli saat melihat rona merah di pipi Arin.


"Karena itu kamu gugup?" tanya Dio lagi. Arin mengangguk. Dio melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arin. Ia menatap dalam netra indah milik Arin.


'Andai saat ini kau yang ada dihadapanku, mungkin aku akan menjadi pria yang paling beruntung. Maaf, aku belum bisa melupakanmu Ara. Bahkan aku sangat merindukanmu,' batin Dio.


'Aku tidak tahu semalam mimpi apa? Berdansa dengan seseorang yang aku sukai, adalah hal yang paling membahagiakan. Aku harap kedekatan ini akan terus berlanjut,' gumam Arin dalam hati.


"Kapan kakak kamu akan pulang?" tanya Dio.


"Tidak tahu, mungkin bulan depan."


"Hmm.... Aku tidak pernah menanyakan kabar mereka, takut mengganggu." ujar Dio.


"Mereka sehat, saat ini kak Ara sedang mengandung. Jadi tidak sabar untuk melihat bayi kak Ara, pasti sangat imut."


Arin tersenyum lebar. Namun tanpa ia sadari, Dio sangat terluka saat mendengar kabar bahagia darinya. Dio memejamkan matanya, ia tak ingin Arin tahu perasaannya saat ini.


'Cukup Dio, seharusnya kau bahagia mendengar adikmu akan mempunyai anak. Ya, mereka adikku. Aku harus tetap bahagia,'


Arin menatap Dio heran. Ia bingung dengan perubahan sikap Dio.


"Sebaiknya kita sudahi, aku lupa ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada papamu. Terimakasih atas waktunya," ujar Dio yang langsung bergegas pergi meninggalkan Arin yang terdiam di tempat. Ia benar-benar bingung dengan perubahan Dio drastis Dio.


"Ada apa? Kenapa dia langsung pergi? Apa aku salah bicara?" gumam Arin. Dengan perasaan kesal, Arin turun dari tempat dansa.


"Ck, kenapa aku kesal sih?" ucapnya sambil mengambil segelas minuman. Berdansa membuat tenggorokannya kering. Arin meneguk minuman hingga tandas.


"Ekhem, haus banget ya?"


Arin terperanjat kaget saat seseorang tiba-tiba muncul.


"Azka, ngagetin tau gak?" kesal Arin saat tahu orang itu adalah Azka. Azka tertawa saat melihat wajah kesal Arin.


"Kenapa tu muka di tekuk gitu?" tanya Azka mengambil minuman. Arin mengerucutkan bibirnya, ia masih sangat kesal dengan kejadian tadi. Sekarang Azka malah menanyakan hal yang seharusnya tidak di tanyakan.


"Makanya jangan terlalu ngarep, nanti jatuhnya sakit."


Setelah mengatakan itu, Azka langsung bergegas pergi. Ia sangat hafal apa yang akan di lakukan Arin. Jadi ia memilih untuk langsung kabur.

__ADS_1


"AZKA... Terus aja ngeledek aku, awas kamu ya!" ujar Arin begitu kesal. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar. Lalu ia beranjak pergi untuk menemui papanya.


__ADS_2