
Cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah mengalahkannya dengan kesopanan (Umar Bin Khattab)
~Ketulusan Hati 2~
Malam semakin larut. Namun kelima anak manusia itu masih asik mengobrol riang. Obrolan kecil membuat suasana yang tadinya canggung kini berubah menjadi hangat.
"Bi, Ara mau ke toilet sebentar." ucap Ara sedikit berbisik pada Alan.
"Biar Jane yang antar." ujar Alan.
"Tidak perlu bi, Ara bisa sendiri." ucap Ara menolak tawaran Alan.
"Jangan membantah. Jane, bisa kau antar istriku ke toilet. Dia tidak tahu tempatnya." pinta Alan menatap Jane.
"No problem, let's go Ara." ucap Jane, Ara tersenyum dan bangun dari tempat duduknya.
"Jane, apa kalian sering berkumpul disini?" tanya Ara saat mereka berjalan menuju toilet.
"Ya, tapi suamimu itu jarang sekali ikut bergabung. Dia terlalu sibuk dan tidak suka dunia luar. Aku sempat khawatir juga, sejak awal bertemu aku kira dia seorang introvert." jawab Jane begitu semangat. Keduanya terlihat begitu akrab. Ara tertawa renyah saat mendengar jawaban Jane tentang suaminya.
"Dia memang seperti itu, jika tidak ada kepentingan maka tidak akan datang." ucap Ara. Jane mengangguk pelan. Lalu Ara pun masuk ke toilet. Jane menunggu Ara di luar.
"Sudah?"tanya Jane saat melihat Ara keluar. Ara tersenyum dan mengangguk. Lalu keduanya kembali beranjak menuju meja tempat mereka berkumpul.
"Ara, kamu tidak panas memakai pakaian seperti itu? Kamu tahu sendiri saat ini sedang musim panas." ujar Jane. Memang benar saat ini sedang musim panas karena sudah memasuki bulan juni.
"Tidak, aku sudah terbiasa memakai pakaian seperti ini. Lebih nyaman dan terlindungi dari sengatan matahari."
"Juga terhindar dari tatapan pria hidung belang." ujar Ara berbisik di telinga Jane. Jane tertawa mendengar ucapan Ara.
"Kau benar, aku sudah berusaha berpakaian tentutup pun masih saja jadi santapan mereka." ujar Jane. Ara hanya tersenyum untuk menganggapi ucapan teman barunya itu.
Saat mereka sudah dekat dengan meja diaman para lelaki duduk, Ara dan Jane saling melempar pandangan saat melihat seorang wanita sudah ikut bergabung disana.
"Dia itu ayam kampus, namanya Grace. Kakak tingkat kami. Dia selalu mengganggu suamimu. Aku sangat tidak menyukainya." ujar Jane sedikit berbisik pada Ara.
"Ya, kami pernah bertemu kemarin." balas Ara yang berhasil membuat Jane tekejut. Ia berjalan dengan santai dan duduk di sebelah Alan yang masih kosong. Sedangakan Jane memilih untuk duduk di sebelah Alex. Terlihat dengan jelas Alex sangat senang.
"Hey, kita bertemu lagi." sapa Ara pada wanita yang kini sudah merebut tempat duduknya. Wanita itu hanya berdecih dan menatap Ara sinis.
__ADS_1
"Sorry, kami tidak bisa mengusirnya. Dia bermuka tebal." ucap Michael tanpa merasa bersalah.
"Tidak jadi masalah, lagian kita juga sudah mau pulang. Iya kan sayang?" ucap Alex menggoda Jane. Sedangkan yang di goda sama sekali tak merespon.
"Bi, pulang yuk. Ara rindu pelukan hubby. Lagian hubby pasti capek kan?" ajak Ara sambil bergelayut manja di lengan Alan. Jane dan kedua pangeran itu pun tersenyum geli melihat tingkah manja Ara. Ia tak pernah menyangka jika istri sahabatnya itu begitu pandai membuat sang musuh KO.
"Iya sayang. Kamu juga harus istirahat." ucap Alan mengusap kepala Ara begitu mesra. Sedangkan wanita bernama Grace itu terlihat sangat kesal.
"Arlan, I'm serious. I love you. Please accept me, I'm better than this woman," ujar wanita itu menyetuh tangan Alan dan manatap Ara tajam. Namun dengan cepat Alan menepik tangannya. Ara hanya bisa tersenyum mendengar wanita itu bicara.
"Nona, cinta itu tak bisa dipaksakan. Jatuh cinta memang tidak salah. Karena cinta juga tak harus memiliki kan? So, aku tidak keberatan jika suamiku berbagi cinta. Tapi jika dia mau," ujar Ara begitu lembut dan langsung di sambut tawa oleh ketiga temannya.
"Cintaku, hidupku hanya untuk istriku seorang. Tidak akan pernah ada orang lain." ucap Alan menatap Ara begitu lekat. Alan sedikit lega karena Ara tidak terpancing oleh wanita rubah itu.
"Nona, maaf aku tidak bisa berbagi denganmu. Suamiku menolak, anda mendengar sendiri kan? Maaf ya?" ucap Ara menatap Garace penuh penyesalan.
Grace terlihat sedang menahan emosi. Wajahnya yang putih bersih terlihat memerah.
"Alex, kau tahu. Aku baru saja di tolak oleh lelaki pujaan hatiku. Itu sangat menyakitkan." ucap Jane sedikit menyindir. Grace yang merasa sedang di permainan pun langsung bengun dari tempat duduknya. Ara yang melihat itu hanya tersenyum tipis sambil menikmati vanilla latte favoritnya.
"Good night." ucap Grace langsung beranjak pergi. Tawa Michael pun pecah seketika.
"Kakak ipar benar-benar luar biasa. Aku salut, kau sangat beruntung Alan bisa mendapatkan wanita sepertinya. Sebaiknya kalian cepat punya anak perempuan. Aku akan menikahinya jika sudah besar." mendengar pemaparan Michael, semua orang langsung menatapnya tajam. Termasuk Alan yang terlihat tak terima dengan ucapan temannya itu.
"Wow, kita tidak pernah tahu takdir bro. Iya kan Lan?" ucap Michael mencari dukungan.
"Kau terlalu tua untuk putriku." ucap Alan tersenyum simpul. Ara pun ikut tersenyum mendengar gurauan teman-temannya yang cukup menghibur.
"Bi, sepertinya kita harus pulang. Hubby harus istirahat. Besok hubby juga harus kuliah dan kerja," ucap Ara menyentuh pundak Alan. Ketiga teman mereka hanya bisa diam karena tidak mengerti dengan ucapan Ara. Ya, Ara menggunakan bahasa Indonesia.
"Hmm... Baiklah tuan putri. Ayok kita pulang, sudah cukup bersantainya." ujar Alan tersenyum menatap Ara.
"Kami harus pulang." ucap Alan menatap ketiga teman-temannya.
"Wow, kalian mau program buat calon istriku kan?" seru Michael begitu semangat.
Tak! Sebuah jitakan berhasil ia dapatkan dari Alex. Michael mengusap kepalanya yang terasa berdenyut. Michael yang tak terima berusaha untuk membalas perlakuan Alex. Namun Alex selalu menghindar.
"Kalian lanjutkan saja bersemesraannya." ujar Alan menarik tangan Ada dan mulai pergi meninggalkan tempat itu. Di luar suhu mulai terasa dingin. Ara merapatkan tubuhnya pada Alan. Alan yang menyadari itu langsung memeluk Ara
__ADS_1
"Terimakasih." ucap Alan mengecup kepala Ara.
"Untuk apa bi?" tanya Ara bingung.
"Terimakasih selalu percaya pada hubby. Kamu juga tidak terpancing tadi. Ternyata satu tahun banyak merubah kamu sayang." ujar Alan terus mengecup kepala Ara. Untung saja penthouse mereka tak terlalu jauh. Jadi hanya beberapa menit bisa langsung sampai.
"Hubby pernah dengar tidak perkataan Uamar bin Khattab? Beliau berkata bahwa cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah mengalahkannya dengan kesopanan."
"Jadi Ara melakukan itu agar saingan Ara kalah tanpa harus mengeluarkan tenaga dan mengeluarkan kata-kata kotor." ujar Ara.
"Dari awal kamu memang sudah memenangkan hati hubby bukan?" tanya Alan sambil membuka pintu kamar. Ara mengangguk dan langsung berhambur keatas kasur.
"Ara sangat ngantuk bi. Kita terlalu asik mengobrol." ucap Ara memejamkan matanya. Alan membuka pakaiannya dan beranjak menuju kamar mandi.
"Bi, jangan mandi malam. Tidak baik untuk tulang." teriak Ara. Tenang saja, kamar mereka kedap suara kok jadi tidak akan ada yang mendengar teriakan Ara.
Ara kini sudah berganti pakaian tidur. Ia menarik selimut dan menenggelamkan dirinya disana. Alan yang sedang asik dengan benda pipih di panggkuanya hanya bisa menggeleng melihat tingkah Ara yang seperti anak kecil. Kepala Ara terlihat timbul dari dalam selimut. Ia menatap Alan yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Bi, ini sudah malam. Kita tidur yuk, hubby harus istirahat." ucap Ara.
"Iya sayang, sedikit lagi. Kamu tidur duluan, hubby harus menyelesaikan pekerjaan hubby sedikit lagi." balas Alan masih pokus pada layar laptop. Ada yang mendengar itu berdecak kesal.
"Ara kan mau di peluk hubby." rengek Ara pelan. Namun Alan masih bisa mendengar itu dengan jelas. Alan tersenyum dan melirik Ara yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Nanti hubby peluk," ucap Alan kembali pokus pada laptopnya. Ara berdecak kesal, ia membalikan tubuhnya untuk membelakangi Alan.
"Hubby jahat, padahal Ara kan rindu pelukan hubby hiks. Malah sibuk dengan istri kedua, hiks. Ara mau pulang aja." ujar Ara pura-pura menangis agar mendapatkan perhatian Alan. Alan yang mendengar itu tersenyum dan menutup laptopnya. Ia meletakkan laptop diatas nakas dan ikut berbaring. Tangannya terulur untuk memeluk sang istri yang sedang merajuk.
"Hubby juga selalu merindukanmu sayang," bisik Alan tepat di telinga Ara. Ara langsung membalikan tubuhnya dengan cepat.
"Bohong, buktinya hubby lebih memilih istri kedua hubby daripada Ara. Ara juga butuh perhatian hubby." Ara memukul dada Alan dan membenamkan wajahnya disana.
"Istri kedua lebih asik," gurau Alan yang berhasil mendapatkan cubitan dari Ara. Alan meringis kecil karena perutnya terasa panas akibat cubitan Ara.
"Sakit kan bi? Makanya jangan bermimpi." ucap Ara ketus. Alan tersenyum senang bisa melihat kemanjaan Ara. Ara menatap wajah Alan, sebelah tangannya terulur untuk menyentuh pipi Alan. Matanya menyelisik setiap sudut wajah sang suami.
"Maaf, hubby terlihat sangat kurus. Pasti hubby capek kan? Hubby juga pasti jarang tidur. Lihat lingkaran hitam di mata hubby terlihat dengan jelas." Ara merasa iba melihat kondisi tubuh suaminya. Bagaimanapun Alan adalah tanggung jawabnya.
"Hubby baik-baik aja kok. Cuma lelah sedikit. Tapi sekarang ada kamu, lelah hubby bisa langsung hilang." ucap Alan memejamkan matanya. Ara masih setia menatap wajah Alan. Ia mengelus pipi suaminya dengan lembut. Ia mengecup kening Alan begitu mesra.
__ADS_1
"Selamat malam bi." bisiknya. Ara kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Alan. Ara yang sudah mengantuk sejak tadi pun langsung tertidur.
Alan kembali membuka matanya saat mendengar napas Ara yang mulai teratur. Ia tersenyum. Kecupan hangat ia berikan di bibir mungil milik Ara. Ara yang merasa tidurnya terganggu semakin merapatkan tubuhnya dengan Alan. Alan membenarkan selimut Ara. Sebelum memejamkan matanya Alan mengecup pucuk kepala Ara begitu dalam. Lalu ia pun ikut masuk kealam mimpi.