
Ara terlihat gelisah karena belum mendapat kabar dari Alan. Seharusnya Alan sudah sampai. Ara khawatir terjadi sesuatu padanya.
"Bi, jangan buat Ara cemas," gumamnya sambil terus menatap layar ponsel. Ia bangun dari duduknya, berjalan menuju box bayi Ichal. Ara tersenyum saat melihat Ichal sudah bangun.
"Hey, kok cuma sebentar sih boboknya?" tanya Ara mengusap pipi Ichal.
"Mau bobok sama umi ya?" Ara menggandong Ichal dan membawanya ke tempat tidur.
"Malam ini dan seterusnya, temani umi bobok ya? Umi sayang Ichal," ucap Ara mengusap kepala Ichal dengan lembut. Ara melihat kembali ponselnya, tetapi masih sama. Tidak ada panggilan dari Alan.
Sedangakan di Candeo Hotels Uenokoen, Jepang. Alan terlihat baru keluar dari kamar mandi. Alan memang belum menghubungi Ara, karena ia harus menemui klien. Alan berniat untuk menghubungi Ara setelah pekerjaannya beres. Ya, tujuan Alan ke Jepang memang untuk bekerja. Sudah pasti ia akan sangat sibuk.
"Dia pasti sudah menungguku," ucap Alan mengambil ponselnya. Ia tersenyum, mulai melakukan panggilan video. Benar saja, panggilan Alan langsung terhubung. Disana terlihat Ara tengah mengganti popok Ichal.
"Tunggu sebentar, Bi." Alan tersenyum saat melihat Ara begitu piawai mengurus putra mereka.
"Anak abi rewel ya?" tanya Alan saat Ara mulai mengarahkan kamera pada Ichal.
"Enggak kok, Bi. Ichal anak baik, malah temenin umi bobok," balas Ara meniru suara anak kecil. Ichal terlihat sedang berusaha memasukkan jari jempolnya ke mulut. Alan yang melihat itu tertawa.
"Abi, kenapa baru menghubungi umi? Memangnya langsung kerja ya?" tanya Ara mengambil alih kamera.
"Iya sayang, abi sudah janji untuk bertemu dengan klien. Besok pagi abi harus berangkat ke Osaka, selanjutnya ke Hirosima dan kembali ke Tokyo," ujar Alan. Ia merebahkan tubuhnya.
"Abi harus jaga kesehatan, jangan lupa makan sebelum bekerja, minum juga vitaminnya. Ara tidak mau abi sakit, apalagi abi jauh dari umi." Ara menatap Alan sendu. Alan tersenyum mendengarnya.
"Abi akan melakukan apa yang umi katakan, jangan khawatir," ucap Alan mengedipkan sebelah matanya.
"Bi, Ara boleh tanya sesuatu?" tanya Ara. Alan menaikan sebelah alisnya.
"Sejak kapan kamu ingin bertanya meminta izin dulu? Biasanya juga langsung bertanya?" ucap Alan menggoda istrinya.
"Hubby, Ara serius?" Ara terlihat sangat kesal. Alan tertawa lepas melihatnya.
"Bertanya apa, huh?" tanya Alan mulai serius. Ara terlihat menarik napas panjang. Ikut berbaring disebelah Ichal. Bayi mungil itu masih asik dengan jemari-jemari kecilnya.
__ADS_1
"Apa saat ini ada yang sedang mendekati, Abi? Em, mungkin perempuan yang ingin menggoda hubby?" tanya Ara.
"Banyak, sejak dulu juga banyak. Tahu sendiri suami kamu ini tampan," balas Alam kembali menggoda istrinya. Ara yang mendengar itu sangat geram.
"Abi," rengek Ara. Ia benar-benar dibuat kesal oleh Alan.
"Ck, jangan merajuk. Tuh liat, Ichal liatin uminya yang seperti anak kecil. Kamu tidak malu?" ujar Alan. Ara yang mendengar itu langsung menatap Ichal.
"Biarin, iya kan sayang?" ucap Ara mencium Ichal karena gemas. Ichal tersenyum senang. Ia terlihat ingin berbicara. Namun, ia belum mampu melakukannya.
"Jika seperti ini aku ingin cepat pulang, baru beberapa jam sudah merindukan kalian," ucap Alan. Ara yang mendengar itu tersenyum.
"Kami ada disini, Abi. Semangat kerjanya, Ichal dan Umi selalu menunggu abi. Mendoakan kesehatan dan keselamatan abi di sana, kami juga rindu abi." Ara meraih tangan Ichal, memberikan lambaian pada Alan.
"Iya sayang," ucap Alan. Ia terus menatap keduanya dengan penuh kasih sayang.
"Oh iya, abi hampir lupa. Umi, saat abi pulang nanti. Mungkin abi akan membawa seseorang, abi harap umi menerimanya," ujar Alan yang berhasil membuat Ara terkejut sekaligus terdiam. Ia kembali mengingat ucapan Azka. Namun, dengan cepat Ara menyingkirkan pikiran buruknya.
"Siapa, Bi?" tanya Ara berusaha untuk tetap tenang. Alan tersenyum penuh arti.
"Kamu akan tahu nanti, kejutan." Alan bangun dari tempat tidur. Beranjak menuju balkon. Tidak terdengar suara apapun dari seberang.
"Kenapa Ichal belum tidur? Ini sudah larut sayang," ucap Alan.
"Ichal terbangun, abi tahu sendiri Ichal tidur seperti apa? Tidur cuma sebentar, jadi umi harus menemani Ichal sampai tidur," ujar Ara menoel hidung Ichal. Alan yang melihat itu tersenyum.
"Biar abi temani umi," ucap Alan. Ara tersenyum mendengarnya.
"Abi harus bekerja besok, perjalanan ke Osaka lumayan jauh. Abi istirahat dulu, umi sudah terbiasa dengan Ichal. Kesehatan abi lebih penting," ujar Ara. Sebenarnya Ara tidak sanggup melihat Alan bekerja begitu keras. Semua itu pasti sangat melelahkan. Jika bisa memilih, Ara ingin hidup sederhana. Terus berkumpul di rumah dan berjuang sama-sama.
"Apa yang kamu pikirkan huh?" tanya Alan saat melihat Ara termenung. Ara terkejut, ia menatap Alan lekat.
"Tidak ada bi, lebih baik abi istirahat. Besok jika ada waktu kosong, Abi hubungi Ara ya?" balas Ara. Alan yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, selamat malam, Bi. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumusalam," balas Alan mematikan sambungan telepon. Ia tersenyum senang, setidaknya rasa rindu sudah terobati walaupun sedikit. Ya, hanya sedikit.
Baru saja Alan memejamkan matanya, ponselnya kembali berdering. Ia sangat terkejut. Alan mengambil ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya. Air wajahnya langsung berubah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Dasar, apa dia tidak tahu ini sudah larut?
"Ada apa?" tanya Alan datar.
"Ok, tidak perlu khawatir. Aku pria bertanggung jawab, aku akan membawanya bersamaku. Kau keterlaluan, memberikan beban berat padaku. Aku akan menghukummu," ujar Alan panjang lebar. Lalu ia langsung memutus panggilan. Menaruh kembali ponsel di atas nakas. Alan kembali memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah dan butuh istirahat.
***
"Kak, biar Kei aja yang masak. Kakak sudah capek jaga Ichal," ujar Keira mengambil alih pekerjaan Ara. Sudah satu minggu Keira menemani Ara di rumah, karena Azka harus ke luar kota. Keira juga sudah berhenti bekerja atas permintaan Azka.
"Terima kasih, sayang. Jika tidak ada kamu, mungkin kakak akan kewalahan," ucap Ara mencuci tangannya.
"Kei senang kok membantu kakak. Oh iya, kenapa kakak tidak menyewa asisten? Kan lumayan mengurangi pekerjaan kakak, Ichal juga masih sangat kecil."
Ara tersenyum mendengarnya. Ia duduk dikursi, menatap Keira yang begitu piawai mengurus dapur.
"Kakak lebih suka mengerjakan sendiri, Kei. Lagian rumah ini kan tidak terlalu besar. Kakak juga tidak ada kerjaan selain menjaga Ichal. Terlalu berlebihan jika memakai asisten," ujar Ara.
"Kei salut sama kak Ra, padahal istri seorang CEO, tapi tetap hidup sederhana. Sangat jarang ada istri sebaik kakak di jaman sekarang ini. Kebanyakan dari mereka sombong dan suka merendahkan orang. Bahkan tidak jarang Kei mendapatkan perlakuan buruk mereka, selalu saja memandang orang lain rendah. Padahal semua itu cuma titipan sementara dari Allah, bisa kapan aja di ambil," timpal Keira panjang lebar.
"Ya, kamu benar. Maka dari itu kita lebih baik hidup sederhana. Bisa saja besok kita di bawah, sekarang kita memang di atas, tapi kedepannya kita tidak tahu. Roda akan terus berputar," ujar Ara bangun dari duduknya. Membantu Keira mencuci peralatan masak. Sedangkan Keira sibuk merapikan makanan diatas meja. Kebetulan siang ini orang tua Ara akan berkunjung ke rumah.
"Oh iya kak, jam berapa bunda ke sini?" tanya Keira.
"Mungkin sebentar lagi, biasanya bunda tunggu papah pulang dari kampus," balas Ara.
"Kak, Kei tidak pernah menyangka bisa mendapatkan keluarga sempurna seperti ini. Rasanya seperti mimpi di siang bolong, seakan tidak percaya. Kei hanya anak yatim piatu, tidak memiliki siapapun untuk bersandar. Tidak pernah merasakan kasih sayang seorang keluarga, sekarang Kei mendapatkan semuanya." Keira menatap punggung Ara. Air matanya mulai meluncur di pipinya yang halus.
Ara yang mendengar itu langsung menghentikan pekerjaannya, menatap Keira. Menghampiri gadis manis itu.
"Jangan banyak bicara, sudah seharusnya kamu menjadi keluarga kami," ucap Ara memeluk Keira begitu lembut. Diwaktu bersamaan, bunda Dara dan Papah Arham pun tiba. Mereka melihat adegan mesra putri dan calon menantunya. Seulas senyuman terukir di bibir mereka.
__ADS_1
"Seperti kebahagiaan keluarga kita akan semakin lengkap," ujar papah Arham merangkul pundak bunda Dara.
"Iya pah, hanya tinggal menunggu para jagoan berkumpul bersama kita," ucap bunda Dara. Mereka terlihat gembira. Menjadi kebanggaan tersendiri saat melihat anak-anaknya hidup bahagia.