
Aku merasa seluruh tubuhku begitu sakit. Suara tangisan seseorang berhasil mengusik tidurku. Kubuka mataku perlahan. Aku sangat terkejut saat melihat istriku tengah menangis sambil memegang tanganku.
"Sayang, kenapa menangis?" tanyaku berusaha untuk bangun. Ia terlihat kaget.
"Bi, Alhamdulillah. Akhirnya hubby bangun, Ara takut hubby kenapa-napa. Azka bilang hubby cuma luka ringan, tapi sudah dua hari hubby tidak bangun. Ara takut," ujarnya langsung memelukku. Aku tersenyum mendengarnya. Membalas pelukan hangatnya.
"Azka jahat, Bi. Dia berbohong," ucapnya masih tersedu. Aku mendorongnya perlahan, menatap wajahnya yang sembab. Ku kecup keningnya dengan lembut.
"Tidak apa sayang, buktinya hubby memang baik-baik saja kan? Jangan menangis lagi," ucapku kembali memeluknya.
"Tetap saja, hubby terluka sampai seperti ini. Azka harus mendapatkan hukuman," ocehnya sambil terus menangis.
"Iya, kita akan menghukumnya," ucapku memeluknya dengan erat.
"Ekhem, lengket aja terus kayak pranko," ucap seseorang yang baru masuk. Ya, siapa lagi kalau bukan Arin. Si tukang rusuh. Ia tersenyum padaku, meletakkan sebuah paper bag diatas nakas. Ara melepaskan pelukannya. Ia menatap Arin yang tengah bertolak pinggang. Aku hanya tersenyum dan memilih untuk kembali berbaring.
"Enak banget ya mesra-mesraan depan jomblo," katanya sambil memicingkan mata.
"Ck, kamu sih masuk gak kasih kabar dulu," ucap Ara. Ku genggam erat jemarinya yang terasa dingin.
"Tolong matikan AC," pintaku pada Arin.
"Baiklah tuan dan nyonya," ucapnya. Aku tersenyum melihat tingkah lucu Arin. Lalu aku kembali menatap istriku yang kini tengah menatapku.
"Bi, betul tidak ada yang sakit?" tanyanya sambil mengusap pipiku. Sepertinya pipiku terluka, belaian tanganya begitu terasa perih.
"Banyak sekali luka di wajah hubby," lanjutnya dengan raut sedih. Aku tersenyum, mengecup tangannya dengan lembut.
"Lupa deh ada nyamuk disini," ucap Arin sambil menepuk udara. Aku tersenyum dan tidak memperdulikannya.
"Kesel banget di kacangin, awas aja! Besok aku juga bisa mesra kayak gitu," ketus Arin yang langsung bergegas pergi. Aku hanya bisa menggeleng dengan sikap Arin yang semakin hari semakin aneh.
"Sayang, sudah makan?" tanyaku. Ara menggeleng pelan. Aku menghela napas berat. Lalu pandanganku tertuju pada paper bag yang Arin bawa tadi.
"Sepertinya itu makanan, makanlah dulu. Kamu butuh nutrisi penuh sayang, bukan hanya kamu yang makan. Ichal juga," kataku sambil mengusap kepalanya.
"Ara terlalu khawatir dengan hubby, Ara lupa untuk makan."
"Ya sudah, sekarang kamu makan ya?"
"Hubby juga, biar Ara yang suap," ucapnya mengambil paper bag diatas nakas.
Ia menyuapiku dengan begitu telaten. Aku menatap wajahnya yang terlihat begitu lelah. Aku tahu ia lelah menjaga Ichal. Dan sekarang ia juga harus menjagaku.
"Maaf sayang, hubby selalu membawa kamu dalam masalah. Hubby tahu kamu capek, harus jaga Ichal siang dan malam. Saat ini kamu juga harus menjaga hubby, jangan terlalu memaksakan diri jika lelah. Hubby baik-baik saja, biar Arin yang jaga hubby." Aku menatap dalam netra indah miliknya. Ia pun meletakkan sisa makanan diatas meja.
__ADS_1
"Ara tidak lelah Bi, semua ini sudah kewajiban Ara sebagai seorang istri dan ibu. Menjaga hubby, menjaga Ichal, semua itu menjadi kebahagiaan Ara, Bi."
Sungguh beruntung kau Alan. Bisa mendapatkan istri sebaik dirinya. Selain cantik, ia juga penuh kasih sayang dan penuh kelembutan.
Aku pasti menyesal jika saja dulu aku melepaskannya. Kehadiran Ichal dalam keluarga kecilku merupakan salah satu anugerah terindah. Aku akan terus berusaha untuk membahagiakan mereka.
"Bi, kok malah bengong? Apa ada yang sakit?" tanyanya kembali mengusap pipiku. Aku tersenyum. Ku genggam tanganya yang masih menempel dipipiku.
"Hubby sedang menikmati kecantikan bidadari syurga," ucapku.
Kukecup tangannya dengan lembut. Aku melihat pipinya merona. Ia terlihat semakin cantik. Tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mengenalnya.
"Lusa kita adakan acara aqiqah untuk Ichal." Ia terlihat sangat senang. Aku ikut senang saat melihat senyuman terukir di bibirnya.
"Cepat sembuh, Ara rindu hubby. Ichal juga butuh abinya," ucapnya. Ku pejamkan mataku saat ia mengecup pipiku. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Cukup lama kami terdiam.
"Bi, Ara belum melihat keadaan Pak Dio. Apa ia baik-baik saja?" tanyanya. Aku sedikit menggeser tubuhku agar ia lebih nyaman tidur di sebelahku.
"Terakhir hubby dengar ia sudah sadar, saat ini sedang dalam masa pemulihan," jawabku.
"Ara belum menjenguk Pak Dio, bagaimana pun Pak Dio sudah menolong Ara, Bi."
"Besok kita akan menjenguknya. Sekaligus menjenguk Grace."
"Ia tertembak untuk menyelamatkan papa, Grace sangat setia. Dulu papa menemukan Grace di Bandara. Ia sengaja di buang kedua orang tuanya."
Ara merubah posisinya menjadi duduk. Ia menatapku lekat.
"Kenapa selama ini Grace tidak pernah kerumah?"
"Papa sengaja mengirimnya ke Australia. Di sana tempat kedua orang tuanya berada. Papa ingin Grace membuktikan kepada orang tuanya jika ia mampu hidup, tanpa mereka."
"Kasihan sekali, pasti ia sangat sedih. Lalu siapa yang menjaganya di rumah sakit?" tanyanya.
"Orang suruhan papa, kadang papa bergantian menjaganya," balasku.
"Ara ingin mengenalnya lebih dekat," ucapnya. Aku tersenyum sambil mengangguk.
"Dia orang baik, hanya saja sikapnya terlalu dingin. Hubby tahu semua itu dari Mala, papa tidak pernah menceritakan masalah ini."
"Mala?"
"Ya, dia adalah mata-mata terbaik Paman Alex."
__ADS_1
"Hmmm... Ara lupa," ucapnya. Aku tersenyum. Menariknya kembali dalam pelukkanku.
***
"Assalamualaikum," ucapku dan Ara bersamaan saat masuk ke ruang rawat Kak Dio. Aku sangat terkejut saat melihat Arin tengah tertawa sambil menyuapi Kak Dio. Aku menatap istriku.
"Wa'alaikumusalam," ucap kak Dio melihat ke arah kami dan tersenyum menyambut kehadiran aku dan Ara.
"Apa kami mengganggu?" tanyaku menatap Arin dan kak Dio bergantian. Aku bisa melihat kecanggungan pada diri Arin. Pantas saja ia jarang menemuiku. Ternyata sekarang ia sudah memenangkan hati pria itu. Aku harap Arin benar-benar mendapatkan kebahagiaannya.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya istriku.
"Seperti yang kamu lihat, lebih baik karena ada seseorang yang selalu menemaniku," balas kak Dio tersenyum sambil menatap Arin yang tengah menunduk. Aku ikut tersenyum melihatnya.
"Bi, sepertinya kita salah waktu. Apa sebaiknya kita kembali lagi nanti?" ucap istriku. Aku tahu ia ingin menggoda Arin. Aku bisa melihat reaksi Arin yang menjadi salah tingkah.
"Kak Ra, jangan merusak suasana," rengeknya pada istriku. Aku hanya bisa menggeleng melihatnya.
Lalu aku menatap kakakku.
"Kak, kami ingin mengucapkan terima kasih. Jika tidak ada kakak, mungkin istri dan anakku.. Entah lah...," ucapku bingung harus bicara apa lagi. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka benar-benar meninggalkan aku. Mungkin aku tidak akan hidup lagi sekarang.
"Tidak perlu, semua itu karena kebodohanku. Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, aku tidak akan mendapatkan cinta sejatiku," ujarnya. Aku menatapnya heran.
"Arin?" tanyaku menatapnya lekat.
"Hmmm," balasnya sambil tersenyum. Aku melihat Arin yang baru keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum sambil menatap istriku.
"Sepertinya kami harus pulang, takut Ichal menangis," ucapku berpamitan. Sepertinya memang bukan waktu yang tepat untuk menjenguknya. Lebih baik aku membiarkan mereka bersama.
"Terima kasih," ucap kakakku. Aku menatapnya bingung.
"Terima kasih sudah memanggilku kakak," ucapnya. Aku tersenyum, menatap matanya dalam.
"Aku adikmu, sudah seharusnya aku memanggilmu kakak. Sudahlah, cepat sembuh dan lakukan kewajibanmu. Kami pamit dulu, assalamualaikum," kataku. Aku menggenggam tangan istriku.
"Wa'alaikumusalam, hati-hati di jalan."
"Kak, jangan katakan apa pun pada mama atau papa. Arin akan mengatakan sendiri, Arin mohon."
Aku tersenyum mendengarnya. Lalu aku mengangguk. Bisa aku lihat kebahagiaan di wajahnya. Aku dan Ara pun langsung bergegas pulang. Sudah cukup lama kami meninggalkan Ichal. Aku juga sangat merindukan putraku.
"Dunia ini benar-benar sempit, ya?" ucap istriku. Aku menoleh dan menatapnya.
"Takdir tidak ada yang tahu, sayang."
__ADS_1
"Ya, semoga keluarga kita dijauhkan dari segala bahaya. Selalu di berikan kebahagiaan dan keselamatan."
"Aamiin..."