Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 72. Tak akan aku lepas lagi (Alan)


__ADS_3

Bodoh! Aku memang bodoh. Aku hampir kehilangan hidupku. Semuanya karena kecerobohanku. Aku membawa mereka dalam bahaya besar.


Ku genggam erat tangannya yang terasa begitu dingin. Wajahnya terlihat sangat pucat. Hatiku begitu sakit. Aku mengutuk diriku sendiri.


"Sayang, bangunlah. Maafkan aku," ucapku mengecup punggung tanganya dengan lembut. Sudah hampir tiga jam ia belum juga sadarkan diri. Kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya terluka.


Aku sangat merindukanmu. Maaf, tidak seharusnya aku membawamu ke tempat itu. Aku hanya ingin memelukmu, Ara. Selama tiga bulan lebih aku menahan semua rasa sakit, kerinduan padamu, Ara. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku minta maaf. Semua ini karena aku, kamu jadi terluka juga karena aku.


Ku elus kepalanya dengan lembut. Aku sangat menyesal. Wajah cantiknya saat ini sudah di penuhi lembam akibat benturan.


"Sayang, tolong bangun." Aku terus meminta agar dirinya segera membuka mata. Aku tidak sanggup terus melihat dirinya seperti ini. Ku rapatkan tubuhku dengannya. Ku kecup keningnya dengan lembut. Aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya. Ku pejamkan mataku yang terasa begitu lelah. Seluruh tubuhku begitu sakit.


"Bi...," aku sangat terkejut saat mendengar suaranya. Dia susah sadar. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.


"Sayang," ucapku kembali mengecup keningnya.


"Bi, apa yang terjadi? Di mana Ichal?" tanyanya begitu lemah. Aku menatapnya lekat. Ku kecup lagi keningnya dengan penuh kemesraan.


"Ceritanya sangat panjang, tidak cukup satu jam untuk menjelaskan apa yang terjadi," balasku sambil memeluknya.


"Hmmm, Ichal mana?" tanyanya lagi.


"Dia aman dengan neneknya," balasku.


"Mama Nissa ada disini?"


"Kamu banyak sekali bertanya," balasku sambil membenamkan wajahku di ceruk lehernya. Saat ini aku hanya ingin memeluknya. Tidak akan pernah aku lepaskan lagi. Tidak akan pernah.


"Bi, Ara mau ketemu Ichal. Apa dia baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan pak Dio?" Ia mulai bangun dari tidurnya. Aku mendengar ia meringis sambil menyentuh perutnya. Aku duduk sambil menatap wajah yang penuh dengan lembam itu. Wajah yang menyiratkan rasa sakit.


"Apa sangat sakit?" tanyaku. Ia mengangguk, menatapku lekat.


"Bi, kenapa dengan wajah hubby?" tanyanya. Ia terlihat sangat cemas. Aku sedikit meringis saat jari lentiknya menyentuh luka di wajahku.


"Tidak apa-apa," balasku sambil memegang tanganya.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Bi? Ara bingung, semuanya benar-benar membingungkan. Kejadian itu, apa pak Dio di balik semua ini?"


Aku tersenyum.


"Semua yang kita lihat dan pikirkan, belum tentu benar. Setelah semuanya aman, aku akan menceritakan apa yang terjadi," balasku sambil menyelipkan rambutnya. Ku tatap dalam-dalam matanya.


"Ara rindu hubby," ucapnya langsung memelukku. Aku membalas pelukannya. Mengecup punggungnya dengan lembut. Aku bisa mendengar ia mulai menangis.


"Masih tetap cengeng, bagaimana dengan Ichal jika tahu uminya cengeng, huh?"


"Semua salah hubby, kenapa meninggalkan Ara begitu lama," ujarnya sambil memukul punggungku. Aku tertawa renyah. Ku kecup kepalanya berkali-kali.


"Miss you honey," ucapku. Ku perdalam pelukkanku. Mataku terpejam, menikmati kehangatan yang sudah sangat lama tidak aku rasakan.


Aku sangat terkejut saat mendengar terikan seseorang. Sepertinya istriku juga sangat terkejut.


"Bi," ucapnya dengan tatapan bingung.


"Kita akan melihatnya, ayo?" ajakku. Ia menggenggam erat tanganku. Ia berjalan sedikit tertatih. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendongnya.


"Bi, jilbab Ara," ucapnya. Aku hampir lupa jika ia tak mengenakan penutup kepala. Aku kembali menurunkannya. Aku berjalan menuju almari.

__ADS_1


"Ini punya siapa bi?" tanyanya saat aku hendak memakaikan kerudung di kepalanya.


"Mama," balasku.


"Mama? Tapi ini bukan rumah mama, bagaimana bisa jilbab mama ada disini?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling kamar. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Setelah memakaikan kerudung di kepalanya. Aku kembali menggendongnya. Lalu membawanya keluar.


"Bi, ini rumah siapa?"


"Jangan banyak bertanya, kamu akan tahu jawabannya sendiri," balaksu sambil tersenyum. Aku tertawa renyah saat melihat bibirnya yang sudah maju beberapa inci.


Aku membuka pintu perlahan. Aku bisa merasakan Ara sedang menatapku. Suara tangisan mulai terdengar begitu jelas. Aku menghela napas berat saat melihat dua wanita yang tengah berpelukan. Aku merasakan tangan istriku semakin erat melingkar di leherku. Aku menatapnya. Aku tersenyum, ternyata ia juga tengah menatapku dengan tatapan aneh. Aku menurunkanya diatas ranjang.


"Tunggu sebentar," ucapku. Lalu kukecup keningnya. Aku berjalan menghampiri kedua wanita yang tengah menatapku.


"Maaf," ucapku mengusap wajah Mala. Dia adik kembarku. Ya, saat ini aku memang berada di rumah mama. Mama Milan, mama kandungku yang selama ini papa sembunyikan.


"Anak itu sudah tidak ada...," ucapnya begitu pilu. Ia langsung memelukku begitu erat. Aku menatap mama yang juga tengah menatapku.


"Dia sangat terpukul," bisik mama. Aku mengangguk.


"Maaf, tidak seharusnya kamu masuk dalam masalah ini. Aku janji, akan selalu ada untukmu," ucapku. Ku kecup keningnya dengan lembut.


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan Mala," ucapnya. Aku tersenyum sambil mengangguk. Mama menyentuh lenganku. Matanya menunjuk ke arah istriku. Aku melihat dia sedang menatapku. Bisa kulihat dengan jelas, air matanya mulai berlinang. Ah, sepertinya akan ada kesalah pahaman lagi.


"Bi, Ara ikhlas jika harus berbagi." Aku sangat terkejut saat mendengarnya. Aku menatap mama dan Mala bergantian. Mala menggenggam tanganku dengan erat.


"Memang sudah seharusnya seperti itu," ucap Mala kembali memelukku.


"Mala," ucapku mendorongnya perlahan.


"Apa kakak akan ingkar janji?"


"Dimana Ichal? Ara ingin bertemu dengannya," ucapnya. Aku melihat air matanya mulai mengalir. Aku hendak bicara, namun mama menahan tanganku.


"Ayo, dia ada di kamar sebelah. Mama akan antar kamu," ucap mama bangun dari duduknya. Ara menatapku lekat, lalu ia bangun dari duduknya. Mama memapah Ara dengan hati-hati. Aku hanya bisa menatap punggungnya.


"Kakak sangat beruntung, memiliki keluarga yang lengkap. Lihat Mala, semuanya pergi. Suami Mala, anak Mala, lalu... Kakak juga akan pergi?"


Aku menatap netra milik adikku. Di sana menyimpan begitu banyak kesakitan. Aku memeluknya dengan erat.


"Tidak akan ada yang pergi lagi, kamu sudah berkorban begitu banyak untukku. Aku akan terus menjagamu," balasku. Aku mencium pucuk kepalanya dengan hangat.


"Terima kasih," ucapnya.


"Sudah seharusnya kita bersama," ucapku. Mala melepaskan pelukanku. Ia menggenggam kedua tanganku.


"Pergilah, jelaskan padanya. Aku sudah yakin, dia sangat mencintaimu kak. Aku ikhlas kakak bersamanya."


"Dasar! sudah seharusnya aku bersamanya. Dia istriku. Kamu membuatnya salah paham," ucapku menyentil keningnya. Ia meringis kesakitan. Aku tertawa melihatnya.


"Aku pergi dulu, istirahatlah. Jangan bersedih lagi, ok?" Mala mengangguk. Aku tersenyum sambil mengusap kasar kepalanya.


Aku bergegas pergi untuk menyusul istriku. Sepertinya aku sudah membuatnya sakit hati.


Aku membuka pintu perlahan. Aku melihat Ara sedang memberikan asi pada anakku. Mama sudah tidak ada di sana. Aku tidak melihat keberadaannya.


Aku masuk perlahan. Sepertinya ia belum sadar akan kehadiranku. Kakiku terhenti saat mendengar suara tangisannya.

__ADS_1


"Bantu umi untuk tetap kuat ya, sayang. Sekarang abi sudah bukan milik kita sepenuhnya, abi sudah memiliki tanggung jawab yang lain."


Hatiku mencolos saat mendengarnya. Apa dia benar-benar mengikhlaskan aku dengan orang lain? Bahkan aku tidak pernah memikirkan untuk menduakan istriku. Sudah cukup bagiku memiliki seorang bidadari berhati kapas sepertinya. Pemilik hati yang begitu tulus. Mencintaiku apa adanya. Mencintaiku dengan ketulusan hatinya. Begitu banyak laki-laki yang lebih baik dariku. Ia malah memilihku. Laki-laki yang tak memiliki asal usul yang jelas. Bahkan aku sangat sering menyakitinya, membuatnya menangis.


"Aku tidak akan pernah membagi cintaku," ucapku. Ia terlihat sangat terkejut. Aku menghampirinya. Duduk di sampingnya. Ia menghapus air matanya dengan cepat. Aku menatapnya lekat. Apa itu sangat menyakitkan? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku benar-benar membagi cintaku. Mungkinkah ia akan menangis setiap hari?


"Hubby, kenapa hubby ada disini? Bagaimana dengan wanita tadi? Seharusnya hubby menemaninya. Ara tahu seperti apa rasanya saat kehilangan seorang anak, dia sangat membutuhkan dukungan hubby. Ara tidak apa-apa, lebih baik hubby temani dia ya? Disini ada Ichal, Ara baik-baik saja," ujarnya sambil tersenyum. Betapa pandainya ia menyembunyikan rasa sakit. Sudah jelas dari perkataannya, ia sedang tidak baik-baik saja. Tetapi ia masih tetap tersenyum.


"Apa sebegitu pentingkah kebahagiaan orang lain? Dibanding dengan kebahagiaan kamu sendiri?" tanyaku. Ia menatapku lekat. Lagi-lagi ia tersenyum begitu manis.


"Membuat orang lain bahagia, itu merupakan kebahagian untuk Ara. Jangan menatap Ara seperti itu, Ara baik-baik aja, Bi."


"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanyaku. Ia terdiam. Aku tersenyum dan kutarik dirinya dalam dekapanku.


"Aku tidak akan melakukan perbuatan yang akan membuatmu sakit, sayang. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti tadi," ujarku. Aku merasakan tubuhnya bergetar.


"Jangan menangis, hubby tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Maaf, selama ini hubby sering membuat kamu menangis," lanjutku.


"Bagaimana dengan wanita itu? Apa hubby tidak akan bertanggung jawab?" tanyanya. Aku tertawa renyah. Ia melerai pelukan. Menatapku lekat.


"Dia adik kembar hubby," balasku. Matanya membulat sempurna. Aku mengusap kepalanya dengan gemas.


"Sayang, dengan abi ya?" Aku mencubit pelan pipinya dengan gemas. Ichal berhenti menyusu, ia menggeliat dan terlihat begitu menggemaskan.


Aku merasa heran. Kenapa istriku masih terdiam? Aku menatapnya.


"Ara bingung, semuanya begitu rumit. Semua kejadian tidak bisa Ara cerna. Kecelakaan itu, bagaimana bisa terjadi?"


"Sudah hubby katakan, butuh waktu yang panjang untuk menjelaskan apa yang terjadi. Setelah semuanya aman, kita pulang dan hubby akan menjelaskan apa yang terjadi. Ikut dengan hubby, ada yang harus hubby kenalkan dengan kamu," jelasku. Ara masih menatapku penuh arti. Aku menghela napas berat. Aku mengambil Ichal dari gendongan Ara.


"Ayo," ajakku. Ia mengangguk. Lalu kami pun bergegas keluar.


"Sayang, perkenalkan ini mama. Mama Milan, ibu kandung hubby. Dan wanita yang kamu maksud ini adalah kembaran hubby," ujarku memperkanalkan mama dan Mala pada istriku. Ara masih terlihat bingung.


"Maafkan aku, aku sudah membuatmu salah paham. Aku hanya ingin tahu, seberapa besar kau mencintai kakakku. Kau tahu Ara, setiap hari kakakku selalu mengikutimu. Kemanapun kau pergi. Dia sangat keras kepala," ujar Mala. Aku hanya bisa menggeleng. Ara menatapku penuh tanda tanya.


Selama ini aku memang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Bahkan, setiap malam aku tidak pernah lupa menemuinya. Hanya saja, aku datang saat ia sudah tertidur. Saat itu aku benar-benar menderita. Aku tidak bisa memeluknya, walaupun ia ada dihadapkanku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.


"Mama boleh gendong cucu mama?" tanya mama padaku. Aku langsung mengangguk. Lalu memberikan Ichal pada mama.


"Saat kamu bayi, bahkan mama tidak sempat menggendong kamu Alan. Kali ini biarkan mama menggendong cucu mama," ujar mama menatapku. Aku mengangguk pelan. Ku lihat Ara yang sedang menatap mama lekat.


"Sekarang Ara sadar, hubby sangat mirip dengan mama. Kenapa Ara tidak menyadari ini sejak tadi?" ujarnya.


"Karena kamu hanya memperhatikan pria tampan ini," balasku sambil merangkulnya. Aku meringis saat mendapatkan cubitan pedas darinya.


"I love you, sayang," bisikku tepat di telinganya.


"Ara tidak akan membalas cinta hubby. Hubby terlalu banyak hutang," ujarnya membuatku bingung.


"Hutang?" tanyaku penasaran.


"Ya, hubby punya banyak hutang cerita pada Ara," balasnya dengan bibir mengerucut. Ku kecup bibir itu dengan gemas. Lagi-lagi aku mendapatkan cubitan pedas darinya.


"Sakit, sayang," protesku. Ia tersenyum sambil menggenggam tanganku. Menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Ara rindu rumah kita," ucapnya.

__ADS_1


"Ya, kita pasti akan pulang. Bersabarlah sedikit," ucapku mengecup pucuk kepalanya. Kami terdiam. Saling menikmati kebersamaan yang sudah lama terhalang oleh waktu. Ku genggam tangannya dengan erat. Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan melepaskannya lagi. Walau apa pun yang terjadi.


__ADS_2