Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 66. Kembalikan dia padaku (Ara)


__ADS_3

Ku buka mataku perlahan. Aku mencium bau yang cukup menyengat. Di mana aku saat ini?


Kepalaku sangat sakit, aku juga merasa sesuatu menusuk tanganku. Ku lihat sebuah jarum tertancap di tanganku. Aku berada di rumah sakit? Apa yang terjadi?


Aku terhenyak saat kembali mengingat kejadian itu. Alan. Dimana ia sekarang? Ku sibak selimut yang menutup tubuhku. Ku cabut jarum yang menancap di lenganku. Sangat menyakitkan.


Akh... Perutku sakit sekali. Tetapi, aku terus berusaha untuk keluar dari ruangan yang di penuhi bau aneh ini. Ku buka pintu perlahan.


"Kak Ara? Kenapa bangun?"


Aku sedikit terkejut saat Arin tiba-tiba muncul di balik pintu.


"Alan, dimana dia?" tanyaku menatapnya lekat. Arin terlihat menunduk.


"Arin, ada apa ini?" tanyaku sambil menyentuh ke dua pundaknya.


"Ara, kenapa kamu di luar? Ayo masuk, kamu tidak boleh banyak bergerak,"


Aku menoleh saat mendengar suara bunda.


"Bun, apa yang terjadi? Di mana Alan?" tanyaku menarik tangan bunda. Bunda menyentuh wajahku, menarikku dalam dekapannya.


"Bun, Ara mimpi buruk kan?" tanyaku melerai pelukan bunda.


"Ara mau ketemu Alan, tolong telepon Alan bun."


"Sayang, kamu harus sabar. Setiap manusia, akan kembali pada-Nya. Kamu harus ikhlas,"


Aku mengeryit bingung. Kenapa bunda berkata seperti itu?


Tidak!


Itu tidak mungkin terjadi, Alan masih hidup. Dia sedang menungguku di rumah. Kenapa aku bisa ada disini sih?


"Bunda, Ara mau pulang. Alan pasti menunggu Ara di rumah," ucapku menggenggam tangan bunda.


"ARA, dengarkan bunda. Kamu harus ikhlas, Alan sudah tidak ada. Alan sudah di kebumikan beberapa jam yang lalu,"


Aku terdiam. Mencerna setiap perkataan bunda, bagaikan belati menghujam jantungku. Alan meninggal? Itu tidak mungkin terjadi. Alan sudah berjanji akan terus menemaniku. Aku tidak percaya, jika Alan sudah tidak ada.


"Bunda bohong, Ara akan mencari suami Ara sendiri."


Aku berjalan keluar. Aku ingin segera pulang. Aku yakin, Alan sedang menungguku di rumah. Hati kecilku terus berkata, suamiku masih hidup.


"Ara, hentikan itu. Ikut bunda sekarang!"


Aku sangat terkejut saat bunda menarikku.


"Bunda, Ara mau pulang. Tolong jangan seperti ini," ucapku. Namun bunda sama sekali tak menghiraukanku.


"Bunda, kita mau kemana?" tanyaku saat bunda melajukan mobilnya. Aku menatap bunda lekat. Bunda terdiam.


Apa ini? Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa, aku berada di rumah sakit? Apa mimpi itu benar-benar nyata? Itu tidak mungkin. Kepalaku sangat sakit mengingat semuanya.


"Bunda," panggilku saat bunda menghentikan mobilnya tepat di pakaman umum. Aku menatapnya lekat. Bunda ikut menatapku. Tangannya terulur untuk menyentuh pipiku.

__ADS_1


"Dengar sayang. Alan, suami kamu sudah tidak ada. Kamu harus ikhlas, sabar, lapangkan hati kamu. Bunda tahu ini sakit, bunda tahu kamu kuat. Ayo turun,"


Mulutku seakan terkunci. Apa mimpi ini masih berlanjut?


"Ayo sayang."


Aku sangat terkejut, kini bunda sudah membukakan pintu untukku. Aku turun dari mobil.


"Ayo," ajak bunda menuntunku. Kakiku melangkah perlahan.


Aku menatap pusaran yang terlihat masih baru. Semua keluargaku dan Alan tengah berkumpul. Aku juga melihat mama sedang menangis sambil memeluk papa.


Arlan Digantara. Nama itu terukir dengan jelas di sana. Aku menatapnya lekat. Benarkah itu Alan? Hatiku terus menjerit. Jika itu bukan Alan, suamiku. Alan masih hidup. Ya, dia masih hidup.


"Ara," mama menyentuh lenganku. Aku memalingkan wajahku untuk menatap mama.


Air mataku mengalir begitu saja. Dadaku terasa begitu sesak. Napasku seakan berhenti.


"Tidak, Alan masih hidup, Ma. Mama harus percaya dengan Ara," ucapku. Aku menatap semua orang, aku ingin mereka percaya padaku.


"Ara, mama mohon. Tolong ikhlaskan Alan, nak. Mama mohon," ucap mama langsung pergi meninggalkan aku dan diikuti oleh papa. Aku menatap bunda lekat.


"Bunda," panggilku. Bunda mengusap pundakku.


"Bunda percaya pada Ara kan? Alan masih hidup bun, Alan sudah berjanji akan melihat anak ini lahir. Ara yakin, Alan tidak akan mengingkari janjinya. Percaya pada Ara, Bun. Bagaimana kalian bisa tahu jika itu Alan? Mungkin saja itu orang lain," jelasku pada bunda.


Aku menatap Azka yang tengah menatapku. Aku berjalan mendekatinya.


"Dek, bawa kakak pulang." Pintaku pada Azka. Aku tahu, ia percaya padaku. Azka tersenyum sambil mengangguk. Aku sangat bahagia. Saat ini, aku hanya membutuhkan orang yang percaya padaku.


Aku menatap jalanan lurus di depan.


"Kak, apa sebaliknya kakak kembali ke rumah sakit?" tanyanya yang berhasil membuyarkan lamunanku.


"Tidak perlu, kakak ingin pulang. Alan pasti menunggu kakak di rumah," balasku.


"Hmmm... Kakak harus banyak istirahat," ucapnya.


"Apa kamu percaya pada kakak?" tanyaku sambil terus menatap jalan.


"Hmmm... Aku akan membantu kakak mencari kak Alan."


Aku langsung menatapnya.


"Jadi kamu benar-benar percaya, jika Alan belum meninggal?" tanyaku menatapnya lekat.


"Ya, dokter mengatakan jika wajah jenazah tidak bisa terdeteksi. Kondisinya cukup mengenaskan," jelasnya. Aku sangat terkejut. Jadi perasaanku tidak pernah salah. Alan masih hidup. Tapi dimana ia saat ini? Bagaimana kondisinya?


"Kak, jangan katakan ini pada siapa pun. Cukup kita yang tahu, Azka rasa ada sesuatu yang janggal. Sebaiknya kakak pura-pura percaya jika kak Alan sudah tidak ada. Azka akan menyelidiki kejadian ini."


Aku mengangguk pasti. Apa yang sebenarnya terjadi? Ya Allah, tolong lindungi suami hamba. Di mana pun ia berada.


Sesampainya di rumah. Aku langsung masuk ke kamar. Ku tatap wajahnya yang terbingkai indah di dinding. Aku sangat merindukannya.


Di mana hubby berada saat ini? Ara tahu, hubby tidak akan meninggalkan Ara begitu saja.

__ADS_1


***


Menit terus berganti jam, hari demi hari berlalu begitu cepat. Bulan pun terus bergulir. Aku belum mendapatkan kabar apa pun darinya. Semua itu membuat hatiku ragu. Ragu akan dirinya yang masih hidup. Meruntuhkan setiap keyakinanku. Menghancurkan semangat dalam diriku.


Jika benar ia masih hidup. Kenapa ia tak datang padaku. Menemuiku disini. Apa dia tak merindukanku?


Di mana sebenarnya ia berada? Aku sangat merindukannya.


"Sayang, jangan cuma di pandang. Ayo, di makan," ucap bunda yang berhasil membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan. Lidahku terasa kelu. Semua yang masuk dalam mulutku, rasanya sangat pahit.


"Hari ini jadwal cek up bukan?" tanya papah. Aku kembali mengangguk, sebagai jawaban. Aku memasukkan nasi dengan malas ke dalam mulut.


"Sarapan yang banyak, kamu sangat kurus sayang. Bunda khawatir dengan kondisi kamu," ucap bunda.


"Ara tidak selera makan, Ara ke kamar dulu." Aku pun langsung bergegas ke kamar. Mengurung diri membuatku lebih baik.


"Sayang, umi tahu kamu rindu abi. Sama, umi juga rindu. Tiga bulan, umi belum mendapatkan kabar tentang abi. Umi kesepian," ucapku sambil mengelus perut. Aku merasakan pergerakan di dalam sana. Sepertinya bayiku merasakan, apa yang sedang aku rasakan. Aku sangat merindukannya.


Satu jam lagi, waktunya untuk cek up. Melihat perkembangannya di dalam sana. Hal itu membuatku sedikit melupakan masalahku. Aku harap, kehadirannya dapat memberikan kebahagiaan untuk semua orang.


Tiga puluh menit berlalu. Dokter mengatakan jika kondisi bayiku sehat. Aku sangat senang. Dokter juga mengatakan, beberapa minggu lagi anakku akan lahir. Tetapi, di sisi lain. Aku juga merasa sedih. Bagaimana jika anak ini lahir, Alan benar-benar tidak ada?


Kuputar mobilku menuju tempat kejadian beberapa bulan yang lalu. Aku turun dari mobil. Setiap hari, aku tidak pernah absen datang ke tempat itu. Berharap ia ada di sana, datang menemuiku. Kutatap jurang yang sudah meluluh lantahkan kebahagiaanku.


Air mataku mengalir, seakan tak ingin berhenti. Rasa sakit di hatiku semakin menjadi.


"Jika hubby masih hidup, kenapa hubby tidak pulang? Apa hubby tidak merindukan Ara? Apa hubby tidak ingin melihat anak kita lahir?" teriakku. Aku tidak perduli jika orang lain menganggapku gila. Aku hanya ingin dia mendengar jeritan hatiku. Aku ingin dia kembali. Setidaknya aku mendapat kabar darinya, itu lebih dari cukup.


"Ara!"


Aku sangat terkejut saat seseorang memanggil dan menyentuh pundakku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menoleh.


Pak Dio. Sedang apa dia disini? Aku sedikit mundur.


"Kenapa bapak disini?" tanyaku heran.


"Menjagamu," balasnya membuatku bingung.


"Setiap hari aku melihatmu disini, aku takut terjadi sesuatu padamu. Saat ini kamu sedang mengandung, tidak baik sendirian di tempat sepi."


Aku kembali mundur saat ia mendekat.


"Maaf, saya harus pulang." Aku sedikit berlari menuju mobil.


"Ara, aku bersedia menjagamu, juga anak itu. Bagiku, kalian sangat berharga. Izinkan aku menjagamu, Ara."


Tanganku serasa kaku. Apa yang barusan aku dengar? Apa tidak salah? Kenapa Pak Dio mengatakan hal itu?


Aku berbalik, menatapnya lekat.


"Saya tidak butuh siapa pun untuk menjaga saya, juga anak ini. Saya bisa menjaga diri," sanggahku. Lalu aku masuk ke dalam mobil. Meninggalkan tempat itu.


Kenapa Pak Dio memiliki pemikiran seperti itu? Apa dia belum bisa melupakan aku? Kenapa semuanya semakin rumit.


"Bi, cepatlah kembali. Ara sangat membutuhkan hubby." Air mataku tak kunjung berhenti. Rasa sesak di dadaku semakin menjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Setiap saat, setiap detik aku selalu berdoa ke pada-Nya. Tolong kembalikan Alanku. Kembalikan suamiku. Kembalikan dia padaku.

__ADS_1


__ADS_2