Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 41. Melepas Rasa Rindu


__ADS_3

"Bi, terimakasih sudah membawa mereka kesini. Sudah hampir satu bulan Ara tidak kesana. Ara seneng banget bisa melihat mereka lagi." ujar Ara memeluk Alan dengan lembut. Alan tersenyum sambil terus mengusap kepala Ara.


"Apapun yang membuat kamu bahagia, hubby akan berikan sayang. Karena bagi hubby, kebahagiaan kamu adalah yang paling utama." Alan mengecup pucuk kepala Ara dengan begitu mesra.


"Hmmm... Ara sudah sangat bahagia. Terimakasih bi."


"Tidak perlu berterimakasih sayang, karena dalam cinta tak ada kata terimakasih."


Ara tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Bi, bagaimana dengan kuliah hubby?" tanya Ara menyetuh pipi Alan. Alan menatap Ara lekat.


"Menurut kamu bagaimana? Apa aku harus lanjut?" tanya Alan. Ara sangat terkejut mendengar pertanyaan Alan. Bukan itu yang ingin Ara dengar.


"Bi, kenapa hubby bertanya seperti itu? Hubby harus tetap lanjut. Ara hanya bertanya, bagaimana kuliah hubby disana apa lancar?" jawab Ara kembali mengulangi pertanyaannya. Alan menarik napas dalam.


"Hubby bingung, di satu sisi hubby tidak mau mengecewakan papa. Tapi disisi lain, hubby juga punya tanggung jawab untuk menjaga kamu sayang. Hubby bingung harus bagaimana?"


"Lanjutan kuliah hubby, kejar target yang sudah hubby susun. Ara disini baik-baik aja bi, hubby tidak perlu khawatir. Saat ini yang paling penting, hubby harus fokus pada kuliah hubby dan cepat kembali. Ara akan selalu menunggu hubby, jika Allah mengizinkan. Ara akan menyusul hubby." papar Ara panjang lebar. Alan menatap Ara sambil mencerna setiap ucapan sang istri.


"Hubby hanya tidak ingin kejadian ini terulang kembali." ujar Alan menunduk. Ara menghela napas berat.


"Hubby, kejadian ini adalah sebuah pelajaran untuk kita. Insha Allah tidak kedepannya kejadian ini tak akan terulang kembali. Hubby, percayalah pada Ara. Kita lewati semua ini bersama-sama ya? Hubby jangan putus asa seperti ini dong. Dulu hubby sering bilang, katanya hubby mau jadi orang sukses dan mengalahkan papa. Sekarang adalah waktunya untuk mewujudkan impian hubby, tetap semangat. Your wife is always behind."


"Believe me, Allah is always with us. Disini." Ara menunjuk lubuk hati Alan yang paling dalam. Alan tersenyum dan kembali memeluk Ara.


"Terimakasih ya Allah, kau memberikan bidadari berhati mulia dalam wujud istriku. Aku sangat bahagia." ujar Alan memeluk Ara dengan erat. Ara tersenyum mendengar ucapan Alan yang terlalu berlebihan baginya.


"Pangeran terlalu berlebihan, lalu apa sekarang pangeran masih dilema?" tanya Ara menarik kerah baju Alan.


"Tidak, karena aku sudah mendapatkan petuah dari sang bidadari cantik. Hatiku kembali terbuka. Aku mencintaimu." ucap Alan mengecup kening Ara begitu dalam. Ia menatap netra sang istri yang begitu menyejukkan hati.


"Hubby akan berangkat minggu depan. Sayang tidak apa-apa kan hubby tinggal lagi?" tanya Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari mata indah Ara. Ara menggeleng dan tersenyum manis.


"Ara ok kok bi, walaupun akan rindu. Tapi Ara akan sabar menunggu hubby. Hubby harus janji, terus kabari Ara. Jangan seperti hari itu." ujar Ara dengan bibir manyunnya. Alan tertawa dan mencubit bibir Ara dengan gemas.

__ADS_1


"Tidak akan mengulangi kesalahan, hubby janji." ucap Alan menangkup wajah Ara. Ara tersenyum dan kembali memeluk Alan.


"Saaaayang hubby." ucap Ara begitu manja.


"Sayang, apa kamu begitu dekat dengan bos kamu di kantor?" tanya Alan, Ara sangat terkejut saat mendengar pertanyaan Alan. Ara mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang suami penuh tanda tanya.


"Tidak, bagaimana mungkin Ara dekat dengannya." ucap Ara.


"Lalu apa maksud perkataannya? Kalian sering makan siang bersama?"


Mendengar pertanyaan itu Ara langsung tertawa. Alan menautkan alisnya.


"Jadi hubby percaya? Ya ampun bi, sejak kapan Ara makan siang dengan atasan Ara. Orang setiap hari Ara makan dengan temen-temen kok. Ara kan sering bawa bekal, lagian makanan di kantin kurang enak." jelas Ara sambil tersenyum geli. Ternyata senang juga ya saat melihat orang yang kita cintai cemburu. Sangat lucu dan menggemaskan. Batin Ara.


"Bagaimana bisa dia mengatakan jika dia merindukan makan siang bersama kamu?" Alan masih belum puas dengan jawaban Ara. Ara menarik napas dan menatap wajah tampan itu lamat-lamat.


"Hubby ku sayang, Ara tidak tahu alasan pak Dio mengatakan hal itu. Yang jelas Ara tidak pernah makan siang bersamanya. Pernah sih keluar dengannya, tapi itu pun karena pertemuan dengan klien. Hubby harus percaya, Ara benar kok tidak pernah sekali pun makan siang berdua dengan pak Dio." jelas Ara panjang lebar. Ia berharap Alan percaya dengan ucapannya, karena memang itu apa adanya. Alan masih terdiam. Ara menghela napas berat dan menangkup wajah Alan dengan kedua tangannya.


"Bagi Ara, hubby adalah satu-satunya lelaki yang Ara cintai. Setelah papah dan Azka. Tidak ada orang lain dia hati Ara, hubby pasti tahu perasaan Ara pada hubby seperti apa? Ara selalu berusaha untuk menjaga jarak dengan lelaki manapun. Karena Ara sangat menghormati hubby sebagai suami Ara. Hubby adalah imam terbaik untuk Ara." Ara mengecup bibir Alan dengan lembut. Ara tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di leher Alan.


"Hubby juga selalu merindukanmu sayang. Apalagi saat kamu manja seperti ini, hubby sangat merindukannya." ujar Alan mengecup kepala Ara bertubi-tubi.


"Ara akan memaafkan waktu untuk terus memeluk hubby seperti ini."


"Hmmm... Peluklah sepuasnya tuan putri. Hamba akan menerima dengan senang hati." ucap Alan yang di sambut tawa oleh Ara. Lalu keduanya terhanyut dalam kerinduan yang sudah terpendam.


***


Seminggu berlalu begitu cepat. Malam ini Alan akan kembali berangkat.


"Huh, malam ini Ara manjanya sama guling lagi deh." ucap Ara sambil memainkan rambut Alan yang masih basah. Alan tersenyum mendengar keluhan sang istri.


"Harus terbiasa, tapi ingat jangan cium guling ya? Nanti jatah hubby habis deh." gurau Alan. Ara memukul pundak Alan pelan.


"Memangnya hubby kira Ara sudah gila apa pake cium guling sengala?" Ara mengerucutkan bibirnya. Percuma saja dia memasang wajah kesal, Alan tak bisa melihatnya karena posisinya saat ini berada di belakang Alan.

__ADS_1


"Siapa tahu aja kan? Sangking rindunya kamu cium guling deh." ucap Alan sambil terkekeh.


"Enak aja, jangan bilang hubby tu yang suka cium guling. Awas aja tu guling, bakal Ara bejek-bejek kalau sempat hubby cium." ujar Ara dengan nada kesal. Alan semakin terkekeh mendengar perkataan Ara.


"Kasian dong si gulingnya, dia kan gak salah." ucap Alan memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan tangan Ara di kepalanya. Namun tiba-tiba Ara menghentikan kegiatannya dan merubah posisi duduk di pangkuan Alan.


"Bi, hubby disana gak ada yang ganggu kan? Gak ada yang goda hubby kan?" tanya Ara saat kembali mengingat ucapan Disa saat di kantor. Alan menaikkan sebelah alisnya. Namun tak lama Alan kembali mengubah ekspresi wajahnya.


"Banyak, bahkan ada yang memohon untuk jadi pacar hubby." ucap Alan menahan senyumannya.


"Terus?" tanya Ara dengan raut wajah cemburu.


"Terus... Ya gitu deh. Kamu pasti tahu jawabannya." ucap Alan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Ara. Ara mengerucutkan bibirnya.


"Pasti mereka lebih cantik kan?" tanya Ara dengan tak semangat. Alan tersenyum tipis. Beberapa kali terdengar Ara menghela napas berat.


"Tapi kamu lebih cantik dan spesial sayang. Secantik apapun mereka, tak ada satupun yang menarik seperti kamu. Sepanjang hari hubby hanya memikirkan kamu sayang, hanya kamu yang selalu hubby rindukan setiap saat dan setiap detik." ujar Alan menyelipkan rambut Ara yang menutupi setengah wajahnya. Ara menunduk yang kembali membuat Alan bingung.


"Ada apa? Masih tidak percaya?" tanya Alan menarik dagu Ara. Alan sangat terkejut saat melihat pipi Ara yang merona. Alan kira Ara akan menangis seperti biasa.


"Ara malu bi," ucap Ara pelan. Alan tertawa renyah melihat tingkah menggemaskan istrinya. Alan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara. Detak jantung keduanya berpacu hebat.


"Ingat sayang, dokter bilang kamu harus istirahat penuh. Satu bulan ini diam dirumah dan jangan pergi kemana-mana jika itu tidak penting. Setelah kamu sehat, kamu bisa melanjutkan magang lagi. Kamu mengerti kan?" ujar Alan yang di jawab anggukkan oleh Ara.


"Jangan lupa makan dan minum obat. Mulai sekarang harus terbiasa minum susu. Kamu terlihat sangat kurus, hubby tidak suka kamu terlalu kurus seperti ini." sambung Alan. Namun kali ini Ara langsung menggeleng.


"Ara tidak mau minum susu bi. Ara gak suka, bau tau." rengek Ara sambil manyun. Alan tersenyum dan mengacak rambut Ara karena gemas.


"Harus terbiasa, susu itu baik untuk kesehatan." ucap Alan mencubit pipi Ara dengan gemas.


"Sakit bi," rengek Ara lagi sambil memukul lengan Alan. Alan merebahkan tubuhnya dan menarik Ara hingga terjatuh kedalam dekapannya. Ara sangat terkejut karena ulah Alan.


"Aku ingin memeluk kamu sampai puas, besok kita tidak bisa seperti ini lagi." ucap Alan mengecup kening Ara. Ara tersenyum dan mengangguk. Ia meletakkan kepalanya didada Alan dan memejamkan matanya.


"Ara ngantuk." ucap Ara memeluk Alan dengan erat.

__ADS_1


"Tidurlah," ucap Alan mengusap kepala Ara dengan lembut. Lalu keduanya terlelap. Mungkin hanya waktu yang tahu dan akan menjawab kerinduan yang selalu terpendam. Rasa rindu yang sulit untuk diobati. Rasa rindu yang menyesakkan dada. Memang benar kata Dilan, jika rindu itu berat. Namun tanpa rasa rindu, dunia akan terasa hampa. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap perpisahan akan menciptakan kerinduan.


__ADS_2