
Hari terus berganti dengan begitu cepat. Alan menatap wajahnya di cermin. Kini ia tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Wajahnya sudah dipenuhi bulu-bulu halus.
Alan memejamkan matanya. Ia kembali mengingat wajah sang istri yang terlihat pucat setiap ia mengunjunginya. Ya, setiap malam Alan akan pergi diam-diam untuk mememui istrinya. Ia tidak perduli dengan kemarahan sang papa. Wajah itu selalu membuat Alan terluka begitu dalam. Alan benar-benar merindukan Ara yang dulu, pemilik wajah yang selalu membuat hatinya berdetak tak karuan.
"Sarapan sudah siap, turunlah."
Alan sangat terkejut dan langsung menghapus air matanya. Ia melihat seorang wanita paruh baya di ambang pintu. Wanita itulah yang menemani dan membantu memenuhi segala kebutuhan Alan. Alan tidak pernah tahu siapa wanita itu sebenarnya.
"Ya, saya akan keluar sebentar lagi." Alan berjalan menuju balkon. Ia menatap hamparan kebun teh yang begitu luas. Ya, saat ini ia berada di sebuah Vila yang berada di Bogor. Vila itu milik keluarga Digantara, tidak ada yang mengetahui akan hal itu.
Alan sadar akan kehadiran seseorang. Namun ia pura-pura tidak menyadarinya.
"Tuan meminta anda untuk turun, ada yang ingin menemui anda di bawah," ujar Grace yang berhasil mendapatkan perhatian Alan.
"Siapa?" tanya Alan datar.
"Turun dan lihat sendiri," balas Grace beranjak keluar. Alan menghela napas berat. Ia pun mengikuti langkah kaki wanita itu.
Kaki Alan terhenti saat melihat seorang pria yang kini duduk di ruang tamu bersama sang Papa.
"Hy kak, apa kabar?" tanya pria itu tersenyum pada Alan. Alan langsung tersadar dari lamunanya.
"Ah, baik. Bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Alan ikut bergabung.
"Paman yang mengajak aku kesini kak, ternyata benar ucapan kak Ra. Kakak masih hidup," ujar pria itu yang tak lain adalah Azka.
Alan menatap Arnold penuh arti.
"Jangan khawatir, Azka akan menjaga kak Ra dengan baik. Hanya saja, dia sering menangis akhir-akhir ini. Kondisinya juga kurang baik," lanjut Azka. Alan tidak terkejut, ia sudah tahu bagaimana kondisi istrinya.
"Hmmm... Tetap jalankan rencana kita, sekarang kamu sudah masuk dalam rencana ini Azka. Paman harap kamu bisa menjaga rahasia," ujar Arnold dengan tegas. Azka tersenyum sambil mengangguk.
Alan memilih untuk diam sambil menatap lurus ke depan. Pikirannya terus tertuju pada Ara.
"Paman, sebaiknya papah juga ikut. Kita membutuhkan kekuatan besar dalam melawan musuh saat ini. Lebih banyak anggota, akan lebih mudah menyerang musuh," ujar Azka dengan santai. Arnold terlihat sedang berpikir.
"Hmmm... Ide bagus, kita akan membicarakan ini lain waktu. Ingat, bekerja dengan hati-hati."
Azka tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Alan masih terdiam dalam lamunannya. Azka yang melihat itu menarik napas panjang. Ia tahu bentul perasaan kakak iparnya saat ini. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apapun.
"Azka pamit dulu," pamit Azka menatap Alan dan Arnold bergantian.
"Hati-hati, usahakan tidak ada yang tahu akan hal ini." Arnold bangun dari duduknya. Ia menghampiri Azka.
"Jaga kakak kamu dengan baik," lanjut Arnold. Azka tersenyum sambil mengangguk, lalu ia langsung bergegas pergi.
"Ada yang ingin papa bicarakan, ikut papa," ajak Arnold pada Alan. Alan menatap Arnold bingung. Namun ia tak ingin banyak bertanya. Alan pun mengikuti langkah Arnold.
Alan melihat wanita yang selalu menyiapkan keperluan Alan sudah duduk di ruang tengah. Di sebelahnya juga terlihat seorang wanita muda tengah duduk sambil merangkul tangan seorang pria.
__ADS_1
"Alan, duduk!" titah Arnold. Alan menatap mereka bergantian, lalu ia ikut duduk di sana.
"Apa yang ingin papa katakan?" tanya Alan datar. Arnold melirik wanita yang selalu melayani Alan itu.
"Wanita yang selama ini ada bersama kamu, dia adalah ibu kamu Alan. Milan, ibu kandung kamu dan disebelahnya adalah kembaran kamu."
Alan sangat terkejut.
"Apa? Papa jangan gila! Bukankah papa yang bilang mama sudah meninggal?" tanya Alan bingung. Ia menatap wanita itu lekat. Alan tidak pernah menyadari akan hal itu.
"Kamu bisa menanyakan itu langsung pada ibumu, dia yang tahu semuanya," ujar Arnold begitu santai. Alan semakin di buat bingung.
"A.. Alan, mama minta maaf. Sebenarnya semua ini terjadi tanpa sepengetahuan papa kamu. Mama sengaja meminta dokter untuk mengatakan jika mama sudah meninggal. Mama hanya ingin pergi dari hidup papa kamu, mama malu atas apa yang sudah mama lakukan pada papa kamu. Jika tahu mama masih hidup, papa kamu tidak akan melepaskan mama. Mama tidak mau itu terjadi, mama tidak pantas ada di sisi papa kamu. Mama pergi membawa adik kamu, Mala," Jelas Milan panjang lebar. Milan menangis di pelukan putrinya.
Alan terdiam. Ia tidak bisa mencerna apapun. Pikirannya benar-benar buntu. Begitu banyak masalah dalam hidupnya.
"Mama minta maaf, jangan membenci mama Alan. Mama hanya ingin papa kamu bahagia," lanjut Milan. Alan tetap diam. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Kak, bicara lah. Jangan membuat mama sedih," ujar Mala menatap Alan yang masih terdiam.
"Itu adalah resiko yang harus dia ambil," ujar Arnold sambil tersenyum getir.
"Selesaikan urusan ini dengan cepat," lanjut Arnold yang langsung bergegas pergi.
"Kamu boleh benci mama, mama ikhlas. Tapi, biarkan saat ini mama merawat kamu."
"Mama sudah memohon pada om Arnold, agar mama bisa merawat kak Alan. Mama benar-benar menyesal, kak," ucap Mala terus menatap Alan. Alan memejamkan matanya. Kepalanya seakan mau pecah.
Alan menatap Milan lekat. Ia berjalan perlahan mendekati ibu kandungnya. Alan benar-benar tidak menyangka jika ibunya masih hidup. Alan menjatuhkan dirinya di lantai. Ia bersimpuh di kedua kaki ibunya. Milan sangat terkejut dengan apa yang Alan lakukan. Milan menarik Alan untuk bangun. Ia memeluk putranya dengan lembut.
"Kenapa tidak mama katakan sejak awal?" tanya Alan memeluk Milan dengan erat.
"Mama minta maaf," ucap Milan mengecup pucuk kepala Alan bertubi-tubi. Mala yang melihat itu ikut menangis. Ia memeluk sang suami dengan erat.
"Mama begitu banyak dosa pada kalian, mama minta maaf," lanjut Milan. Alan menangis di pelukan Milan.
Seperti inikah pelukan seorang mama yang sudah melahirkan kita? Aku sering mendapatkan pelukan mama Nissa, tapi tidak sahangat ini.
"Alan rindu mama, kenapa mama tidak menemui Alan selama ini?" ucap Alan mengusap kedua pipi sang mama. Milan mengecup kening Alan dengan penuh kasih sayang.
"Mama tidak ingin menganggu kebahagiaan kalian, mama tahu kamu sudah memiliki pengganti mama yang lebih baik. Dia wanita hebat, bahkan dia bisa merubah sifat papamu. Mama percaya padanya, dia pasti akan menjaga kamu dengan baik. Sekarang terbukti, kamu sudah dewasa dan begitu pintar. Mereka mendidik kamu dengan benar, mama sangat bersyukur," jelas Milan. Ia menghapus air mata Alan. Alan mencium punggung tangan Milan dengan lembut.
"I miss you mom, really really miss you... Jangan pernah pergi lagi," ucap Alan kembali memeluk Milan. Milan sangat senang, ia bahagia Alan tidak marah padanya. Ia tidak salah memilih orang untuk menitipkan putranya.
"lalu, aku ini siapa?" tanya Mala menatap Alan dan Milan bergantian.
Alan tersenyum saat melihat sang adik yang mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah kita kembar? Kenapa sama sekali tidak ada kemiripan?" ucap Alan tersenyum jahil. Mala yang mendengar itu langsung memukul lengan Alan.
__ADS_1
"Jahat! Memangnya orang kembar itu harus mirip apa? Kakak pikir aku ini siapa, huh?" ujar Mala mulai merajuk. Alan tertawa renyah. Ia langsung memeluk Mala dengan erat.
"Kakak, Mala sangat senang bisa memeluk kakak seperti ini. Dulu, Mala hanya bisa mendengar cerita dari mama. Mala tidak pernah tahu seperti apa wajah kakak," ujar Mala mengusap air matanya.
"Sekarang kamu bisa melihat kakak sepuasnya," ucap Alan. Mala pun tersenyum. Alan menatap pria yang ada di sebelah Mala.
"Dia suami Mala, Rudi Satya Putra."
"Suami? Kenapa begitu cepat?" tanya Alan.
"Cepat? Bukannya anda juga sudah menikah tuan?" ucap Mala balik bertanya. Alan tersenyum kikuk.
"Ya, kamu benar." Alan duduk sambil menyalami suami adiknya. Pria bernama Rudi itu menerima uluran tangan Alan dengan baik.
"Jaga dia dengan baik," pesan Alan pada Rudi.
"Ya, selama aku mampu." Rudi tersenyum sambil mengusap kepala Mala.
Tidak lama seorang wanita yang selalu berpakaian formal pun datang menghampiri mereka. Alan menatap wanita itu lekat.
"Ada apa Grace?" tanya Alan penasaran. Grace akan datang jika ada sesuatu yang penting.
"Tempat ini sudah di ketahui oleh musuh, tuan meminta kita untuk segera pergi sebelum terlambat," ujar Grace yang berhasil membuat Alan terkejut.
"Siapa sebenarnya di balik semua ini? Kenapa mereka begitu ingin menghancurkan keluarga Digantara?" tanya Alan bingung. Ia mengusap wajahnya pelan.
"Segera berkemas," ucap Alan bangun dari duduknya. Ia tidak ingin membuang waktu dan mengambil resiko besar. Semua orang langsung beranjak menuju kamar masing-masing. Alan berlari menuju garasi mobil. Ia mengeluarkan mobil dari sana. Namun, ia sangat terkejut saat mendengar suara tembakan dari dalam vila. Alan kembali turun, ia berlari masuk ke dalam rumah.
"Mama, Mala?" teriak Alan panik. Matanya membulat sempurna saat melihat suami sang adik tergeletak di lantai. Tidak jauh dari mereka terdapat seorang pria tergeletak dengan bersimbah darah.
"Mas, Mala mohon. Jangan pergi," ucap Mala menangis histeris. Alan memangku kepala Rudi. Ia menahan darah yang terus keluar dari dada sang adik ipar.
"Bertahanlah, kita harus pergi dari sini." Alan membantu Rudi bangun. Namun pria itu menahan tangan Alan.
"Bawa istriku pergi, mereka akan segera datang. Aku baik-baik saja, aku akan melawan mereka. Aku seorang agent yang sudah papamu bayar, pergi dan bawa mereka. Pergilah!"
"Tidak mas, aku...,"
"Pergi!" bentak Rudi mengambil senjata api yang tergeletak di lantai. Ia kembali bangun, tidak memperdulikan rasa sakit akibat peluru yang menembus dadanya. Alan menatap Rudi yang sedikit terseok saat berjalan.
"Ayo," ajak Alan. Mala menggeleng, ia hendak mengejar suaminya. Namun Alan menahanya dengan cepat.
"Jangan gila, kita harus segera pergi. Ayo, Ma." ajak Alan. Lalu mereka pun langsung beranjak pergi. Sepanjang perjalanan Mala terus menangis di pelukan Milan. Alan tidak tega melihat semua itu. Hingga tidak lama ponselnya berdering. Nama Arnold muncul di layar ponselnya. Alan langsung mengangkat panggilan.
"Alan, pergi ke alamat yang papa kirim. Jangan pernah menemui keluarga kita, atau siapapun. Rudi, dia sudah tidak ada. Papa ikut berduka," ujar Arnold di balik telepon. Alan menatap Mala dari balik cermin.
"Baik, pa."
"Satu lagi, Mala bukanlah wanita lemah seperti yang kamu kira. Dia dibesarkan oleh musuh kita. Dia lebih bahaya dari serigala," ujar Arnold yang berhasil membuat Alan terkejut.
__ADS_1
"Ya, Alan mengerti!" Alan mematikan ponselnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mengikuti arahan sang papa.