Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 51. Aku Putra Digantara (Alan)


__ADS_3

Ku buka mataku perlahan, yang pertama aku lihat adalah wajah cantiknya. Dia masih terlelap, ini semua salahku. Dia baru tidur setelah shalat subuh hanya untuk menemaniku. Ara, aku sangat mencintaimu. Hanya kamu yang mau menerimaku apa adanya, kamu sama sekali tak perduli siapa aku. Padahal begitu banyak pria yang lebih baik dariku, tapi kamu tetap memilihku. Mencintaiku begitu tulus.


Ku kecup keningnya dengan penuh kehangatan. Saat ini perasaanku menjadi lebih baik setelah melepaskan semua beban di hatiku.


Drrrttt


Aku sangat terkejut saat ponselku tiba-tiba saja berdering. Papa! Ada apa papa meneleponku?


"Alan, datang kerumah sekarang," suara papa terdengar panik. Aku bangun dari tidurku.


"Ada apa pa?" tanyaku penasaran.


"Pulanglah, mama kamu jatuh sakit."


Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan papa.


"Alan akan segera kesana," ku tutup sambungan telpon dan berlari menuju ruang ganti.


"Bi, ada apa?" tanya istriku saat aku baru keluar dari kamar ganti. Dia masih terlihat mengantuk sambil mengucek matanya.


"Mama sakit," jawabku sambil memakai jaket.


"Astagfirullah, tunggu Ara bi." Ia langsung melesat menuju kamar mandi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang hilang di balik pintu kamar mandi.


Sesampainya di rumah mama, aku langsung berlari. Perasaanku tak menentu, aku takut terjadi sesuatu pada mama.


"Assalamualaikum," ucapku langsung berlari kekamar mama. Aku melihat mama terbaring lemah di atas pembaringan. Hatiku sangat sakit, mama terlihat sangat pucat dan lemah.


"Ma," panggilku, aku duduk di sebelahnya. Ku kecup punggung tangannya dengan lembut. Perlahan mama membuka matanya.


"Alan," Aku tersenyum saat mama memanggil namaku. Ku kecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Aku tidak bisa melihat mama sakit seperti ini.


"Alan minat maaf ma, Alan tahu mama sakit karena Alan,"


"Apa kamu akan tetap menjadi anak mama? Mama tahu, mama ini...


"Shutttt, mama jangan banyak bicara lagi. Sampai kapanpun mama adalah mama Alan, kesayangan Alan."


Ku kecup tangan mama bertubi-tubi. Aku bisa melihat air matanya mengalir begitu deras. Aku tersenyum sambil menghapus air matanya.


"Alan tidak akan pernah meninggalkan keluarga ini, bagi Alan kalian lah mama dan papa kandung Alan. Alan akan selalu membahagiakan kalian semua, Alan janji," ujarku menatap mama dalam. Ku kecup lagi kening mama.


"Mama takut kehilangan kamu sayang, mama takut." Hatiku mencolos saat mendengar ucapan mama. Aku tahu mama sangat menyayangiku melebihi siapapun.


"Alan akan tetap menjadi keluarga Digantara Ma," ucapku memeluk mama. Perasaan hangat ini tak pernah berubah. Sebuah tangan menyetuh kepalaku, aku sangat terkejut dan langsung menoleh.


"Papa,"


"Kau putraku," Aku semakin tekejut saat tiba-tiba papa menarikku ke dalam dekapannya. Dengan ragu aku membalas pelukkan papa. Ini adalah pertama kalinya papa memelukku begitu erat.


"Terimakasih pa," ku pejamkan mataku untuk menikmati momen langka ini.


Ku buka mataku perlahan, aku melihat Ara tengah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya. Ia mengangguk, aku tidak mengerti apa maksudnya. Lalu ia pun menutup pintu perlahan. Sepertinya dia ingin memberikan waktu untukku bersama papa dan mama. Hanya dirinya lah yang memahami keadaanku. Aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Terimakasih ya Allah.


"Pa, Alan akan menemui mereka." ucapku. Papa langsung melerai pelukannya. Aku menatap papa lekat, begitu pun sebaliknya.


"Papa jangan khawatir, Alan akan tetap menjadi anak papa. Sampai kapanpun, Alan adalah anak papa,"

__ADS_1


"Papa percaya padamu, pergilah." Aku tersenyum dan mengangguk.


"Ma, jangan memikirkan apapun lagi. Ingat, kesehatan mama lebih penting. Alan sangat mencintai mama, jika mama sakit. Alan akan ikut sakit ma," sambung ku. Ku kecup kembali kening mama.


"Alan, papa minta maaf karena menyembunyikan semuanya dari kamu. Papa hanya tidak ingin kamu pergi, papa akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu kembali. Seperti yang papa katakan, kamu putra papa nak," ujar Papa. Aku tersenyum dan mengangguk. Hari ini aku benar-benar bisa melihat kelemahan papa, dia benar-benar terlihat begitu terpuruk.


"Alan akan menyelesaikan masalah ini secepatnya pa, jangan khawatir."


Aku menatap papa dan mama bergantian, ku genggam tangan mereka untuk meyakinkan jika aku bisa melewati semua ini.


***


Saat ini aku sudah berdiri tepat di depan rumah milik ayah biologisku. Ya, seperti yang aku janjikan pada kedua orangtuaku. Hari ini aku akan menyelesaikan semuanya. Aku menatap wanita yang saat ini berada di sampingku. Istriku, dia ikut bersamaku. Sebenarnya aku menolak keinginannya untuk ikut bersamaku, tapi aku tahu benar sifat keras kepalanya. Jadi aku mengalah dan membiarkan ia ikut bersamaku.


"Ayok," ajakku. Ku genggam erat tanganya dan tak akan pernah aku lepaskan.


Beberapa kali aku menekan bel, namun tak ada jawaban sama sekali. Aku terus mencoba lagi. Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu. Aku juga bisa melihat keterkejutannya.


"A... Ada perlu apa?" tanyanya terlihat begitu gugup.


"Apa pak Bayu ada dirumah?" tanyaku. Ini adalah hari libur, tidak mungkin beliau tidak ada dirumah.


"A.. Ada, silahkan masuk," ucapnya membuka pintu lebih lebar. Aku berterimakasih dan langsung masuk kedalam.


"Bi, jangan emosi," bisik istriku memberikan peringatan. Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya.


"Selama ada kamu," ucapku kembali menggenggam tangannya.


Tak lama pria yang menjadi ayah biologisku pun mulai terlihat. Aku menarik napas perlahan.


"Maaf," ucapku melepaskan pelukannya.


"Ah, papa terlalu senang. Akhirnya kita bisa berkumpul kembali, dia menantu papa bukan?" tanyanya menatap istriku. Aku melihat Ara tersenyum sambil mengangguk.


"Semoga kalian selalu bahagia, mari duduk nak," ajaknya. Aku kembali duduk.


"Wah, ada tamu ternyata?" sapa seseorang yang langsung duduk tepat di hadapan istriku. Aku bisa melihat arah pandangannya, ku genggam erat tangan istriku.


"Bi, Ara akan selalu ada buat hubby," bisik Ara merapatkan tubuhnya denganku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Maaf sebelumnya, tujuan saya kesini untuk membahas masalah penting. Terutama masalah keluarga,"


"Saya bingung harus memanggil anda apa tuan? Karena saya tidak pernah memanggil orang asing dengan sebutan yang akrab," ujarku.


"Aku papamu Alan, kamu tidak bisa menyangkal itu,"


Aku tersenyum saat mendengar ucapannya.


"Benarkah? Lalu kemana anda saat saya dilahirkan? Apa anda begitu membenci saya?" tanyaku dengan penuh penekanan.


"Tidak nak, saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pria yang saat ini menjadi papamu adalah pria kejam yang bisa melakukan apapun. Papa tidak bisa membawamu pergi, keadaan juga tidak mendukung," jawabnya dengan begitu mudah. Aku tersenyum getir.


"Papa saya memang orang kejam, tapi dia rela memberikan nama besarnya dan membesarkan saya seperti anak kandungnya. Bahkan nama saya terdaftar dalam catatan keluarganya. Sedangakan anda memilih orang lain dan meninggalkan mama hingga mama menderita? Apakah anda tidak merasa kejam?"


Aku memang sedikit tahu tentang masa lalu almarhumah mama, tidak ada yang papa sembunyikan dariku. Termasuk masalah perselingkuhan mama dengan pria yang saat ini ada di hadapanku. Hingga membuat hidup papa hancur dan merubah sifatnya. Bahkan papa masih menerimaku, walaupun pada awalnya dia tidak bisa menerimaku dengan sepenuh hati. Tapi bagiku papa adalah papa, walaupun aku bukan anaknya. Tapi namanya ada bersamaku.


Aku juga baru tahu alasan papa mengirimkan aku kuliah di luar negeri. Itu semua papa lakukan agar aku tidak bertemu dengan pria ini.

__ADS_1


"Saat itu papa benar-benar tidak punya pilihan, papa benar-benar menyesal nak. Papa minta maaf, papa pengecut dan begitu takut kekasih ibumu kembali menghancurkan papa. Papa minta maaf,"


"Hahaha...apa anda tahu betapa hancurnya hidup mama saat mendengar anda lebih memilih wanita lain di saat mama benar-benar terpuruk? Saat itu papa Arnold memberikan kesempatan agar kalian bisa bersatu. Tapi anda memilih untuk lari dari tanggung jawab. Mama terpukul dan ingin membunuhku, apa anda tahu itu? Jika tidak ada papa Arnold, mungkin anda tidak akan bisa melihat saya sampai sebesar ini tuan,"


"Anda memang ayah biologis saya, tapi papa Arnold adalah papa saya yang sebenarnya. Jasanya melebihi dari seorang papa kandung saya. Arlan Digantara. Nama itu akan tetap sama, tidak akan berubah dan tidak akan ada yang bisa merubahnya," ujarku panjang lebar. Hatiku sangat sakit saat mengingat kembali cerita yang mengalir dari mulut papa beberapa jam yang lalu. Ku pejamkan mataku untuk menahan agar air mata ini tak tumpah.


"Tapi Alan, kamu adalah putraku. Dio adalah kakak kamu. Kalain adalah pewaris keluarga Maheswhari,"


"Pewaris? Apa saya masih berhak atas itu? Anak yang lahir diluar nikah tidak berhak atas harta ayah biologisnya. Saya permisi," ucapku langsung beranjak pergi.


"Tunggu!" seru oria paruh baya itu kembali menghentikan langkahku.


"Bi, jangan terlalu emosi." Aku menatap Ara begitu lekat. Jika dia tidak ada, mungkin emosiku lebih dari ini.


"Alan, tolong maafkan papa. Papa tidak akan pernah mengganggu atau melarang kamu menjadi bagian keluarga Digantara. Tapi papa mohon, tolong terima papa sebagai papa kandung kamu. Papa mohon,"


Ku pejamkan mataku untuk menahan amarah. Aku berbalik dan menatap pria itu lekat.


"Seorang manusia memiliki kewajiban untuk memaafkan, tapi sebagai seorang anak. Rasa sakit ini sulit untuk di hilangkan, bahkan kata maaf tidak bisa merubah semuanya,"


"Sombong sekali, papa sudah berusaha untuk meminta maaf. Apa sulitnya memaafkannya, aku tidak mengerti apa baiknya dirimu. Kau sombong dan tidak tahu diri. Seharusnya orang di sekitarmu sadar dengan sifat burukmu,"


Ingin sekali rasanya aku melayangkan kepalan tanganku di wajahnya. Tapi aku kembali mengingat wanita yang saat ini ada di sampingku. Aku tidak ingin membuatnya sedih dan kecewa.


"Ayok pergi," ajakku menarik tangannya. Namun dengan cepat ia melepas genggamanku. Aku menatapnya bingung, ia terlihat berjalan mendekati pria brengsek itu.


"Maaf pak, mungkin dulu saya menghormati anda sebagai atasan saya dan saya sudah menganggap anda adalah orang baik. Sampai sekarang rasa hormat itu juga masih ada. Tapi sayang, beberapa detik yang lalu anda membuktikan jika rasa hormat itu tak seharusnya ada. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini tuan. Memang benar, suami saya tidak lebih baik dari pria lain. Tapi dia lebih baik dari pada anda, pria yang tidak punya hati nurani. Anda sudah tahu jika suami saya adalah adik anda. Tapi tanpa rasa bersalah, anda memperlakukan dia di depan umum."


"Suami saya memang sangat banyak kekurangan, tapi dia sama sekali tidak pernah menyinggung kelemahan orang lain. Dia cukup sadar diri dan tahu perasaan orang lain. Keputusan saya tidak pernah salah menjadikan ia sebagai seorang suami. Karena ia memiliki hati yang tulus dan penuh kasih sayang, bukan sekedar ambisi semata!"


Aku benar-benar tekejut mendengar pemaparan Ara yang begitu menusuk. Itu artinya aku benar-benar pria yang beruntung. Bisa mendapatkan hatinya, mendapatkan dia seutuhnya. Menjadikannya istriku adalah hal paling tepat. Aku tidak salah memilih seorang ibu dari calon anak-anakku. Dibalik sifat manjanya, tersimpan kebijaksanaan yang bisa membuat semua orang terpana.


"Ayok bi, kita pulang." Aku tersentak saat tanganku ditarik olehnya.


"Sayang," panggilku. Namun ia terus berjalan dengan cepat, genggaman tangannya begitu erat.


"Dia sangat keterlaluan! untung Ara tidak memiliki seorang kakak. Jika Ara memiliki kakak seperti itu lebih baik Ara tidak lahir sama sekali!" omelnya.


"Tapi kamu seorang kakak sayang," ucapku menyejajarkan diriku dengannya.


"Tapi Ara tidak pernah sejahat itu bi,"


"Hmmm," Aku tersenyum dan membukakan pintu untuknya.


Aku menatap wajahnya yang masih terlihat kesal. Pipinya bersemu merah bak kepiting rebus. Benar-benar menggemaskan.


"Terimakasih sayang," ucapku menarik tengkuknya dan mengecup keningnya dengan lembut. Ku tatap netra indahnya dalam-dalam.


"Hubby jangan sedih lagi ya? Ara ikutan sedih," ucapnya dengan wajah lucu. Aku tersenyum dan memeluknya.


"Jika hubby sedih, kan ada penghibur yang akan membuat hubby kembali tersenyum." ucapku.


"Hmmm, Ara tidak mau melihat air mata hubby lagi. Itu sangat menyakitkan bi, Ara tidak sanggup melihat hubby bersedih, hiks"


Lihat, dia menyuruhku agar tidak menangis. Tapi malah dia yang menangis. Dasar cengeng. Ku kecup hidungnya yang memerah karena tangisannya. Ah, benar-benar menggemaskan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2