Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 15. Dia menyukaiku? (Alan)


__ADS_3

Aku sangat bahagia ternyata Ara benar-benar memahami keadaanku. Sekarang aku tidak perlu takut untuk jatuh, karena di sampingku saat ini terdapat sandaran yang kokoh. Ya, dia adalah istriku. Dia mengembalikan semangat dalam diriku.


Saat ini aku sedang serius mengerjakan pekerjaanku yang cukup membuat kepalaku sakit. Memang benar, teori dan praktek itu sangat jauh berbeda. Tapi bukan Alan namanya jika tidak bisa menaklukkan kesulitan.


Aku dikejutkan oleh pelukan hangat seseorang di belakangku. Siapa lagi kalau bukan istriku yang manja.


"Jangan terlalu serius, nanti bisa stres." ucapnya sambil menopang dagu di bahuku. Lalu ia pun kembali terdiam.


"Kenapa penurunannya sangat drastis?" sambungnya. Jadi dia memperhatikan pekerjaanku? Aku menatapnya dan tersenyum.


"Ini yang menjadi permasalahan. Papa mempercayaiku untuk memperbaiki semuanya." ucapku kembali memainkan jariku diatas keyboard.


"Em, ara buatkan jus dulu ya. Nanti kita diskusikan masalah ini." ucapnya yang hanya aku jawab dengan anggukkan. Lalu aku meraskan bibir lembutnya menempel di pipiku. Aku tersenyum tanpa mengalihkan perhatianku dari laptop. Semuanya harus selesai dengan cepat, besok aku akan mempresentasikan rencanaku kedepannya. Aku tidak boleh gagal, demi istriku.


Saat aku sedang serius, samar-samar aku mendengar suara benda jatuh. Seperti benda pecah. Apa jangan-jangan...


Aku langsung berlari keluar. Saat aku hendak turun. Aku melihat pintu kamar Arin terbuka. Aku berjalan mendekati pintu itu. Namun aku sangat terkejut saat melihat adikku mendorong Ara.


"Awhh.." ringisnya, aku melihat darah segar mulai keluar dari jarinya.


"Ya ampun Ara, tangan kamu? Arin apa yang kamu lakukan?" ucapku menghampirinya. Namun aku langsung menatap adikku. Aku tidak pernah menyangka jika dia melakukan hal buruk pada istriku.


"Sakit Alan." ringisnya sambil memperlihatkan jarinya yang terus mengeluarkan darah. Aku juga melihat air matanya mulai mengalir di pipinya.


"Ck, begitu saja nangis. Cengeng banget sih, gimana cobak mau jadi istri yang baik. Baru luka dikit aja udah nangis."


Aku sangat terkejut mendengar ucapan Arin. Dia tidak seperti Arin yang ku kenal. Saat ini aku benar-benar sangat marah. Tidak ada yang boleh melukai istriku walaupun dia adikku sendiri. Lalu Arin pun langsung beranjak pergi.


"Arin, kamu sangat keterlaluan!" bentakku, aku tidak bisa lagi mengontrol emosiku. Lalu tangan hangat itu menyentuh lenganku, aku menatapnya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Ini salah aku Alan, jangan marah sama Arin. Aku tidak apa- apa." ucapnya menatapku lekat. Aku menghela napas dalam-dalam untuk meredakan emosiku.


"Ya sudah, kita kekamar." ucapku. Dia mengangguk pelan dan aku langsung membawanya kekamar.


Sesampainya di kamar, aku mengambil kotak P3K dan membantu mengobati luka dijarinya. Ini sudah melewati batas, aku akan membicarakan ini pada Arin. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia berubah dan bersifat buruk pada Ara.


"Alan maaf, tadi Ara janji mau buatkan Alan jus. Tapi malah seperti ini." ucapnya. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya lekat.


"Sudah tidak usah dipikirkan. Yang paling penting itu kamu, jika sudah seperti ini aku yang khawatir sayang." ucapku duduk disebelahnya. Ku tatap wajah polosnya yang terlihat begitu cantik.


"Alan, Alan jangan marah ya sama Arin. Dia gak salah, aku yang salah tadi sudah membuat dia terkejut." ia menyentuh tanganku dan menatapku. Aku menggeleng.


"Dia harus diberi pelajaran Ara. Jika dibiarkan seperti itu terus, dia akan semakin membangkang." ucapku. Namun Ara kembali menggeleng.


"Ara akan membicarakan ini berdua nanti, Ara dan Arin sama-sama perempuan. Jadi Ara mohon, percayakan ini pada Ara." ucapnya sambil mengusap wajahku. Aku menatapnya lekat.

__ADS_1


"aku tidak yakin Arin akan mendengar ucapan kamu Ara. Dia hanya akan patuh pada ucapan papa." ucapku menyentuh tangannya yang masih setia menempel di pipiku.


"Jadi Alan tidak percaya dengan Ara?" ucapnya dengan wajah sendu. Jika sudah seperti ini aku tidak bisa lagi bicara. Mungkin aku memang harus mempercayai kemampuan istriku.


"Ya sudah, aku akan mempercayakan masalah ini padamu Ara. Tapi jika sampai Arin melukai kamu lagi, aku tidak akan memaafkannya lagi." ucapku. Ara tersenyum dan mengangguk antusias. Aku mengusap kepalanya yang tertutup kerudung.


"Oh iya, pekerjaan kamu sudah selesai?" tanyanya. Aku menggeleng, karena memang belum selesai aku kerjakan.


"Ayok, Ara akan bantu." ucapnya bangun dari duduknya. Aku menatapnya bingung. Memangnya dia mengerti masalah ini? Bahkan ini bukanlah bidangnya.


"Ayok." tanganku pun ditarik olehnya. Aku hanya diam dan pasrah mengikuti langkahnya. Dia duduk di kursiku dan menatap laptopku begitu lekat.


"Em, kita lihat dulu sejak kapan penurunan saham bisa melonjak. Ini pasti ada yang salah. Jika seseorang mempermainkan keuangan perusahaan. Maka penurunan itu akan terjadi sedikit-demi sedikit. Tapi ini terlalu mendadak dan penurunan juga sangat drastis. Apa mungkin kesalahan dalam distribusi atau pemasaran."


Aku benar-benar terperangah dengan apa yang ia paparkan. Bagaimana bisa dia mengerti masalah ini. Bahkan dulu dia sangat membenci sesuatu yang berhubungan dengan ekonomi.


"Ah, ketemu. Penurunan terjadi di bulan kemarin. Sepertinya kamu harus mengecek langsung bagian distribusi dan pemasaran Alan. Kamu harus turun tangan sendiri, karena jika menyuruh orang lain permasalahannya tidak akan beres." ucapnya, ia memutar tubuhnya dan menatapku lekat.


"Bagaimana kamu bisa mengerti masalah ini, bukannya..


"Aku gak suka tentang ekonomi?" potongnya. Aku mengangguk. Lalu dia pun tertawa. Aku benar-benar dibuat bingung olehnya.


"Tapi bukan berarti aku tidak mempelajarinya Alan. Aku juga sering membaca buku masalah ekonomi dan lainya. Aku memang tidak menyukai bidang ini, tapi aku sedikit mengerti." ucapnya sambil tersenyum lebar. Aku sangat bangga padanya. Memang tidak salah aku menikahi gadis ini. Selain cantik dan sifatnya yang baik, tapi dia juga sangat cerdas. Memang sih terkadang dia terlihat seperti orang bodoh. Tapi aku rasa itu hanya dia tunjukkan padaku. Aku sangat senang ternyata sedikit demi sedikit aku mulai faham dengan sifat anehnya itu.


"Aku tidak bengong, hanya saja aku masih bingung. Sebenarnya yang saat ini ada di hadapanku itu Ara atau orang lain ya? Kenapa kamu sedikit pintar dibanding biasanya." ujarku sedikit bergurau. Lihat, dia mulai mengerucutkan bibirnya. Aku sangat menyukai itu.


"Ih Alan, Ara serius tahu." rengeknya sambil memukul lenganku pelan.


"Bercanda sayang." ucapku menariknya kedalam pelukkan ku.


"Ara, bagaimana jika kamu magang di perusahaan papa? Jadi aku bisa selalu bersamamu. Jika setuju aku akan mengurusnya." ucapku melerai pelukan. Ara menatapku bingung.


"Memangnya bisa?" tanyanya begitu polos.


"Bisa sayang, kamu bisa ambil bidang marketing. Besok, cobak kamu diskusikan dengan pembimbing kamu. Kita bisa mempunyai keuntungan yang lebih. Aku bisa terus melihat kamu dan kita bisa menyelesaikan masalah sama-sama. Aku rasa kamu bisa diandalkan." ujarku sedikit membujuknya. Ara memang mengambil jurusan yang berbeda denganku. Aku memilih pilihan papaku yaitu mengambil jurusan manajemen. Sedangkan Ara dia memilih jejak papahnya yaitu dibidang ilmu komunikasi.


"Emm, akan Ara pikirkan deh. Tapi Ara takut."


"Takut? Takut bagaimana?" tanyaku bingung.


"Takut lah, kalau nanti Ara gak pokus kerja bagaimana? Kan disana ada kamu, nanti Ara gak pokus." ujarnya membuatku semakin bingung. Aku menaikkan sebelah alisku.


"Ih Alan, gak peka banget sih. Ara tuh takut gak fokus kerja karena ada kamu disana." ucapnya dengan malu-malu. Aku tersenyum saat melihat rona merah di pipinya.


"Kamu sangat lucu sayang." ucapku mencubit hidungnya dengan gemas. Ara tersenyum lebar dengan hidung yang memerah. Aku tertawa puas saat melihat wajahnya yang lucu.

__ADS_1


"Kenapa tertawa?" tanyanya dengan ekspresi lucu. Aku langsung menggeleng. Lalu aku kembali tertawa saat bibirnya mengerucut dengan hidung yang merah. Dia benar-benar sangat lucu, aku tidak tahan jika tidak tertawa.


"Alan... Jangan tertawa. Emang nya Ara lucu apa?" rengeknya sambil mendorongku.


"Iya sayang... Kamu sangat lucu hahaha..." perutku sangat sakit, aku tidak bisa menahan tawaku lagi.


"ih... Ara benci Alan. Tertawa saja sampai puas, nyebelin!" ucapnya yang langsung beranjak pergi. Aduh, sepertinya dia sangat marah. Biarkan saja, aku menyukai ekspresi wajahnya saat marah. Itu sangat lucu dan menggemaskan. Huh, aku menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan tawaku. Aku tersenyum geli. Lalu ku lanjutkan pekerjaanku yang hampir terlupakan.


***


Suara sendok dan piring yang saling beradu membuat suasana sedikit canggung. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Lalu ku lirik gadis yang duduk disebelahku. Dia juga begitu serius dengan makanannya.


"Honey, apa masih marah?" bisikku. Dia menghentikan makannya tanpa melihat kearahku. Aku menghela nafas, sepertinya dia masih marah. Lalu kupandang kedua orangtuaku. Ternyata mereka sedang menatapku. Aku sangat malu, ternyata mama dan papa memperhatikanku.


"Ara, makanya yang banyak. Supaya kamu sehat dan bisa cepat-cepat kasih mama cucu."


"Uhuk.. " Aku melihat kearah Ara yang tersedak. Aku langsung memberikan air putih padanya.


"Pelan-pelan sayang." ucapku mengusap punggungnya. Dia menatapku lekat. Hah, aku mengerti tatapan itu.


"Ma, jangan bahas masalah cucu dulu ya. Alan dan Ara sudah memutuskan untuk menundanya sampai kami lulus." ujar ku menatap mama. Lalu aku beralih menatap papa yang juga sedang menatapku.


"Loh, kenapa harus ditunda. Kalian sudah cukup dewasa. Hal baik itu jangan di tunda-tunda loh." ucap mama. Aku menatap Ara yang juga sedang menatapku. Aku bisa melihat tatapan mata Ara yang begitu sendu. Maafkan aku Ara, aku harus melakukan ini. Demi kebaikan kita berdua.


"Huh, bagaimana mau punya anak. Luka sedikit aja nangis. Apa lagi kalau punya anak. Mungkin setiap hari akan menyusahkan kita."


Aku sangat terkejut mendengar ucapan Arin. Aku langsung menatap Ara, dia menundukkan kepalanya. Ku genggam erat tangannya.


"Arin, apa yang kamu katakan? Minta maaf sama kakak kamu, itu tidak sopan." ucap mama menatap Arin kecewa.


"Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk bicara kasar pada orang lain Arin. Mama kamu benar, kamu harus minta maaf pada kakak kamu." sambung papa. Aku menatap Arin lekat. Bisa ku lihat kilatan amarah di matanya. Dia juga menatap Ara begitu tajam.


"Aku tidak pernah punya kakak seperti dia. Kau lihat, kau sudah merebut mereka dariku. Tidak seharusnya kau masuk ke rumah ini dan merebut semuanya dariku. Aku lebih senang kau mati. Aku membencimu. Aku sangat membencimu." teriak Arin yang kembali membuat kami tekejut. Papa dan mama pun sangat terkejut mendengar ucapan Arin.


"Seharusnya kak Alan sadar, aku menyukai kakak dari dulu. Aku benci orang yang merebut kakak dariku. Jadi aku membenci wanita ini. Wanita yang sudah merebut kakak dariku. Dari dulu kalian memang tidak pernah memahami apa yang aku inginkan. Aku benci kalian semua." imbuh Arin yang langsung beranjak pergi. Apa maksudnya? Bagaimana mungkin dia menyukai aku sebagai kakaknya.


"ARIN!!" teriak papa yang hendak bangun dari duduknya. Namun dengan cepat Ara langsung bangun dari duduknya.


"Papa, biar Ara yang membujuknya. Papa dan mama jangan marah pada Arin. Dia masih sangat kecil." ucapnya begitu lembut. Aku tersenyum, dia memang memiliki hati yang lembut. Ucapannya berhasil membuat papa kembali duduk. Itu artinya papa benar-benar menghormati Ara. Gadis ini memang sudah menguasai hati semua orang.


"Aku akan ikut denganmu menemui Arin." ucapku. Ara pun mengangguk.


"Ma, pa, biar kami berdua yang mengurus Arin." ucapku.


"Papa harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini. Papa percayakan ini pada kalian, terutama kamu Ara." ucap papa menatap Ara. Ara pun mengangguk. Lalu kami langsung beranjak menuju kamar Arin. Aku harap Arin bisa memahami keadaan.

__ADS_1


__ADS_2