Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 77. Paman Alex (Ara)


__ADS_3

Saat ini aku dan baby Ichal sedang berada di kamar Mala. Aku ingin menemaninya karena Mala belum sembuh total. Aku merasa bersalah karena semua kejadian yang menimpa Mala juga karena ulahku. Demi menyelamatkan aku, dia harus kehilangan anaknya. Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan anak, itu sangat menyakitkan.


"Apa kakak bahagia?" tanyanya yang berhasil membuatku terkejut. Aku menatapnya lekat.


"Bahagia, saat ini kakak sangat bahagia kerena mendapatkan keluarga baru," balasku. Mala menatapku lekat. Ia tersenyum sambil menarik kedua tanganku.


"Boleh aku peluk?" tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk. Ia pun langsung memelukku.


"Ah, sejak dulu aku sangat ingin mempunyai seorang kakak perempuan. Pasti senang punya teman curhat," ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya.


"Sekarang kamu sudah punya teman curhat, kamu bisa sepuasnya bercerita," ucapku sambil mengusap punggungnya. Mala tersenyum dan mengangguk padaku.


"Eh, jagoan umi sudah bangun?" ucapku saat melihat Ichal sudah membuka matanya.


"Haus, kali," ucap Mala mencubit pipi Ichal. Alhasil ia pun menangis. Aku tertawa dan mengangkatnya dalam gendonganku.


"Sudah hampir dua minggu Ichal lahir, seharusnya acara Aqikah segera di langsungkan."


Aku menatap Mala.


"Alan bilang tunggu hingga semuanya aman, ia tidak ingin mengambil resiko. Ichal adalah anugrah yang paling berharga, kami akan menjaganya walaupun harus bertaruh nyawa. Aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya," jelasku. Aku melihat Mala tersenyum padaku.


"Semua pasti cepat berlalu," ucap Mala mengusap lenganku. Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Aku juga berharap semua ini cepat selesai, aku juga merindukan semua keluargaku.


***


"Hubby mau kemana?" tanyaku saat masuk ke kamar dan melihat Alan sudah berpakaian rapi. Alan menatapku dari balik cermin.


"Meeting, bagaimana pun perusahaan tidak bisa terabaikan. Masalah Paman, papa yang mengurus semuanya," balas Alan.


Aku menidurkan Ichal diatas tempat tidur. Lalu membantu Alan merapikan pakaiannya. Aku menatap wajah suamiku, lembam di wajahnya masih terlihat jelas. Bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya pun kini sudah tidak ada lagi. Matanya terlihat sayu. Aku tahu, ia pasti lelah.


"Cepat pulang," ucapku memeluknya dengan lembut. Aku masih sangat merindukannya.


"Iya," ucapnya. Aku merasakan kecupan mesra di keningku. Aku tersenyum. Momen seperti ini yang selalu aku rindukan.


"Jaga putra kita, hubby akan langsung pulang setelah pekerjaan selesai. Ingat, jangan keluar rumah atau membuka pintu jika ada seseorang yang datang, langsung kabari hubby jika ada sesuatu yang terjadi," ujarnya. Aku hanya mengangguk dan kembali memeluknya dengan erat.


"Bagaimana hubby bisa pergi jika kamu terus menempel seperti ini, huh?"


Ku angkat wajahku untuk menatapnya. Aku tersenyum sambil melingkarkan kedua tanganku di leher jenjangnya.


"Ara minta hadiah," ucapku. Aku menatapnya lebih dekat. Ia menyeringai. Lalu mendorongku perlahan. Aku menatapnya lekat. Merasa sangat kecewa karena ia tidak mengerti maksudku. Aku sangat kesal dan langsung melangkah pergi. Namun dengan cepat tanganku di cekal. Aku merasakan hembusan napasnya begitu dekat.


"Pulang nanti, hubby akan memberikan hadiah lebih banyak," bisiknya tepat di telingaku. Aku tersenyum malu mendengarnya. Aku berbalik dan langsung mengecup kedua pipinya.


"I love you, bi. Ara akan menunggu hadiah itu." Aku tersenyum senang.


"Dasar manja. Hubby pergi dulu, ingat kata-kata hubby tadi. Jangan bandel," ucapnya kembali mengecup keningku.


"Iya, bi. Ara ingat," kataku meraih tangannya, lalu ku kecup punggung tangannya dengan lembut. Alan mengusap kepalaku dan langsung bergegas pergi.


"Assalamualaikum," ucapnya diambang pintu.


"Wa'alaikumusalam," balasku sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku duduk disamping Ichal, menatapnya yang sudah kembali terlelap. Kadang aku merasa bosan, ia selalu saja tertidur. Aku sangat kesepian. Arin, jika dia ada pasti suasana rumah tidak akan sepi.


Aku berjalan kearah jendela. Menatap halaman rumah yang cukup luas dengan dinding pembatas yang tinggi. Rumah ini lebih mirip seperti penjara. Mungkin karena itu Alan memilih tempat ini untuk bersembunyi.


Saat aku sedang asik menatap keluar jendela, suara pintu berhasil mengejutkanku. Aku langsung berbalik dan melihat mama berdiri sambil menatapku dengan tatapan aneh.


"Ara, bawa Ichal bersembunyi. Seseorang mencoba masuk ke rumah kita!" ucap mama kembali membuatku terkejut. Aku langsung mengambil Ichal dan berlari menghampiri mama.


"Bagaimana dengan Alan? Dia baru saja pergi ma," ucapku menatap mama panik.


"Mama sudah menghubungi Alan, dia akan segera kembali," ucap mama menarik tanganku menuju kamar Mala.


Saat memasuki kamar Mala, aku kembali dikejutkan dengan sosok Mala yang tengah memegang senjata api. Pakaian tidur yang tadi ia gunakan sudah berganti dengan pakaian serba hitam. Aku sendiri dibuat bingung.


"Mala, apa yang kamu lakukan?" tanyaku padanya. Mala berjalan ke arahku.


"Kita harus cepat keluar dari sini, Alan terjebak di Jalan. Seseorang menahannya," ujarnya membuat jantungku berpacu hebat. Mala menarik tanganku keluar dari kamar. Bahkan ia terlihat sehat.


"Mala, kamu belum sembuh. Aku tahu sakit yang kamu rasakan, jangan lakukan apapun sebelum kamu benar-benar pulih," ucapku menahan langkahnya. Mala terlihat menarik napas panjang. Ia menatapku tajam.


"Keadaan sedang darurat, Ara. Nyawa kamu dan Ichal lebih penting dari pada rasa sakit yang aku rasakan. Sekarang jangan banyak bicara, kita harus pergi."


Aku terdiam saat mendengarnya. Aku sangat terharu dengan pengorbanan Mala. Bahkan ia rela mengenyampingkan rasa sakitnya demi aku dan Ichal.


Langkah kami terhenti saat melihat seorang pria bertubuh tinggi masuk ke dalam rumah bersama beberapa orang di belakangnya. Apa pria itu Paman Alex? Ia sangat mirip dengan papa. Meskipun ia sudah terlihat berumur, namun ketampanannya masih terpancar dengan jelas.


"Wah, kalian sudah bersiap?" ucap pria itu menatapku dan Mala bergantian. Pria itu berjalan menghampiri Mala. Lalu memcengkram erat lengan Mala. Aku bisa melihat Mala meringis kesakitan.


"Tuan, apa yang anda lakukan? Jangan sakiti adik saya," pintaku sambil menarik tangan Mala. Pria itu beralih menatapku. Mendekatiku dengan tatapan mengerikan. Hatiku mulai di selimuti rasa takut.


"Kau melahirkan keturunan Digantara. Itu artinya kau adalah musuhku," lanjutnya. Ia hendak menyentuh Ichal. Namun, aku langsung menepis tanganya. Aku takut ia akan melukai Ichal. Aku memberikan tatapan tajam padanya.


"Musuh? Itu artinya diri anda adalah musuh anda juga tuan. Dalam darah anda, mengalir darah Digantara yang begitu kental. Anda tidak bisa menyangkal itu," ujarku.


Suara tawa dari pria itu pun memenuhi seisi rumah. Ichal yang terkejut pun seketika menangis. Aku memeluk dan mencium keningnya agar ia tenang.


"Sudah lama nama itu hilang dalam diriku."


"Ayah, hentikan semua ini. Mereka tidak bersalah," ujar Mala berdiri di depanku. Paman Alex terlihat semakin marah, bisa aku lihat dari kilatan matanya.


"Aku tidak butuh anak sepertimu, kau penghianat!"


Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Paman Alex mendorong Mala hingga terjatuh.


"Ya Allah, Mala." Aku membantu Mala untuk bangun.


"Alex, kau sangat keterlaluan. Dendam tidak akan membuatmu bahagia, lupakan semuanya. Aku yakin kamu akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan," ujar mama Milan ikut membantu Mala. Aku menatap Paman Alex yang tengah menatapku sengit.


"Ya, setelah aku membunuh anak harammu itu dan juga keturunannya. Kau dan anakmu lah penyebab dari penderitaanku. Jika saja kau tidak menyakiti kakakku, dia tidak akan menyiksaku hingga aku hampir mati. Juga menyiksa wanita yang aku cintai."


Tidak. Tidak ada yang boleh menyakiti Alan ataupun anakku. Aku sedikit mundur saat Paman Alex berjalan mendekatiku. Aku memeluk Ichal yang sedari tadi terus menangis.


"Saya mohon, jangan mendekat. Jangan sakiti anak saya, ia tidak tahu apa-apa. Izinkan kami untuk hidup bahagia. Kami juga manusia yang ingin hidup tenang," ujarku memohon. Aku menunduk sambil menangis. Berharap Paman Alex merubah pikirannya. Namun, aku sangat terkejut saat benda dingin menyentuh keningku. Kuangkat kepalaku perlahan. Aku syok saat mengetahui ternyata benda itu adalah pistol. Tangan dan kakiku mendadak lemas. Aku menahan diri agar tidak terjatuh. Pelukanku pada Ichal semakin erat.


"Paman boleh membunuh saya, tapi saya mohon. Jangan sakiti anak saya, biarkan dia hidup. Saya mohon, Paman."

__ADS_1


Mataku terpejam saat benda itu semakin menekan keningku. Aku tidak pernah takut mati. Hanya satu yang aku takutkan, kehilangan anakku yang baru beberapa minggu hadir dalam hidupku. Aku hanya ingin ia bahagia.


"Bagaimana jika...


Aku membuka mataku saat mendengarnya. Benda itu tidak lagi menempel di keningku. Namun, aku kembali terkejut saat Paman Alex mengarahkan pistolnya pada Ichal. Aku menggeleng kuat. Memeluknya dengan erat. Aku memiringkan tubuhku untuk melindungi anakku. Aku tidak perduli jika peluru itu menembus tubuhku.


"Alex, aku mohon hentikan. Apa kau sudah gila?"


"Ayah, Mala mohon. Jangan lakukan itu. Mala sayang ayah, Mala tidak mau ayah di penjara karena kebodohan ayah sendiri. Ayah lupa, Alan adalah kembaran Mala. Jika ayah memang ingin membunuh anak itu ataupun Alan. Ayah bisa bunuh Mala, bukankah itu sama saja? Darah yang mengalir dalam tubuh Alan dan anak itu, juga mengalir dalam tubuh Mala. Tembak Mala, ayah."


Aku menatap Mala sambil menggeleng. Ia tidak boleh melakukan itu.


"Mala besar dalam pangkuan ayah, bukankah lebih baik jika Mala mati di tangan Ayah?"


"Diam!Dor!"


Ah, kakiku benar-benar lemas saat Paman Alex melepaskan pelurunya kesembarangan tempat. Tangisan Ichal semakin kencang. Ia ketakutan, sama sepertiku.


Ya Allah, kenapa semua ini terjadi? Kasihan Ichal, ia baru saja lahir. Tetapi ia sudah mengalami hal buruk seperti ini. Tolong lindung anak dan suami hamba. Juga semua keluarga hamba, Ya Allah.


"Alex."


Aku mengangkat kepalaku saat mendengar suara lembut seseorang. Mataku terbuka lebar saat melihat mama Nissa berdiri diambang pintu. Apa yang mama lakukan disini?


Aku melihat Paman Alex terdiam sambil menatap Mama Nissa.


"Tolong jangan sakiti mereka, aku lah alasan semua ini terjadi, Alex. Mereka tidak bersalah," ucap Mama Nissa berjalan mendekati Paman Alex. Aku menggeleng agar mama tidak mendekat. Namun, mama tidak menghiraukanku. Kini mama sudah berdiri di depan Paman Alex.


"Aku adalah sumber rasa sakit yang kamu alami, Lex. Bukan mereka," lanjut mama. Tangannya bergerak untuk menyentuh lengan Paman Alex.


Napasku seakan terhenti saat mama meletakkan kepala pistol tepat di dadanya.


"Mama," ucapku tidak percaya dengan apa yang mama lakukan. Mama menatapku sambil tersenyum.


"Maaf sayang, gara-gara mama kalian harus menerima akibatnya."


Aku menggeleng saat mendengarnya.


"Lakukan Alex, jika itu membuatmu bahagia. Kamu harus mencabut duri terlebih dahulu agar luka dan rasa sakit itu menghilang," lanjut mama menatap Paman Alex lekat. Aku tidak mengerti dengan perkataan mama. Aku juga melihat Paman Alex tampak menutup matanya. Aku juga bisa melihat tubuhnya menegang. Apa sebenarnya hubungan mama dan Paman Alex?


Paman Alex menurunkan pistol yang ia genggam. Lalu ia menarik tangan mama dan membawanya pergi. Aku sedikit bernapas lega karena mama baik-baik saja. Tetapi, kemana Paman Alex akan membawa mama? Ya Allah, tolong lindungi mama.


"Ara, sayang...,"


"Bunda!" teriakku saat melihat bunda di depan pintu, lalu bunda pun sedikit berlari ke arahku.


"Sayang," ucap bunda memelukku. Aku menangis dalam pelukan bunda. Semua ini benar-benar membuatku takut.


"Semuanya sudah aman sayang, kita pulang ya?"


"Alan, dimana Alan?" tanyaku melerai pelukan bunda.


"Kak Alan di rumah sakit, ia mengalami kecelakaan ringan. Jangan khawatir, kak Alan baik-baik saja," ujar Azka yang entah sejak kapan sudah berada di belakang bunda. Papah juga ada di sana.


"Ara mau pulang," ucapku. Bunda mengangguk dan kembali memelukku.

__ADS_1


__ADS_2