
"Bi, Ara tidak tega meninggalkan Ichal," keluhku seraya menatap Alan yang tengah duduk di sampingku.
"Tidak perlu cemas, Ichal akan baik-baik saja dengan Bunda," sahutnya. Aku mengangguk pasrah. Saat ini aku dan Alan sudah berada di Bandara. Kami akan menghadiri acara pernikahan Jane dan Alex di Bali. Kemarin Alex sudah menjemput Jane. Jadi saat ini hanya aku dan Alan yang akan berangkat. Tidak Mungkin Ichal aku bawa, ia masih sangat kecil.
Aku tidak terbiasa meninggalkan Ichal. Ada sedikit rasa cemas menggelenyar di hatiku, meskipun Ichal aku titipkan pada Bunda. Ichal sangat sulit di tenangkan jika sudah menangis. Aku takut bunda kerepotan.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Lagian kita cuma satu hari di sana, setelah itu kita langsung pulang." Alan menggenggam jemariku. Aku tahu, ia sedang mencoba menenangkan perasaanku. Seulas senyuman terukir di bibirnya.
Beberapa jam berlalu, pesawat pun landing dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai
Alan terus mengamit jemariku tanpa lepas. Aku tersenyum, perasaan cemas sedikit berkurang di benakku. Aku juga merasa aman saat Alan benar-benar tak melepaskan genggamanya.
Kami mulai memasuki sebuah resort tempat dimana pesta di rayakan. Masih ada waktu 2 jam untuk sekdar beristirahat dan bersiap.
"Sayang... tolong pasangkan," pinta Alan menghampiriku. Ia memberikan dasi kupu-kupu padaku. Aku menarik kerah bajunya lalu memasangkan dasi di lehernya. Aku medongak, menatap wajah tampan suamiku lebih dekat.
"Ganteng banget sih? Suami siapa?" godaku sambil mengelus dagunya dengan hidungku. Alan terlihat menyunggingkan senyuman. Kedua tangannya sudah berada di pinggangku, ia memelukku begitu posesif.
"Suami dari nyonya Digantara, pemilik wajah cantik yang saat ini ada depan mata hubby," balasnya seraya mengecup bibirku. Aku tersenyum puas. Ku lingkarkan kedua tanganku dilehernya.
"I love you," ucapku membalas kecupan hangat darinya. Aku sangat bahagia bisa kemabali dekat dengannya seperti ini. Serasa mengulang kembali masa pengantin baru.
"Sayang, jangan terus menggodaku, aku takut khilaf. Sebaiknya kita segera pergi, Jane dan Alex pasti sedang menunggu kita. Bagaimana penampilan hubby, sudah tampan kan?" timpalnya melerai pelukan hangat yang sebenarnya tak rela aku lepaskan.
"Sejak kapan hubby tidak tampan? Apapun yang hubby pakai, pasti tetap tampan." Aku berjalan menuju cermin. Ingin melihat penampilanku sekali lagi. Aku sedikit merapikan balutan hijabku.
"Sudah bisa berangkat?" tanyanya seraya menatapku di balik cermin. Aku mengangguk, maraih lengannya.
"Kamu sangat cantik, sayang." Pujinya sembari mengecup pucuk kepalaku. Aku menunduk malu. Entah lah, aku masih merasa malu saat Alan memujiku. Padahal sudah sangat sering suamiku berkata seperti itu.
"Pegang tangan hubby, jangan sampai lepas," perintahnya. Aku tersenyum seraya mengaitkan tanganku di lengannya.
__ADS_1
Mataku terpana saat melihat kondisi gedung didominasi dengan mawar putih. Aku juga melihat dekorasi altar yang cukup megah. Tempat dimana Alex dan Jane melangsungkan pernikahan mereka. Seluruh tamu yang hadir kebanyakan bule. Mungkin keluarga besar Jane ataupun Alex.
"Arlan, my best friend!" seru seseorang. Aku dan Alan pun langsung menoleh. Aku sangat terkejut saat melihat sosok Michael yang tengah merangkul seorang gadis berbadan dua. Ia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun toska yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Mereka berjalan menghampiri kami.
"Mich, apa kabar?" tanya suamiku. Aku memberikan senyuman pada mereka.
"Seperti yang kau lihat, aku akan menjadi daddy bro. Aku tidak akan kalah darimu," ujar Michael menepuk pundak Alan. Aku menyalami gadis manis berlesung pipi disebelah Michael.
"Hy, aku Ara," sapaku yang disambut antusias olehnya.
"Sherry," balasnya seraya tersenyum manis. Benar-benar sangat manis.
"Mich, kau sudah menikah?" tanya Alan menatap Michael penuh curiga. Aku mengerti alasan Alan bertanya seperti itu. Alan pernah bercerita jika Michael sangat sering bermain wanita. Kehidupan di luar sana memang terlampau bebas. Alhasil, banyak pemuda seperti sosok Michael ini.
Aku melihat sebuah senyuman penuh arti dari Michael. Aku menatap Alan, begitu pun sebaliknya. Sepertinya Alan sudah bisa membaca kondisi sahabatnya itu.
"Kami ingin pokus membesarkan baby dulu, setelah itu kami akan mengadakan pesta pernikahan," sahut gadis manis disebelah Michael.
"Labih baik secepatnya kau menikah, jangan sampai anakmu salah memanggil ayahnya," gurau Alan.
"Hey, itu tidak akan terjadi, benar kan sayang?" sanggah Michael merangkul kekasihnya. Aku tersenyum geli melihatnya.
"Sudah-sudah, sepertinya pengantin kita akan segera tiba. Sebaiknya kita mencari posisi yang bagus," timpal Alan. Ia menggenggam tanganku begitu erat. Seakan takut aku lari darinya.
"Sayang, sepertinya kita memang harus menikah secepatnya. Aku tidak mau anak kita memanggil orang lain ayah, hanya aku yang berhak mendapatkan panggilan itu," ujar Michael yang masih bisa kami dengar. Aku menatap Alan, begitu pun sebaliknya. Kami tersenyum bersamaan. Mereka pasangan yang cukup menggemaskan.
Masyaallah. Aku lagi-lagi dibuat takjub. Jane terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin putihnya. Meskipun wajahnya sedikit tertutup, tetapi keanggunannya terlihat begitu jelas. Alex juga terlihat tampan dengan tuxedo putih yang melekat pas di tubuhnya. Ia tersenyum lebar saat melihat kedatangan Jane yang dituntun oleh seorang pria paruh baya. Sepertinya orang tua Jane, mereka terlihat mirip.
"Mereka sangat serasi," bisik Alan ditelingaku.
"Iya, Bi. Sepertinya Alex juga sangat bahagia. Terlihat dari pancaran wajahnya," balasku. Aku bergelayut manja di lengan suamiku. Menatap pasangan pengantin yang sedang mengucap janji pernikahan.
__ADS_1
"Bi, sepertinya hanya kita yang muslim disini. Hampir semuanya keluarga besar mereka," ucapku saat memperhatikan tidak ada satu pun orang pribumi selain kami.
"Belum tentu sayang, mungkin diantara mereka ada yang muslim. Hanya saja kita tidak tahu," ucap suamiku.
"Benar juga," sahutku. Lalu kami pun kembali terhanyut dalam rangkaian acara. Semuanya berjalan dengan begitu mulus. Kedua mempelai terlihat bahagia. Aku ikut terharu saat melihat Alex menjatuhkan air mata bahagianya.
"Alex sangat beruntung, perjuangannya tidak sia-sia. Sejak dulu Jane sangat sulit ditaklukkan, kalau jodoh pasti akan tetap bersatu. Seperti kita,"ujar Alan merangkul pinggangku begitu posesif.
"I love you," ucapnya mengecup pipiku begitu lembut. Aku mengunci pandangannya.
"Ara juga mencintai hubby, sejak dulu hingga nanti. Tidak akan berubah," balasku. Alan tersenyum begitu manis.
"Sebaiknya kita tinggal sedikit lebih lama disini, aku merindukanmu, sayang." Aku menaikan alisku.
"Lalu bagaimana dengan jagoan kita? Apa hubby lupa?" tanyaku mencubit pipinya dengan gemas.
"Cuma satu hari sayang, setelah itu kita langsung pulang. Aku benar-benar merindukanmu, boleh ya?" Alan memasang wajah memelas. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Alan kembali mencium pipiku. Aku memberikan tatapan tajam padanya. Bagaimana jika orang lain melihatnya? Terkadang suamiku terlalu berlebihan.
***
Acara yang cukup melelahkan. Orang lain yang jadi pengantin, tetapi aku yang kelelahan. Bagaimana tidak, Alan terus mengajakku berkenalan dengan beberapa temannya dan juga keluarga besar Jane dan Alex. Aku menjatuhkan diriku diatas kasur. Rasanya sangat nyaman. Memejamkan mata yang mulai merindukan buayan mimpi indah.
"Sayang, mandi bareng yuk?" Ajaknya sambil duduk disebelahku. Aku membuka mataku dan meliriknya sekilas. Lalu kembali memejamkan mata.
"Ara capek, Bi." Ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Aku benar-benar lelah. Ingin langsung terjun ke alam mimpi.
"Menolak keinginan suami itu dosa loh," ucapnya. Aku menyibak selimut dengan kasar. Menatap punggungnya yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Ck, menyebalkan. Dasar pria, kalau sudah memiliki keinginan harus selalu terpenuhi. Memangnya istrinya robot apa?" omelku tidak perduli lagi denganya. Aku ingin istirahat sebentar.
__ADS_1