
Mungkin benar, dalam setiap hubungan akan ada guncangan. Begitu lah yang saat ini rumah tangga kami rasakan. Baru selangkah kami menaiki jenjang rumah tangga. Tapi, masalah demi masalah akan terus berdatangan disaat ingin menaiki tangga selanjutnya.
Ting...
Aku mengambil ponselku yang tergeletak diatas meja. Sebuah pesan dari suamiku, kenapa dia memberikan pesan? Tanpa ragu aku membuka isi pesannya.
'Sayang, maaf hubby tidak bisa pulang siang ini. Sebelum berangkat hubby harus menyelesaikan pekerjaan sedikit, tidak apa kan makan sendiri?'
Huft... Jadi aku harus makan sendiri lagi? Sudah lah, mau bagaimana lagi. Aku mulai mengetik balasan untuknya, send.
'Iya bi tidak apa-apa, hubby jangan lupa makan siang. Nanti lambung hubby kambuh,'
Ku letakan kembali ponselku diatas meja. Aku menatap masakan yang sudah aku siapkan. Kasian sekali mereka, siapa yang akan makan? Aku kembali membereskan semuanya, rasa laparku pun mulai menghilang. Aku kembali ke kamar untuk mengecek apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Jadwal keberangkatan malam nanti, jadi siang ini masih bisa sedikit bersantai.
Ku jatuhkan diriku diatas ranjang, langit-langit kamar terlihat begitu polos. Hmmm, baru beberapa hari rumah ini kami tempati. Rasanya sangat berat untuk meninggalkannya, walaupun hanya beberapa bulan lagi aku tinggal disana bersama Alan. Rumah ini benar-benar sudah merebut hatiku sepenuhnya.
Langit mulai jingga, mentari sudah tak lagi terlihat. Ku peluk diri sendiri saat angin sejuk menyetuh diriku. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku, disini bisa melihat langsung betapa indah ciptaan-NYA.
Ting Tong...
Aku terhenyak saat mendengar suara bel rumah. Siapa yang bertamu? Aku beranjak keluar untuk melihatnya. Ku buka pintu dan terlihat seorang pria yang berdiri membelakangi diriku.
"Maaf, mencari siapa?" tanyaku. Pria itu langsung membalikan tubuhnya. Pak Dio? Mau apa lagi dia kesini?
"Maaf, suami saya tidak ada dirumah. Jika ada keperluan lain kali saja," ucapku langsung menutup pintu, namun aku merasa pintu sangat sulit tertutup. Ternyata pak Dio menahannya agar aku tak menutup pintu. Bagaimana ini? Jika orang lain lihat bisa menjadi fitnah.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu, tolong hubungi suami kamu. Ini penting, please.. " ujarnya menatapku penuh harap. Aku terdiam sesaat, apa sepenting itu?
"Tunggu saja di luar, saya akan menghubungi..." belum selesai aku bicara, sudah terlihat mobil suamiku memasuki pekarangan rumah. Aku tersenyum dan menghampiri suamiku yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Akhirnya hubby pulang," ucapku mengecup punggung tangannya. Ku tatap dirinya yang tengah menatap pak Dio.
"Pak Dio datang untuk menemui hubby," ucapku menyetuh wajahnya yang datar. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Untuk apa?" tanyanya datar. Aku menggeleng pelan.
"Tolong jangan emosi," ucapku mengelus lengannya. Alan menatapku lekat, ia menyentuh wajahku dan mengangguk. Aku tersenyum senang.
"Ayok," ajaknya untuk masuk.
"Masuklah," ucapnya pada pada pak Dio. Aku menunduk dan berjalan mengikuti langkah suamiku.
"Silahkan duduk," ucap suamiku padanya. Aku pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Aku harap pak Dio tidak membuat masalah lagi. Sudah cukup beban yang Alan tanggung.
__ADS_1
Setelah selesai membuat air minum, aku langsung beranjak kedepan. Kenapa terlihat hening? Apa mereka tidak bicara sedari tadi?
"Silahkan diminum," ucapku meletakkan gelas diatas meja. Kemudian aku duduk di sebelah Alan.
"Emmm... Ada apa ya bapak datang kemari?" tanyaku memecah keheningan. Ku genggam tangan suamiku dengan erat. Aku juga melihat pak Dio seperti orang kebingungan.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada kalian," ucapnya dengan cepat. Aku sedikit tersentak dan langsung menatap Alan.
"Aku sadar, apa yang aku lakukan itu salah. Terutama pada kamu Ara, aku minta maaf selalu mengganggu hidup kamu. Seharusnya aku sadar jika semua tidak bisa dipaksakan, aku berjanji tidak akan menganggumu lagi. Terutama kamu adalah adik iparku, istri dari adikku," ujarnya menatap Alan begitu dalam.
"Aku tahu kalian tidak akan bisa memaafkan kesalahanku. Ditambah aku pernah mempermalukan adikku sendiri di depan umum. Sebagai seorang kakak, seharusnya aku menjadi panutan. Tapi, aku malah membuat kalian terluka."
"Alan, sebagai kakakmu. Aku minta maaf, aku tidak pantas menjadi kakakmu. Aku sangat jahat, aku sudah dibutakan oleh obsesiku sendiri dan berusaha untuk menjatuhkanmu. Maafkan aku, apapun akan aku lakukan agar kamu bisa mengakui aku sebagai kakakmu dan memaafkan kesalahan yang sudah aku buat,"
Ya Allah, semoga ini bukan sekedar mimpi. Mungkin ini adalah awal yang baik dalam hubungan Alan dengan keluarga kandungnya. Aku menatap Alan yang masih terdiam membisu. Ku lirik pak Dio yang tengah menatap Alan penuh harapan. Aku bisa melihat penyesalan yang begitu mendalam di matanya.
"Bi," panggilku. Ku sentuh lengannya, Alan memberikan tatapan tajam padaku. Aku menunduk karena takut dengan tatapan Alan. Lalu aku merasakan tangan kekar miliknya menyentuh kepalaku.
"Jika kamu memang benar-benar menganggap aku sebagai adikmu, mungkin aku akan memaafkan kesalahan yang sudah kamu buat. Aku akan menganggap itu sebagai pertengkaran seorang saudara. Tapi, jangan pernah melibatkan perasaan dalam hubungan keluarga," ujar Alan yang berhasil membuat aku tekejut. Aku tersenyum senang, aku tahu hatinya sangat lembut.
Aku melihat pak Dio, bibirnya terpaut sempurna. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama denganku, perasaan bahagia atas perkataan Alan.
"Terimakasih, aku sebagai kakakmu merasa malu Alan. Kau adikku, tapi pemikiranmu lebih dewasa dariku. Sepertinya aku tidak pantas kau panggil kakak," ujar pak Dio.
"Hah, kau benar. Aku selalu berfikir jika aku lebih baik darimu karena terlahir dari rahim yang suci, tapi pada dasarnya kita berdua bukanlah orang suci. Hadir disaat yang tidak tepat,"
"Hmmm... Tapi tetap saja aku lebih beruntung darimu. Karena aku mendapatkan bidadari cantik lebih dulu, kau selalu kalah dariku." ujar Alan yang disambut tawa oleh pak Dio. Aku tersenyum dan menatap Alan yang juga ikut tertawa. Aku sangat bahagia, sepertinya hubungan mereka akan lebih baik dari sebelumnya. Hubungan darah memang tak akan bisa di putuskan, tali persaudaraan mereka akan terjalin sebagaimana mestinya.
"Alan, apa kamu masih marah padaku juga papa?" tanya pak Dio memberikan tatapan sendu pada Alan.
Aku melihat Alan terdiam sesaat, ia membenarkan posisi duduknya.
"Aku bukanlah manusia sempurna, jadi sudah kewajibanku untuk memaafkan semuanya. Walaupun aku marah hingga akhir hayatku, semuanya akan tetap sama. Mama juga tidak akan pernah kembali ke dunia ini, dan aku akan tetap seperti ini," ujar Alan melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku tahu apa yang saat ini Alan rasakan, sepertinya Alan kembali merindukan mamanya.
Sudah sangat lama Alan ingin mengunjungi makam mamanya, namun papa Arnold masih belum memberi tahu dimana keberadaan makam mama sebenarnya. Bahkan Alan bilang ia tak pernah melihat wajah mamanya sama sekali. Tidak ada yang tahu alasan papa Arnold menyembunyikan semua itu.
"Aku tidak bisa berkata lagi, kau sangat baik Alan. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan adik sepertimu."
"Sudahlah, tidak perlu membahas masa lalu. Sebaiknya kita perbaiki hubungan kita yang renggang, aku hanya ingin kau benar-benar menjadi kakakku. Saling mendukung dan memberikan kekuatan," ujar Alan bangun dari duduknya. Aku menatapnya lekat, apa yang akan ia lakukan? Pak Dio pun ikut bangun dari duduknya.
Aku menutup mulutku, aku sangat terkejut saat Alan memeluk pak Dio secara tiba tiba.
"Alhamdulillah," ucapku saat menyaksikan keduanya saling berpelukan layaknya adik kakak. Terimakasih ya Allah engkau telah menyatukan dua hati yang saling betolak belakang, jadikan mereka saudara yang saling melindungi.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap pak Dio.
"Bolehkah aku memanggilmu kakak?" tanya Alan.
"Tentu, kau adikku."
Aku terus tersenyum melihat tingkah keduanya yang kaku, namun terkesan lucu.
"Hey, apa tidak ingin bergabung?" tanya pak Dio bicara padaku. Aku membulatkan mataku.
"Just kidding, aku tahu kau hanya milik adikku." lanjutnya sambil tertawa.
"Jangan mengaggunya lagi, aku akan marah padamu," ujar Alan memberikan tatapan tajam pada pak Dio. Pak Dio tertawa dan kembali memeluk Alan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menyaksikan kemesraan mereka.
***
Begitu cepat waktu berputar. Bandara internasional Soekarno Hatta. Tempat ini selalu menjadi tempat perpisahan dan pertemuan sebagian banyak orang. Termasuk diriku menjadi bagian dari mereka.
"Pah, Ara pamit" ucapku mencium tangan papah. Ku angkat kepalaku untuk menatap netra indah milik papah. Ya, aku masih berharap papah bicara pada Alan. Hatiku sangat berat jika pergi dengan keadaan seperti ini.
"Pah." Aku menoleh saat Alan memanggil papah. Aku menatap Alan dan papah bergantian.
"Pah, please.. " ucapku menatap papah penuh harap. Aku meraskan tangan Alan menyetuh pundakku.
"Jangan memaksa papah sayang, aku baik-baik aja kok," bisik Alan. Aku menatap Alan penuh rasa bersalah.
"Pah, kami pamit." ucap Alan mencium tangan papah. Aku terus menatap papah, berharap papah mengatakan sesuatu pada Alan. Alan tersenyum dan menggenggam tanganku sambil menggelengkan kepalanya.
"Alan, jaga putri papah dengan baik."
Aku sangat terkejut saat papah berbicara pada Alan. Apa papah tidak marah lagi?
"Papah sudah tidak marah?" tanyaku. Papah menggeleng pelan sambil tersenyum. Aku sangat bahagia, ku peluk papah dengan erat.
"Terimakasih papah," ucapku. Saat ini aku tidak ingin melepaskan pelukan ini.
"Sudah, sana pergi. Pesawat akan segera berangkat, jaga diri baik baik. Jangan terlalu manja lagi," ujar papah mengecup kepalaku. Aku mengangguk, ku eratkan pelukanku.
"I love you papah,"
Bersambung....
Hy guys ketemu lagi kita, walaupun bertemu dalam bayangan. Hehe... Thanks udah setia nunggu Hubby Alan dan sayangnya Ara. Author juga sayang kalian kok. Jangan marah ya sama Author yang jarang nyapa dan jarang update. Author juga manusia, punya batas kemampuan untuk membagi waktu... Hiya, drama banget sih Author nih. Demi kalian Author curi2 waktu buat nulis... Doakan Author sehat slalu, dan bisa terus hadir di dunia imajinasi ini... Hihi... Pokoknya Author tetap sayang kalian... 😍😍❤️❤️❤️
__ADS_1