Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 23. Maaf (Alan)


__ADS_3

Kerinduan yang begitu dalam kini membuncah di dadaku. Rasa bersalah juga terus menyelimuti diriku. Sudah dua hari aku memilih untuk tidak pulang kerumah sejak kejadian malam itu. Bukan aku menghindar, tapi aku ingin mencari waktu yang tepat.


Kebetulan dua hari ini juga aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Juga menyelesaikan skripsiku. Aku ingin memberikan kejutan padanya. Mungkin setelah semuanya selesai, aku akan membawanya liburan beberapa hari. Waktu itu akan aku manfaatkan untuk menjelaskan kesalah fahaman ini. Tunggu aku Ara. Maaf, aku tidak memberimu kabar.


Aku tahu betul seperti apa istriku, jika aku menghubunginya. Dia pasti akan bertanya panjang lebar. Dan itu akan menghancurkan semua rencanaku.


Aku sangat terkejut saat tiba-tiba ponselku bergetar. Jihan. Hah, aku hampir melupakannya. Setengah jam lagi aku akan menjemputnya. Sore ini akan ada pemotretan produk. Karena besok adalah acara peluncuran produk baru.


Aku sengaja menyuruh Jihan untuk tidak membawa mobil. Karena aku akan menjemputnya langsung. Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan padanya.


Saat ini aku tengah menunggunya didepan gerbang. Aku sengaja tidak masuk, karena di dalam pasti akan ada istriku. Aku belum siap dengan ribuan pertanyaan darinya. Biarkan dia marah, aku akan membujuknya nanti.


Tapi... Aku sangat merindukan dirinya. Sedang apa dia sekarang?


"Hy Lan, sorry lama." Aku sangat terkejut saat Jihan ternyata sudah datang.


"Tidak jadi masalah, masuk lah." ucapku sambil membukakan pintu untuknya.


"Thank you Alan."


"You are welcome!" ucapku. Aku hendak masuk kedalam mobil. Namun mataku tak sengaja melihat sebuah mobil yang sangat aku kenal. Ara? Apa dia melihatku? Ah, sepertinya tidak. Buktinya dia langsung pergi. Jika dia melihatku, sudah pasti dia akan turun dan menemuiku. Aku menggeleng pelan dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Sepertinya kamu sangat sibuk. Bagaimana dengan kuliah?" tanya Jihan membuka pembicaraan.


"Ya, lumayan sibuk. Masalah kuliah alhamdulillah aman." jawabku sambil pokus menatap kedepan.


"Syukur deh. Gimana udah ada kabar baik belum?" tanyanya yang berhasil membuatku bingung.


"Kabar baik apa?" tanyaku.


"Ck, tumben kamu lola. Kabar baik dong, udah ada calon ponakan buat aku belum?" tanyanya yang berhasil membuatku terkejut.


"Pertanyaan konyol. Umur pernikahan kami baru jalan 2 minggu. Bagaimana mungkin Ara hamil."


Hahaha...melakukannya saja tidak pernah. Lagian masih banyak waktu untukku dan Ara. Ada satu hal yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak mau Ara hamil terlalu capat.


"Ya siapa tahu aja topcer." celetuk Jihan. Gadis ini memang tak tahu malu. Aku kira dia orang yang begitu menjaga image. Ternyata humoris juga.


"Ngaco." ucapku.


"Oh iya, aku mau nanya sesuatu. Kamu kan perempuan. Hadiah apa yang paling disukai perempuan? Yang spesial gitu. Aku gak tahu apa yang Ara suka. Kamu tahu sendiri kan dia seperti apa orangnya." ujarku. Tujuanku menjemput Jihan secara langsung juga ingin menanyakan hal ini.


"Hah, Ara ulang tahun yaa?"


Ck, dia malah balik bertanya.


"Memangnya kasih hadiah buat ulang tahun aja?" ucapku dengan kesal. Terkadang perempuan itu suka aneh.


"Owh, sweet banget sih. Hmm... Hadiah untuk Ara ya? Mungkin perhiasan, tas, atau sepatu?" ucapnya. Kalau gini sih bukan solusi. Ara mana pernah memakai yang gituan.


"Hahaha...aku bercanda. Jangan serius gitu mukanya." ucap Jihan menepuk lenganku. Aku hanya menghela napas.

__ADS_1


"Hadiah untuk Ara. Menurutku sih kamu beli aja kerudung, atau pakaian syar’i yang seperti dia pakai. Lagian Ara bukan tipe perempuan ikut model. Kayak aku misalnya. Hehe." ucapnya sambil cengengesan gak jelas. Tapi benar juga, sepertinya ide Jihan boleh juga.


"Ok, thanks atas sarannya." ucapku sambil tersenyum. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah terkejut Ara. Pasti sangat lucu.


"Hey, kenapa senyum-senyum gitu? Aku mendadak takut tahu gak." Jihan menatapku lekat. Aku tertawa renyah.


"Dasar bucin. Untung aku gak jadi nikah sama kamu. Kalau enggak aku bakal ketularan gila." ucapnya. Aku tersenyum.


"Untung kamu menolakku, jika tidak. Mungkin aku akan kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku. Btw, thanks ya." ujarku.


"Huh, iya deh iya... Sama-sama."


Aku tersenyum saat melihat wajah kesal Jihan. Sepanjang perjalanan, kami terus mengobrol dan diselingi dengan candaan. Ternyata Jihan lumayan asik juga. Selain cantik, dia juga cukup baik dan mudah diajak mengobrol. Sepertinya aku tidak salah memilih model.


***


Langit sudah mulai gelap. Urusanku masih juga belum selesai. Huh, aku sangat merindukan rumah. Yang tepat nya aku merindukan istriku yang super bawel. Aku merindukan ocehannnya dan manjanya.


"Woi, ngelamun aja pengantin baru. Kangen istri ya?" ujar Jihan. Aku hanya tersenyum. Memang benar, aku sangat merindukannya.


"Pulang sekarang?" tanyaku. Dia tersenyum dan mengangguk. Ya, urusan pemotretan memang sudah selesai. Tinggal beberapa pekerjaanku yang belum selesai. Setelah mengantarnya pulang. Aku akan menyelesaikan semuanya. Karena lusa, aku akan membawa Ara kesuatu tempat.


"By Alan, see you. Thanks udah ngantar sampe rumah." ucapnya. Aku mengangguk.


Huh. Ku luruskan punggungku yang terasa pegal. Ingin sekali rasanya tubuhku menyentuh kasur empuk. Lalu pandanganku jatuh pada benda pipih yang sangat jarang aku sentuh. Aku menghidupkan kembali ponselku karena sengaja aku menonaktifkannya tadi. Aku tidak mau pekerjaanku terganggu. Jadi aku mematikan ponselku.


Saat layar ponselku mulai hidup. Aku sangat terkejut karena begitu banyak panggilan tak terjawab dan terdapat beberapa pesan masuk. Mama? Apa terjadi sesuatu?


"Alan, apa kamu sudah lupa diri. Dua hari tidak pulang, ponsel tidak aktif. Kamu lupa sudah punya istri? Ara sakit, dia masuk rumah sakit!"


Deg! Jantungku seakan copot. Ara sakit? Ya Allah, apa ini gara-gara aku? Maafkan aku Ara. Aku langsung melihat pesan mama yang memberi tahu alamat rumah sakit. Tanpa pikir panjang, aku langsung menacap gas menuju alamat itu.


Perasaan ku mulai berkecamuk. Rasa bersalah pun menyeruak dalam benakku.


Ara, maafkan aku sayang.


Sesampainya disana, aku langsung berlari menuju kamar inap diamana Ara dirawat. Jantungku berpacu hebat. Ku tatap pintu dengan rasa bersalah. Aku membukanya perlahan. Semua orang menatapku. Aku tahu, ini semua memang salahku.


Aku berjalan menghampiri gadis cantikku yang tengah berbaring lemah. Wajahnya yang biasa merona kini terlihat sangat pucat. Aku benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku meninggalkannya hingga ia jatuh sakit. Suami macam apa aku ini?


Aku duduk disampingnya. Ku raih tangannya. Ya Allah, tangannya sangat dingin. Ku kecup tangannya dan ku genggam erat.


"Kamu puas Alan?"


Aku sangat terkejut saat mama mulai bicara. Mama menatapku penuh kebencian. Aku tahu, ini memang salahku.


"Sudah lah Nis, Alan sudah menyesal. Kita keluar ya, biarkan mereka berdua. Pah." ucap bunda menatap papah dan kemudian menatapku. Aku menatap bunda penuh penyesalan. Bunda tersenyum dan mengangguk.


"Jaga anak bunda, bunda keluar dulu."


"Terimakasih Bunda." ucapku. Lalu mereka pun langsung keluar.

__ADS_1


Aku kembali menatap istriku yang masih tertidur.


"Buka mata kamu sayang, aku minta maaf." ucapku mencium keningnya. Berharap ia membuka mata. Ku satukan keningku dengan keningnya. Aku sangat merindukan senyumanya. Hah, tangannya bergerak. Aku menggenggamnya dengan erat. Matanya indahnya mulai bergerak. Syukurlah, dia sudah sadar.


"Maafkan aku sayang. Maaf." ucapku mengecup keningnya beberapa kali. Hatiku sangat sakit saat melihatnya seperti ini.


"Hmmm... Haus." ucapnya begitu pelan. Aku langsung mengambil air putih dan membantunya untuk minum.


"Sudah?" tanyaku, dia mengangguk pelan. Aku meletakkan kembali gelas di atas meja.


"Aku panggilkan dokter dulu." ucapku hendak pergi, namun tanganku terlebih dahulu ditahan olehnya.


"Tidak perlu, jangan pergi. Dingin Alan." ucapnya menarik tanganku. Aku mengerti maksudnya.


"Geser sedikit, aku akan memelukmu." ucapku. Ara sedikit bergeser. Aku berbaring disebelahnya. Ku tarik kepalanya agar menjadikan dadaku sebagai bantalnya.


"Hmmm... Hangat." ucapnya kembali memejamkan matanya. Aku tersenyum dan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Rasa rinduku kini menguap sepenuhnya.


"Alan." panggilnya dengan suara yang begitu lemah.


"Hmmm." jawabku sambil mengeratkan pelukanku.


"Alan masih marah sama Ara? Ara minta maaf." ucapnya lagi.


"Aku tidak pernah marah sayang. Aku juga minta maaf, sudah meninggal kamu begitu saja. Sampai kamu sakit seperti ini." ucapku kembali mengecup kepalanya.


"Jangan pergi lagi." ucapnya memelukku begitu erat.


"Aku tidak akan pergi lagi. Tidak akan pernah." ucapku. Aku tidak akan meninggalkannya lagi. Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan terus mengingat kesalahan terbodohku ini. Aku tidak akan meninggalkannya lagi.


Dia sedikit bergerak, ia juga mengangkat kepalanya dan menatapku. Ya Allah, mata teduh itu kini sudah berubah menjadi sendu. Hah,,, aku benar-benar membuat kesalahan terbesar.


"Alan, Ara sudah tahu semuanya. Kenapa Alan tidak bicara?" ucapnya. Aku menatap mata itu dalam-dalam.


"Apa papah yang mengatakan semuanya?" tanyaku mengusap pipinya. Dia mengangguk.


"Bukan hanya papah kamu sayang, tapi papaku juga menginginkan hal yang sama. Ada tugas yang belum aku selesaikan, aku tidak tahu tugas apa yang akan papah berikan? Maafkan aku, aku tidak terus terang dari awal." ucapku mengecup kedua matanya. Ku tarik dirinya agar lebih merapat.


"Ara juga minta maaf. Ara hanya takut, takut mimpi itu jadi nyata. Ara tidak mau orang lain menyetuh Ara. Hanya Alan yang berhak atas diri Ara."


Aku mendorong tubuhnya perlahan. Aku kembali mengingat malam itu. Sebenarnya apa yang ada dalam mimpinya?


"Mimpi seperti apa sebenarnya, kenapa kamu begitu ketakutan?" tanyaku menatap matanya. Butiran bening itu kembali jatuh membasahi pipinya. Ku hapus perlahan.


"Ada seorang pria yang mencoba menyetuh Ara. Ara takut, dia... Dia mau memperkoasa Ara.. Dia... Dia... "


Ku tarik dirinya kedalam dekapanku. Aku sangat terkejut dengan apa yang ada dalam mimpinya. Aku mengerti kenapa dia begitu ketakutan.


"Sudah cukup, itu hanya mimpi. Tidak akan ada yang berani menyetuh kamu sayang. Tidak akan pernah." ucapku.


Mungkin aku akan benar-benar menjadikan Ara sebagai istriku seutuhnya. Tapi sebelum itu aku akan memastikan keondisinya. Aku tidak mau mengambil resiko besar. Untuk masalah papa, aku akan membicarakan ini padanya nanti. Keputusanku untuk membawanya berlibur sepertinya sudah benar. Mungkin aku akan menggunakan waktu singkat itu untuk memperbaiki hubungan kami.

__ADS_1


"Jangan memikirkan apapun lagi, tidurlah. Kamu harus banyak istirahat. Selamat malam sayang. I Love You." ucapku mengecup keningnya. Ku eratkan pelukkanku. Aku ikut memejamkan mata, sepertinya aku juga harus istirahat. Selamat malam istriku. Aku sangat mencintaimu.


__ADS_2