Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 46. Dia Terlalu Berharga


__ADS_3

Malam semakin sunyi, tak ada satupun bintang yang mengintip bumi. Seakan ingin terus bersembunyi.


Sejak tadi, Ara sama sekali tidak bisa tidur. Ia terus membolak-balikan tubuhnya karena kantuk tak kunjung datang. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi terduduk manis diatas nakas. Ara menghela napas berat. Ia memandang isi pesan yang Alan kirimkan untuknya beberapa jam yang lalu.


'Sayang, maaf hubby tidak bisa menghubungi kamu. Hubby cuma bisa mengirim pesan. Hubby minta maaf. Hubby baik-baik saja disini. Semoga sayang juga baik-baik saja disana. Hubby sangat merindukan sayang, tapi hubby terpaksa harus mengubur semua itu. Maaf, selamat malam sayang. I love you.'


Ara kembali menghela napas berat. Ia memiringkan tubuhnya. Ia melempar ponselnya sembarangan diatas kasur.


"Ara sangat merindukan hubby." ucapnya sambil menarik selimutnya. Matanya sangat sulit untuk terpejam. Ia benar-benar merindukan sang suami yang sudah beberapa minggu ini sibuk dengan kegiatannya di negeri paman Sam.


"Bi, sudah hampir satu tahun kita berpisah. Jarak benar-benar menyiksa Ara bi. Ara sangat merindukan hubby." Ara menyeka air matanya yang meluncur begitu saja. Rasa rindu dalam dadanya sudah meluap-luap.


Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.


Alan terlihat sedang sibuk dengan berkas di hadapannya, bersama beberapa temannya juga sedang melakukan hal yang sama. Kesehariannya dipenuhi dengan journal internasional dan beberapa riset yang sudah pernah di lakukan oleh senior mereka.


"Arlan, please bring this file to the room prof. I'll go out for a while to buy food, I know you guys are getting hungry." Ujar salah seorang senior yang membantu mereka dalam riset yang akan dijalankan. Alan tersenyum dan mengangguk. Benar yang di katakan seniornya, jika perutnya sudah memberontak untuk segera di isi. Alan melihat jam yang melingkar di tangannya. Pantas saja, sudah hampir pukul satu.


Alan memilih untuk mengambil riset dalam bidang bisnis. Ia ingin banyak belajar dari para pembisnis besar maupun kecil. Ia ingin mengorek pejalan bisnis mereka mulai dari hal kecil. Ia akan menerapkan dan mengembangkan sistem itu dalam perusahaannya. Tidak mudah memegang perusahaan yang sudah begitu besar. Alan harus memiliki banyak pengalaman. Oleh karena itu setiap hari ia selalu pergi kebeberapa perusahaan yang cukup terkenal, hingga tak ada waktu sedikitpun untuknya beristirahat. Malam hari Alan akan kembali sibuk dengan hasil yang ia dapatkan setelah merivew beberapa perusahaan.


Setelah memberikan dokumen penting pada sang Profesor. Alan kembali masuk kedalam ruangannya. Ia melihat ponselnya yang tak tersentuh. Ia menyentuh ponselnya hanya untuk memberi kabar pada Ara. Alan tersenyum saat layar ponselnya hidup dan menampakkan wajah Ara yang sedang tersenyum lebar.


"I miss you so much honey." ucap Alan menatap foto Ara.


Di kamar Ara meraskan getaran diahatinya. Ia seperti mendengar ucapan Alan. Kerinduan benar-benar sedang merasuki keduanya. Ara memejamkan matanya, berharap ia bisa bermimpi indah bersama sang kekasih halalnya.

__ADS_1


Sedangakan Alan masih setia menatap foto istrinya.


"Wow, she is very beautiful. Pantas saja kau selalu menyembunyikan dari kami. Ternyata dia sangat cantik." Alan sangat terkejut mendengar perkataan temanya yang tak Alan sadari keberadaannya. Alan langsung menutup ponselnya.


"Dia terlalu berharga untuk kau lihat." ujar Alan kembali pokus pada laptopnya.


"Aku tahu alasan kenapa kau selalu menolak ajakan kami untuk main di luar. Ternyata adik Ipar benar-benar sangat cantik. Aku tidak sabar ingin melihat wajah aslinya." ujar pria berambut kuning itu yang sering di sapa Michael. Alan yang mendengar itu hanya bisa menghela napas berat.


"Hmm..aku mengerti sekarang kenapa Arlan sangat sulit di taklukkan oleh wanita di luar sana. Ternyata hatinya sudah dipenuhi oleh bidadari cantik. Tak ada lagi tempat untukku bersarang disana." ujar teman wanita satu-satunya yang berada di ruangan. Mereka biasa memanggilnya Jane. Alan memang sudah terbiasa dengan teman satu timnya itu. Mereka memang lebih sering bergurau. Jane adalah satu-satunya wanita yang ikut bergabung dengan mereka. Bagi Alan, Jane sanga jauh berbeda dengan wanita lain yang suka menggodanya.


"Lihat saja nanti, jika kakak Ipar datang kemari. Aku akan menggodamu, aku ingin tahu bagaimana reaksinya." Jane tersenyum sendiri membayangkan ide konyolnya itu.


"Dia tidak akan terpengaruh." ujar Alan. Tangan dan matanya masih setia dengan benda pipih kesayangannya. Jane yang mendengar itu terlihat kesal. Alan melirik gadis itu sekilas, lalu ia tersenyum saat melihat wajah kesal Jane.


"Aku tidak sama denganmu." jawab Alan singkat.


"Hey, berhenti menggoda adikku yang masih suci. Dia tak pantas di bandingkan dengan dirimu. Kau sudah sangat kotor." ujar Alex melempar gumpalan kertas yang mengenai kepala Michael. Michael sangat kesal.


"Hey, kau harusnya berkaca. Kita berdua tak ada beda." ucap Michael tak terima dengan ucapan Alex.


"Setidaknya aku pemilih. Tak seperti dirimu, semuanya kau bawa pulang." ucap Alex.


"Cukup! telingaku sangat sakit mendengar perdebatan tak bermakna dari mulut kalian. Aku yakin Arlan juga bosan mendengarnya, hanya saja dia tak berani bicara." ujar Jane memutar kedua bola matanya. Sedangakan Alan hanya bisa tersenyum.


"Kau sangat manis saat sedang marah honey." ucap Alex mengedipkan matanya. Jane yang melihat itu mendadak mual.

__ADS_1


"Arlan, bagaimana perusahaanmu?" tanya Jane tak menghiraukan ucapan Alex. Baginya Alex adalah pria yang paling menyebalkan.


"Baik, semuanya berjalan dengan lancar. Walaupun sedikit ribet kerana harus melalui online." jawab Alan.


"Arlan, bisakah aku menjadi istri keduamu?" gurau Jane yang berhasil membuat Alex tekejut. Sejak awal Alex memang sangat tertarik dengan Jane. Baginya, Jane adalah wanita yang berbeda. Dia sama sekali tak mempan oleh rayuanya.


"Boleh, jika kau sanggup melihat kemesraan kami." jawab Alan dengan santai. Jane mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan jawaban Alan.


"Menikahlah denganku, aku akan membahagiakanmu." ujar Alex. Jane membulatkan matanya karena tak percaya dengan ucapan Alex.


"Huh, it's impossible. Aku tidak suka barang bekas." ujar Jane yang berhasil menusuk hati Alex.


"Kau sangat menggemaskan sayang. Ucapanmu menembus jantungku." ucap Alex. Jane menggeleng pelan. Ia tak habis pikir dengan pria yang satu itu. Sudah sering mulutnya mengeluarkan kata-kata pedas, namun tetap saja tidak mempan.


'Dasar idiot!'


"Ah iya Lan, tadi pagi aku lihat wanitamu datang. Dia terlihat sangat seksi dengan gaun kurang bahannya itu. Katanya dia merindukanmu. Jika dia menggodaku, aku akan langsung melahapnya." ujar Michael dengan begitu lantang.


"Apa yang kamu lahap?" tanya seseorang yang berhasil membuat semuanya tekejut. Michael jadi salah tingkah saat melihat sosok Professor yang tiba-tiba saja datang. Mereka berdiri dan memberikan salam.


"Mic, kamu ikut dengan saya." ujar Professor Luis. Wajah Michael pun mendadak pucat. Ketiga temannya yang lain hanya bisa menunduk. Alex menahan tawanya.


"Semangat Mic, kami mendukung apapun yang terjadi." ujar Alex sedikit berbisik. Alan dan Jane pun hanya tersenyum geli melihat wajah pucat Michael. Michael mengarahkan kepalan tangannya pada ketiga temannya. Lalu Ia pun beranjak mengikuti Professor Luis ke dalam ruangan.


Alex dan Jane tertawa renyah. Lalu mereka pun kembali pada tugas masing-masing. Alan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Paling Michael akan mendapatkan wejangan sedikit dari Professor. Karena yang Alan tahu, Professor nya itu tak suka dengan pria yang suka mempermainkan wanita.

__ADS_1


__ADS_2