
Mengingat kematian itu penting. Agar selalu ingat jika sang maha kuasa bisa kapan saja mengambil nyawa kita. Mungkin detik ini, besok, lusa atau entah kapan. Tingkatkan imam di dada, agar kapanpun waktu itu datang. Kita sudah siap untuk bertemu dengan-NYA.
~Ketulusan Hati 2~
Pantulan sinar matahari membuat mata tak bisa terbuka secara sempurna. Aku menatap keindahan yang saat ini ada dihadapanku. Masyaallah, sungguh indah rumah-MU ya Allah. Rumah yang kau lindungi saat musibah besar datang menghampiri. Menyelamatkan ribuan jiwa di dalamnya.
Tempat ini begitu banyak di kunjungi orang-orang. Mungkin entah dari mana mereka datang. Ku langkahkan kaki masuk kedalam rumah Allah yang menjadi bukti kekuasannya. Yang pertama kali aku dapatkan adalah kesejukan jiwa dan raga. Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid yang masih kokoh berdiri saat di sekelilingnya tersapu rata oleh tsunami berapa tahun yang lalu.
Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku tak kuasa menahan kekagumanku. Ini sungguh luar biasa.
"Kak, kenapa nangis?" tanya Rizka. Aku langsung menggeleng dan menghapus air mataku. Saat ini kami sudah berada di kawasan akhwat. Jadi aku terpisah dengan Alan.
"Mungkin kakak kamu sedang membayangkan betapa besarnya kekuasaan Allah. Masjid ini menjadi bukti kekuasaan-NYA." ucap tante merangkulku. Aku mengangguk pelan.
"Ara sangat senang bisa terlahir sebagai seorang muslimah." ucapku kembali meneteskan air mata. Tante Syila tersenyum dan mengusap punggungku.
"Maka dari itu kita harus selalu bersyukur dan taat pada-NYA. Insha allah kebahagiaan akan selalu kita peroleh." ucap tante Syila. Aku mengangguk.
"Ini masih satu tempat kak. Jika masuk ke museum tsunami. Mungkin kakak tidak akan berhenti menangis." ucap Rizka. Aku hanya bisa tersenyum sambil menghapus air mataku. Aku sudah tidak sabar menunggu esok untuk mengunjungi tempat lain.
Paman sengaja mengajak kami ke sini sekalian melaksanakan solat ashar. Kebetulan rumah paman tak terlalu jauh dari sini.
Setelah selesai melaksanakan solat. Aku diajak berkeliling pasar Aceh. Ternyata disini cukup ramai, walaupun sudah sore. Tapi suasana masih cukup ramai. Para penjual pun begitu ramah. Dan yang paling unik itu disini para penjual terus memanggil pelanggan dengan kata 'Piyoh'. Tante bilang, itu artinya singgah. Aku tersenyum saat mendengar penjelasan tante. Ternyata bahasa Aceh itu cukup unik dan asik.
"Tante, disini tidak ada Mall atau apalah gitu? Apa memang pasar tradisional semua?" tanyaku.
"Ada, di bagaian dalam ada sebuah Mall. Di lantai tiga. Memang tidak sebesar di Jakarta. Tapi barang-barangnya cukup lengkap. Kalo mau, kita bisa kesana." ucap tante.
"Ah, sepertinya tidak buruk." ucapku. Aku ingin tahu seperti apa Mall disini. Apa seramai di Jakarta.
"Di Aceh ada beberapa mall, tapi agak jauh dari sini. Seperti mall matahari dan Hermes." Aku mengangguk mendengar penjelasan tante Syila.
"Setiap minggu aku dan Rizki selalu keliling semua mall. Hitung-hitung refreshing. Kalau tidak ke Mall ya ke laut." ucap Rizka terus menggandeng tanganku.
__ADS_1
"Wah, pasti asik kan?" tanyaku sambil melihat kiri dan kanan. Banyak sekali lorong dan isinya semua penjual pakaian.
Setelah beberapa menit, kami pun sampai di sebuah pusat pembelanjaan. Yang tepatnya mall yang ada di Aceh. Lumayan besar dan tempatnya cukup nyaman.
"Rizka, ajak kakak kamu jalan-jalan. Mama mau beli sesuatu dulu." ucap tante Syila. Aku melihat Rizka mengangguk antusias.
"Kita kesini aja kak liat baju." ajak Rizka. Aku hanya mengikuti keinginannya. Karena aku memang belum mengenal tempat ini.
Kami pun berkeliling sambil bercanda ria. Ini benar benar sangat menyenangkan.
***
Keesokan harinya, sesuai dengan rencana. Kami pun jalan-jalan menuju beberapa tempat. Yang pertama kami kunjungi itu adalah museum tsunami. Namun kali ini paman tidak ikut karena ada jadwal di rumah sakit. Jadi hanya kami berempat karena tante tidak mau ikut.
Aku menggandeng tangan Alan saat memasuki museum. Ternyata sudah banyak pengunjung yang datang. Yang pertama aku lihat adalah keindahan arsitektur dari museum ini sendiri. Terlihat sangat mewah dan unik. Pertama sekali masuk kita bisa melihat terdapat tulisan 'Museum Tsunami Aceh'.
"kalau weekend bakal rame kak, bahkan orang jauh pun datang. Pernah sekali diajak bicara sama bule." oceh Rizka. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu kami pun mengambil karcis, dan aku kembali tekejut karena masuk kesini ternyata gratis loh.
"Pegang kak Alan yang kuat, takut hilang." ucap Rizki masuk kedalam terlebih dahulu.
"Kamu takut?" tanya Alan.
"Hmmm, sedikit merinding." ucapku tak bisa melihat apapun. Jika ada lubang bagaimana? Gelap sekali. Sepertinya bujuku juga agak basah karena terkena percikan air. Tapi untungnya lorong itu tidak terlalu panjang karena sudah terlihat titik terang.
Saat ini kami sudah berada di sebuah ruangan yang dipenuhi kaca. Aku tidak tahu ini ruangan apa? Yang jelas disini banyak sekali komputer touchscreen yang menunjukan foto-foto kenangan saat tsunami. Aku mencoba menggeser layar komputer itu dengan jariku. Banyak sekali foto kenangan disini.
"Ini namanya ruang kenangan, space of memory." ucap Rizka berdiri disebelahku. Aku mengangguk.
"Masih mau disini atau lanjut ke sumur doa?" tanyanya. Aku mengernyit bingung. Sumur do'a? Dalam bayanganku saat ini ada sebuah sumur dan kita memanjatkan do'a disana. Ah, daripada membayangkan yang bukan-bukan mending langsung aja deh kesana. Aku menarik Alan yang tengah melihat-lihat.
"Ayok lanjut." ucapku. Rizka dan Rizki pun tertawa saat melihat Alan sedikit tekejut karena tiba-tiba aku tarik.
"Main tarik aja, kalau aku jatuh gimana?" tanya Alan. Aku menatapnya lekat. Sejak kapan suamiku ini jadi lebay?
__ADS_1
"Kalau jatuh ya bangun." ucapku.
"Nah, ini namanya sumur do'a." ucap Rizka. Aku sedikit tekejut karena tidak sesuai dengan yang ada dalam bayanganku. Aku mengira ini sebuah sumur. Tapi ternyata ini sebuah ruangan yang berbentuk cerobong. Aku melihat keatas disana begitu banyak nama-nama orang. Apa mungkin itu nama-nama korban tsunami?
"Itu nama-nama korban tsunami." ucap Rizki. Aku mengangguk. Suara lantunan ayat suci Al-qur'an begitu memilukan hatiku. Lantunan itu mengisyaratkan kesedihan yang begitu mendalam. Air mataku pun kembali meleleh. Di puncak sumur paling atas aku bisa melihat lafadz Allah. Allahu akbar! Sungguh besar kuasamu ya Allah. Aku menunduk untuk memanjatkan doa untuk para korban. Setidaknya mereka mendapatkan ketenangan disana.
'Mengingat kematian itu penting. Agar selalu ingat jika sang maha kuasa bisa kapan saja mengambil nyawa kita. Mungkin detik ini, besok, lusa atau entah kapan. Tingkatkan imam di dada, agar kapanpun waktu itu datang. Kita sudah siap untuk bertemu dengan-NYA.'
Lalu Rizka dan Rizki pun kembali mengajak kami berkeliling. Eh, kenapa jalannya seperti berputar sih. Kepalaku agak pusing.
"Alan, ini jalannya memang berputar atau Ara yang pusing ya?" tanyaku.
"Memang berputar honey." ucapnya merangkul pinggangku.
"Ka, masih jauh? Ara pusing nih." ucapku. Rizka pun berbalik.
"Dikit lagi. Ini namanya lorong cerobong." ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk pasrah. Baru segini saja kakiku sudah pegel. Mungkin karena efek kemarin juga, rasa pegalnya belum hilang.
Setelah berputar di lorong yang cukup panjang, itu sih bagiku. Kini kami sudah berada di sebuah jembatan. Aku melihat dibawah ada kolam ikan dan dipinggiran kolam terdapat beberapa anak muda. Sepertinya mereka juga mahasiswa. Aku tersenyum saat melihat keseriusan mereka membaca Al-qur'an. Mereka berkeliling memutari kolam.
"Lihat diatas." ucap Alan. Aku langsung melihat keatas. Wah, banyak sekali bendera-bendera beberapa negara. Sepertinya mereka lah yang membantu saat bencana dulu.
"Ini namanya jembatan harapan. Jembatan ini di filosofikan bahwa harapan dan cita masyarakat Aceh yang hampir pupus kembali dibangun disini dengan bantuan dari beberapa negara. Yang diatas itu bendera negara-negara yang membantu disini." ucap Rizki.
"Hmmm... Luar biasa." ucapku. Mereka pun tersenyum.
Begitu banyak pelajaran yang dapat aku ambil disini. Sejarah besar yang banyak meninggalkan banyak pelajaran, tentang pentingnya mengingat kematian, betapa kecilnya dunia ini bagi-NYA, mengingatkan kita akan kebesaran-NYA. Sungguh, tak ada manusia yang bisa melawan kehendak-NYA.
"Mau nonton video saat tsunami?" tanya Rizka. Aku langsung mengangguk antusias.
"Tapi harus sabar menunggu. Antrian cukup panjang." ucap Rizka.
"Tidak jadi masalah." ucapku.
__ADS_1
Lalu kami pun masuk kedalam sebuah ruangan yang hampir mirip dengan bioskop mini, setelah sekian lama mengantri. Sebuah film pendek yang menunjukkan betapa huru-haranya saat air besar datang secara tiba-tiba. Meyapu setiap apa yang ia lewati. Tidak mau tahu itu apa, dia terus mengulung bangunan dan para manusia yang berusaha untuk menyelematakan diri. Ah, dadaku sangat sesak. Aku membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi mereka. Berlari sekuat tenaga untuk menghindari gulungan ombak. Hiks, aku tidak sanggup lagi. Ku tenggelamkan wajahku di pundak Alan. Air mataku mengalir begitu deras. Banyak penonton yang menangis histeris. Mungkin mereka kembali mengingat memori itu, memori yang akan mendarah daging.