Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 32. Ara Cemburu Bi (Ara)


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat menengangkan. Aku mencengkram tanganku sendiri dengan kuat. Ck, kenapa aku yang jadi gugup sih? Padahal kan Alan yang sedang ujian di dalam. Ya Allah, tolong lancarkan lisan dan segala urusan suami hamba. Aamiin Aamiin allahu Aamiin.


"Ara, kamu kenapa? Pucat banget?" tanya mama di sampingku.


"Ara tegang ma," ucapku menatap mama sendu. Namun mama malah tertawa.


"lho kenapa kamu yang tegang sih? Kan yang sedang ujian Alan, dasar kamu ini." ucap mama menggenggam tanganku. Aku hanya bisa tersenyum kiku. Pasalnya aku benar-benar tegang.


Tak berapa lama pintu ruangan pun terbuka dan menampakkan Alan dengan wajah anehnya. Apa dia baik-baik saja? Kenapa ekspresi nya seperti itu? Aku berjalan menghampirinya.


"Hubby, lancar kan semuanya?" tanyaku sambil menyetuh tangannya. Alan terus menatapku aneh.


"Hubby, kenapa lihat Ara sperti itu sih? Hubby bisa jawab semua kan? Hubby tidak gugup kan? Hubby... "


"Dasar cewet," potongnya sambil mengelus kepalaku. Alan tersenyum dan menarik pinggangku.


"Hubby, jangan buat Ara ikutan tegang dong." rengekku sambil menatapnya lekat. Lalu Alan pun malah tertawa.


"Kamu sangat lucu, Alhamdulillah semuanya lancar sayang. Mereka didalam sedang berdiskusi," ujarnya yang berhasil membuat napasku lega.


"Alhamdulillah, apa hubby haus?" tanyaku lagi. Alan pun menggeleng dan mendekatkan wajahnya denganku.


"Aku hanya merindukan istriku," ucapnya sedikit berbisik. Huaaaaaaa... Aku seperti melayang. Pipiku juga sangat panas, aku menunduk malu.


"Emm... Hubby, lepasin Ara. Disini ada mama dan yang lain. Tidak enak dilihat mereka," pintaku sambil melihat mama. Mama tersenyum geli saat melihat kedekatanku dengan Alan.


"Memangnya kenapa? Kita sudah sah, jadi bukan masalah honey." Aku membulatkan mataku saat tiba-tiba Alan mengecup pipiku.


"Hubby!" ucapku memukul dadanya pelan. Aku menenggelamkan wajahku di disana. Aku benar-benar sangat malu dengan orang-orang yang ada disini.


"Ekhem, jomblo mah apa daya atuh?" ucap seseorang yang berhasil membuatku terkejut. Aku langsung menoleh dan mendapatkan Jihan sudah berdiri disana.


"Ji, kamu disini juga?" tanyaku dengan semangat. Aku kembali menatap Alan untuk meminta jawaban.


"Hubby yang mengundangnya, dia teman kita. Jadi tak ada salahnya hubby undang bukan?" ujar Alan. Aku langsung mengangguk.


"Hubby, lepasin Ara. Ara tidak nyaman seperti ini," ucapku menatap matanya dalam-dalam. Ah. Dia malah memelukku. Ya allah Alan, kenapa dia jadi manja seperti ini sih? Ini tempat umum, bukan kamar Alan.


"Aku lelah," ucapnya. Aku bisa merasakan hembusan napas beratnya. Aku tahu, saat ini begitu banyak beban yang ia pikul. Aku membalas pelukkannya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Setelah ini hubby bisa istirahat sepuasnya. Tetap semangat!" ucapku sedikit mendorong tubuhhya. Aku menangkup wajahnya. Huh, jika seperti ini Alan sangat menggemaskan.


"Hubby tidak boleh mengeluh, karena Ara akan selalu ada di belakang hubby." imbuhku.

__ADS_1


"Hmmm... " gumamnya sambil mengangguk. Lalu tak berapa lama pintu ruangan kembali terbuka.


"Alan, silahkan masuk." titah seorang pria paruh baya.


"Baik pak," ucap Alan. Ia melepaskan tanganku dan mengecup pipiku sekilas sebelum ia benar-benar hilang di balik pintu.


"Cie Cie, sweet banget sih. Jadi iri," ucap Jihan menoel pundakku.


"Apaan sih?" ucapku tersenyum malu. Aku kembali duduk di sebelah mama. Namun aku sangat tekejut saat mama ternyata terus menatapku. Karena sangat malu, aku langsung memeluk mama.


"Terimakasih Ara, sudah mau menjadi kekuatan untuk Alan. Mama sangat bahagia melihat kedekatan kalian," ucap mama mengelus punggungku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Jangan pernah meninggalkan anak mama apapun yang terjadi sayang, dia sangat membutuhkan dukungan kamu." imbuh mama. Aku melerai pelukannya dan menatap mama lekat.


"Ara akan terus berusaha Ma, Ara akan selalu ada di samping Alan. Walaupun kedepannya kami harus berpisah jarak dan waktu. Tapi Ara akan tetap berusaha menjadi istri yang baik, menjadi kekuatan untuk suami Ara. Ara akan terus mendukung Alan ma," ujarku mengelus pipi mama. Mama tersenyum dan mengecup keningku begitu lembut.


"Terimakasih sayang," ucap mama menatapku. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Sepertinya bunda datang di waktu yang tepat," ucap seseorang. Ya, itu bunda. Aku langsung beehambur kepelukkan bunda.


"Bunda, Ara rindu bunda. Maaf Ara belum sempat main. Ara harus membantu Alan menyiapkan semuanya," ungkapku. Aku menatap bunda dengan penuh rasa bersalah.


"Bunda juga rindu kamu, bunda mengerti sayang." ucap bunda mengecup keningku.


"Bunda, papa tidak ikut?" tanyaku mengangkat kepalaku untuk melihat wajah teduh bunda.


"Mana ada bun, ini pasti karena baju Ara yang kebesaran." ucapku tertawa renyah. Bunda tersenyum dan mencubit pipiku pelan.


"Dasar," ucap bunda mengelus kepalaku. Aku benar-benar sangat merindukan bunda. Sudah hampir setengah bulan aku tidak pulang kerumah. Jarak rumah juga lumayan jauh, jadi Alan tidak memberiku izin untuk pulang sendiri. Mungkin aku akan sering merindukan mereka.


***


"Congratulations hubby, semoga ilmu yang didapat selama ini berkah." ucapku mencium punggung tangan Alan.


"Terimakasih sayang," ucapnya menarik tengkukku dan mengecup keningku dengan begitu mesra. Aku menarik dasinya dan mendekatkan tubuhku. Aku sengaja melakukan itu agar para wanita yang saat ini menatap Alan mengetahui jika Alan adalah milikku. Aku tidak tahu mereka itu siapa, apa Alan juga mengundangnya?


"Mereka adalah teman sekelas dan satu organisasi hubby, jangan memasang wajah cemburu seperti itu." jelas Alan menarik daguku. Aku mengerucutkan bibirku. Memang saat ini hanya tinggal teman-teman Alan. Semua keluarga besar sudah pulang.


"Mereka menyukai hubby kan? Lihat tatapan mereka, sungguh menggelikan. Hubby jangan tersenyum," ketusku. Aku sangat kesal melihat mereka masih menatap Alan dengan tatapan memuja. Apa setiap hari seperti itu? Ck, kenapa aku sangat kesal.


"Mereka berhak menyukai siapapun, tapi bukan berati kamu harus cemburu. Karena laki-laki yang saat ini ada di hadapan kamu, adalah suami kamu. Dan suami kamu hanya mencintai istrinya. Beribu wanita yang ingin merdekatiku, hanya kamu yang aku lihat Ara. Jadi percayalah padaku." ungkapnya panjang lebar. Aku menghela napas gusar. Aku mengangguk pelan.


"Selamat kak Alan, ini hadiah dari Rena. Semoga kak Alan suka." Aku sangat terkejut saat seseorang mendorongku. Ih, siapa sih dia?

__ADS_1


"Terimakasih," ketusku menyambar buket bunga dari tangannya. Aku sangat kesal, berani sekali dia mendorongku dan mendekati suamiku. Wanita itu berdecih dan langsung pergi.


"Menyebalkan," omel ku. Aku melempar bunga itu ke dalam tong sampah. Lalu aku melihat Alan sedang tersenyum sambil menatapku.


"Sudah Ara katakan, jangan tersenyum!" seru ku sambil menutup mulutnya. Namun lagi-lagi aku di kejutkan oleh seorang wanita cantik. Ya allah, pakaian apa yang dia pakai. Aku akui dia sangat cantik. Aku menatap Alan. Ck, kenapa Alan juga menatap wanita itu sih?


"Congratulations Lan, ini gift buat Lo. Sorry kalau Lo gak suka." ucap wanita itu menatapku dan tersenyum.


"Thank Ca," ucap Alan tersenyum. Aku semakin kesal, hatiku sangat panas. Alan tersenyum padanya? Apa dia begitu spesial?


"Hubby, Ara lapar. Ayok makan," rengekku dengan menekan kata 'hubby' agar mereka sadar jika Alan adalah suamiku. Aku bergelayut manja di tangan Alan. Hahahaha... Aku sangat puas saat melihat wajah kesal mereka. Biarin aja hari ini aku jadi wanita jahat. Siapa suruh dia mengganggu priaku.


"Iya sayang, ayok. Semuanya terimakasih sudah hadir." ucap Alan pada semua orang yang hadir.


"Kak Alan, kami mau foto dulu." ucap seseorang menahan langkah kami.


"Hubby, ayok." rengekku lagi menggoyangkan tangan Alan.


"Maaf semuanya, lain kali aja kita foto. Assalamualaikum." ucap Alan yang di jawab serempak oleh mereka.


Sesampainya di parkiran. Aku melepaskan tangan Alan dan masuk kedalam mobil dengan kesal. Aku meletakkan hadiah Alan di jok belakang. Banyak juga hadiahnya. Aku menatap Alan yang juga tengah membereskan hadiah miliknya.


"Masih marah?" tanya Alan. Aku tidak menjawab. Ku hidupkan musik dengan volume besar. Aku menatap lurus kedepan. Sesekali aku melirik Alan yang tengah membuka jas.


"Hmmm... Tidak ada hadiah menarik." ucapnya. Aku langsung menoleh.


"Bukanya banyak tadi yang menarik, sampe tu mata gak berkedip." ucapku kesal. Alan tertawa renyah. Namun tiba-tiba ia menarik tanganku. Benda kenyal itu menempel di bibirku. Huaa.... Aku mau pingsan.


"Sudah aku katakan, aku hanya mencintai istriku. Tak akan ada yang menggeser posisinya di hatiku," ungkapnya. Ia menyapu bibirku begitu lembut.


"Aku hanya mencintaimu sayang," ucapnya lagi. Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku bisa melihat keseriusan di sana. Aku percaya Alan sangat mencintaiku. Tapi, aku juga wanita. Aku akan cemburu jika ada wanita yang mendekatinya. Bukannya cemburu itu tanda cinta?


"Ara percaya hubby, tapi Ara tetap cemburu kalau ada yang dekatin hubby. Hubby cuma milik Ara seorang," ucapku langsung memeluknya.


"Iya sayang, hubby hanya milik sayang seorang." ucap Alan mencium kepalaku. Aku tersenyum senang. Sampai kapan pun Alan akan tetap menjadi Alanya Ara.


"Hubby, malam ini bisa tidak kita menginap di rumah bunda. Ara sangat merindukan mereka. Sudah dua minggu lebih kita tidak main kesana, boleh ya?" pintaku. Aku menatap matanya dengan penuh harapan.


"Boleh gak ya?" ucap Alan sedikit berfikir. Aku terus menatapnya untuk menunggu jawaban.


"Hubby... " rengekku. Habis dia lama sekali sih berfikirnya.


"Iya sayang, sore nanti kita akan langsung ke sana." ujarnya yang berhasil membuatku senang. Aku memelukknya sangat erat.

__ADS_1


"I love you hubby," ucapku.


"I love you more honey," ucapnya membalas pelukkanku begitu hangat. Aku sangat mencintaimu hubby. I love you so much. Malam ini Ara akan memberikan hadiah spesial buat hubby. Ara janji, Ara tidak akan membuat hubby kecewa.


__ADS_2