
Kami sudah berada di Boston Logan Internasional untuk pulang ke Indonesia. Hari ini, adalah hari ke tiga setelah wusudaku. Aku memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia. Perut istriku semakin besar, jadi aku tidak bisa menunda keberangkatan untuk pulang.
Suara pengumuman keberangkatan Garuda Airlines bergema di seluruh penjuru bandara. Ara, yang sedari tadi tertidur di bahuku sedikit tersentak. Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang begitu lucu.
"Kaget?" tanyaku sembari mengusap wajah khas orang bangun tidur.
"Hmmm... Mau berangkat ya bi?" tanyanya kembali menyandarkan diri di bahuku.
"Ya, bersiaplah. Di pesawat kamu bisa tidur sepuasnya," ucapku.
"Hmmm... Pinggang Ara sakit bi," rengeknya.
"Mungkin efek terlalu lama duduk," ucapku mengecup pucuk kepalanya.
"Ya sudah, ayok. Di dalam kamu bisa berbaring. Kasian baby juga pasti capek," ujarku. Ara mengangguk. Aku membantunya untuk bangun. Usia kandunganya sudah memasuki 5 bulan. Banyak sekali perubahan pada dirinya. Akhir-akhir ini emosinya sangat sulit di kontrol. Pada akhirnya aku yang harus sabar dan mengalah. Sudah seharusnya aku melakukan semua itu. Mereka adalah tanggung jawabku.
"Duduklah, hubby taruh tas di kabin dulu."
Aku meletakkan tas di kabin. Lalu setelah itu aku membantunya duduk senyaman mungkin.
"Bagaimana, sudah enak?" tanyaku meluruskan kakinya.
"Sudah bi, terimakasih."
"Tulidurlah, perjalan sangat panjang. Akan sedikit tidak nyaman," ujarku mengecup keningnya. Ara mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Tepat pukul 7 pagi kami sampai di Indonesia. Aku sudah menghubungi Azka untuk menjemput. Tapi aku belum melihat batang hidungnya.
"Azka mana bi?" tanya istriku.
"Mungkin belum sampai. Kita tunggu saja di depan," balasku.
"Bi, ke kamar kecil sebentar ya?" ucapnya. Aku mengangguk.
"Hubby tunggu di sini," ucapku saat sampai didepan toilet wanita. Ara mengangguk, ia bergegas masuk ke toilet. Aku menunggunya sambil melihat seliweran orang yang cukup ramai.
"Sudah?" tanyaku saat melihatnya keluar dari toilet. Ia mengangguk sebagai jawaban.
"Kaki Ara sakit," ucapnya.
"Perlu hubby gendong?"
"Ck, tidak perlu bi. Ara masih sanggup jalan. Cuma kelamaan di pesawat, jadi agak sakit. Pinggang Ara seperti mau copot, apa seperti ini ya bi, jadi ibu hamil?" ocehnya. Aku hanya bisa tersenyum getir. Bagaimana aku tahu apa yang ia rasakan? Secara aku seorang lelaki dan tidak akan pernah bisa merasakan seperti apa hamil. Aku hanya bisa menggeleng. Tekadang istriku ini sangat menggemaskan, juga menjengkelkan. Tapi tetap saja sayang.
"Bi, apa tidak jadi masalah Ara terus memakai jam tangan dari Prof. Luis?" tanyanya sambil memperlihatkan jam itu padaku. Aku tersenyum.
"Tidak jadi masalah, beliau tulus memberikannya. Aku juga memakainya honey," balasku sambil menunjukkan jam di tanganku juga.
Ya, sebelum keberangkatan memang Prof. Luis datang ke rumah. Ia meminta maaf atas semua kesalahan, tentang beliau yang menaruh hati pada istriku. Aku bisa melihat penyesalan di matanya. Bukan hanya sekali ia mengatakan kata maaf. Bahkan ia memberikan begitu banyak hadiah untuk calon anakku. Bukan itu saja, ia juga memberikan jam tangan couple untukku dan Ara. Beliau mengatakan jika ini sebagai hadiah pernikahanku. Aku sangat yakin harganya sangat mahal. Bisa di lihat dari merknya. Tapi bukan itu yang aku lihat, melainkan ketulusannya. Ia rela datang kerumah hanya untuk meminta maaf, seorang Professor meminta maaf secara langsung pada muridnya. Sungguh kehormatan bagiku.
__ADS_1
"Bi, itu Azka."
Aku tersentak saat Ara menggoyangkan lenganku. Lalu aku melihat Azka dan Rizki sedikit berlari menghampiri kami.
"Sorry terlambat. Biar Azka bantu," ujar Azka mengambil koper dari tanganku. Dengan senang hati aku memberikan pada mereka.
"Thank's," ucapku merangkul istriku.
Setengah jam berlalu, saat ini kami sudah berada di rumah.
"Kak, aku harus kembali ke kantor. Satu jam lagi ada meeting. Ki, mau ikut atau tetap disini?" ujar Azka.
"ikut aja deh, disini jadi nyamuk." celetuk Rizki. Aku tertawa renyah saat mendengarnya.
"Ya sudah, hati-hati. Terimakasih," ucapku.
"Sipp, aku pergi kak." Azka dan Rizki pun bergegas pergi. Aku melambaikan tangan saat mobil mereka mulai melaju.
"Bi, Ara pengen rujak di depan itu. Sudah lama Ara tidak makan, hubby mau kan belikan untuk Ara?"
"Ini masih pagi sayang, belum ada yang jualan," balasku menangkup wajahnya. Pipinya terlihat semakin cubby. Mungkin efek kehamilan.
"Tapi Ara pengen bi, sekarang!"
Aku menghela napas panjang. Sepagi ini apa sudah ada yang jual rujak?
"Baiklah, akan hubby cari. Ayok masuk, nanti masuk angin." ujarku membawanya masuk.
"Sayang, hubby pergi dulu."
"Kemana bi?" tanyanya menatapku. Aku tersenyum sambil mecubit pipinya dengan gemas.
"Katanya mau rujak? Hubby cari dulu. Kamu tunggu di rumah, istirahat." Aku mengecup keningnya.
"Enggak lagi bi, hubby disini aja. Ara udah enggak pengen lagi. Ayo nonton Tom and Jerry," ujarnya sambil menarikku agar duduk di sampingnya. Aku di buat heran olehnya.
Kini serial Tom and Jarry pun mulai di putar. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Aku tidak terlalu suka menonton, karena hanya akan membuat malas. Tetapi, demi istri tercinta. Aku tetap menontonnya, walaupun sedikit membosankan. Aku terus menatap istriku yang sedang tertawa saat melihat adegan lucu. Aku ikut tersenyum saat melihat wajah cerianya.
Satu jam sudah berlalu, namun aku masih tidak bisa beranjak dari sini. Mataku sangat berat, rasa kantuk mulai menyerang. Aku bersandar di bahunya. Perlahan mataku terpejam, menjemput mimpi yang indah.
"Hiks, sakit sekali."
Aku terhenyak saat mendengar suara isakannya. Ku angkat kepalaku untuk melihat keadaannya.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit huh? Kita kerumah sakit ya?" tanyaku cemas. Kini pipinya sudah basah.
"Itu bi, jahat banget sih. Masak iya perempuannya di bunuh. Mana lagi hamil lagi, kan kasian suaminya." ujarnya membuatku terkejut. Aku melihat ke layar televisi. Aku menghela napas berat. Jadi dia menangis karena sebuah film. Ck, jantungku hampir copot di buatnya.
"Sayang, hubby cemas tahu tidak?" ucap ku dengan malas. Ku sandarkan tubuhku di sofa.
__ADS_1
"Habis filmnya sedih banget, baru juga perempuannya sembuh dari penyakit. Terus lagi bahagia karena hamil, eh malah di bunuh. Kasian suaminya bi, pasti sedih banget kan?" ocehnya sambil menangis.
Aku hanya bisa menggeleng. Bagaimana bisa ia menangis hanya karena film. Dasar cengeng.
"Sudah jangan menangis, kasian baby kita ikut sedih. Lagian cuma film. Skenario sayang, bukan nyata," ujarku.
"Tetap aja sedih bi, hubby nonton deh dari pertama. Pasti nangis kejer," protesnya. Aku tertawa renyah.
"Terus kalau hubby nangis, kamu mau bujuk hubby huh?" Aku menoel hidungnya dengan gemas. Ia terlihat sangat lucu dengan hidung dan pipi yang merah.
"Ck, Ara serius bi. Filmnya bagus, Ara suka pemainnya Shraddha Kapoor. Dia sangat cantik dan imut," ujarnya dengan begitu semangat. Aku hanya bisa mengangguk. Cepat sekali berubah sih mood ibu hamil yang satu ini.
"Ara mau anak kita mirip Hrithik Roshan. Ganteng, tinggi, hidung mancung, mata hijau. Pasti lucu kan bi?" lanjutnya. Aku sedikit terkejut. Bagaimana bisa anakku mirip dengan orang lain. Aku yang membuatnya. Enak saja mirip orang lain.
"Sayang, bagaimana mungkin dia mirip orang lain. Hubby adalah abinya, jadi tidak mungkin baby mirip orang lain. Baby tetap mirip abinya," protesku tak terima dengan keinginannya.
"Memangnya hubby kurang tampan apa?" tanyaku dengan kesal.
"Hihihi... Tampan kok, cuma lebih gemas aja kalau baby mirip...
"Enggak, dia tetap mirip hubby. Jangan membantah, dia darah daging hubby. Enak saja dia mirip orang lain," potongku. Aku sedikit kesal dibuatnya. Aku bangun dan langsung beranjak pergi.
"Bi, jangan marah. Ara cuma becanda, iya anak kita tetap mirip hubby kok. Jangan pergi," teriaknya. Aku tidak menghiraukan ucapannya. Bergegas menuju kamar. Aku menjatuhkan diriku di kasur empuk. Sebenarnya aku tidak marah, hanya saja sedikit kesal. Aku ingin mengerjainya. Siapa suruh dia menginginkan anakku mirip orang lain.
Ahh, enak sekali rasanya. Rindu juga dengan suasana kamar ini. Aku kembali memejamkan mataku.
Setelah beberapa saat, aku mendengar suara pintu terbuka. Hmmm, sepertinya ia menganggap aku benar-benar marah. Biarkan saja, aku ingin tahu apa yang akan ia lakukan.
"Bi, jangan marah. Baby tetap mirip hubby kok, kan baby anak kita."
Ingin sekali rasanya aku tertawa. Tetapi, aku menahannya. Aku ingin tahu seberapa besar ia takut aku marah.
"Bi, jangan marah. Ayok temani Ara nonton lagi, gak asik nonton sendirian. Bi, bangun... " lanjutnya sembari menggoyangkan tubuhku. Ya Allah, apa dia benar-benar istriku. Ingin sekali aku menggigitnya.
Cup!
Aku sangat terkejut saat sesuatu yang hangat menempel di pipiku. Ku buka mataku perlahan.
"Jangan marah," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Beri hubby hadiah sepesial. Setelah itu hubby tidak akan marah lagi," ucapku sambil menatapnya lekat. Keningnya terlihat berkerut. Aku tersenyum tipis saat melihat wajahnya yang lucu. Aku menunjuk bibirku, memberi kode padanya.
Aku tersenyum geli saat melihat matanya membulat sempurna.
"Baiklah jika tidak mau, hubby ba... "
"Ok, Ara mau." Potongnya sambil memanyunkan bibirnya. Aku memejamkan mataku. Bersiap untuk hadiah spesial darinya.
Ting tong...
__ADS_1
"Bunda.... " teriaknya. Aku langsung membuka mataku. Ia bangun dan langsung bergegas keluar.
Tunggu! Bagaimana dengan hadiahku? Ck, sepertinya aku tidak akan mendapatkan hadiah malam ini. Aku menghela napas panjang. Bangun dari tempat tidur dan bergegas keluar untuk menemui keluargaku. Rasa kesal sedikit tersirat di hatiku.