Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 59. Ada Apa Dengannya? (Ara)


__ADS_3

Ketika siang mulai lelah, malam akan hadir untuk menggantikannya. Mereka tak pernah bosan, setiap saat saling melengkapi. Itu adalah perumpamaan untuk setiap insan yang saling mengikat satu sama lain. Terkadang pemikiran tak sejalan, namun hati terus memberontak untuk tetap berdampingan. Kekutan cintalah yang menyatukan setiap kelemahan, mengukuhkan setiap kekurangan.


"Sepertinya kata-kata yang ku buat cukup bagus untuk di posting. Ok, kirim."


Aku tersenyum senang saat kata-kata yang aku buat berhasil terposting di akun instagram milikku. Entah sejak kapan aku mulai menyukai hal seperti ini? Bahkan aku tak memiliki bakat menulis. Aku menuangkan kata-kata seadanya, sesuai suara hatiku.


Ku sandarkan kepalaku di kepala kursi. Kepalaku masih sangat pusing. Sudah dua hari aku terus mual dan tak selera makan. Bahkan tak jarang aku menyusahkan Alan untuk sekedar membeli atau membuatkan sesuatu untukku. Usia kandunganku kini sudah memasuki minggu ke 16. Perutku sudah terlihat membuncit. Aku sangat senang bisa merasakan perubahan diriku setiap waktu. Bahkan aku seperti tak percaya dalam rahimku saat ini sudah hadir malaikat kecil. Sumber kebahagiaanku dan juga Alan.


"Sayang, sedang apa sih? Sejak tadi asik sendiri." Aku tersenyum saat Alan duduk di sebelahku.


"Ini, Ara membuat postingan baru. Hubby kok cepat pulang?" ucapku menunjukkan ponsel padanya. Alan mengecup keningku seperti biasanya sambil melihat hasil postinganku. Aku memeluknya dengan lembut.


"Bagus," ucapnya. Aku tersenyum senang.


"Siang ini Professor mengajak untuk lunch bareng. Kamu ikut ya?" ujarnya.


Lunch dengan Professor?


"Ara di rumah aja bi, lagian diluar sangat dingin." alibiku. Aku masih mengingat pertemuan beberapa bulan yang lalu dengan pria itu. Sepertinya tidak baik jika aku ikut bersama Alan.


"Hubby sudah janji akan mengenalkan kamu sayang, tidak mungkin hubby mengingkari janji. Kamu harus ikut, please." ujarnya dengan wajah yang memelas. Ck, jika seperti ini sangat sulit untuk memolaknya.


Bagaimana ini? Apa aku ikut saja ya? Ck, kenapa aku harus takut sih? Aku akan pergi bersama suamiku. Lalu apa yang kamu takutkan Ara? Pria itu tak akan mengganggumu lagi. Saat ini kamu juga memiliki kekuatan yang lain, yaitu baby.


"Baiklah, Ara akan ikut. Jane ada disana kan?" tanyaku.


"Ya, lunch kali ini sekaligus merayakan keberhasilan kita karena bisa menyelesaikan study dengan cepat."


Aku tersenyum sambil menganggguk.


"Ara tahu, suami Ara kan hebat. Hanya dalam waktu satu setengah tahun sudah mendapatkan gelar magister. Terus bagaimana dengan Ara bi?" ucapku. Alan tersenyum dan mencubit pelan pipiku.


"Siapa yang salah? sudah hubby tawarkan supaya kamu lanjut study disini, tapi kamu menolak. Sekarang menyesal?"


Aku tertawa saat mendengar pernyataannya. Memang benar sih, aku yang menolak untuk lanjut study. Aku cuma ingin fokus menjadi seorang istri, gelar yang aku dapat sepertinya sudah cukup.


"Ara cuma bercanda bi, Ara cuma mau jadi istri yang baik bi. Ara tidak mau tenggelam dalam urusan dunia dan melupakan syurga Ara. Bagaimanapun saat ini Ara sudah memiliki suami yang luar biasa, itu sudah cukup bi. Ara kan bisa belajar dari hubby," ujarku. Ku tarik tangannya dan ku letakkan di pipiku. Ya ampun, tangannya sangat dingin.


"Tangan hubby sangat dingin," ucapku.


"Biarkan saja, kan ada kamu yang memberikan kehangatan." Aku tertawa saat mendengar perkataannya.

__ADS_1


"Gombal," ledekku. Alan tertawa sambil mencubit hidungku. Aku hanya bisa tersenyum sambil terus menatapnya.


"Sudah minum susu?" tanyanya. Aku menatap matanya dan menggeleng pelan.


"Kenapa? Masih mual?"


Aku menganggguk sebagai jawaban.


"Besok jadwal cek up, kita akan tanyakan ini pada dokter. Jangan memikirkan apapun, kesehatan kamu lebih penting sayang." ujarnya yang berhasil membuat hatiku menghangat. Aku sangat senang dengan perhatian Alan padaku. Sejak aku hamil, perhatian Alan padaku semakin bertambah. Bahkan ia begitu posesif dan over protektif.


Salju di luar sana masih berjatuhan dengan teratur, semua halaman kini di selimuti warna putih. Hah, semuanya terlihat begitu indah.


"Ayok, kita hampir terlambat." Aku sangat terkejut saat Alan tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.


"Jangan banyak melamun, nanti cantiknya hilang." lanjutnya.


"Bi, kita jalan kaki kan?" tanyaku dengan semangat. Lagian jalanan hampir semuanya tertutup dengan salju. Jalan kaki spertinya lebih seru, aku lebih menyukai berjalan kaki agar bisa melihat indahnya ciptaan sang ilahi.


"Ya, tempatnya juga tak jauh dari sini. Berjalan 10 menit sudah sampai," ujar Alan. Aku mengangguk antusias. Alan menggenggam tanganku dengan erat. Kami pun mulai beranjak menuju tempat tujuan.


Tak berapa lama, kami sudah sampai di sebuah restoran yang lumayan mewah.


"Disini bi?" tanyaku. Alan mengangguk. Alan menarikku perlahan untuk masuk kedalam.


"I'm sorry sir, kami terlambat." ujar Alan. Lalu pria itu pun menoleh, aku menunduk perlahan.


"Your wife?" tanyanya pada Alan.


"Yes sir, my wife. Ara perkenalkan ini Prof. Luis," ucap Alan merangkul pundakku. Aku memberanikan diri untuk menatapnya, perlahan ku satukan kedua tanganku untuk menyapanya.


"She is really beautiful. Like a fairy from the sky,"


Aku sangat terkejut saat mendengar ucapannya.


"Anda benar, istri saya sangat cantik. Bahkan melebihi sang bidadari."


Aku melihat Alan yang sedang tersenyum padaku.


"Duduklah," ucap Alan menarik kursi untukku. Aku pun mengikuti perintahnya. Untung saja aku duduk lebih jauh dari pria itu.


"Hey, akhirnya kalian datang juga. Sejak tadi aku menunggumu Ara. Aku bosan menjadi wanita tercantik di sini," ujar Jane yang baru saja muncul entah dari mana. Aku tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Maaf. aku tadi yang sedikit lambat," kataku meminta maaf.


"Tidak jadi masalah, Alan sebaiknya kau pesan makanan untuk ibu hamil yang satu ini. Aku melihat ia sedikit kurusan," ujar Jane menatapku sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum.


"Ah, aku hampir lupa." Alan mengangkat tangannya untuk memanggil sang waiter.


Tak berapa lama, sang waiter pun datang membawa menu. Alan menerimanya dan memberikan padaku.


"Samakan saja, tapi jangan ikan atau daging," ucap ku.


"Baiklah tuan putri," ucap Alan. Aku menatapnya yang tengah bicara pada waiter. Lalu pandanganku tak sengaja jatuh pada pria yang saat ini duduk di sebelah Alan. Mata itu terus menatapku seakan tak ingin berpaling.


Dengan cepat, aku memalingkan wajahku. Aku kembali terkejut saat mataku bertemu dengan netra milik Jane. Sepertinya Jane tahu apa yang sedang aku pikirkan. Tanganya terulur dan menyentuh lenganku.


"Bagaimana kondisi baby? Apa dia sudah besar?" Jane tersenyum begitu penuh arti.


"Besok kami akan melakukan cek up lagi, doakan dia selalu sehat." Jawab Alan sembari mengelus perutku.


"Stop it! Kau membuatku iri Arlan," ujar Alex. Aku tersenyum saat melihatnya.


Semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja. Kami pun mulai menyantap pesanan masing-masing dengan begitu hidmat.


Aku terhenyak, tak sengaja tanganku bersentuhan dengan Prof. Luis, untuk mengambil tisue. Dengan cepat aku menarik kembali tanganku.


"I'm sorry," ucapnya meminta maaf. Aku mengangguk pelan.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, saya harap anda tak lupa." lanjutnya membuatku kembali terhenyak. Aku langsung menatap Jane. Bagaimanapun hanya Jane yang tahu masalah ini.


"Bertemu? Kapan itu? Kamu tidak pernah cerita sayang?"


Aku bingung, bagaimana aku menjawab pertanyaan Alan.


"Owh, saat itu ya Prof. Kami pasti ingat kok. Beberapa bulan yang lalu kami tak sengaja bertemu, iya kan Ra?"


Aku langsung mengangguk, syukurlah Jane membantuku. Aku menatap Alan yang juga tengah menatapku. Ada yang aneh dengan tatapan Alan. Aku juga bisa melihat Alan menatap Prof. Luis dan diriku bergantian. Kenapa Alan menatapku seperti itu?


Aku terdiam. Alan melepaskan tanganku dan berjalan meninggalkan aku saat kami berdua sudah berada di luar, beranjak pulang.


"Bi," panggilku, namun Alan tetap berjalan tanpa menghiraukanku. Kenapa dengannya? Apa masalah ucapan Prof. tadi?


Aku mengikuti langkahnya di belakang. Hatiku berkecamuk. Ingin sekali aku teriak dan memanggil namanya sekuat mungkin. Tapi, aku tidak mungkin melakukan itu. Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik.

__ADS_1


Aku memeluk diriku sendiri sambil terus berjalan untuk pulang. Mungkin sesampainya di rumah, aku akan menanyakan masalah ini padanya.


__ADS_2