Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 65. Hanya sebuah mimpi kan? (Ara)


__ADS_3

Suara deru mobil terdengar dengan jelas. Aku sedikit berlari untuk membuka pintu. Ya, siapa lagi jika bukan suamiku yang pulang. Hari ini sudah satu minggu kami berada di tanah kelahiran. Semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Alan bekerja di kantornya, sedangkan aku dengan senang hati mengurus rumah. Beberapa hari ini, Alan selalu pulang malam. Proyek di kantor membuatnya lumayan sibuk. Tapi aku memahami itu. Sebagai tulang punggung keluarga, sudah pasti ia akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kecil kami.


Aku tersenyum saat ia berjalan ke arahku. Ia terlihat lelah dengan jas yang tersampir di lengannya. Rambutnya juga sedikit kusut.


"Sini biar Ara bawakan," ucapku mengambil jas dan tas yang ia pegang.


"Terima kasih sayang," ucapnya mengecup keningku seperti biasanya. Lalu kami pun masuk.


"Bi, Ara buatkan teh atau jus?" tanyaku. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Jus aja," balasnya singkat. Aku pun langsung bergegas menuju dapur. Tidak perlu lama, sekitar lima menit jus yang aku buat sudah berada di dalam gelas. Aku langsung membawanya ke depan.


"Di minum dulu bi, setelah itu mandi. Ara sudah siapkan air untuk hubby mandi," ujar ku sambil memberikan jus padanya.


"Terima kasih," ucapnya seraya meneguk jus perlahan. Aku tersenyum, senang saat gelas sedikit demi sedikit mulai kosong.


"Hubby sudah solat Isya?" tanyaku. Alan mengangguk pasti. Aku tersenyum melihatnya.


"Tidak bosan di rumah terus?" tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.


"Sedikit," jawabku singkat.


"Kenapa tidak minta jemput mama, terus jalan-jalan?"


"Tidak perlu bi, lagian mama kan punya kerjaan di rumah. Kalau Ara bosan, Ara pasti telepon Azka atau Rizka."


"Hmmm, maaf hubby jarang ada waktu untuk kamu. Setelah proyek ini tembus, hubby akan bawa kamu jalan-jalan. Sabar untuk beberapa saat," ujarnya.


"Ara faham bi, lagian hubby kerja kan untuk Ara dan baby kita. Jadi Ara akan senantiasa sabar," ucapku. Alan tersenyum dan kembali mengecup keningku. Lalu ia beranjak untuk mencium perutku.


"Hai sayang, sedang apa di dalam? Rindu Abi tidak?"


"Rindu, Abi. Abi capek, ya?" balasku menirukan suara anak kecil.


"Sedikit sayang. Demi kamu, Abi akan melakukan apa pun," balasnya sambil terus mengecup perutku.


"Bi, besok Ara ke panti boleh kan?" tanyaku. Alan mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Dengan siapa?"


"Sendiri, besok Ara ikut berangkat dengan hubby. Sorenya, hubby jemput Ara lagi. Boleh kan bi?"


Aku menatapnya penuh harap. Aku sangat merindukan anak-anak, pasti mereka semakin besar.


"Boleh," balasnya. Aku tersenyum senang.


"Terima kasih, Bi," ucapku dengan semangat. Alan tersenyum sambil mengangguk.


"Hubby mandi dulu," ucapnya bangun dan langsung bergegas menuju kamar. Aku menghela napas panjang. Lalu, mengikuti langkahnya di belakang.


Kuletakkan pakaian yang akan Alan gunakan di atas ranjang.


Aku berjalan ke arah balkon. Menatap sang rembulan tengah tertutup awan. Sejuknya hembusan angin. Kini menyapa wajahku. Menusuk setiap sendiku.


"Sayang, sedang apa hum?"


Aku sangat terkejut saat tangan kekar itu kini sudah melingkar di perutku. Aroma sabun bercampur shampoo pun menyeruak masuk dalam penciumanku. Sesuatu yang dingin menempel di leherku.


"Bi," panggilku saat ia terus mengecup pundakku.


"Aku ingin hadiah yang tertunda beberapa hari yang lalu," bisiknya tepat di telingaku.


Ya ampun, jadi Alan masih mengingatnya? Memang salahku, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Melupakan keinginan suamiku.


Aku membalikkan tubuhku. Menatap netra miliknya lebih dalam.


"Boleh kan?" tanyanya lagi. Aku tersenyum saat melihat wajahnya yang memancarkan keinginan yang mendalam. Aku mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya seketika berubah drastis. Aku kembali tersenyum saat melihat itu.


"Ahh, turunkan Ara. Nanti jatuh, Bi," ucapku saat tiba-tiba Alan memggendongku. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya. Bunga indah di wajahnya merekah sempurna. Apa anakku nanti akan mirip dengannya? Wajah yang begitu tampan, juga menenangkan. Aku harap seperti itu. Agar rumah ini di penuhi oleh pancaran kebahagiaan.


"Sudah cukup menatapku, sayang?" Bisiknya, membuatku terhenyak. Aku tersenyum malu. Hingga tanpa aku sadari, saat ini aku sudah berada di atas tempat tidur.

__ADS_1


Aroma mint menyeruak saat hembusan napasnya menyapa wajahku. Ku pejamkan mataku. Membiarkan dirinya menguasai diriku.


***


Pagi terlihat begitu cerah. Mentari dengan semangat menyapaku. Aku tersenyum padanya. Karena ia memberikan rasa hangat.


"Sudah siap?" Aku tersentak saat Alan menyentuh pundakku. Aku menatapnya, sambil mengangguk pasti.


"Ayok berangkat," ajaknya.


"Iya, tunggu sebentar. Ara ambil tas dulu," ucapku langsung bergegas mengambil tas. Lalu kami pun langsung beranjak keluar.


"Yakin sampai sore?" tanyanya membantuku memakai seatbelt.


"Iya, Bi. Ara rindu anak-anak. Oh iya, nanti berhenti di tempat biasa untuk beli hadiah ya, Bi?"


"Hmmm... Jika hubby tidak bisa jemput, Azka yang jemput tidak apa kan?" tanyanya. Aku langsung menatapnya lekat. Aku sedikit kecewa mendengar ucapannya.


"Apa tidak bisa hubby jemput Ara sebentar?"


"Hubby akan usahakan, tapi jika...


Aku memalingkan wajahku, entah kenapa aku tidak suka Alan mengabaikanku. Aku sangat mengerti kesibukannya saat ini. Tapi saat ini aku hanya ingin bersamanya, sebentar saja. Hanya sekedar pulang dan pergi dengannya.


"Baik lah, hubby akan jemput kamu nanti sore. Jangan marah lagi, ok?"


Aku langsung membalikkan tubuhku, menatapnya lekat.


"Janji?" tanyaku dengan penuh semangat. Alan mengangguk sambil tersenyum.


"Love you, Bi." Ku kecup pipinya dengan lembut. Lalu aku kembali menatap jalanan lurus di depan. Aku sangat senang.


Empat puluh menit berlalu, kami pun sudah tiba di daerah Bogor yang tepatnya di depan pintu gerbang panti asuhan Permata Hati. Tempat yang selalu aku rindukan. Sejak kecil bunda sering mengajakku ke sini. Sejak saat itu, aku menyukai tempat ini. Terutama anak-anak yang sangat menggemaskan.


"Ara turun. Assalamualaikum, Bi," ucapku mengambil hadiah yang sudah aku beli tadi.


"Wa'alaikumusalam," balasnya, aku mencium tangannya. Lalu bergegas turun dari mobil.


Aku langsung bergegas masuk ke panti. Menemui ibu panti, meminta izin untuk mengajar di kelas.


"Assalamualaikum," ucapku masuk ke dalam kelas, tempat biasa aku mengajar.


"Kak Ara...," mereka semua berteriak dan berlari padaku. Mereka memelukku dengan erat.


"Sayang, jangan memeluk kakak dengan erat. Disini adek bayinya," ucapku karena perutku terjepit. Mereka pun mendengarkan perkataanku. Sedikit menjauh dariku.


"Kakak mau punya dedek bayi ya?"


"Iya sayang," jawabku sambil mengusap kepalanya.


"Wah, nanti dedek bayinya bisa main dengan kami kan, kak Ra?"


Aku tersenyum sambil mengangguk. Mereka semua bersorak senang. Aku ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah tak berdosa mereka.


"Kakak juga bawa hadiah. Sekarang kita belajar dulu, baru kakak kasih hadiah untuk kalian. Mau kan?"


"Mau kak...," teriak mereka serentak. Aku tertawa melihat semangat mereka.


"Baiklah, mari kita belajar." Aku pun membawa mereka kembali masuk ke kelas.


Satu jam berlalu begitu cepat. Semua anak-anak sudah bisa keluar dari kelas. Seperti janjiku, aku memberikan hadiah kecil pada mereka.


"Ara, sudah lama kamu tidak kesini? Bagaimana kabar suami kamu?" tanya Bu Shanti, pemilik panti.


"Alhamdulillah baik buk. Setahun ini Ara ikut suami Ara kuliah di Harvard, jadi lama Ara tidak mampir."


"Pantas saja kamu tidak pernah datang kesini. Sekali lihat lagi, kamu sudah berbadan dua," ujar Bu Shanti.


"Alhamdulillah buk, Allah memberikan kepercayaan pada kami," ucapku sambil mengelus perutku.


"Jaga dia dengan baik, jangan sia-siakan rezeki dari Allah."

__ADS_1


Aku tersenyum sambil mengangguk.


"Tadi malam, seseorang kembali menolak rezeki dari Allah. Gadis cantik yang malang," ujar Buk Shanti, aku menatapnya bingung.


"Lila, bawa Seira kemari," teriak buk Shanti.


Tidak lama, seorang gadis muncul bersama bayi mungil di gendongannya.


Aku bangun dan menghampirinya. Bayi mungil itu menggeliat sambil memainkan bibirnya. Sangat menggemaskan.


"Boleh kakak gendong?" tanyaku. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Aku mengambil bayi itu dengan hati-hati. Masya Allah, dia benar-benar sangat cantik.


"Ibu tidak mengerti, kenapa banyak sekali orang yang tidak bersyukur. Menyia-nyiakan pemberian Allah yang begitu cantik ini," ucap Bu Shanti mencubit lembut pipi gembul bayi cantik di gendonganku.


"Mungkin orang itu belum mengerti, jika pemberian Allah itu sangat berharga. Iya kan sayang?" ucapku sambil mencium hidung mancungnya.


"Seira, nama yang cantik. Seperti orangnya," lanjutku.


Langit mulai berwarna jingga. Namun Alan belum juga menjemputku. Perasaanku semakin tak karuan. Hatiku gelisah. Aku melihat ke arah gerbang, tetapi mobil Alan belum juga terlihat. Bodoh, kenapa aku lupa membawa ponsel. Aku mengutuk diriku sendiri.


Bu Shanti, kenapa aku tidak kepikiran untuk meminjam ponselnya. Aku bangun dan hendak pergi menemui Bu Shanti. Namun tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil. Alan. Aku langsung berbalik. Namun lagi-lagi aku harus menelan kecewa, itu bukan mobil Alan.


Tapi tunggu!


Azka. Ya, itu adalah mobil Azka.


"Kak, ayo masuk."


Azka terlihat panik. Aku menatapnya bingung.


"Apa Alan yang menyuruh kamu?" tanyaku.


"Ya, ayo masuk," ajaknya. Aku sangat kecewa mendengar jawabannya. Kenapa Alan berbohong padaku?


Dengan malas aku masuk ke mobil Azka.


"Ayo," ajakku tak semangat. Aku menatap keluar jendela. Hatiku benar-benar kecewa.


"Kak," panggilnya. Aku mengabaikannya. Saat ini aku sedang kesal. Aku menghela napas berat. Aku sedikit terhenyak saat melihat kerumunan orang di jalan. Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?


Azka menghentikan mobilnya di tepi jalan. Tanpa pikir panjang aku langsung turun. Entah mengapa kakiku seperti ingin terus melangkah.


"Kak, tunggu!"


"Permisi," ucapku tak memperdulikan Azka yang terus memanggilku. Hatiku terus berbisik, jika aku harus melihat ke sana.


Akhirnya aku bisa melewati kerumunan orang. Aku melihat sebuah mobil berada di di dalam jurang.


Tunggu!


Aku mengenal mobil itu, itu kan....


"Ara...," Aku langsung menoleh saat seseorang memanggilku.


"Bunda? Kenapa bunda ada disini? Dan..." Aku kembali melihat mobil yang masih berada di dalam jurang. Keadaannya cukup mengerikan.


"Kenapa mobil itu sangat mirip dengan milik Alan?" lanjutku. Lalu mataku tak sengaja melihat mama menangis sambil memeluk papa Arnold. Aku menutup mulutku. Semoga yang aku pikirkan itu tidak benar.


"Bun, kenapa mama menangis? Kenapa mobil itu... Kenapa Azka yang jemput Ara, kenapa...


Aku kembali mengingat perkataan Alan pagi tadi. Alan mengatakan jika Azka yang akan menjemputku. Tidak. Ini tidak mungkin.


"Alan, itu bukan mobil Alan kan bun?" tanyaku pada bunda. Kepalaku mendadak sakit. Ini hanya mimpi. Benar, ini hanya mimpi Ara. Aku merasa sesuatu mengalir di bawah sana. Kakiku semakin lemas.


"Bunda, katakan jika ini hanya mimpi. Katakan bunda," ucapku menyentuh lengan bunda. Namun bunda malah menunduk.


"Polisi sedang mengevakuasi jenazah Alan, bunda harap kamu bisa menerima ini sayang...,"


Tidak! Ini tidak mungkin. Alan tidak meninggal? Ini hanya mimpi, hanya mimpi Ara.


"Bunda bohong..." hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. Kepalaku berputar hebat. Kakiku seakan tak lagi menyentuh tanah. Semuanya menjadi kabur, hingga bayangan bunda tak bisa lagi aku lihat. Ini hanya mimpi.

__ADS_1


__ADS_2