Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 34. Terlambat (Alan)


__ADS_3

"Hubby, kenapa tidak bangunin Ara? Ara terlambat solat subuh dan harus terburu-buru seperti ini," omel nya sambil menyambar tas miliknya. Aku menghela napas berat.


"Memangnya tadi malam siapa yang menggoda huh?" tanyaku. Aku menatap diriku di cermin sambil merapikan penampilanku. Hari ini aku harus kembali ke kantor. Aku menatap istriku yang sedang sibuk sendiri di balik cermin. Ingin sekali rasanya aku melepaskan tawaku. Tapi aku takut dia akan marah.


"Ck, jangan diingatkan lagi hubby. Nanti Ara jadi malu, pokoknya ini semua tetap salah hubby. Ara sudah terlambat masuk kuliah. Hari ini juga Ara harus mengurus masalah magang, hubby jahat!" ocehnya tiada henti. Aku tersenyum geli melihat tingkah lucunya. Aku berdiri tepat dibelakangnya.


"Hubby, ada lihat buku catatan Ara?" tanyanya sambil berbalik. Ia sangat terkejut saat tahu aku sudah berada di belakangnya. Aku tertawa puas karena sudah berhasil mengerjainya.


"Hubby," rengeknya sambil memukul lenganku.


"Memang kamu membawa buku catatan? Ini rumah bunda sayang, bukan rumah mama. Kamu tidak bilang kalau hari ini kamu masuk pagi. Jika tahu, hubby akan mengurangi jatah tadi malam." ujar ku menyentil keningnya. Jika sudah panik, Ia pasti akan melupakan semuanya.


"Owh iya, lupa!" ucapnya sambil mengusap jidatnya yang sedikit memerah.


"Belum punya anak sudah pikun, dasar!" ucapku. Aku mengambil kunci mobilku dan langsung beranjak keluar.


"Hubby, terus bagaimana dong? Ara tidak mungkin ke kampus dengan tangan kosong. Hubby tahu kan catatan itu sangat penting untuk Ara?" rangeknya terus bergelayut di lenganku. Jika sudah seperti ini, maka aku yang pusing.


"Baiklah, pakai punya hubby dulu. Ada di dashboard mobil. Nanti siang akan hubby antar kekampus." ujarku. Aku bisa melihat pancaran kebahagiaan di matanya.


"Emmm...boleh deh. Hubby, ayok cepetan jalannya. Ara sudah terlambat." ucapnya menarik tanganku.


"Ara, Alan. Makan dulu baru berangkat." pinta bunda saat kami baru menuruni tangga.


"Ara makan di kampus aja bun, ini sudah kesiangan. Assalamualaikum bunda." ucap Ara mencium tangan bunda.


"Wa'alaikumusalam, kenapa buru-buru sekali sih?" tanya bunda menatapku. Aku menatap Ara yang berjalan mendahuluiku.


"Ara tidak bilang kalau pagi ini ada kelas, jadi kami harus pergi cepat. Maaf bun, kami tidak bisa ikut sarapan." ucapku mencium tangan bunda.


"Salam untuk papah dan Azka. Assalamualaikum bunda." ucapkku.


"Wa'alaikumusalam, hati-hati di jalan sayang. Jaga anak bunda baik-baik." ucap bunda yang langsung aku jawab dengan anggukkan. Aku pun langsung menyusul istriku.


"Hubby, ayo cepat. Ara sudah terlambat 15 menit!" serunya.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang.


"Jam berapa kamu pulang?" tanyaku.


"Tidak tahu, nanti Ara hubungi hubby lagi. Hubby jangan lupa makan di kantor ya?" jawabnya.


"Iya sayang," jawabku mengusap kepalanya.


Sesampainya dikampus, Ara langsung mencium tanganku dan beranjak turun.

__ADS_1


"Assalamualaikum hubby, hati-hati di jalan." ucapnya langsung melesat pergi.


"Wa'alaikumusalam," jawabku sambil menatap kepergiannya. Aku menggeleng dan hendak pergi. Namun tiba-tiba aku melihat buku catatan milikku masih berdiam di tempatnya. Dasar anak itu, pasti dia melupakannya. Aku kembali memutar mobilku menuju parkiran.


Aku berjalan menuju kelas, sebenarnya aku sendiri bingung Ara masuk di kelas mana. Aku terus menyusuri lorong kampus. Aku bisa melihat semua orang menatapku heran. Harap maklum, aku tidak pernah memasuki fakultas ini. Ditambah lagi saat ini aku mengenakan setelan kantor.


"Alan!" panggil seseorang. Aku menghentikan langkahku dan menoleh kesumber suara. Ah, ternyata Jihan.


"Hey, sedang apa disini? Cari Ara ya?" tanya Jihan berjalan menghampiriku. Aku mengangguk sambil menunjukkan buku catatan padanya.


"Ah, biar aku saja yang berikan. Kebetulan aku juga ambil jam yang sama. Sini bukunya," ujarnya.


"Syukurlah, terimakasih." ucapku memberikan buku itu padanya. Jihan tersenyum dan mengangguk.


"Kalau gitu aku duluan ya? Udah telat." ucapnya. Aku mengangguk. Jihan pun langsung beranjak pergi. Aku tersenyum dan langsung beranjak pergi dari sana. Aku melihat jam yang melingkar di lenganku. Masih ada waktu setengah jam lagi.


***


Jam sudah menunjukkan bahwa waktunya untuk makan siang. Cacing di perutku juga sudah pada demo. Ara, apa dia sudah makan?


Aku membereskan beberapa dokumen yang sedang aku pelajari. Aku harus menjemputnya untuk makan siang. Sepertinya dia akan lupa makan jika sedang sibuk. Aku mengambil ponselku untuk mengirim pesan singkat padanya.


'Sayang, lima menit lagi hubby jemput.'


'Jangan lama, Ara sudah lapar. Juga rindu hubby 😘.'


Aku tersenyum geli saat melihat isi pesan darinya. Tanpa pikir panjang aku langsung melesat untuk menjemputnya.


Benar saja, istriku yang cantik ternyata sudah menunggu di depan gerbang. Aku menekan klakson untuk memberinya kode. Dia tersenyum kearahku dan langsung berlari.


"Hubby telat satu menit, Ara sangat lapar." ucapnya masuk kedalam mobil. Ia menarik tanganku dan menciumnya dengan lembut.


"Maaf sayang, makan dimana?" tanyaku. Aku kembali melajukan mobilku.


"Di depan ada warteg, makanannya lumayan enak. Disitu aja deh," jawabnya.


"Ok, tidak jadi masalah." ucapku sambil tersenyum.


"Hubby tadi ketemu Jihan ya? Maaf, Ara lupa tadi masukin bukunya. Terimakasih hubby." ucapnya bersandar di lenganku. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya.


"Bagaimana masalah magang? Jadi tidak magang di kantor papa?" tanyaku. Aku menatapnya sekilas.


"Ara sudah mandaftar di perusahaan lain, sekalian dengan Clara. Ara mau mandiri hubby, kalau Ara magang di tempat hubby kan gak asik. Nanti orang lain berfikir Ara memanfaatkan hubby lagi."


"Kamu terlalu jauh berfikir sayang. Tapi tidak jadi masalah dimanapun kamu magang. Asalkan kamu serius dan tidak membuang-buang waktu." ujarku.

__ADS_1


"Hmmm.. " jawabnya sambil mengangguk.


Kami menghabiskan waktu berdua hanya beberapa menit. Karena aku harus kembali ke kantor.


"Sayang, ke kampus bukan?" tanyaku melirik dirinya yang tengah asik dengan ponsel.


"Tidak, semuanya sudah beres. Ara mau ikut hubby ke kantor. Boleh kan?"


"Kamu akan bosan sayang." ucapku menggenggam tangannya.


"Ck, tapi Ara mau ikut hubby. Boleh ya?" rangeknya sambil memainkan tanganku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Yey, sayang hubby." ucapnya sambil mengecup pipiku. Aku sangat senang, jika seperti ini aku bisa awet muda. Hehe.


"Hubby,,, kapan-kapan kita main ke panti Yuk? Ara sudah lama tidak kesana, sejak kita menikah sekalipun Ara tidak kesana. Ara kangen anak-anak." ujarnya.


"Akhir pekan Insha allah kita kesana," ucapku. Aku bisa melihat kebahagiaan di wajahnya. Seperti perkataanku, apapun yang bisa membuatnya bahagia. Maka aku akan melakukan itu, selagi aku bisa.


"Oh iya sayang, hubby hampir lupa. Perusahaan mana tempat sayang magang?" tanyaku menatapnya sekilas.


"Em, Ara lupa. Nanti deh Ara minta form nya dengan Clara. Katanya sih lusa baru ada keputusan dari perusahaan." jawabnya. Aku mengangguk pelan. Tadinya aku berharap Ara akan magang di perusahaan papa. Tapi aku tidak mungkin memaksanya, dia berhak memilih.


"Baiklah tuan putri," ucapku tersenyum lebar. Dalam waktu yang singkat ini, aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk terus bersamanya. Walaupun kedepannya aku harus berjauhan dengannya. Tapi aku akan berusaha agar waktuku untuknya tetap ada. Aku menatap pantulan wajahnya di balik cermin. Aku tersenyum saat melihat guratan lelah di wajahnya. Aku tahu betul bagaimana posisinya saat ini. Membutuhkan waktu ekstrak untuk menyelesaikan pendidikan dengan waktu cepat.


Dia sangat cantik saat sedang tidur seperti ini. Aku menyetuh bibir tipisnya dengan lembut. Ku kecup bibir itu perlahan.


"Hey, bangun sayang." ucapku mengecup pipinya. Ara mulai membuka matanya perlahan.


"Ngantuk, Ara mau tidur." rengeknya dengan suara khas orang bangun tidur. Aku tersenyum.


"Jangan di sini, aku tidak mau istri cantikku di culik. Ayok masuk, di dalam kamu bisa lanjutakan tidurnya." ujarku sambil merapikan kerudungnya.


"Hmmm... Gendong." rengeknya lagi seraya mengangkat kedua tangannya. Ck, dia terlihat sangat imut dan menggemaskan.


"Kamu yakin? ini kantor sayang. Aku sih tidak keberatan," ucapku mencubit hidungnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tersenyum melihat tingkah lucunya.


"Hmmm... Ara lupa. Ara jalan aja deh," ucapnya sambil membuka pintu. Aku hanya bisa menggeleng dan ikut turun dari mobil. Aku melingkarkan sebelah tanganku di pinggangnya saat memasuki kantor. Banyak sekali laki-laki yang memandang istriku. Aku sangat cemburu. Aku mengeratkan tanganku di pinggangnya. Aku bisa merasakan Ara kini tengah menatapku. Mungkin dia bingung dengan sikapku padanya. Aku hanya ingin memberikan kode pada mereka. Dia milikku. Hanya milikku.


"Cium aku sayang," pintaku sedikit berbisik. Ara memberikan tatapan bingung padaku. Aku menujuk pipiku.


"Ini banyak orang hubby, malu." ucapnya sambil menunduk. Aku tersenyum dan langsung mengecup keningnya.


"I love you." ucapku.


"Hubby!" rangeknya sambil menenggelamkan wajahnya di lenganku. Aku tahu dia pasti sangat malu. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2