Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 47. Menyusul Ke Amerika


__ADS_3

Ting Tong


"We suggest that you keep your seat belt fastened throughout the flight."


Suara awak kabin terus memberikan peringatan karena cuaca sedang tidak baik. Ara menatap keluar jendela yang langsung menampakkan gumpalan awan hitam yang saling bergelung satu sama lain. Kilatan-kilatan kecil terlihat begitu jelas. Malam ini ia benar-benar nekad untuk langsung menyusul sang suami. Sosok yang begitu ia rindukan.


'Aku sudah tidak sabar untuk segera tiba di sana. Tapi aku harus tetap bersabar, bagaimanapun semuanya butuh proses.'


Kemarin adalah hari wisuda untuknya. Tapi tak ada yang spesial, Alan tidak dapat berhadir disana untuk mendampingi Ara di hari kelulusan. Ara tidak bisa menyalahkan Alan, karena ia mengerti seperti apa keadaanya saat ini.


Sang Mama dan bunda pun sudah berusaha untuk menahannya agar tidak langsung pergi. Tapi rasa rindu yang membuncah tak dapat lagi ditahan. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Baginya itu sangat lama, butuh kesabaran dan perjuangan untuk menyimpan sesak dalam dada.


"Ara harap Hubby senang dengan kejutan ini." Ara tersenyum sambil terus menatap kegelapan malam dibalik jendela. Perjalanan masih cukup panjang. Ia memilih untuk tidur, berharap waktu cepat berlalu agar pertemuan yang di harapkan bisa terwujud.


Setelah melewati rasa cemas karena cuaca buruk. Akhirnya Ara sampai juga di negeri paman Sam. Rasanya memang sangat aneh. Berada di negeri orang sendirian untuk pertama kalinya bukanlah perihal yang mudah. Ia melihat kiri dan kanan. Sebenarnya Ara bingung mau kemana. Tapi jika ia memberi tahu suaminya, maka tidak ada lagi kejutan. Ara meraih ponselnya untuk memesan hotel terdekat. Untuk sementara waktu ia memilih untuk menginap di hotel.


Sesampainya di hotel Ara langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.


Setelah selesai mandi, Ara langsung melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Karena saat Ara tiba, sudah menunjukkan waktu zuhur.


"Alhamdulillah." ucap Ara mengusap wajahnya dengan lembut. Ia menatap keluar jendela dengan posisi masih terduduk diatas sejadah. Ia merasa semuanya seperti mimpi. Jantungnya terus berdetak tak karuan. Ia tersenyum saat wajah tampan kekasih halalnya melintas dengan jelas.


"I miss you hubby." ucap Ara menyetuh dadanya yang bergemuruh bak ombak di lautan. Ara melipat sejadah dan mukenanya dengan rapi. Ia duduk di bibir ranjang dan membuka ponsel miliknya. Ia tersenyum sambil mengetik sesuatu.


'Siang bi, Hubby dimana? Ara rindu hubby 😘'.


Ara tertawa renyah saat pesan itu berhasil terkirim. Ia memeluk ponselnya dan berharap Alan segera membalas pesannya.


Di sebuah gedung pencakar langit, terlihat seorang pria tampan dengan pakaian kasualnya masuk kesebuah hotel untuk menemui seseorang yang beberapa menit lalu mengirimnya sebuah pesan.


"Mr Digantara's room?" tanyanya singkat. Ia melihat kiri dan kanan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja resepsionis.


"Mr. Digantara is at the 40th floor restaurant. He is waiting for you, table 24." jawab sang resepsionis begitu ramah.


"Thank you." ucap Pria itu langsung beranjak pergi.


Sesuai dengan perkataan sang resepsionis. Pria itu dapat dengan mudah menemukan sosok yang ia cari.


"Duduklah," pria itu langsung mengikuti perintah pria dengan setelan jas yang begitu pas di tubuhnya. Cukup lama keduanya hanya duduk terdiam sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Di waktu yang bersamaan seorang wanita cantik dengan balutan hijab panjang masuk kedalam restoran tersebut. Ia langsung menghampiri sang Waiter karena semua tempat terbilang penuh. Lalu sang waiter pun menunjuk sebuah meja kecil yang berdekatan dengan jendela. Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Setelah berterimakasih ia pun langsung beranjak menuju meja tersebut.


"29. it's ok." ucapnya sambil menyetuh nomor meja. Ia merogoh tas mini dan mengeluarkan benda pintar miliknya. Namun tak lama terdengar decakan kesal dari bibir mungilnya. Ia sangat kesal karena tak ada balasan dari sang suami. Ya, dia adalah Ara. Wanita cantik yang kini berhasil mendapatkan perhatian dari beberapa orang.


Ara menghela napas berat. Lalu tak lama seorang waiter menghampirinya. Ara memesan makan khas negeri paman Sam yaitu Pot Roast, Ice cream sundae dan green tea.


Setelah memesan beberapa makanan, Ara kembali menatap ponselnya. Ia terus berharap Alan akan membalas pesan darinya.

__ADS_1


"Ck, masih sibuk ya bi?" gumam Ara menopang dagu. Ia menatap beberapa pengunjung yang tengah menikmati hidangan yang mereka pesan. Tak berapa lama pesanan pun tiba. Ara langsung menyantapnya seorang diri. Rasanya memang tidak enak, makan dalam kesendirian.


Ara menopang dagu sambil menikmati ice cream. Ia terus melirik ponselnya yang tak kunjung berdering.


"Ish, gimana mau buat kejutan. Dihubungi aja susah." gumam Ara menekan-nekan ponselnya.


'Huh' Ara menarik napas berat. Lalu pandangannya tak sengaja tertuju pada seorang pria yang tengah menatapnya. Ara sangat terkejut, ia langsung memutuskan kontak mata. Hatinya mulai gelisah.


"Astagfirullahal'azim, sepertinya aku harus cepat pergi." ucapnya langsung bangun dari tempat duduk.


Ara melewati pria yang sedari tadi terus menatapnya dengan santai. Ia tak ingin pria itu tahu perasaan cemasnya saat ini. Setelah membayar pesanannya, Ara beranjak keluar dari restoran. Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Mata Ara membulat sempurna saat melihat seorang wanita berusaha untuk memeluk pria yang sangat ia kenal. Pria itu terus menhindar, namun sang wanita terus berusaha mendekatinya. Kedua tangan Ara mengepal, dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri kedua insan itu.


"Sayang, aku sudah tunggu loh dari tadi." Pria itu langsung menoleh, ia tak kalah tekejut saat melihat sosok yang begitu ia rindukan. Pria itu adalah Alan, sosok yang juga begitu Ara rindukan.


"Siapa kamu?" ketus wanita itu menatap sinis penampilan Ara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ara tersenyum, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Alan dan mencium bibir Alan. Wanita itu membuka mulutnya lebar karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Sayang, siapa dia?" tanya Ara menatap Alan yang masih diam mematung. Alan menatap wajah Ara bingung. Ia merasa ini adalah sebuah mimpi. Ara mengerucutkan bibirnya dan memukul dada Alan. Alan langsung tersadar ternyata ini bukanlah mimpi.


"Bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Alan bingung. Ara berdecak kesal. Ia membalikan tubuhnya dan kembali menatap wanita tadi.


"Hy, aku Ara. The wife of the man in front of you." ucap Ara begitu lemah lembut. Wanita itu menggeleng tak percaya dengan perkataan Ara.


"Huh, bagaimana mungkin dia suami kamu. Dia kekasihku dan usianya masih sangat muda untuk menikah," ujar sang wanita hendak mendekati Alan. Namun dengan cepat Alan menarik Ara dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Dia memang istriku," ucap Alan datar. Ara tersenyum geli saat melihat pipi wanita itu yang sudah merah padam.


"Kita pergi." bisik Alan di telinga Ara. Ara tersenyum dan mengangguk.


"Nona, kami harus pergi. Maaf tidak bisa menemani anda. By." ucap Ara melambaikan tanganya dan langsung beranjak pergi. Sedangakan wanita itu mengeratkan rahangnya dan kedua tangannya mengepal begitu erat. Ia tak pernah menyangka jika dirinya akan di permalukan seperti ini. Ia melihat orang disekelilingnya yang sedang menatap dirinya. Ia benar-benar kehilangan muka. Tanpa pikir panjang ia ikut meninggalkan tempat itu.


"Bagaimana kamu ada disini?" tanya Alan saat mereka sudah berada di dalam lift. Ara menatap Alan begitu lekat. Namun tak ada niat sedikitpun untuk bicara. Ara menekan tombol menuju lantai kamarnya. Kebetulan mereka hanya berdua.


"Ara!" seru Alan. Ara sangat terkejut mendengar suara Alan yang meninggi. Bahkan Alan langsung menyebut namanya. Bibirnya bergetar karena ketakutan. Alan yang menyadari itu langsung memeluk Ara dengan erat.


"Maaf. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu." ucap Alan.


"Ara cuma mau kasih kejutan buat hubby." ucap Ara begitu pelan.


"Tapi itu sangat membahayakan kamu sayang, bagimana jika terjadi sesuatu? Ini bukan negara kita, disini sangat bebas." ujar Alan mendorong tubuh Ara perlahan. Alan menangkup wajah Ara.


"Tapi Ara baik-baik aja bi." ucap Ara menatap netra indah milik sang suami.


"Tetap saja aku khawatir." ucap Alan mencium kening Ara.


"Maaf." ucap Ara menggenggam kedua tangan Alan. Lalu tak lama pintu lift terbuka. Alan menatap Ara bingung.


"Ara tinggal di sini." ucap Ara mengerti maksud dari tatapan sang suami. Ara menarik tangan Alan dan membawanya menuju kamar.

__ADS_1


"Kapan kamu sampai?" tanya Alan saat keduanya sudah berada di kamar. Ara duduk di pengakuan Alan. Ara tersenyum sambil menatap wajah tampan Alan.


"Beberapa jam yang lalu. Ara sudah mengirim pesan untuk hubby. Tapi hubby tidak membalas." ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sorry, hubby tidak lihat." ucap Alan mengelus pipi Ara. Rasa rindunya mulai menguap sedikit demi sedikit.


"Hubby sedang apa disana tadi? Bukanya Hubby sibuk di kampus? Terus perempuan tadi siapa?" tanya Ara bertubi-tubi.


"Masih saja sama, jika bertanya itu satu-satu sayang." ucap Alan begitu gemas.


"Tadi hubby mendapat pesan dari papa untuk datang kesana. Ada sesuatu yang ingin papa sampaikan. Soal perempuan itu, dia kakak kelas hubby. Setiap hari dia selalu mengganggu." ujar Alan dengan jujur.


"Papa? Papa ada disini?" tanya Ara yang lebih tertarik pada sang papa daripada wanita pengganggu yang Alan maksud.


"Tidak perlu kaget, papa kapan saja bisa terbang keluar negeri." ucap Alan. Matanya terus tertuju pada bibir mungil Ara yang begitu menggemaskan.


"Kamu tidak marah?" tanya Alan. Ara menatap Alan bingung.


"Marah kenapa?" tanya Ara begitu polos.


"Soal perempuan tadi?" ucap Alan pelan. Ara tersenyum.


"Kenapa Ara harus marah dengan hubby? Ara lihat sendiri kok bagaimana hubby terus menghindar dari perempuan tadi. Ara juga percaya dengan cinta hubby. Tapi Ara juga cemburu ternyata hubby begitu di minati perempuan disini." ujar Ara memanyunkan bibirnya. Alan yang mendengar itu tersenyum senang.


"Sebanyak apapun wanita yang mendekati hubby, hanya kamu seorang yang bisa menaklukkan hati ini." ujar Alan.


"Gombal." ucap Ara membenamkan wajahnya di dada bidang Alan.


"Ara rindu hubby, rasanya sangat sakit bi terus berjauhan dengan hubby. Kita harus terpisah dengan jarak dan waktu, juga komunikasi kita terbatas." keluh Ara mengeluarkan unek-unek dalam dadanya yang sudah lama ia pendam.


"Maaf sayang," ucap Alan mengecup kening Ara dengan lembut. Ara memejamkan matanya untuk menikmati kedekatan yang sudah lama ia nantikan.


"Hubby jangan pergi, temani Ara sebentar ya?" ucap Ara. Alan mengangguk pelan.


"Besok kita cari penthouse, kita tidak mungkin tinggal di hotel terus." ucap Alan. Ara mendongakkan kepalanya untuk menatap Alan.


"Hubby takut kehabisan uang ya?" gurau Ara. Alan membulatkan matanya.


"Siapa bilang? Bahkan suami kamu ini bisa membelikan rumah mewah sekarang juga." Ujar Alan begitu percaya diri. Tapi semua itu benar, Alan sanggup membeli rumah mewah sekalipun. Gajinya per bulan lumayan besar, bahkan setelah kelulusannya mungkin gajinya akan semakin meningkat. Karena ia akan benar-benar menjadi pewaris keluarga Digantara.


"Sombong. Tidak perlu yang mewah bi, cukup sederhana aja." ucap Ara. Alan tersenyum dan mengecup bibir Ara.


"Biarkan aku terus membuat kamu selalu nyaman sayang." ucap Alan menarik dagu Ara. Ara tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya dileher Alan. Alan mendekatkan bibirnya di telinga Ara. Ia membisikkan sesuatu hingga membuat pipi Ara merona. Ara kembali membenamkan wajahnya di dada Alan. Alan tertawa melihat tingkah lucu istrinya.


Bersambung...


Hy semuanya... Maaf ya nunggunya lama akhir-akhir ini. Soalnya Author mau pokus untuk penelitian dulu... Doakan bisa cepat lulus dan bisa terus temenin kalian...love you all... 😘💗

__ADS_1


__ADS_2