Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 20. Balas Dendam (Ara)


__ADS_3

Ku tarik nafas dalam-dalam. Lalu ku tatap sebuah benda yang ada ditanganku. Aku harap Alan menyukainya. Tadi sore aku sengaja mampir ke sebuah toko untuk membeli hadiah untuk Alan. Ku tatap diriku dicermin, seperti penampilanku sudah ok. Saatnya untuk menemui suamiku yang sedang dalam mood marah.


Aku memang sengaja mengerjainya. Aku juga memanfaatkan Arin untuk membantuku. Siapa suruh dia mengerjaiku sampai aku menangis. Itu kan tidak lucu.


Tapi... Apa Alan akan marah ya jika tahu aku mengerjainya. Huh, semoga saja tidak. Bismillahirrahmanirrahim. Aku berjalan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suamiku. Aku tahu, saat ini dia benar-benar sedang marah. Aku bisa melihat kilatan amarah dimatanya. Maafkan Ara ya Allah. Ini yang terakhir kali Ara ngerjain suami Ara. Besok-besok gak lagi deh. Eh, tapi tergantung deh. Kalau Alan ngerjain aku lagi, aku juga gak akan tinggal diam.


"Eh, kak Ara. Tunggu." aku sangat terkejut saat tiba-tiba Arin menarik tanganku. Hampir saja benda yang aku pegang terjatuh.


"Sorry kak, Arin gak sengaja. Arin cuma mau nanya sesuatu." ucapnya dengan wajah memelas. Aku tersenyum.


"Ada apa?" tanyaku menatapnya. Dia terlihat gelisah.


"Kak, gimana kalau kak Alan marah sama Arin? Arin gak mau Kak Alan menjauh dari Arin. Kakak tahu sediri kan Arin sayang banget sama kak Alan." ucapnya dengan tatapan sendu. Aku tertawa renyah melihat wajah lucunya.


"Kamu takut ya di cuekin sama kakak kamu? Tenang aja, kakak yang akan nanggung semuanya. Kak Alan tidak akan marah sama kamu. Di hatinya tetap kamu yang akan menjadi adik tersayangnya. Jadi kamu tenang aja ya, jangan takut." ujarku mengusap kepalanya.


"Kakak janji ya, jelaskan semuanya pada kak Alan. Arin takut kak. Kakak tahu? Tadi Arin lihat kak Alan benar-benar marah." ucapnya sambil menautkan kedua tangannya.


"Ok, kakak janji. Kak Alan gak akan marah sama kamu. Ya sudah, kakak mau cari kak Alan dulu ya." ucapku mencubit pipinya dan langsung beranjak pergi.


Aku mencari keseluruhan penjuru rumah. Namun aku sama sekali tak melihat batang hidungnya. Kemana sih Alan pergi? Gak mungkin kan dia pergi keluar.


Aku berjalan menuju halaman rumah. Siapa tahu saja dia ada disana. Ini sudah malam, tidak mungkin Alan pergi keluar.


Benar kan, dia ada disana. Aku tersenyum dan menghampirinya perlahan. Sepertinya dia belum menyadari kehadiranku. Dia masih berdiri membelakangiku.


Hap! Aku langsung memeluknya dan menempelkan wajahku di punggung hangatnya. Alan sangat wangi.


"Kenapa kamu keluar?" tanyanya begitu dingin. Aku menghela napas. Aku berputar dan berdiri didepanya. Ku tatap wajahnya yang datar. Hihihi. Dia masih tetap tampan kok.


"Masih marah?" tanyaku menatapnya lekat. Dia memalingkan wajahnya. Sepertinya aku harus berjuang untuk membujuknya. Jika sudah sperti ini Alan benar-benar marah.


"Maaf, Ara tahu kok kalau Ara salah. Tapi dengerin dulu penjelasan Ara. Mau ya?" ucapku menarik dagunya agar aku bisa melihat wajah tampannya. Kan sayang kalau dianggurin. Ck, lihat. Bahkan dia sama sekali tidak menjawab. Tapi tetap aja, dia sangat menggemaskan. Ingin sekali aku menciumnya.


Ih Ara, kenapa jadi mesum gini sih. Wake up Ara, ini bukan kamu. Hy kamu yang ada di tubuhku. Keluar lah, jangan ganggu aku dan Alan.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Aku sangat terkejut dan langsung menatapnya. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Alan, jangan marah lagi ya? Ara minta maaf. Ara cuma mau hubungan diantara kita tetap utuh. Tidak ada permusuhan diantara kita. Kamu tahu sendiri kan Arin sangat membenci Ara, karena...


"Cukup Ara, aku tidak ingin mendengar apapun." ucapnya hendak pergi. Namun aku langsung menahannya.

__ADS_1


"Dengarkan dulu Alan, Ara belum selesai bicara. Jangan memotong pembicaraan Ara. Dengarkan dulu ok?" ucapku menyetuh pipinya. Dia terlihat menghela napas dan mengangguk pelan.


"Kamu tahu hubungan aku dan Arin bagaimana bukan? Jadi aku membuat keputusan ini, supaya hubungan kita tetap seperti dulu. Menjadi keluarga seutuhnya. Jadi karena itu kita...


Aku sengaja mengantungkan ucapanku karena ingin tahu bagaimana reaksinya. Dia terlihat bingung. Aku menunduk dan tersenyum. Aku sudah tidak tahan lagi ingin tertawa. Ku tarik napas dalam-dalam dan kembali menatapnya.


"Kita seri. Satu sama! Yeee... Aku berhasil." seruku dan kulepaskan semua rasa geli di perutku. Aku tertawa sepuasnya.


"Apa maksud kamu? Jadi ini hanya sebuah candaan? Ini tidak lucu Ara." ucapnya langsung beranjak pergi. Aku sangat terkejut dan langsung mengejarnya.


"Ih Alan, jangan marah. Ara kan mau balas dendam. Siapa suruh Alan ngerjain Ara sampe nangis. Sakit tahu, Ara kira Alan beneran jadi sama Jihan. Secara kan Alan tidak pernah mengatakan apapun setelah kejadian itu." ucapku merangkul tangannya. Ku majukan bibir ku beberapa senti. Aku memang masih mengharap Alan akan menceritakan tentang lamarannya dulu pada Jihan. Walaupun saat ini Alan sudah sah menjadi suamiku. Tapi aku tetap penasaran.


Alan menghentikan langkahnya. Ia menatapku dan meletakkan kedua tanganya di pundakku. Aku pun menatapnya.


"Aku minta maaf untuk masalah tadi siang. Untuk masalah Jihan, aku juga minta maaf karena belum sempat menceritakan semuanya sama kamu. Duduk dulu." dia menarikku untuk duduk di bangku. Aku merapatkan tubuhku karena cuaca lumayan dingin.


"Jihan menolak lamaranku saat itu. Dia bilang kita masih sangat muda untuk menjalin hubungan serius. Dia juga masih ingin melanjutkan karirnya dan ingin menikmati masa mudanya. So, jadi kamu tahu kan apa kelanjutanya?" ujarnya. Aku mengerti sekarang. Pantas saja Jihan sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun saat tahu aku dan Alan akan menikah.


"Kamu tahu? Jika Jihan tidak ada, aku tidak akan menyadari perasaanku padamu Ara. Beberapa hari setelah kejadian itu. Dan saat kamu mulai menghindari aku, aku sadar. Aku merasa kehilangan separuh jiwaku. Aku pikir semua itu karena penolakan Jihan. Tapi ternyata bukan. Aku kehilangan kamu Ara. Semakin kamu menjauhi aku, aku semakin sadar jika kamu adalah cinta sejatiku. Bukan Jihan."


Ya Allah, apa ini mimpi. Semua ucapan Alan membuat jantungku berdebar. Pipiku juga terasa panas. Ah, semoga Alan tidak melihat rona di pipiku.


"Jadi jangan pernah libatkan orang lain dalam hubungan kita. Karena aku sangat mencintaimu Ara. Sangat mencintaimu." ucapnya menarik bahuku dan memberikan kecupan hangat di kepalaku. Aku benar-benar sangat bahagia.


"Kenapa baru sekarang bilangnya, Ara kan dari dulu udah nunggu." ucapku memeluknya dengan erat.


"Siapa yang tidak peka? Kamu aja yang tidak mengerti perasan Ara." ucapku sambil memanyunkan bibirku. Aku sangat kesal. Bagaimana bisa dia mengatakan aku tidak peka. Mana aku tahu jika dia tidak mengatakannya. Memangnya dia kira aku pembaca pikiran apa?


"Jangan cemberut. Jelek." aku membulatkan mataku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Ingin sekali rasanya aku tinju-tinju wajahnya. Tapi sayang, nanti gantengnya hilang.


"Sudah lah, apa yang kamu bawa?"


Aku sangat terkejut dan langsung menyembunyikan benda yang sedari tadi aku pegang. Bodoh, bagaimana bisa aku melupakannya.


"Bukan apa-apa." ucapku memalingkan wajahku. Alan menarik tanganku.


"ih Alan, jangan tarik-tarik." ucapku. Namun sayang, tenagaku tak sebesar tenaganya. Pada akhirnya, benda itu sudah berpindah tangan.


"Jam tangan? Buat siapa?"


Aku kembali membulatkan mataku. Dia tanya buat siapa katanya?


"Buat pak satpam." ucapku ketus.

__ADS_1


"Bagus. Aku menyukainya. Sepertinya kamu harus beli lain untuk pak satpam. Aku sudah jatuh cinta padanya." Aku langsung menatapnya. Jam tangan itu kini sudah melingkar di tangannya. Huaaaaaaa... Itu sangat cocok. Jadi aku tidak salah pilih. Senangnya.


"Ck, ambil saja." ucapku kembali memasang wajah kesal.


"Apa kamu sengaja ingin membujukku dengan benda murahan ini?"


What? Apa katanya, benda murahan? Hello, aku membelinya dengan uang tabunganku dan harganya hampir setengah tabunganku habis. Enak saja dia bilang benda murahan. Memangnya benda apa yang dia anggap mahal?


"Kalau tidak suka buang aja." ucapku langsung beranjak pergi.


"Mau kemana? Aku belum memaafkan kamu. Aku juga masih marah." ucapnya yang berhasil menghentikan langkahku. Aku membalikan tubuhku dan menatapnya lekat. Dia juga menatapku dan berjalan kearahku. Dia melepas jam tangan itu dan menarik tanganku.


"Aku tidak bisa menerimanya jika ini untuk membujukku. Benda ini tidak ada harganya dengan rasa sakitku." ucapnya yang langsung beranjak pergi.


Ck, bagaimana bisa aku melupakan kalau Alan masih dalam mood marah. Aish, kamu sangat bodoh Ara. Tanpa pikir panjang aku langsung mengejarnya.


"Alan tunggu, ini hadiah atas keberhasilan kamu kok. Bukan sogokan. Jadi jangan marah lagi ya?" ucapku berjalan di sebelahnya. Namun Alan sama sekali tak menghiraukan ucapanku. Ck, bagaimana ini? Sepertinya Alan semakin marah.


"Alan, jangan marah lagi ya. Kalau Alan marah nanti Ara sedih. Terus nanti siapa yang peluk Ara? Ara kan gak bisa tidur kalau gak dipeluk." ucapku menghentikan langkahku. Aku menatap punggungnya lekat-lekat. Please, berhentilah.


Yes, dia berhenti. Apa aku berhasil merayunya? Semoga saja. Hah, dia berbalik. Aku menundukkan kepalaku. Ku dengar derap kakinya semakin mendekat. Lalu sebuah tangan menyentuh daguku. Perlahan Alan mengangkat daguku. Kini mata kami saling mengunci.


"Kamu sudah membuat kesalahan besar, kamu harus mendapatkan hukuman." ucapnya. Aku hendak protes, namun dengan cepat aku urungkan. Aku takut mood Alan semakin buruk. Aku mengangguk pasrah.


"Malam ini aku tidak akan membiarkan kamu tidur." bisik nya. Aku langsung menatapnya bingung. Apa maksud Alan? Hah, apa mungkin dia ingin meminta haknya malam ini juga. Jika itu benar, aku sudah siap kok. Aku kembali mengangguk.


"Ok, ayok masuk. Cuaca duluar sangat dingin." ucapnya meninggalkanku sendirian. Ih, gak romantis banget sih. Kalau di film-film kan ceweknya di gendong biar romantis gitu. Aku menghela napas dan langsung menyusulnya.


***


Hoaam...


Sudah hampir seratus kali aku menguap. Punggungku juga sangat sakit, rasanya tulangku mulai geser. Ck, Alan masih juga belum selesai dengan urusannya. Aku sangat ngantuk. Jika aku tidur, dia pasti akan tambah marah. Bagaimana ini? Aku sudah tidak kuat.


"Alan." panggilku. Namun Alan masih sibuk sendiri.


"Hmmm... Satu jam lagi."


Hah!! Apa dia benar-benar ingin menyiksaku?


Sudah hampir 3 jam aku hanya duduk untuk menemaninya menyelesaikan pekerjaan kantor. Punggungku sangat sakit. Alan sama sekali tak membiarkan aku meluruskan tubuhku. Dia benar-benar menghukumku. Ini sangat kejam. Biasanya jam segini aku sudah bermimpi indah.


"Alan." Aku kembali memanggilnya. Namun lagi-lagi dia hanya menjawab dengan gumaman. Mataku sudah tinggal 5 watt.

__ADS_1


"Ara ngantuk Alan. Mau tidur, punggung Ara juga sakit. Alan." rengekku. Aku harap Alan kasihan padaku dan menyuruhku langsung tidur.


"57 menit lagi. Lakukan hukuman kamu dengan baik. Masih baik aku menyuruh kamu duduk." ucapnya tanpa melihat kearahku. Aku sangat kesal. Mataku juga sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku tidak perduli lagi jika Alan akan marah. Ku sandarkan kepalaku di bahunya. Ini cukup nyaman. Aku pejamkan mataku dan melingkarkan tenagaku di lengannya. Aku akan menerima jika besok Alan akan menambah hukumanku. Hah, selamat malam suamiku.


__ADS_2